
Ilalang itu menari!
Aku menajamkan pandangan ke hamparan ilalang di balik punggung. Tadinya hanya kebetulan saja aku menoleh ke belakang. Namun, ilalang itu menari, dan pandanganku tertahan disana karena merasa ganjil. Bola mataku bergerak kian kemari. Ilalang itu kembali menari. Tak semua ilalang, memang. Hanya pada rumpun yang tak jauh di balik punggung. Tapi tak kutemukan apa pun di baliknya. Sementara angin mati dan ilalang lain berdiam diri. Tapi ilalang itu memang menari, seperti liuk penari serimpi. Lembut. Lembut sekali.
“Kau tidak kepanasan, Nak?!”
Seruan itu berasal dari arah depan, tepatnya di tengah hamparan petak sawah yang kosong. Seorang perempuan yang mengenakan caping menutupi kepala, berdiri dengan wajah bersimbah keringat. Sesekali ia melekatkan pipinya ke bahu, melesapkan peluh di kain baju. Pada tangannya tergenggam bibit padi yang belum selesai disemai.
Aku menggeleng pelan dan menatapnya dengan sepasang mata bundarku yang disukainya. Saat memandangku, bundarkan matamu, Sayang. Agar matahari dan bulan tunduk padamu. Itu katanya setiap kali ia bicara dekat denganku. Tentu saja ia berlebihan, karena matahari dan bulan takkan pernah tunduk padaku. Meskipun aku membelalak sepanjang siang, sepanjang malam.
Kujulurkan leher melihat perempuan lain di sekitarnya yang masih membungkuk, menyematkan bibit padi ke tanah berlumpur sambil berjalan mundur. Ada beberapa perempuan di sawah.
“Kalau kepanasan, mundur saja lagi ke belakang. Ya?!” serunya. Aku mengangguk patuh.
Ia kembali membungkuk, seperti perempuan-perempuan yang berjalan mundur itu. Kucermati jemari kakiku yang dijilat matahari, terus hingga ke betis. Terasa hangat. Mundur? Aku menoleh ke belakang.
Ilalang itu diam. Sama seperti tumbuhan lain. Aku beringsut mundur, mempersempit jarak dengan ilalang yang membentuk dinding di belakang. Rasanya lebih teduh. Ada sebatang pohon asam di dekatku, yang daunnya bergoyang-goyang kecil. Tak mengundang angin, namun membagi sedikit keteduhan. Kini kakiku berhias bayang-bayang kecil dedaun asam. Aku mengaguminya seperti tato di bahu seorang lelaki yang selalu ada di rumah sepanjang malam, lalu menghilang jelang pagi.
Kelak saat kau menjadi mempelai, aku akan menghias sepasang kaki pualammu dengan lukisan henna yang cantik. Kata-kata itu selalu mengiang di telinga setiap kali memandang sepasang kakiku yang telanjang. Ibu yang mengatakannya.
Kakimu seperti kaki penari. Lembut. Kalau kau besar nanti, rajin-rajinlah melulurinya dengan lidah buaya.
Tentu saja aku tak sepenuhnya paham apa itu lulur, apa itu lidah buaya. Meski aku tahu seperti apa kaki penari. Aku pernah dua kali menyaksikannya di layar televisi. Tentu bukan di rumahku. Itu kotak kaca beraneka gambar dan suara yang takkan mungkin jadi penghuni rumah kami. Mahal harganya, kata Ibu.
Satu lagi, buaya. Aku ingat sosoknya, mungkin juga lidahnya. Membayangkan lidah hewan itu menelusuri kakiku dengan gigi-gigi tajamnya yang mengelupas daging betis, pasti buru-buru akan kuminta serenteng jimat anti mimpi buruk pada Ibu. Ibu tak pernah mengenakannya, tapi Kakek hampir setiap malam. Kata Ibu, kakek selalu mimpi buruk saban hari sepanjang sepuluh tahun hitungan mundur dari masa tuanya kini. “Ia kerap meniduri selingkuhannya lalu meninggalkannya begitu saja kala mereka hamil. Maka di masa tua ia kerap diganggu mimpi buruk, didatangi 30 bekas pacarnya dan 30 anak-anaknya dari mereka. Mereka datang dalam rupa menyeramkan.”
Ibu menceritakan hal demikian dengan ringan seolah-olah Kakek bukanlah ayahnya, lalu tertawa terkikik-kikik dengan penuh kemenangan. Adakalanya ia menambahkan sekelumit kisah pendek tentang Nenek.
“Sayang Nenek tak berumur panjang. Meninggal setahun setelah kelahiran Ibu. Setelah Nenek meninggallah kakekmu kerap berpindah-pindah sandaran tubuh. Meski Ibu tahu, yang di hatinya hanya satu. Itulah sebab ia tak pernah menikahi salah satu dari pacar-pacarnya.”
Sejujurnya aku tak pernah paham dengan apa yang diceritakan Ibu tentang Kakek. Kupikir semua itu tak berbeda dengan saat ia menceritakan dongeng kancil, buaya, asal mula Danau Toba, atau Putri Salju. Tujuannya cuma satu, menidurkanku. Dan cerita Ibu tentang Kakek terbukti lebih cepat menidurkanku ketimbang seribu dongeng nusantara dan dunia lainnya.
Perihal ilalang yang berbisik-bisik, sesungguhnya aku tak pernah mendengar cerita tentang itu sebelumnya. Toh, mereka tak memiliki mulut untuk mengeluarkan suara, segumam apa pun, dan tak ada angin yang membuat tubuh mereka bergesekan hingga berbunyi menyerupai bisik-bisik. Desir angin terlampau lembut, hanya sepadan untuk daun asam yang ringan.
Tiba-tiba sesosok tubuh seperti rubuh begitu saja di depanku, mengagetkan. Tangisanku sontak pecah, seperti tuas tua yang sudah sangat sensitif dengan sentuhan.
“Hai, diamlah, Sayang. Ibu mengejutkanmu, ya? Maaf … Ibu terlampau lelah untuk berlaku sopan.” Perempuan itu mendekapku erat, meredakan tangisku di dadanya. Harum aroma dadanya menghantui hidungku, memberi rasa nyaman. Tangisku reda, entah oleh belai usap telapak tangan di kepala, entah aroma dadanya yang lesap di mulutku.
“Sebentar lagi kita pulang, ya? Ibu istirahat sebentar. Nanti kita akan singgah di rumah Wak Awang. Ibu membeli sepeda bekas anaknya untukmu. Kebetulan sedang ada rezeki sedikit berlebih,” katanya setengah berbisik di telingaku. Ia masih mendekapku. Aku menatapnya dengan sepasang mata membundar.
Sayup-sayup kudengar bisik-bisik ilalang di belakangku. Tapi rasa kantuk telah begitu cepat membebat kesadaranku. Bisik-bisik itu semakin melelapkanku.
Kakek masih saja membawa jimat anti mimpi buruk setiap kali hendak berangkat tidur. Ia menyematkan kantung-kantung kumal itu di atas kepalanya. Anehnya, kakek tetap melafazkan doa tidur juga. Entah siapa yang sesungguhnya ia percaya, jimat atau Tuhan.Tapi kata Ibu, saat seseorang merasa takut, kadang ia justru tak tahu lagi siapa yang bisa dipercaya. Maka ia mengumpulkan segala hal yang ia anggap memiliki kuasa untuk menyelamatkannya. Ia sibuk mencari perlindungan, hingga tak sempat mendengarkan kata hatinya.
Aku tak pernah tertarik dengan jimat Kakek, sesempurna apa pun Ibu melukiskannya dengan kata-kata. Aku lebih suka memperhatikan tato Kakek. Seekor harimau di bahu kanannya. Aku kerap menatap matanya yang nyalang ketimbang sekujur tubuhnya yang belang-belang. Itu mata yang mengagumkan, menurutku. Entah siapa yang melukisnya di tubuh Kakek. Aku menyukainya. Itu seperti tatapan seorang ayah.
Meski rajin berkisah tentang Kakek, nyatanya Ibu selalu menghindar untuk menceritakan ayahku. Ia kerap ditanyai tetangga tentang bagaimana rupa ayahku. Tapi Ibu hanya menjawabnya dengan senyum. Begitu selamanya. Mungkin hanya sekali ia pernah menceritakannya. Itu pun disesalinya.
Malam ini, angin lebih pendiam ketimbang hari sebelumnya. Udara jauh lebih gerah. Aku terjaga dengan resah. Rumah sepi. Ibu tidur. Kakek begitu pula. Dengkurnya terdengar menyeramkan di tengah keheningan. Kakek pasti tidur pulas, tak bermimpi tentang bekas pacarnya yang mana pun.
Entah bagaimana mulanya ketika aku mendengar dengkur Kakek berubah. Tak lagi sama, tak lagi bergema. Ia mendengkur laksana harimau lapar. Seluruh rambut halus di tubuhku meremang karenanya. Namun seba- liknya, hatiku menghangat entah dengan alasan apa. Dengkur aneh itu hanya dua kali tertangkap telinga. Setelahnya, hanya kesunyian dan derik jangkrik. Kakek pasti bermimpi indah.
***
“Duduk di sini lagi ya, Nak. Ibu takkan lama.” Kecupannya pengantar kepergian yang paling kusukai. Aku tahu, Ibu akan lama. Seperti biasa.
Tak seperti hari-hari sebelumnya, Ibu bekerja agak jauh dariku. Meski masih bisa kutangkap bayangannya di bawah cahaya matahari kala melambaikan tangan sesekali.
Aku masih sibuk dengan biskuit dan susu di botol ketika ilalang di belakangku kembali berbisik. Kali ini lebih berisik. Aku menoleh ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Hanya dedaun ilalang bergoyang-goyang.
Tiba-tiba sesosok tubuh menjulang di depanku. Aku mendongak. Tak sampai ke wajahnya, karena sepasang mata harimau di bahu kanan telah memerangkap pandangan.
“Kita berjalan-jalan sebentar ya, Sayang. Ayahmu ingin bertemu.” Lelaki tua itu mengangkat tubuhku sembari terkekeh, tak menghiraukan kotak biskuit dan botol susu yang tertinggal di tanah. Dari balik bahu, aku memandang Ibu. Ia tak melihatku. Terik matahari membuatnya fokus pada penyelesaian pekerjaan, bukan aku.
Ibu pernah mendongeng tentang gua gelap di balik taman ilalang. Gua tempat bersembunyinya penguasa rimba dan kegelapan. Ibu juga pernah mengisahkan tentang Ayah yang tersesat di sebuah gua, yang pergi dan pulangnya tak lebih penting ketimbang kenyataan siapa dia sebenarnya
***
Ini malam yang dingin. Aku masih mencari Ibu, namun kerap tersesat di mimpi Kakek. Meski aku tahu Kakek tak menginginkanku. Ia memasang dua jimat penangkal mimpi buruk di atas bantalnya. Ia mengenakan gelang pengusir nasib buruk di pergelangan kanan. Ia membaca doa tidur dan beberapa ayat dengan mantap jelang tidur setiap malam. Tapi aku selalu tersedot dalam mimpinya, bersama seekor harimau jantan yang beberapa hari lalu mencabik-cabik tubuhku di pelataran gua, di belakang taman ilalang. Harimau itu lama memandangku dalam diam. Kulihat air menggenang di pelupuk matanya, sebelum ia menancapkan giginya ke kakiku, kaki kesayangan Ibu. Lalu bergerak cepat membungkam tangisanku.
Kakek memiliki ritual baru di kesunyian dini hari. Mengelus seraut wajah perempuan cantik di dalam foto dan mengilapkan kuku harimau yang disimpannya di bawah bantal. Senyumnya mengembang perlahan.
Ia kerap terjaga di tengah malam dan enggan tidur lagi. Mungkin takut bertemu denganku, atau ayahku. (*)




