Esai

Esai

Feodalisme di Negeri Egaliter

Esai karya Ivan Adilla ini menyoroti fenomena pemberian gelar adat Minangkabau kepada para pejabat pusat. Praktik ini dikritik tajam sebagai bentuk feodalisme baru yang ironisnya mengikis nilai luhur budaya egaliter masyarakat Minangkabau. Gelar adat kini justru dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis serta sekadar alat untuk menyenangkan hati para penguasa pusat.

Feodalisme di Negeri Egaliter Selengkapnya

Esai

Jawaban Polemik Royyan Julian dan Nirwan Dewanto: Melacak Jejak atau Memetakan Daya Gerak?

Esai ini menengahi polemik antara Royyan Julian dan Nirwan Dewanto terkait jejak pengaruh dalam puisi Indonesia. Ranang Aji SP menawarkan metode DaGer (Daya Gerak) sebagai jalan tengah, menggeser fokus dari sekadar melacak silsilah penyair menuju pemetaan distribusi energi dan perubahan unsur dominan dalam teks sastra.

Jawaban Polemik Royyan Julian dan Nirwan Dewanto: Melacak Jejak atau Memetakan Daya Gerak? Selengkapnya

Esai

Suara dari Surau Digital: Menakar Warisan Intelektual Yus Datuak Parpatiah

Berpulangnya Yus Datuak Parpatiah menandai akhir sebuah era di panggung seni tutur Minangkabau. Beliau adalah arsitek kebudayaan yang sukses menjembatani tradisi lisan kuno dengan modernitas media digital. Melalui karya audionya, beliau mengemas wejangan moral menjadi renungan harian yang mendalam, sekaligus menjaga teguh identitas kultural masyarakat Minangkabau.

Suara dari Surau Digital: Menakar Warisan Intelektual Yus Datuak Parpatiah Selengkapnya

Esai

Yang Tak Disorot dari Buku Saku Massal

Esai ini mengkritik gagasan Donny Syofyan bahwa buku saku massal adalah solusi mahalnya buku non-fiksi. Penulis menyoroti absennya peran negara terkait pajak dan mahalnya bahan baku yang membebani penerbit serta penulis. Lebih jauh, penulis menegaskan bahwa aksesibilitas sejati harus inklusif bagi penyandang disabilitas melalui buku digital, bukan sekadar fisik murah.

Yang Tak Disorot dari Buku Saku Massal Selengkapnya

Esai

Membaca Buku Semacam “Sesi Fisioterapi” untuk Melenturkan Pikiran

Di era digital, gempuran konten instan memicu “brainrot” yang merusak fokus alami kita. Esai ini membahas bagaimana membaca buku bertindak sebagai sesi fisioterapi pikiran. Aktivitas ini membantu melatih kembali kesabaran dan menjadi perlawanan intelektual terhadap kedangkalan berpikir massal.

Membaca Buku Semacam “Sesi Fisioterapi” untuk Melenturkan Pikiran Selengkapnya

Esai

The Voice of Hind Rajab, Docudrama yang Mengembalikan Suara Manusia ke Pusat Narasi

Melalui docudrama The Voice of Hind Rajab , sutradara Kaouther Ben Hania mengubah rekaman tragis seorang anak Palestina menjadi pengalaman sinematik yang mencekam. Alih-alih mengeksploitasi visual kekerasan , film ini membangun ketegangan dari ruang layanan darurat , menyoroti ketidakberdayaan sistem sekaligus mengembalikan suara manusia ke pusat narasi.

The Voice of Hind Rajab, Docudrama yang Mengembalikan Suara Manusia ke Pusat Narasi Selengkapnya

Esai

Sitor Sebagai Penyair

Esai “Sitor Sebagai Penyair” karya Saut Situmorang menelaah perjalanan kepenyairan Sitor Situmorang, sosok penting sastra Indonesia Angkatan 45. Melampaui pandangan kritikus tentang keterasingannya, esai ini menyoroti identitas hibrid pascakolonial Sitor, pergesekan budaya Batak dan Eropa, hingga akhirnya “Si Anak Hilang” berdamai dan kembali ke akar tradisinya di Danau Toba.

Sitor Sebagai Penyair Selengkapnya

Esai

Empat Teater Sumatera Barat dari Dramaturgi Pascadramatik Kai Tuchmann

Membedah empat pertunjukan teater Sumatera Barat 2024-2025 melalui lensa dramaturgi pascadramatik Kai Tuchmann. Dari Sabai in Kaba hingga Indomiiii Rasa Rendang, Nasrul Azwar menganalisis bagaimana seniman lokal merespons estetika global tanpa kehilangan akar tradisi Minangkabau dalam lanskap seni pertunjukan kontemporer yang hibrid dan politis.

Empat Teater Sumatera Barat dari Dramaturgi Pascadramatik Kai Tuchmann Selengkapnya

Scroll to Top