Cerpen

Cerpen

Hari Menjelang Kematian

Pagi itu sunyi terasa berbeda saat Arsy menemani Ibu Raras yang duduk mematung di teras. Sang Ibu menceritakan mimpi ganjil tentang bayangan yang menjemput, sebuah isyarat perpisahan yang nyata. Dalam hening, Arsy menerima pesan terakhir untuk tetap hidup sebelum separuh dunianya benar-benar pergi selamanya.

Hari Menjelang Kematian Selengkapnya

Cerpen

Pertunjukan Menyapu Makam

Di tengah duka bencana Nagari Ulakan, kunjungan sang menteri justru berubah menjadi panggung sandiwara. Alih-alih mengurus korban, rombongan pejabat sibuk berakting menyapu makam Syekh Burhanuddin demi konten kamera. Cerpen ini adalah satire tajam tentang ironi “pencitraan” yang menutupi empati di tengah tragedi.

Pertunjukan Menyapu Makam Selengkapnya

Cerpen

Sebentang Bayang-Bayang

Keindahan danau itu hanyalah ilusi dari kejauhan. Di balik air biru yang memukau, tersimpan bau busuk, kemunafikan, dan konflik warga yang pedih. Cerpen ini mengingatkan: jangan melihat terlalu dekat jika tak ingin kecewa. Nikmati saja bayang-bayang keindahannya dari jendela hotel agar fantasimu tak buyar.

Sebentang Bayang-Bayang Selengkapnya

Cerpen

Jono

“Namamu siapa?” tanya polisi. Jono menjawab cepat, “Maling, Pak, bukan PKI. Maksudnya, saya dituduh maling .” Ia terancam lima tahun penjara karena mengambil logam kuningan dari tempat sampah. Semula, Jono hanya ingin melihat pohon petai di pabrik lamanya. Sayang, harapannya pupus. Tubuhnya akhirnya tak bangun lagi di pagi hari.

Jono Selengkapnya

Cerpen

Kawan Lama

Lima menit sebelum panggilan itu datang, saya bertengkar hebat dengan istri karena saya pulang tidak membawa uang. Panggilan dari Iswan rasanya seperti berkah. Ia mengaku menemukan tas berisi uang Rp13 juta dan perhiasan, tanpa identitas. Iswan ingin saya berpura-pura menjadi pemilik tas itu. Saya takut terlibat kejahatan, tapi godaan uang besar itu terlalu kuat.

Kawan Lama Selengkapnya

Cerpen

Bukan Kebanggan

Kandar, seorang polisi muda, terjebak dilema pelik. Target operasi satuannya adalah Ancah Kutung, preman kebal senjata yang ternyata ayah kandungnya. Saat tugas mendesak untuk menghentikan kebrutalan sang ayah, Kandar harus memilih: loyalitas pada seragam atau ikatan darah. Sebuah peluru bertanda merah menjadi kunci takdir tragis di tengah pertikaian berdarah ini.

Bukan Kebanggan Selengkapnya

Cerpen

Penyair Syahdan Agogo

Di kedai kopi buta Puk Minah, para seniman Kota S berkumpul di malam hari. Satu-satunya angkatan lama yang tersisa adalah penyair 68 tahun, Syahdan Agogo. Di tengah obrolan kacau balau tentang seni, politik, hingga nasib pelukis Sadrah Kuncir, Syahdan sibuk membayangkan namanya disebut sebagai pemenang Nobel Sastra.

Penyair Syahdan Agogo Selengkapnya

Cerpen

Anak Panah Bermata “Tunung”

Maristi sudah terbiasa dan berusaha untuk tidak pernah takluk dengan mata merah Yudas, pria yang selalu mengawasinya. “Biar nanti matanya buta kalau terus menatapmu seperti itu,” ujarnya kepada Lidiana. Tapi kini ladang keluarganya hancur, dan kemarahan telah memuncak. Sekembalinya ke rumah, Maristi mendapati Yudas terkulai dengan anak panah menancap di mata kirinya. Sebuah hukuman yang mengerikan.

Anak Panah Bermata “Tunung” Selengkapnya

Scroll to Top