Esai

Feodalisme di Negeri Egaliter

Esai karya Ivan Adilla ini menyoroti fenomena pemberian gelar adat Minangkabau kepada para pejabat pusat. Praktik ini dikritik tajam sebagai bentuk feodalisme baru yang ironisnya mengikis nilai luhur budaya egaliter masyarakat Minangkabau. Gelar adat kini justru dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis serta sekadar alat untuk menyenangkan hati para penguasa pusat.

Feodalisme di Negeri Egaliter Selengkapnya

Cerpen

Birabirabirabirabi

Di Warmindo Mang Asep, tiga sahabat berkumpul membawa kemelut batin masing-masing. Muqor sibuk dengan komputernya, Falendra menutupi luka lamaran yang ditolak, dan Ardi sengaja memancing emosi mereka. Di tengah perang batin dan saling sindir yang memanas, kedatangan Nasir membawa kejutan tak terduga berupa tiga undangan pernikahan yang membungkam mereka seketika.

Birabirabirabirabi Selengkapnya

Pusaka Sastra

Upacara Kematian di Sumatera Barat

Buku “Upacara Tradisional (Upacara Kematian) Daerah Sumatera Barat” mengulas mendalam ritual kematian di Minangkabau yang memadukan ajaran Islam dan aturan adat. Buku ini merinci tahapan upacara berdasarkan status sosial, dilengkapi transkripsi pidato pasambahan dan metodologi riset, menjadikannya referensi penting bagi studi budaya, antropologi, dan sejarah masyarakat setempat.

Upacara Kematian di Sumatera Barat Selengkapnya

Sketsa

Saatnya Warga Amerika Merantai si Gila Trump

Artikel ini menyoroti tanggung jawab kolektif warga Amerika dan Israel atas terpilihnya pemimpin destruktif seperti Trump dan Netanyahu. Mengambil pelajaran dari sejarah dan kearifan lokal Minangkabau, penulis menegaskan bahwa masyarakat tidak bisa lepas tangan dari “kegilaan” pemimpinnya. Diam berarti setuju, dan kini saatnya warga membatasi ruang gerak para tiran tersebut.

Saatnya Warga Amerika Merantai si Gila Trump Selengkapnya

Liputan

Spektakel Lidah Gen Z di Medan: Memahami Rempah dengan Pendekatan Performatif

Acara Spektakel Lidah Gen Z di Medan mengajak generasi muda keluar dari amnesia sejarah dengan memaknai kembali kekayaan rempah Nusantara. Melalui lokakarya proses kreatif bersama S. Metron Masdison dan pendekatan performatif digital gagasan Annisa Rengganis, rempah tidak lagi sekadar bumbu dapur, melainkan sumber inspirasi karya seni dan identitas budaya modern.

Spektakel Lidah Gen Z di Medan: Memahami Rempah dengan Pendekatan Performatif Selengkapnya

Esai

Jawaban Polemik Royyan Julian dan Nirwan Dewanto: Melacak Jejak atau Memetakan Daya Gerak?

Esai ini menengahi polemik antara Royyan Julian dan Nirwan Dewanto terkait jejak pengaruh dalam puisi Indonesia. Ranang Aji SP menawarkan metode DaGer (Daya Gerak) sebagai jalan tengah, menggeser fokus dari sekadar melacak silsilah penyair menuju pemetaan distribusi energi dan perubahan unsur dominan dalam teks sastra.

Jawaban Polemik Royyan Julian dan Nirwan Dewanto: Melacak Jejak atau Memetakan Daya Gerak? Selengkapnya

Cerpen

Pagi Biasanya

“Pagi Biasanya” mengisahkan kehidupan damai seorang ibu yang hancur seketika pada suatu pagi di bulan Oktober. Tragedi berdarah merenggut suami dan mertuanya akibat tuduhan keji. Ia terpaksa menanggung siksaan, pelecehan, dan stigma seumur hidup demi melindungi sang anak, menyisakan trauma mendalam yang tak lekang oleh waktu.

Pagi Biasanya Selengkapnya

Liputan

Mengenang Aman Laulau, Sikerei yang Memperjuangkan Umanya dan Budaya Mentawai

Artikel ini mengenang kisah heroik Aman Laulau, seorang sikerei terkemuka dari Butui, Kepulauan Mentawai. Pada era 1980-an, ia dengan berani melawan diskriminasi dan upaya pemberangusan budaya lokal, Arat Sabulungan, oleh aparat. Bersama fotografer Charles Lindsay, ia berhasil menemui Gubernur Sumatera Barat untuk menghentikan pelarangan tersebut dan menyelamatkan warisan budaya leluhurnya.

Mengenang Aman Laulau, Sikerei yang Memperjuangkan Umanya dan Budaya Mentawai Selengkapnya

Esai

Suara dari Surau Digital: Menakar Warisan Intelektual Yus Datuak Parpatiah

Berpulangnya Yus Datuak Parpatiah menandai akhir sebuah era di panggung seni tutur Minangkabau. Beliau adalah arsitek kebudayaan yang sukses menjembatani tradisi lisan kuno dengan modernitas media digital. Melalui karya audionya, beliau mengemas wejangan moral menjadi renungan harian yang mendalam, sekaligus menjaga teguh identitas kultural masyarakat Minangkabau.

Suara dari Surau Digital: Menakar Warisan Intelektual Yus Datuak Parpatiah Selengkapnya

Scroll to Top