
Tidak ada akal lain, setelah beruknya mati, Ujang Cigun membeli seekor beruk muda mentah. Bagaimana tidak, beruk adalah kehidupan baginya. Meskipun ia hanya sendiri, tinggal di sebuah rumah kayu di ujung kampung, tapi Ujang Cigun tentu harus punya pencarian. Supaya dapur berasap. Pembeli teh tak bersaring. Tembakau mudik kesukaannya. Dan tentu saja pisang, nasi, dan telur untuk beruknya. Pekerjaan sebagai tukang beruk itu sudah bertahun-tahun dijalaninya. Sampai kini ia mulai beranjak tua.
Dengan sepeda tua yang sudah digerogoti karat, Ujang Cigun berkeliling kampung menerima upah dari orang yang ingin mengambil kelapanya. Beruknya duduk tenang di boncengan atau kadang di setang sepeda. Upahnya adalah kelapa juga, yang nanti dijualnya ke warung harian atau ke pasar.
“Mana beruk yang dulu, Pak Ujang?”
“Tua dan sakit-sakitan. Sekarang sudah mati.”
“Ini beruk yang mana?”
Beruk itu dibelinya di pasar hewan. Tidak mahal. Entah kenapa, saat di pasar, beruk itu selalu melihat kepadanya. Ujang Cigun heran juga, seolah-olah ia ingin ikut dengan Ujang Cigun. Ketika didekati, si beruk memegang tangan Ujang Cigun. Hangat. Seakan bersahabat. Tanpa pikir panjang, beruk itu pun dibawanya pulang. Dengan harga terjangkau tentunya.
Beruk jantan itu diberinya nama Kiran. Entah apa alasannya, tapi Ujang Cigun merasa senang saja memanggil beruk itu demikian. Dan sepertinya beruk itu juga merasa senang. Ia melompat-lompat girang dan mengajak Ujang Cigun bercanda ketika namanya dipanggil.
“Lompat, Kiran. Lompat lebih tinggi agar kamu tidak gamang kalau sudah di atas,” sorak Ujang Cigun tertawa-tawa. Giginya yang menghitam karena tembakau memantul di antara mukanya yang mulai keriput.
Meskipun Kiran beruk muda mentah, tapi berkat ajaran Ujang Cigun yang sudah berpengalaman, si beruk sudah bisa memanjat pohon kelapa dengan cepat. Ia sudah bisa membedakan kelapa muda dan kelapa tua, cara memanjat pohon kelapa yang licin, bahkan membersihkan arai kelapa dari tandannya. Walau begitu, banyak juga ia yang belum tahu. Bagaimana mengelak dari keroyokan semut. Bagaimana kalau talinya tersangkut di daun atau tandan kelapa. Dan juga, bagaimana mengatasi jika Ujang Cigun sedang marah. Kalau situasinya sudah demikian, Kiran akan diam saja. Menekur. Serupa beruk mengantuk.
“Yang muda, Kiran. Ambil kelapa yang muda,” teriak Ujang Cigun memberikan perintah. “Ya, sudah. Pilih kembali kelapa yang tua, jangan tidur!” teriak Ujang Cigun seraya menghela dan menyentak-nyentak talinya untuk mengendalikan beruk dari bawah.
Setiap akan menjual kelapa hasil upah ke warung atau ke pasar, Ujang Cigun selalu memautkan dulu Kiran di rumah. Ia takut kalau dibawa beruk itu akan mengganggu orang lain. Ia memautkan di tonggak kayu. Di sebelahnya terdapat kandang Kiran. Kecil, sederhana, terbuat dari kayu bekas. Ujang Cigun akan melengkapi air minum dan makannya terlebih dahulu, baru setelah itu ia mengayuh sepeda tua dengan tenaga tuanya melintasi jalan kampung.
Namun, suatu kali Kiran tidak mau ditinggal. Beruk itu berputar-putar. Melompat-lompat. Menarik bahkan menggigit talinya berusaha untuk lepas. Meski Ujang Cigun sudah berusaha untuk menanganinya, menambah air minum, memberi pisang, tapi Kiran tetap saja menarik-narik talinya. Akhirnya Ujang Cigun membawanya ke pasar.
Setelah menjual kelapa, Ujang Cigun mencari keperluan yang harus dibelinya. Saat itulah mereka berpapasan dengan seorang laki-laki berpakaian seragam. Entah seragam apa, Ujang Cigun tidak paham. Yang pasti pakaian seragam laki-laki itu gagah sekali, membuat Ujang Cigun kagum.
Berbeda dengan Kiran. Ia malah bertingkah sangat aneh. Ia mencibir ke arah laki-laki itu sejadi-jadinya. Lidahnya habis terjulur. Mulutnya mengeluarkan suara-suara cemooh ala beruk. Tidak itu saja, Kiran sampai menyunggingkan pantatnya ke arah laki-laki itu berkali-kali.
Ujang Cigun yang sadar perlakuan beruknya makin aneh, mencoba menenangkannya. Tapi Kiran seperti tidak peduli. Ia terus saja berbuat seperti itu. Bahkan bertambah menjadi-jadi. Ujang Cigun buru-buru menuju pulang setelah selesai membeli segala keperluan. Laki-laki itu terus memperhatikan Ujang Cigun dan Kiran yang berlalu. Wajahnya terlihat geram sekali atas kelakuan Kiran.
Malam jatuh di ujung kampung. Suara khas binatang malam mempertegas kerlip kunang-kunang yang hilang-hilang timbul. Sesekali terdengar suara penjaja makanan. Sesekali suara itu ditingkahi oleh suara sepeda motor yang lewat satu-satu. Segala membaur dalam kehidupan yang terus berjalan. Kehidupan yang sederhana di ujung kampung itu.
Ujang Cigun sudah berjanji pada dirinya tidak akan membawa Kiran lagi ke pasar. Ia takut kalau makin banyak orang yang tersinggung dengan kelakuan Kiran. Padahal ketersinggungan tersebut kadang terasa berlebihan. Bukankah Kiran hanya seekor hewan? Seekor beruk muda mentah yang masih makan ajar dari Ujang Cigun.
Namun, kali berikutnya, lagi-lagi Kiran berulah. Ia menggerapai-gerapai. Lebih terlihat liar dari sebelumnya. Ia seolah-olah ingin memutus tali. Bahkan ia tidak peduli ketika Ujang Cigun memukulinya. Ia tetap saja meronta-ronta minta lepas. Minta dibawa pergi ke pasar. Ujang Cigun takut, kalau ditinggal nanti beruknya lepas dan hilang. Ia tidak punya uang untuk membeli beruk yang baru. Atau, bila lepas beruknya bisa saja mengganggu orang di sepanjang kampung. Itu tentu akan lebih bahaya lagi. Ujang Cigun terpaksa mengalah. Ia akan coba membawa Kiran sekali lagi ke pasar. Mudah-mudahan ia tidak berulah dan tidak menggangu.
Ketika mereka menjual kelapa, Kiran diam-diam saja. Ketika Ujang Cigun membeli beberapa kebutuhan, Kiran juga aman-aman saja. Ujang Cigun memberinya pisang. Beruk itu pun makin tenang. Lagi-lagi terlihat serupa beruk mengantuk.
Pasar lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena bulan baru. Para pedagang tampak bersemangat meneriakkan dan menawarkan dagangan masing-masing. Banyak orang-orang kantor dan petugas keamanan berseliweran. Ada yang belanja, ada yang lalu saja. Ujang Cigun juga mendengar bisik-bisik para pedagang bahwa akan ada kunjungan. Entah siapa yang akan berkunjung, ia tidak tahu. Ia hanya berharap Kiran akan tenang-tenang saja.
Tapi saat mereka akan beranjak pulang, Kiran melihat seorang wanita berpakaian seragam yang didampingi oleh dua orang laki-laki yang juga berpakaian seragam. Seragam mereka berbeda dengan seragam laki-laki yang dulu bertemu dengan Kiran di pasar tersebut. Lagi-lagi Ujang Cigun tidak paham dengan seragam itu. Ia melirik ke beruknya. Beruk itu mulai gelisah. Ujang Cigun berusaha menenangkan. Tapi ia malah memekik seolah melawan. Dan saat seorang wanita yang didampingi oleh dua orang laki-laki itu mulai tertarik perhatiannya, saat itulah Kiran memulai aksinya. Ia mulai mencibir. Menjulurkan lidah. Mengeluarkan suara-suara cemooh ala beruk. Dan menyunggingkan pantat ke arah wanita dan laki-laki itu.
Orang-orang mulai melihat ke arah Kiran. Lalu ke arah wanita dan laki-laki itu. Ada yang tertawa sembunyi-sembunyi, takut kalau-kalau wanita dan laki-laki tersebut tersinggung. Wanita dan dua orang laki-laki itu berusaha menyembunyikan rasa malu ketika mereka menjadi pusat perhatian hanya gara-gara seekor beruk.
“Hei, tukang beruk. Ke sini!” teriak salah seorang laki-laki-laki itu. Di sebelahnya, wanita yang didampinginya terlihat sedang menahan marah. Mukanya merah.
Ujang Cigun berjalan ke arah mereka setelah memastikan beruknya terikat dengan kuat di boncengan sepeda.
“Bawa berukmu pulang. Ia sudah menggangu kenyamanan orang di pasar ini,” sambung laki-laki itu setengah membentak.
“Di sebelah saya ini bupati. Kamu tahu?” ucap laki-laki yang satunya lagi tegas dan angkuh.
Ujang Cigun menunduk. Orang-orang melihat kepadanya. Ia sadar kalau ia sedang dalam masalah. Ia tidak ingin berlama-lama di pasar itu. Sebelum orang-orang makin ramai berkerumun, sebelum dua orang laki-laki berpakaian seragam itu terus membentak-bentak dirinya, sebelum semua menjadi masalah yang lebih serius, ia ingin segera pulang.
“Mari pulang, Kiran. Sebentar lagi gelap akan datang,” katanya seraya menaiki sepeda.
Dan benar, tidak berapa hari setelahnya, Ujang Cigun yang mulai beranjak tua dan beruknya yang masih muda mentah ditangkap—digiring ke sebuah kantor dengan tuduhan penghinaan. []
Payakumbuh, Januari 2026.




