
Berpulangnya Yusbir “Yus” Datuak Parpatiah pada Sabtu lalu (28 Maret 2026) lalu bukan sekadar meninggalkan ruang kosong dalam panggung seni tutur Minangkabau, melainkan menandai berakhirnya sebuah era di mana suara menjadi panglima dalam menjaga moralitas publik. Bagi masyarakat Minangkabau, baik yang menetap di ranah maupun yang berkelana di rantau, sosok beliau adalah arsitek kebudayaan yang luar biasa.
Beliau berhasil melakukan apa yang jarang bisa dilakukan oleh akademisi formal: menjembatani jurang yang menganga antara tradisi lisan kuno dengan modernitas teknologi media. Melalui pita-pita kaset yang kini bertransformasi menjadi fail digital, beliau melakukan proses re-mediasi sastra yang sangat canggih. Beliau mengambil ruh Kaba—sastra lisan tradisional Minang—dan memindahkannya ke dalam ruang audio-privat tanpa kehilangan sedikit pun daya magis oralitasnya.
Dalam perspektif studi sastra, fenomena Yus Datuak Parpatiah adalah sebuah bentuk intermedialitas yang jenius. Karya-karya monumental seperti “Pitaruah Ayah” atau “Pitaruah Ibu” menjadi bukti bagaimana beliau mampu mengemas wejangan moral yang sangat panjang menjadi sebuah monolog yang puitis dan menggetarkan batin. Beliau memahami betul bahwa masyarakat Minang adalah masyarakat yang sangat auditif; mereka mencintai keindahan bunyi dan ketajaman logika dalam kata-kata.
Namun, di tengah gempuran budaya visual, cara-cara lama bercerita mulai kehilangan daya pikatnya. Di sinilah beliau masuk, mengubah struktur narasi yang tadinya panjang menjadi drama audio yang padat. Dalam karya seperti “Kasih Tak Sampai” atau “Anak Nan Malang”, beliau membangun konflik sosiologis yang nyata, membuat pesan moral yang sejatinya berat menjadi konsumsi keseharian yang ringan namun tetap memiliki kedalaman filosofis yang tajam.
Kekuatan utama yang membedakan beliau terletak pada kemahiran stilistika yang luar biasa. Beliau adalah maestro dalam penggunaan diksi figuratif. Dalam setiap karyanya, seperti pada judul “Harta Pusaka” atau “Sengketa Sawah”, kita jarang menemukan kritik yang disampaikan secara telanjang. Sebaliknya, beliau menerapkan strategi kesantunan tingkat tinggi atau face-saving strategy.
Beliau mengkritik dengan cara mahadok, teknik berdiplomasi lewat kata-kata di mana lawan bicara merasa tercerahkan tanpa sedikit pun merasa dihakimi. Beliau menggunakan metafora alam dan alusi sejarah untuk membungkus pesan moralnya. Permainan rima dan paralelisme kalimat dalam narasinya bukan sekadar hiasan, melainkan alat mnemonik yang membuat pesan tersebut menempel kuat dalam ingatan kolektif pendengarnya.
Jika kita membedah karya-karyanya dari sudut pandang sosiologi sastra, kita akan menemukan bahwa Yus Datuak Parpatiah memposisikan teks audionya sebagai instrumen kontrol sosial yang efektif. Melalui “Mamak Nan Durako” atau “Mantuu Anggeh”, beliau memotret konflik-konflik domestik seperti memudarnya peran figur Mamak dalam kaum hingga keretakan hubungan mertua dan menantu. Masalah-masalah ini tidak beliau sajikan sebagai fenomena sosial semata, melainkan sebagai simtom dari krisis identitas kultural yang lebih dalam. Beliau seolah-olah menjadi kompas moral bagi masyarakat yang sedang mengalami disorientasi di tengah arus globalisasi.
Lebih jauh lagi, bagi masyarakat diaspora Minangkabau, karya seperti “Pasan di Rantau” berfungsi sebagai “jangkar identitas” atau cultural anchor. Merantau bagi orang Minang bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan ujian ketahanan budaya. Dalam ruang urban yang asing, mendengarkan narasi beliau adalah proses “pulang” secara spiritual. Bahasa Minang tingkat tinggi yang beliau gunakan menjadi modal budaya (cultural capital) yang menjaga keterikatan emosional perantau dengan tanah asalnya. Beliau menciptakan sebuah imagined community di mana setiap orang Minang merasa memiliki frekuensi yang sama dalam memahami nilai-nilai luhur nenek moyangnya.
Salah satu kontribusi intelektual terbesar beliau adalah kemampuannya dalam mendialektikakan antara adat dan agama dalam harmoni yang sempurna. Beliau membuktikan bahwa prinsip “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” bukanlah jargon kosong. Dalam karya-karya bertema religi-budaya, beliau menjelaskan bahwa adat Minang tidak pernah berseberangan dengan ajaran Islam; keduanya justru saling menguatkan. Beliau sering menggunakan analogi siklus alam untuk menjelaskan hukum-hukum Tuhan, menunjukkan bahwa alam adalah teks pertama yang harus dibaca oleh manusia. Pendekatan teo-kultural ini membuat narasi beliau memiliki daya terima yang luas melampaui sekat-sekat kelompok.
Dalam drama-drama radionya, beliau juga sering menciptakan tokoh-tokoh arketipal yang merepresentasikan berbagai lapisan masyarakat. Lewat judul-judul seperti “Kaba si Buyung” atau “Nasihat untuk Anak”, beliau membangun cermin bagi masyarakat untuk melihat wajah mereka sendiri—dengan segala kekurangan dan potensinya. Beliau tidak pernah menawarkan solusi hitam-putih, melainkan mengajak pendengarnya untuk berpikir dialektis dan kembali pada nilai-nilai fundamental. Ini adalah bentuk intelektualisme publik yang paling murni, di mana seorang pemikir turun ke akar rumput melalui jalur estetika suara.
Warisan yang ditinggalkan oleh Yus Datuak Parpatiah adalah sebuah arsip hidup sosiologi masyarakat Minangkabau. Beliau telah membuktikan bahwa kearifan lokal tidak harus mati ditelan zaman, asalkan mampu beradaptasi dengan medium baru. Kematian beliau memang sebuah kehilangan besar, namun narasi-narasi yang telah beliau titipkan dalam rekaman suara akan terus hidup. Suara beliau akan tetap menjadi pengingat di tengah kebisingan dunia modern, bahwa kita memiliki akar yang dalam. Beliau telah menyelesaikan tugasnya sebagai penjaga gawang kebudayaan, dan kini giliran kita, terutama para akademisi, untuk terus menghidupkan nilai-nilai yang telah beliau tanamkan dengan begitu tulus dan cerdas.
Kekuatan kata-kata (the power of words) dalam karya Yus Datuak Parpatiah adalah senjata paling ampuh untuk merawat peradaban. Beliau bukan sekadar penghibur, melainkan seorang pendidik karakter yang bekerja dalam sunyi rekaman, namun dampaknya menggema hingga ke relung hati terdalam. Di universitas, kita mungkin mempelajari teori sastra Barat, namun di rumah-rumah kayu di pedalaman Minang hingga ke lapau-lapau di pinggiran Jakarta, teori-teori kehidupan itu telah lama disampaikan secara estetis oleh seorang Yus Datuak Parpatiah. Selamat jalan, Sang Maestro. Suaramu akan selalu menjadi rumah bagi jiwa-jiwa yang rindu akan kebenaran adat dan agama. []




