
Sebuah puisi tak berjudul, semacam soliloqui pengarang, terpampang di sampul belakang (back cover) sebuah buku setebal xvii + 130, dilengkapi nomor ISBN 979-95830-3-9. Di pinggir kirinya terdapat potongan gambar dari sampul depan (cover) seukuran pembatas halaman. Sampul depannya sendiri tampak impresif, seperti semburat cahaya pada kerang mutiara, membuatnya berpijar serupa pasangan bola mata. Bila dicermati lebih teliti terlihat objek berupa empat sekoci (plus satu sekoci lagi agak samar) yang kesemuanya menyaran pada judul buku yang akan segera kita bicarakan ini: Dermaga Lima Sekoci.
Di sudut kanan bawah terdapat logo dan nama penerbit: Citra Budaya Indonesia. Ada pun nama pengarangnya, terletak paling atas dengan warna putih berlatar merah sehingga tampak jantang, menantang: A.A. Navis. Sementara dari halaman kolofon dapat diketahui bahwa Dermaga Lima Sekoci merupakan terbitan Citra Budaya Indonesia (November 2000), sebuah yayasan seni-budaya di Kota Padang yang salah seorang pengurusnya adalah Yusrizal KW—ia yang sekaligus mendesain cover buku ini, dari lukisan “Cinta Perdamaian” karya Ardianto; sedangkan desain isi oleh Syofiardi Bachyul Jb.
Begini lengkapnya soliloqui itu:
Sebelum menulis prosa
aku menulis puisi
lima puluh tahun lalu.
Aku berhenti karena mengira
puisi tidak cukup kata
puisi gelap kental bermakna
Kemudian ada puisi
menurut sesukanya penyair
seperti bernuansa magis
puisi campuran bahasa gado-gado
Puisi main-main sikat gigi
puisi makian bangsat
puisi pamflet politik
puisi bersuling-daling
puisi ratib tojak
puisi bercerpen.
Maka aku menulis lagi karena
tak seorang pun akan merugi
paling-paling orang menyumpah
—Navis ini sudah latah—
A.A. Navis jelas bukan nama asing dalam sastra Indonesia, khususnya prosa— novel, dan terutama cerpen. Tapi puisi? Benarkah ia sudah latah ikut-ikutan menulis puisi? Tidak banyak orang yang tahu memang, bahwa Navis juga menulis puisi, sehingga mungkin saja ada yang kaget atau penasaran.
“Sejauh perjalanan kreativitas Navis, ia hanya dikenal sebagai novelis atau cerpenis. Tidak banyak kalangan yang mengetahui bahwa ternyata Navis juga menulis puisi atau sajak-sajak. Keterbatasan pengetahuan khalayak sesungguhnya dapat dipahami karena Navis memang tidak pernah mempublikasikan karya-karya puisinya,” demikian penjelasan pada “Pengantar Penerbit” (halaman x), seolah menyadari situasi dan memberi alasan lebih awal supaya pembaca segera berdamai dengan kekagetannya.
Tapi, jangan-jangan orang akan biasa saja, tidak kaget, tidak penasaran, karena sudah tahu, Navis pribadi yang mencoba banyak hal. Analog dengan kiprahnya di berbagai bidang, mulai pembuat tegel keramik, pengajar, pimred surat kabar, ketua Gebu Minang, pengurus yayasan, ketua dewan kesenian hingga anggota DPR.
Maka jangankan dalam konteks puisi yang masih satu dunia—dunia sastra—dengan prosa, di dunia non-sastra pun—meski tetap terkait dengan dunia tulis-menulis—namanya tak kalah tinggi berkibar. Kajian dan artikel kebudayaannya tersebar luas, termasuk biografi tokoh dan profil lembaga pendidikan. Dalam genre sastra, selain prosa plus puisi, ia juga dikenal sebagai penulis naskah drama radio, jauh saat ia bekerja sebagai karyawan RRI Bukitinggi.
Pendek kata, dunia tulis-menulis tunak ia lakoni. Sampai akhir hayat, ia masih meninggalkan sebengkalai tulisan yang dilanjutkan penyuntingannya oleh Mestika Zed, lalu terbit sebagai buku, Pemikiran Minangkabau: Catatan Budaya A.A. Navis (Angkasa, 2017).
Ivan Adila dalam buku A.A. Navis: Karya dan Dunianya (Grasindo, 2003) mencatat sejumlah karya Navis yang lain, di luar cerpen dan novel. Dalam catatan di bab khusus tersebut (Bab 10), Ivan menyebut terlebih dahulu buku kumpulan puisi yang sedang kita bicarakan ini, Dermaga Lima Sekoci. Kemudian disebut karya babonnya, Alam Terkembang Jadi Guru (Grafiti Pers, 1984) yang menyajikan secara komprehensif topik-topik pokok tentang adat dan kebudayaan Minangkabau.
Dalam buku Otobiografi A.A. Navis, Satiris & Suara Kritis dari Daerah (Gramedia, 1994) susunan Abrar Yusra diceritakan, saat menyusun buku Alam Terkembang Jadi Guru, ada saja pihak mencibir dan menyebutnya latah. Kenyataan itu agaknya terulang, atau lebih dulu ia sadari dalam konteks penulisan puisi, sehingga dengan cara men-cime’eh (mencemooh, mengejek) diri sendiri ia nyatakan: Maka aku menulis (puisi) lagi karena/tak seorang pun akan merugi/paling-paling orang akan menyumpah/—Navis ini sudah latah—//
Tradisi cemoohan (atau dalam bahasa Minang disebut cime’eh) sebagai pembangkit semangat, merupakan sikap gayeng yang sudah dikenal luas dari profil Navis. Namun sikap “mengejek diri sendiri” ini seolah antitesis dari anggapan umum bahwa Navis suka men-cime’eh pihak lain (ditujukan ke luar). Padahal, sesekali ia juga mengolok diri sendiri.
Bahkan, dalam artian luas, cime’eh-nya itu lebih kuat diarahkan ke dalam, ke kaumnya, orang Minang, sehingga banyak pula yang menuduhnya “pembenci” adat Minang. Konsep “bermain-mainnya” ini, dalam batas tertentu, mengingatkan saya pada almarhum Ode Barta Ananda, seorang cerpenis kuat asal Sumatera Barat yang semasa hidupnya sesekali menulis sajak. Tapi ia tak pernah menyebut dirinya penyair, melainkan “sajakis”.
Kembali ke catatan Ivan Adila. Ia lanjut mencatat buku non-sastra Navis lainnya. Ada buku Surat dan Kenangan Haji (GPU, 1996), Filsafat dan Strategi Pendidikan M. Sjafei (Grasindo, 1996), Pasang Surut Pengusaha Pejuang: Otobiografi Hasjim Ning (Grafiti Pers, 1987), Dialektika Minangkabau dalam Kemelut Sosial dan Politik (editor, Genta Singgalang, tanpa tahun), dan Yang Berjalan Sepanjang Jalan (Grasindo) berisi 50 artikel berbagai bidang.
Menarik juga upaya Ivan Adila menyebut lebih awal buku puisi ini, meski waktu terbitnya paling belakangan dibandingkan dengan buku-buku lainnya. Seolah ia harus buru-buru memintas keingintahuan publik atas genre yang tidak disentuh Navis secara terbuka. Sehingga bahkan judul Bab 10 ini dipengaruhi oleh kehadiran Dermaga Lima Sekoci.
“Sebuah Puisi, Setumpuk Buku,” begitulah judul bab pada halaman 209 itu.
Saya tidak tahu mengapa disebut “sebuah puisi” karena realitasnya Dermaga Lima Sekoci adalah juga bagian dari setumpuk buku yang memuat 75 buah puisi. Apakah Ivan menganggap bahwa buku itu dapat disederhanakan menjadi “sebuah puisi” saja, katakanlah karena isinya tidak begitu kompleks? Atau seturut istilah Ivan sendiri,”puisi Navis lebih terkesan sebagai prosa, tidak sekental sebagaimana puisi pada umumnya”?
Ah, jangan-jangan Pak Ivan ini mau men-cime’eh Pak Navis, pikir saya. Jika tidak, mengapa judulnya bukan “75 Buah Puisi, Setumpuk Buku”, misalnya? Tapi tunggu dulu. Bukankah ke-75 puisi itu juga terbit di dalam sebuah buku? Wah, salah-salah saya pula yang terkesan men-cime’eh Pak Navis ini! Maka, supaya tak kualat pada orang tua, sebaiknya saya sarankan judul lebih pas,“Sebuah Buku Puisi, Setumpuk Buku Budaya”. Ini rasanya lebih netral, meski tetap memberi tekanan khusus kepada buku puisi, yang satu-satunya ditulis Navis.
Tapi di atas semua itu, akan lebih baik jika kita melihat catatan Ivan Adila atas buku istimewa ini. Menurutnya, ketertarikan Navis menulis puisi—jauh sebelum menulis cerpen—kemungkinan terkait dengan pengenalannya atas puisi-puisi angkatan Pujangga Baru dan berlanjut ke Chairil Anwar melalui majalah yang ia baca sejak masa sekolah.
Puisi-puisi Navis di masa awal, lanjut Ivan, bernuansa kasih sayang, kerinduan, perjuangan, harapan, dan pengalamannya. Hal yang wajar menurut saya, karena puisi-puisi tersebut ditulis lewat sedikit dari masa remajanya. Meski demikian, tidak semua puisi di masa awalnya itu terkait dengan gejolak remaja. Sejumlah puisi pendeknya terasa reflektif, dengan perspektif dan falsafah yang unik. Misalnya dua puisi berikut:
Di Ujung Jalan
Pada penyelesaian akhir
satu antara dua ujung
yang tercapai.
Pertama
jaya gemilang jadi abadi
bilamana berbuat banyak lagi asli
dalam hidup yang ringkas ini.
Kedua
hilang tenggelam dalam hari
bila berbuat yang tak berarti
seperti barisan perkasa dalam pawai.
05.09.1950
Lagu Baru
—Kami bukan pembina candi
kami cuma pengangkut batu—
demikian kata pemimpin hiba bernyanyi.
Lalu anaknya bernyanyi lagu baru
—kami pembina candi
juga pengangkut batu—
05.11.1950
Pada usia tua, puisi Navis memuat minat yang lebih luas pada persoalan spiritual dan situasi sosial politik. Misalnya dalam puisi “Ketemu Gus Dur”. Dalam puisi ini ia mengkritik cukup tajam, mengingatkan pada puisi kritik Mustofa Bisri. Namun ia tetap memberi nuansa keakraban kepada Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) yang notabene sahabatnya. Waktu itu, Gus Dur mengunjungi Navis saat ia dirawat di rumah sakit Harapan Kita Jakarta.
Pendek kata, bagi Ivan Adila, buku kumpulan puisi ini menarik dan penting karena nilai historis-dokumenternya. Selain itu juga bisa menjadi bahan kajian, tentang bagaimana seorang penulis prosa ketika menulis puisi. Menurut saya, bisa pula diaplikasikan sebaliknya pada sosok sastrawan lain yang biasa menulis puisi lalu menulis prosa, atau ulang-alik antar genre.
Soliloqui Lima Sekoci

Sesuai judulnya, Dermaga Lima Sekoci terdiri dari lima bagian (yang disebut sebagai Sekoci): Sekoci Satu, Sekoci Dua, Sekoci Tiga, Sekoci Empat dan Sekoci Lima. Setiap Sekoci memuat antara 12 sampai 17 puisi. Apakah ada hubungannya dengan sholat wajib lima waktu, yang menjadi sekoci penyelamat hidup untuk sampai ke dermaga Ilahi? Entahlah.
Bagi saya yang lebih menarik adalah, bagaimana di setiap pembuka bagian Sekoci, terdapat sebuah puisi pendek tanpa judul, apa yang sejak awal saya sebut sebagai soliloqui pengarang. Soliloqui ini berbeda dengan quote, hal yang belakangan digemari pembaca, dan kadang direspon dengan kenes oleh sejumlah penyair mutakhir. Jika quote lebih berupa bait atau baris puisi yang “enak dikutip”, semacam kata mutiara atau kata-kata motivasi, maka soliloqui semacam kerangka puitik yang menentukan warna setiap bagian dalam sebuah buku puisi. Begitulah setidaknya yang terlihat dalam Dermaga Lima Sekoci.
Hal ini mengingatkan saya pada kumpulan puisi penyair Belanda J.J. Slauerhoff yang banyak mempengaruhi Chairil Anwar. Bukunya, Kubur Terhormat bagi Pelaut (Pustaka Jaya, 1977) terjemahan Hartojo Andangjaja, terdiri dari dua bagian; keduanya dibuka oleh soliloqui. Bagian pertama dibuka oleh sebait puisi: Laut, betapa dalamnya dan betapa jauhnya,/Ialah daerahnya yang tak mungkin teraba;/Hanya sebuah kapal dan sebuah bintang juga/Yang bersama-sama menjajaki ini yojana. Bagian kedua dibuka oleh sebaris lagu pelaut kuno: Hura, demikian nian hidup pelaut!
Ini bukan sekadar kutipan dekoratif, namun memberi konteks tematik pada setiap bagian. Bagian pertama puisi Slauerhoff, sesuai isi kutipan, memang berisi penjelajahan para pelaut di kapal-kapal samudera hingga ke pelabuhan ujung dunia. Sedangkan pada bagian kedua, juga sesuai baris kutipan, menyangkut hidup para pelaut dengan segala petualangan dan nasibnya. Mulai kehidupan di pelabuhan yang keras, godaan penghuni rumah bordil, kesepian, hingga nasib mantan pelaut yang menjadi penjaga mercu suar di Laut Cina Selatan.
Begitu pula dalam Dermaga Lima Sekoci. Bait di setiap pembuka Sekoci itu, bersifat tematik dan memberi impresi tertentu. Ia menjadi orientasi dan obsesi penulisnya pada setiap bagian. Meski demikian, ia juga tak menisbikan hubungan dengan keseluruhan bagian. Sebagai contoh, bait-bait soliloqui di backcover yang sudah kita bicarakan panjang-lebar di atas, saya kutip dari pembuka Sekoci Lima (halaman 93).
Ternyata ia menunjukkan keterkaitan dengan sekoci yang lain. Sebut misalnya pernyataan dalam bait pertama: Sebelum menulis prosa/aku menulis puisi/lima puluh tahun lalu. Maka, dalam Sekoci Satu, kita akan bertemu puisi pertama Navis, “Kenangan”, ditulis tahun 1946—jauh sebelum ia menulis cerpen pada tahun 1955 berjudul “Kisah Seorang Hero”.
Masih terkait dengan teknik soliloqui, waktu penulisan sajak dalam buku ini tidak dikumpulkan secara berurutan dalam satu sekoci, namun acak atau campuran. Misalnya, di dalam bagian Sekoci Satu, kita akan menemukan puisi-puisi yang ditulis pada tahun awal 1946 hingga 1952. Namun dalam Sekoci Dua, ada juga puisi bertahun 1947 dan sesudahnya, sebagaimana dalam Sekoci Tiga ada puisi tahun 1948 dan seterusnya. Jelas, susunan ini tidak berdasarkan urutan tahun penciptaan, namun berdasarkan kedekatan tema.
Di sinilah fungsi soliloqui tematik di pembuka bagian. Kita bisa melihatnya satu persatu. Pada bagian Sekoci Satu, soiloquinya begini: Alangkah berat himpitan nestapa/Setiap menuangkan berita kasih/Banyak rasa tak terucapkan kata/Lidah kelu jadi dalih//.
Meskipun menurut Ivan Adila puisi pertama Navis, “Kenangan”, bercerita tentang keinginan untuk meraih kasih sayang kekasih (2010: 2003), namun dengan merujuk soliloqui bagian Sekoci Satu ini, kita tahu sebenarnya obsesi penyair tidak sesederhana itu. Ia menyebut “Alangkah berat himpitan nestapa”, bagi saya menggambarkan beratnya hidup pada tahun-tahun itu sebagai negara yang baru merdeka.
Namun harus diakui, obsesi dalam soliloqui tidak terlalu kuat terekspresikan melalui puisi yang dituliskan, kecuali dalam beberapa bait yang terfragmen, seperti: Kawan,/dalam tidurmu di ranjang kesangsian/ada mimpi menari indah dalam gelap/yang jadi lawan segala musabab (“Pada Kawan”), Warna basah tempelan baru/sementara bawa pesona berlena/tapi kawan, warna lekat bermula/biar waktu laju berlalu, terpisah tiada (“Terpisah Tiada”). Atau tentang kasih ibu: Tidak, Ibu/tangan kasihmu telah lama membelai/sehingga aku ketemu/siapa diriku// (“Ibu”).
Begitu pula pada Sekoci Kedua, tercantum soliloqui: Bagai pancang/digoyang-goyang/tiada berarah/di tanah goyah/kian membenam/menuju tenggelam. Ini menyiratkan kondisi bangsa yang masih belum jelas arahnya seiring perjalanan usia “aku” yang gagap mencari makna hidup. Ini antara lain tercermin dari sajak berikut:
Jembatan Hidup
Pernah aku bangun jembatan
yang megah, yang menawan.
Tapi selalu rubuh, rubuh dan rubuh
oleh hembusan nafas yang keruh
dari semua
dan aku juga.
Kembali aku terbanting
jatuh ke kali yang kering.
Tapi besok, bila pagi datang
aku mulai lagi
yang lebih kokoh dirancang
bila rubuh, aku bangun lagi.
Meski seumur hidupku
aku mulai lagi dari awal selalu.
11.07.50
Pergulatan aku-lirik ini mengingatkan kita pada pergulatan aku-lirik Abdul Hadi WM dalam “Elegi” (1981): Musuh-musuhku, namun sahabat-sahabat setiaku juga/saban kali datang/melukaiku dan kemudian menyembuhkan:/”Mari kita bangun jembatan!” dan kami pun/Segera membangun jembatan dan runtuh juga//Mereka tak tahu dan aku pun sudah lupa//.
Atau puisi Saini KM, “Seorang Insinyur di Puncak Bukit” (1969): “Ya. Sejuta jembatan akan melintasi sungai-sungai/dan lembah ini. Tangan kita akan menyambungkan/rel-rel kereta dalam perut gunung. Langkah besi/akan mempersingkat jarak antara mimpi dan kenyataan.
Selanjutnya pada pembuka Sekoci Tiga, soliloquinya begini: Dipuji/ karena berani/ Dipuja/karena jasa/Dicaci/karena lari/Digugat/karena khianat. Di bagian ini mulai ada hasil pencarian dan pendirian. Ada ketegasan sikap dalam menghadapi keadaan di segala medan. Ini antara lain dapat dilihat dari puisi “Isi dan Kulit” yang membuat amsal pada pisang yang harus terjaga kulit dan isinya. Sebab, tulisnya: Kawan, tiada isi dihargakan orang/andaikata kulit tiada terpandang/dan sekiranya isi saja yang disuguhkan/pasti sangsi orang menelan.
Dalam sajak yang ditulis pada tahun 1948 itu, idealisme Navis sudah mulai terlihat. Pikiran dan perbuatan mesti sejalan. Rupa dan rasa tak boleh menipu. Dalam istilah sekarang, adab dan ilmu harus menyatu. Karenanya, Navis menutup puisi ini dengan menunjukkan sikap tegasnya: Itulah kawan/tamsil kulit pisang yang kujumpa/—isi dan kulit haruslah setara/demikian sikap sepanjang zaman.//
Pada Sekoci Empat terdapat soliloqui berikut: serupa sudah arca ini/dengan model yang ditiru/namun dia takkan bernyawa/pemahatnya yang akan mati.
Bagian ini sudah masuk ke ranah filsafat dan eksistensi sebuah bangsa. Misalnya bagaimana ia merumuskan posisi aku, dia, atau kita dan mereka dalam sajak “Bersatu Bukan Bersama” (halaman 66). Ini mengingatkan kita setidaknya pada metamorfosis subjek “aku” menjadi “kami” atau “kita” dalam filsafat Gabriel Marcel.
Jejak Transisi
Hal lain yang cukup menarik dari puisi-puisi awal Navis adalah, bagaimana ia merekam jejak transisi dalam perkembangan puisi modern kita. Di satu sisi, pengaruh gaya Pujangga Baru yang mendayu masih kuat terasa, di sisi lain, ungkapan Chairil yang elegan mulai menarik perhatian pula. Itu saat puisi Indonesia berayun antara gaya puisi lama (yang terikat) dan munculnya gaya puisi baru (yang bebas).
Mari kita lihat puisi pertama Navis dalam Sekoci Satu:
Kenangan
‘Kutempuh jua suatu masa
Melintas taman warna-warni
Berahikan kembang sekuntum jelita
Walau batang penuh berduri
Pedih dan perih ‘kurasakan luka
Tiada ‘kupeduli
Tangan terjulur hati berkata:
—apakah kembang ‘kupetik sudi?
Puisi ini mengafirmasi pernyataan Ivan Adila terkait “Kenangan” yang bercerita tentang keinginan aku-lirik untuk meraih kasih sayang seorang kekasih. Metafora kembang yang menjadi andalan puisi lama, dieksplor dari kuntum, batang dan duri. Namun, ketimbang membujuk rayu “sekuntum kembang jelita” itu, ia memilih cara lebih lantang, “Tiada kupeduli pedih dan perihnya sebuah luka.”
Transisi ini saya rasa juga dialami Sitor Situmorang, namun dengan tingkat perkembangan eksplorasi yang berbeda. Kita tahu, puisi Navis stagnan bahkan kemudian ia memilih berhenti, sedangkan Sitor secara konstan dan konsisten memilih puisi. Dalam puisi-puisi awal Sitor, sejumlah ungkapannya juga dekat dengan nuansa ungkapan Chairil. Tapi ia tak menisbikan pantun sebagai spirit puisi lama.
Alhasil, Sitor dikenal sebagai penyair yang memang banyak menghasilkan puisi, namun di sisi lain, penyair “Danau Toba” tersebut juga dikenal sebagai cerpenis kuat meskipun cerpen yang dihasilkannya tidak banyak. Itu karena dalam cerpen pun (periksa kumpulan Salju di Paris), Sitor menunjukkan gaya baru dan pencapaian tersendiri.
Ini lebih kurang sama dengan Sutardji Calzoum Bachri yang sangat kental marwah kepenyairannya, toh sedikit cerpen yang pernah ia tulis (periksa buku Hujan Menulis Ayam) juga dikenang cukup kuat sebab ia menawarkan sesuatu, meski tidak sekuat Sitor.
Sedangkan Navis tetap hanya eksis di dalam cerpen atau prosa, sebab sedikit puisi yang dihasilkannya kurang menunjukkan keberhasilan puitik yang meyakinkan. Ini juga hampir sama dengan W.S. Rendra yang dikenal dalam ranah puisi dan drama, dan sedikit cerpen yang ia hasilkan (periksa buku Ia Sudah Bertualang) juga terbilang biasa.
Semua itu bukan tanpa alasan, jika kita melihat kembali “Pengantar Penerbit”:
[…] Pada suatu kesempatan berbincang, Navis mengatakan bahwa menurutnya sajak-sajaknya tidak memuaskan dirinya sendiri, karena itulah ia tidak menerbitkan atau tidak mengirimkannya ke media cetak. Alasan lain, puisi ternyata tidak begitu cocok untuk menampung ide dan visi yang bergelimpangan dalam kepalanya. Lebih-lebih ketika “puisi gelap” dan “puisi slogan” menjadi trendi di kalangan penyair, Navis jadi semakin yakin meninggalkan penulisan puisi. Bahkan Navis pernah berpikir bahwa kadang-kadang puisi dijadikan alat “main-main” dan sekadar sarana untuk bisa terkenal (hal. x).
Meski tak mempublikasikan puisinya, Navis tampaknya mengikuti perkembangan fenomena puisi Tanah Air. Karenanya ia cukup fasih menyebut isu puisi gelap yang pernah ramai pada tahun 1990-an, puisi magis yang barangkali merujuk pada fenomena puisi mantra Sutardji; puisi campuran bahasa gado-gado seperti fenomena Darmanto Jatman atau Linus Suryadi; puisi main-main sikat gigi seperti dalam puisi ANM Yudhistira dan puisi mbeling lainnya, puisi pamflet ala Rendra. Bahkan ada beberapa fenomena yang saya sendiri, jujur, tidak tahu karena tidak sepopuler isu yang lain, yakni “puisi makian bangsat”, “puisi bersuling-daling” dan “puisi ratib tojak”.
Kembali ke Puisi
Navis mengatakan bahwa ia lebih dulu menulis puisi ketimbang menulis prosa. Sebenarnya kapan Navis mulai menulis prosa? Merujuk Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (Buku Kompas, 2005) susunan Ismet Fanany, cerpen pertama Navis adalah “Kisah Seorang Hero” yang ditulis tahun 1955—satu-satunya cerpen yang ia tulis dalam tahun itu. Tahun berikutnya, 1956, Navis tancap gas menghasilkan 13 cerpen, termasuk cerpen masterpiece-nya, “Robohnya Surau Kami”.
Berarti benar pengakuan Navis bahwa “Sebelum menulis prosa/aku menulis puisi/lima puluh tahun lalu”. Berdasarkan puisi pertamanya, “Kenangan”, tertulis di bagian bawah 1946.
Akan tetapi, dalam antologi cerpen lengkap ini, ada dua cerpen diletakkan paling awal di bawah keterangan “Tanggal Tidak Diketahui”, yakni cerpen “Fragmen” dan “Ganti Lapik”. Keterangan ini sebenarnya agak problematis. Sebab “tidak diketahui” belum tentu lebih awal, tapi belum tentu juga paling akhir. Tapi percaya sajalah pada kejujuran Navis, apalagi itu ia ungkapkan melalui puisi, alih-alih soliloqui, yang otentik dan identik dengan kejujuran!
Setelah puisi pada Bagian Sekoci Satu sampai Sekoci Empat selesai ditulis (paling akhir bertahun 1952), maka terputuslah penulisan puisi Navis untuk waktu yang sangat lama. Puisi itu tergeletak atau dibiarkan tersimpan. Barulah dalam kurun tahun 1990-an hingga tahun 2000-an ia mulai lagi menulis puisi. Jadi ada jeda sekitar 50 tahun.
Jika dibandingkan dengan proses kreatifnya menulis prosa, sebenarnya perkara jeda ini cukup sering terjadi. Umpamanya, setelah menghasilkan lima buah cerpen di penghujung tahun 50-an (1957-1958), baru pada tahun 1963 ia menghasilkan cerpen kembali, kebetulan jumlahnya juga lima buah. Jadi ada jeda sekitar lima tahun.
Jeda paling lama adalah dari tahun 1966 pasca melahirkan cerpen “Si Bangkak” ke tahun 1975 ketika ia menulis “Jodoh”. Hampir sepuluh tahun. Tentu saja dalam apa yang disebut masa jeda itu, seorang pengarang tetap melakukan inkubasi sebagai bagian proses kreatif yang tak serta-merta tampak ke hadapan khalayak.
Hanya saja untuk puisi, jeda itu sangatlah lama, jika tak berlebihan dikatakan berhenti, mencapai waktu 50 tahun. Selama itu, mustahil seorang penyair paling selektif sekalipun melakukan kerja-kerja inkubasi. Akan tetapi, justru di sinilah menariknya. Setelah berhenti lama sekali, kenapa Navis bisa kembali terhubung dengan jalan kepenulisannya yang paling awal? Siklus apakah gerangan mengantarkan seseorang bisa menemui titik berangkatnya? Klangenan? Kenangan? Bisa jadi. Tapi dalam konteks Navis, sesuai pengakuannya, ternyata ada “puisi konkrit” yang membawanya kembali kepada puisi sejati: naik haji.
Kita simak lagi “Pengantar Penerbit”:
[…] Setelah lama meninggalkan dunia puisi yang sesungguhnya disenanginya itu, tiba-tiba Navis menoleh kembali pilihan yang pernah digelutinya itu. Menurut Navis, pada waktu menunaikan ibadah haji pada tahun 1994, berbagai kesan yang mendalam hanya dapat ditulisnya dalam bentuk yang lebih padat, memusat, dan tidak memaparkan sebagaimana cerpen yang biasa ia tulis. Kondisi fisik dan kesehatannya ikut mendorong untuk menulis dalam bentuk paparan. Ia tidak mau berhenti menulis, maka ditolehnya kembali puisi-puisi yang ditulisnya pada tahun 1950-an (sic! Sebenarnya 1940-an-RTB).
Begitulah, tanpa ragu Navis mulai kembali menulis puisi, dengan alasan yang cukup khas: Maka aku menulis (puisi) lagi karena/tak seorang pun akan merugi/
Semua puisi periode ini dimuat dalam bagian Sekoci Lima. Sajak pertamanya setelah lima dekade terhenti, ditulis pada tahun 1994,“Melintasi Bukit Granit Jazirah Arab”, bertepatan dengan peristiwa ia naik haji. Akan tetapi, ternyata, yang ia tulis bukan hanya puisi tentang perjalanan naik haji, namun “bablas” ke puisi sosial politik, seperti “Bangsa yang Terbagi”, “Anak I-III”, “Amanah Tuhan Pejabat Negaraku”, “Tuhan di Negeriku”, ”Merah Putih Benderaku” atau “Ketemu Gus Dur”. Puisi terakhirnya, “Puisi untuk Cucu”, ditulis pada 30.09.00 (bisa dibaca 30 September 2000).
Malahan, puisi tentang haji hanya ada tiga saja, yakni, “Melintasi Bukit Granit Jazirah Arab”, “Kaabah”, dan “Tawaf”. Meski tak tertutup kemungkinan bahwa puisi sosial politik juga bisa lahir dari pergulatan dan kepekaan spritualitasnya sebagai seorang haji.
Kalau begitu, dapat dikatakan bahwa peristiwa berhajinya Navis adalah pemantik untuknya kembali menulis puisi. Peristiwa berhaji memang cenderung memantik moment puitik, ketimbang momen prosaik, setidaknya seperti dikatakan Ali Syari’ati, haji adalah sebuah contoh simbolis dari filsafat Penciptaan Adam. Bukankah sesuatu yang simbolis, lebih dekat kepada puisi yang bersifat metaforis?
Selain itu, bisa pula karena pikiran Navis diperkaya secara referensial oleh fakta sejarah Tanah Suci. Bagaimana misalnya dinding Kaabah dulu digantungi puisi-puisi muallaqat karya para penyair Arab Jahiliyah, masa di mana orang percaya status penyair hampir setengah dewa.
Uniknya, dalam keterbatasan tenaga dan fisik di masa tua sebagaimana disebutkan dalam “Pengantar Penerbit”, nyatanya Navis malah menulis sebuah buku tentang pengalamannya berhaji! Judulnya, Surat dan Kenangan Haji. Sebagaimana Danarto menulis Orang Jawa Naik Haji, Baharuddin Aritonang menulis Orang Batak Naik Haji atau Hendra Esmara yang menulis Aku Datang Memenuhi Panggilanmu, Ya, Allah.
Buku haji Navis ditulis atau terbit pada tahun 1996, justru pada saat puisi yang “padat” dan “memusat” itu datang memanggil-manggilnya kembali!
Demikianlah, betapa pun awalnya A.A. Navis mencoba untuk puitis dengan menulis puisi, ternyata ia tak betah di sana. Akhirnya ia mencoba untuk tidak puitis (dalam arti berhenti menulis puisi), lalu menyuntuki prosa, yang kita tahu, ekspresi cerpen-cerpen Navis lebih terkesan lugas dan satire, tak terlalu mengindah-indahkan bahasanya untuk puitik.
Akan tetapi, siapa menduga, kurang sepuluh tahun sebelum ajalnya, Navis kembali bermuka-muka dengan puisi, meski apa yang disebut puisi itu, di tangan Navis tidak serta-merta puitis, malahan sangat terbuka, nyaris pamfletis, dan, kata Ivan Adila, lebih prosais. Lihat saja kutipan dua bait puisi “Ketemu Gus Dur” ini:
Baru saja aku dipindahkan dari brankar ke ranjang
di ruang gawat darurat RS Harapan Kita Jakarta
Presiden tiba sambil mengacungkan salam
yang tak aku lepas sampai berpisah
……………..
“Gus Dur,
bangsa kita ini, birokrat dan aparat terutama
pada kagok ketika tiba-tiba
ada kyai jadi presiden
begitu sulit mereka mentransformasi pikiran
atau sama sekali tidak mau
karena sudah beku.”
Jika dilihat soliloqui Sekoci Lima, yang menyebut “jenis-jenis” puisi Tanah Air—salah duanya “puisi pamflet politik” dan “puisi bercerpen”—maka, Navislah itu punya barang! Dalam arti kata, satire atau cime’eh-nya, mengena pada dirinya sendiri, kali ini entah ia sadari atau tidak! Toh, bagaimana pun, puisi pada hakikatnya adalah empati, sedangkan puitis atau tidak puitis, merupakan pilihan atau kemampuan seseorang untuk berekspresi. Dan Navis telah mencobanya. Alfatihah untuk Engku Navis.
/Rumahlebah Bangunjiwo,
Ramadhan hari ke-6, 2026.




