Esai

Esai

Menjawab Gugatan Etika AI Akademik di Antara Raskolnikov dan Comstock

Esai ini mengkritik pragmatisme dan budaya jalan pintas dalam penulisan artikel ilmiah akibat tekanan sistem akademik, khususnya terkait penggunaan AI Generatif. Melalui perbandingan tokoh Raskolnikov karya Dostoevsky dan Comstock karya Orwell, penulis mengajak para peneliti untuk menjaga integritas akademik, menghindari manipulasi, serta berani mendeklarasikan penggunaan AI secara etis dan transparan.

Menjawab Gugatan Etika AI Akademik di Antara Raskolnikov dan Comstock Selengkapnya

Esai

Pasan Buruang, Petatah Kaca, Alam Takambang Jadi Batu

Esai ini menyoroti krisis ekologis di Sumatra Barat akibat eksploitasi alam dan perizinan tambang yang mengabaikan hukum adat. Falsafah Minangkabau “alam takambang jadi guru” kini sekadar pajangan kaca. Terputusnya relasi manusia dengan alam tidak hanya melahirkan bencana banjir dan galodo bertubi-tubi, tetapi juga mengubur kebudayaan itu sendiri.

Pasan Buruang, Petatah Kaca, Alam Takambang Jadi Batu Selengkapnya

Esai

Bukan Gonjong yang Menjadikannya Rumah Gadang

Esai ini mengulas esensi rumah gadang yang kerap salah dipahami hanya dari bentuk fisik atap gonjongnya. Bimbi Irawan menegaskan bahwa identitas sejati rumah gadang tidak ditentukan oleh arsitektur semata, melainkan oleh fungsi sosial, budaya, dan cerminan sistem kekerabatan matrilineal yang melandasi seluruh kehidupan masyarakat adat Minangkabau secara utuh dan mendalam.

Bukan Gonjong yang Menjadikannya Rumah Gadang Selengkapnya

Esai

Meja Makan Mikir-Mikir: Melihat Jejak Revolusi pada Panci, Kuali dan Telepon Pintar

Esai ini mengulas pertunjukan “Meja Makan Mikir-Mikir” oleh Medan Teater. Melalui simbol panci, kuali, dan telepon pintar, penulis merefleksikan sejarah peradaban manusia—dari revolusi pertanian hingga era digital—serta mengkritisi dampaknya terhadap krisis ekologi, pergeseran budaya pangan, dan hilangnya makna dalam kehidupan sehari-hari.

Meja Makan Mikir-Mikir: Melihat Jejak Revolusi pada Panci, Kuali dan Telepon Pintar Selengkapnya

Esai

Pertaruhan Bunyi dalam “Saluak Sang Sako”

Esai ini mengulas karya doktoral Rozalvino, Saluak Sang Sako, yang bereksperimen mengubah logika sosial budaya Minangkabau—terutama posisi ambigu urang sumando—menjadi struktur musikal. Nurkholis menelaah apakah pertunjukan ini sukses melampaui representasi budaya belaka dan sungguh-sungguh memanifestasikan ketegangan sosial adat ke dalam prinsip penciptaan bunyi yang sepenuhnya otonom, saling merespons, dan deliberatif.

Pertaruhan Bunyi dalam “Saluak Sang Sako” Selengkapnya

Esai

Menguatkan Ekosistem dan Menjaga Nyala Api Sastra di Tengah Peradaban Dunia

Kehadiran sastra Indonesia di panggung global membutuhkan fondasi ekosistem yang kuat. Melalui kolaborasi kebijakan negara dan komunitas lokal, Kementerian Kebudayaan merumuskan lima program prioritas guna menjembatani hulu dan hilir. Langkah strategis ini memastikan narasi Nusantara tidak hanya sekadar menjadi letupan sesaat, melainkan arus besar yang berkelanjutan di kancah peradaban dunia.

Menguatkan Ekosistem dan Menjaga Nyala Api Sastra di Tengah Peradaban Dunia Selengkapnya

Esai

Dilema Rasa di Tanah Rantau: Tarik-Menarik Orisinalitas dan Pasar Nasi Padang

Esai ini membahas dilema kuliner Nasi Padang di perantauan antara mempertahankan cita rasa autentik Minang yang gurih dan pedas, atau beradaptasi dengan selera pasar lokal yang cenderung manis demi kelangsungan bisnis. Adaptasi resep menjadi bukti bahwa Nasi Padang adalah budaya hidup yang terus berevolusi menembus batas geografis dan selera masyarakat.

Dilema Rasa di Tanah Rantau: Tarik-Menarik Orisinalitas dan Pasar Nasi Padang Selengkapnya

Esai

Film Dokumenter, Kekuasaan dan Tanah yang Tak Pernah Kosong

Esai ini menyoroti fenomena pencekalan dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita yang merekam hilangnya ruang hidup masyarakat adat Papua. Alih-alih membungkam, represi ini justru memicu efek Streisand yang mengamplifikasi suara mereka, sekaligus membuktikan bahwa kekuasaan masih ketakutan menghadapi kejujuran layar sinema.

Film Dokumenter, Kekuasaan dan Tanah yang Tak Pernah Kosong Selengkapnya

Esai

Membaca Tarekat Bunyi Karya Indra Ariffin: Lewat Tanpa Sadar

Esai ini mengulas “Tarekat Bunyi”, karya ujian doktor Indra Ariffin di ISI Padang Panjang. Melalui struktur tasawuf Takhalli, Tahalli, dan Tajalli, Indra mengubah pengalaman spiritual Minangkabau menjadi metode artistik bernama malalu. Pertunjukan ini tak sekadar memindahkan ritual ke panggung, melainkan merumuskan spiritualitas ke dalam eksplorasi musik dan epistemologi lokal Nusantara.

Membaca Tarekat Bunyi Karya Indra Ariffin: Lewat Tanpa Sadar Selengkapnya

Scroll to Top