Esai

Almarhum di Atas Kuburan

Esai “Almarhum di Atas Kuburan” karya Raudal Tanjung Banua mengulas buku puisi Zikri, “Wifi di Atas Kuburan”. Melalui strategi desakralisasi dan deprofanisasi, Zikri memadukan kesucian tradisi dengan riuhnya era digital dan kultur urban. Puisi-puisinya menghadirkan satir jenaka kritis yang menantang kemapanan teks sakral lewat parodi budaya pop pascamodern.

Almarhum di Atas Kuburan Selengkapnya

Cerpen

Badshah

Badshah adalah bayi buangan yang sempat membawa kehangatan bagi keluarga Tuan dan Minatun. Namun, kematian Minatun mengubah segalanya. Dikuasai duka mendalam dan rasa kehilangan, sang Tuan menghukum Badshah dalam keheningan, menjadikannya pelayan yang sangat patuh. Kepatuhan mutlak anak itu justru menjadi cermin batin yang terus mengutuknya dalam kesunyian rumah tersebut.

Badshah Selengkapnya

Pusaka Sastra

Minangkabau dan Negeri Sembilan: Satu Rumpun yang Berkembang Jamak

Resensi ini mengulas karya klasik P.E. De Josselin de Jong mengenai struktur sosial-politik Minangkabau dan Negeri Sembilan. Buku ini membedah hubungan historis, sistem kekerabatan, dan hukum adat di kedua wilayah. Melalui analisis kritis, De Jong menunjukkan bagaimana sistem sosial yang serupa mengalami kontekstualisasi berbeda akibat berbagai pengaruh internal maupun eksternal.

Minangkabau dan Negeri Sembilan: Satu Rumpun yang Berkembang Jamak Selengkapnya

Liputan

Tato Mentawai Reborn

Tato tradisional Mentawai yang dahulu dilarang dan nyaris punah, kini bangkit kembali. Digerakkan oleh generasi muda seperti Bajak Letcu, seni rajah tubuh ini tak lagi dianggap tabu. Tato kini kembali diakui bukan sekadar hiasan fisik, melainkan murni sebagai simbol identitas, kebanggaan, dan warisan leluhur masyarakat Mentawai yang harus terus dilestarikan.

Tato Mentawai Reborn Selengkapnya

Esai

Otot dan Otak dalam Kekuasaan

Esai ini menganalisis novela satir Animal Farm karya George Orwell, dengan berfokus pada dinamika kekuasaan politik antara tokoh Snowball dan Napoleon. Melalui adu strategi antara kecerdasan intelektual dan kekuatan otot taktis, tulisan ini menunjukkan bagaimana ambisi, kendali aparatur kekerasan, serta pengkhianatan idealisme dapat menghancurkan revolusi dan menciptakan rezim amat korup.

Otot dan Otak dalam Kekuasaan Selengkapnya

Cerpen

Tukang Cukur Keliling

Tukang cukur keliling itu selalu datang setiap hari Minggu ke pasar kecamatan dengan sepeda tuanya. Di bawah pohon beringin, ia melayani antrean panjang pelanggan menggunakan nomor dari kartu remi. Kehadirannya tidak hanya memangkas rambut, tetapi juga menumbuhkan profesi baru bagi warga desa dan mewariskan kenangan tak terlupakan.

Tukang Cukur Keliling Selengkapnya

Pusaka Sastra

Abdul Manaf: Ulama yang Menulis Kisah Hidupnya

Buku “Riwayat Hidup Abdul Manaf” karya Pramono menyajikan transliterasi autobiografi ulama besar Sumatra Barat. Naskah ini merangkum detail perjalanan hidup, pendidikan agama, hingga catatan sosial-politik penting seperti masa penjajahan Belanda dan Pemilu 1955. Karya ini menjadi sumber sejarah berharga sekaligus inspirasi mendalam bagi pembacanya.

Abdul Manaf: Ulama yang Menulis Kisah Hidupnya Selengkapnya

Sketsa

Matinya Tukang Oyak

Artikel sketsa “Matinya Tukang Oyak” karya Deddy Arsya menyoroti Epen, pelobi ulung yang memanfaatkan rasa malu warga untuk menggalang dana desa. Kematiannya membuat proyek mangkrak, sekaligus menjadi sindiran tajam bahwa pembangunan sering kali lebih bergantung pada kelihaian pelobi personal daripada sistem birokrasi yang adil.

Matinya Tukang Oyak Selengkapnya

Liputan

Menyambangi Jembatan Setan

Tersembunyi di Ngarai Schöllenen, Swiss, Jembatan Setan atau Teufelsbrücke menawarkan pesona alam Alpen yang spektakuler sekaligus jejak sejarah yang amat panjang. Dinamai berdasarkan legenda mistis tentang perjanjian penduduk setempat dengan Iblis pada abad ke-13, jembatan batu kuno ini menjadi keajaiban arsitektur yang memukau pelancong di tengah gagahnya dinding tebing granit.

Menyambangi Jembatan Setan Selengkapnya

Esai

Feodalisme di Negeri Egaliter

Esai karya Ivan Adilla ini menyoroti fenomena pemberian gelar adat Minangkabau kepada para pejabat pusat. Praktik ini dikritik tajam sebagai bentuk feodalisme baru yang ironisnya mengikis nilai luhur budaya egaliter masyarakat Minangkabau. Gelar adat kini justru dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis serta sekadar alat untuk menyenangkan hati para penguasa pusat.

Feodalisme di Negeri Egaliter Selengkapnya

Scroll to Top