Kapsul Waktu Nusantara, Destinasi Nostalgia yang Penuh Cerita dan Sarat Makna

Ruang Memory Kolektif—Kapsul Waktu Nusantara. (Foto: Fahmi Akbar)

Bangunan itu berukuran 6m x 12m, berada di perkampungan padat penduduk. Dindingnya mepet dengan dinding tetangga. Jalanan di depan bangunan tersebut, hanya bisa dilalui dua sepeda motor saja.

Dari luar, bagian dalam ruangan terlihat jelas karena jendela di depan bangunan dibiarkan terbuka lebar. Papan bertuliskan merek mi instan seperti Indomi dan Sarimi dalam kemasan lama digantung pada langit-langit teras. Sedikit mengingatkan akan warung kopi masa lalu– jaman dulu (jadul).

Itulah galeri Kapsul Waktu Nusantara, di Jalan Raya Cengkeh, Sungai Sapih, Kecamatan Kuranji, Kota Padang. Galeri Kapsul Waktu, demikian sebutannya, sebuah destinasi nostalgia, yang akhir-akhir ini banyak dikunjungi orang dari berbagai kota, provinsi bahkan luar negeri.

“Kapsul Waktu”, sebuah “ruang nostalgik”, yang digagas dan dihadirkan oleh seorang bernama Rivaldo Ferdian. Di galeri tersebut terdapat benda-benda produk kelontongan, dalam bentuk Packaging (kemasan) sebuah produk, mulai dari minyak rambut, shampoo, sabun, bumbu masak, bedak, obat nyamuk, korek api kayu, aneka balsam, jamu, rokok kemasan lama, dan ribuan koleksi lainnya, yang semuanya rata-rata diproduksi tahun 1960-an 1970-an dan 1980-an dan 1990-an dalam berbagai merek. Bahkan ada produk yang keluaran tahun 1873. Selain itu, juga terdapat mainan anak-anak, boneka, serta buku-buku, komik jaman dulu.  

Keberadaan “Kapsul Waktu Nusantara” menarik perhatian banyak orang, karena keunikan benda-benda yang dipajang atau ditata pada sebuah ruangan, jika hal tersebut dilihat dari “kacamata hari ini” di era digital. Aura “vintage” salah satu kekuatan konten “Kapsul Waktu Nusanatara”, yang pada mereka kelahiran tahun 60-an, 70-an, 80-an dan 90-an serta terasa ditarik ke masa lalu, sebuah ruang berdimensi nostalgia. Generasi kini, berasa melihat sesuatu yang unik, ternyata dulu begitu ya. Tepat kiranya, ketika tempat ini diistilahkan sebagai destinasi nostalgia, tempat menyalanya memori kolektif banyak orang yang dipicu benda-benda dan produk-produk yang diproduksi puluhan tahun lalu itu.

Rivaldo Ferdian diwawancara reporter cagak.id Bunga Suci Pertiwi. (Foto: Fahmi Akbar)

Semula Minang Vintage

Valdo, panggilan akrab Rivaldo Ferdian, menyambut kedatangan reporter cagak.id dengan ramah. Ia mempersilakan masuk. Pria jangkung berambut gondrong itu, seolah siap untuk presentasi hasil kerja dan segala terkait produk yang ada di dalam galeri Kapsul Waktu Nusantara. Dengan kaos lengan panjang berkerah tinggi, celana panjang slebor dan ikat pinggang kulit, penampilan Valdo layaknya bintang film lawas. Meski film yang dibintangi Valdo sendiri diproduksi dan tayang tahun 2025 lepas.

“Silakan duduk,” gerak tangan Valdo menunjuk karpet berwarna terracotta di sebelah kiri begitu masuk ke dalam galeri. Buku-buku lama tampak disusun bersandar ke dinding di bawah jendela. Berbagai macam bacaan dari majalah bobo sampai cerita azab kubur terlihat dirawat dengan baik.

“Itu buku-buku yang masih dalam keadaan baik,” ujar Aldo seolah bisa membaca pikiran reporter cagak. “Sebetulnya saya punya lebih banyak koleksi, tapi sayangnya buku-buku itu banyak yang habis dimakan rayap di rumah orang tua saya,” jelas Valdo.

Selain buku, ruang tamu galeri dipenuhi dengan mainan jadul yang berjejer seperti aneka patung kertas dan boneka-boneka plastik yang akrab dimainkan anak-anak tahun 80-an dan 90-an. Sebagian besar mainan-mainan tersebut masih terbungkus dalam kemasan. Jika duduk di karpet, pandangan kita akan lurus menghadap sofa di bagian tengah ruangan yang mulai mengelupas, koper jadul dari besi, kumpulan uang kuno baik kertas maupun logam, dan beberapa buku lainnya juga ditumpuk di bagian sudut ruang tamu yang lain. Beberapa bagian loteng sedikit terbuka, atap rumah mengintip dari sana.

Sirkulasi udara di galeri ini cukup bagus, pencahayaan dari matahari cukup untuk menerangi meski tidak sampai ke sudut-sudut terdalam. Sehingga galeri ini jauh dari kata lembab. Memberi kesan vintage, sesuai konsep dan nama Kapsul Waktu sebelumnya, yaitu Minang Vintage.

Kemasan produk jadul, terpajang, menyimpan cerita dan makna. (Foto: Bunga Suci Pertiwi)

Nama Kapsul Waktu Nusantara, kata Valdo, dapat dimaknai secara bebas oleh orang-orang, misalnya sebagai semacam “obat” yang mewakili kehendak mereka terhadap masa lalu. Namun, secara harfiah, kapsul waktu merupakan upaya memperkenalkan suatu produk atau gagasan dengan menghubungkannya pada masa lalu, lalu membawanya kembali ke hari ini menuju masa depan.

Sebelumnya, nama yang digunakan adalah Minang Vintage. Ketika konten ini mulai populer dan jumlah pengikut di Instagram masih sepuluh ribu, beberapa warganet memberikan masukan. Mereka mengatakan bahwa sebaiknya nama “Minang” tidak digunakan agar konten ini dapat merepresentasikan sesuatu yang lebih luas.

Tampaknya rasa memiliki terhadap konten ini menjadi semakin besar. Awalnya konten ini identik dengan daerah Minangkabau, tetapi kemudian atas masukan warganet yang merasa banyak kenangan terhadap barang- barang ini, muncul keinginan agar hal tersebut tidak terkesan milik masyarakat Minang saja, melainkan milik Indonesia secara keseluruhan. Dengan demikian, segmennya menjadi skala nasional.

Diceritakan oleh Valdo, ide mendirikan tempat ini muncul usai pandemi mulai reda pada tahun 2022. Valdo yang di-PHK dari pekerjaannya sebagai sales di salah satu perusahaan roti, kembali ke rumah. Karena bingung harus berbuat apa, maka Valdo kembali membuka-buka koleksi bukunya di rumah orang tua di Talang. Koleksi buku-buku itu jika ditimbang mencapai tiga ton. Sejak kecil ia memang suka membaca berbagai macam bacaan, terutama majalah, seperti Tempo, Femina, Gadis, Kartini, dan lain sebagainya. Biasanya terdapat iklan produk dalam majalah-majalah itu.

Ruang Galeri Kapsul Waktu Nusantara. (Foto: Bunga Suci Pertiwi)

Ketika mengamati produk dalam iklan, Valdo mengamati bentuk kemasan produk-produk tersebut. Menurut pandangan Valdo, kemasan tiap produk unik, dan membangkitkan nostalgia akan masa lampau. Mengingatkan Valdo akan masa kecilnya, dua sampai tiga dekade sebelum era digital.

Lalu timbul pertanyaan dari diri Valdo. Dimana ia bisa mendapatkan produk itu? Setiap iklan dari majalah lantas ia gunting dan buat jadi kliping. Berbekal pengalaman kerjanya sebelum berhenti, Valdo mengingat-ingat tempat yang pernah ia singgahi dan mencoba memetakan kembali tempat-tempat yang sekiranya mungkin masih menjual barang-barang tersebut. Kebiasaan mengumpulkan barang itu menjadi hobi bagi Valdo.

Sebetulnya, hobi mengoleksi sendiri sudah Valdo geluti sejak ia berumur empat tahun. Kala itu, ia tidak sengaja menemukan kartu gambaran di lemari kakaknya. Berbeda dengan teman-teman sebaya yang suka memainkan kartu gambaran dengan cara main ditepuk, Valdo justru hanya mengamati gambar yang berbeda dari tiap kartu. Menurut Valdo, setiap gambar memiliki ciri khas.

Hal tidak menyenangkan terjadi ketika ia duduk di bangku SMP. Kartu gambar koleksi miliknya, dibuang ke sungai oleh sang ayah. Alasannya, karena Valdo tidak belajar di masa-masa ujian, dan malah memperhatikan gambar-gambar di kartu itu saja. Sambil menangis, Valdo berupaya menyelamatkan kartu tersebut. Sayangnya, hanya dua puluh lima kartu yang berhasil ia selamatkan. Itu pun, kartu-kartu yang tersangkut pada ranting sepanjang sungai. Karena banyak kartu yang sudah terbawa sampai ke hilir, Valdo merasa tidak lagi mungkin mengejar kartunya. Kartu yang tersisa kemudian ia jemur.

Kartu gambar-gambar, mainan anak jadul. (Foto: Bunga Suci Pertiwi)

Bertahun-tahun kemudian, hobi itu tidak kunjung padam. Melainkan semakin tumbuh. Valdo lalu bergabung dengan grup pecinta kartu, guna kembali mengumpulkan kartu-kartu gambaran yang ia suka. Beruntungnya, Valdo mendapatkan kartu dengan desain lama yang masih baru, masih berupa lembaran. Belum digunting.

Talam Jadul dan Drama Keluarga

Ketika anaknya baru berusia delapan bulan, Valdo pernah mengalami kesulitan finansial. Selama dua minggu ia tidak mendapatkan uang sama sekali. Hingga suatu hari, seorang pengunjung membeli talam jadul miliknya seharga lima puluh ribu. Berbekal uang tersebut, Valdo berburu barang-barang jadul tanpa sepengtahuan istrinya. Dari penjualan talam, Valdo mendapatkan perlengkapan bayi yang sudah kadaluarsa, seperti minyak telon, sabun, dan lain sebagainya. Dengan perasaan girang, Valdo membawa barang-barang itu pulang.

Ketika sedang mengelap barang, istrinya datang ke galeri, ia melihat Valdo memegang perlengkapan bayi. Lantas istrinya bertanya darimana Valdo mendapatkan uang. Valdo keceplosan menyatakan bahwa uang tersebut didapatnya dari orang yang membeli talam jadul. Ia pikir istrinya marah, tapi istrinya cuma berkata “Oh” seraya mengangguk. Karena hari sudah malam, istrinya menyuruh Valdo untuk bersih-bersih dan segera tidur.

Ketika masuk kamar, Valdo berbaring dengan anak mereka di tengah. Dari situ obrolan menjelang tidur terjadi. Istrinya berkata sambil menatap anak mereka, anak yang sudah mereka tunggu selama dua tahun. Anak yang mereka perjuangkan dengan segala dukanya. Dengan air mata mengalir, istrinya bertanya, boleh tidak barang-barang tadi dipakai untuk anaknya saja, sebab sudah tiga hari anaknya mandi tidak memakai sabun bayi dan tidak memakai minyak telon. Valdo bilang bahwa tidak mungkin, sebab barang-barang itu sudah kadaluarsa.

Istrinya paham. Ia menghapus air matanya dan segera tidur. Saat itu Valdo merutuki dirinya sendiri. Bapak macam apa yang mengenyampingkan kebutuhan keluarga demi hobi? Valdo lantas bangkit, keluar dari rumah dan menuju galeri. Di sana ia banting semua barang-barang koleksi yang sudah ia kumpulkan.

Pajangan penjemput masa lalu. (Foto: Bunga Suci Pertiwi)

Sejak saat itu, Valdo tidak pernah memaksakan untuk membeli barang-barang jadulnya. Tapi, ia berkata, bahwa hobi selalu menemukan jalannya. Dari konten yang ia buat, ada saja teman-teman pengikut di sosial media yang mengirimkan barang kepadanya. Bermacam-macam. Bahkan dari seluruh Indonesia. Valdo paling sering datang ke pengepul barang bekas, banyak koleksi tidak terduga dari sana. Selain itu Valdo kadang blusukan ke kampung-kampung mencari toko-toko jadul, berbekal pekerjaan sebelumnya sebagai sales.

Dalam menyusun barang-barang di Galeri Kapsul Waktu Nusantara, tidak ada penempatan khusus. Semua barang disusun asalkan rapi. Tapi ada salah satu ruangan yang menjadi favorit pengunjung, sebab di ruangan itu produk-produk jadul yang digunakan sehari-hari paling banyak disusun di sana. Mulai dari shampoo, sabun, sikat gigi, odol, dan lain sebagainya.

Produk yang diproduksi tahun 1873 koleksi Kapsul Waktu Nusantara. (Foto: Fahmi Akbar)

Ditanya soal berapa jumlah koleksi yang ia miliki, Valdo mengaku sulit dihitung. Tapi yang jelas koleksi yang ia miliki mencapai ribuan. Barang yang paling tua yang ia miliki, adalah sebuah pomade yang diproduksi tahun 1873. Mengenai perawatan barang-barang di galeri, tidak ada yang khusus, kecuali barang-barang berbahan kertas seperti uang kuno dan buku yang dilapisi plastik agar tidak dimakan rayap. Valdo hanya memastikan, koleksi di sana tidak berdebu, sirkulasi udara yang bagus dan disinari matahari yang cukup.

Boneka dan sampo, dulu kala begitu. (Foto: Bunga Suci Pertiwi)

Respon masyarakat bagus. Di awal, tentu ada cibiran dari tetangga. Valdo mengatakan bahwasanya ia pernah disebut mengumpulkan sampah, apa gunanya. Ketika pengunjung mulai ramai, dan Valdo sering keluar masuk layar televisi serta debut sebagai aktor, orang yang dulu mencibirnya tiba-tiba menebeng nama dengan mengelu-elukan pencapaiannya.  

Rata-rata pengunjung yang datang justru dari luar kota. Valdo mengaku, 90% pengunjungnya terkejut ketika tau bahwa Galeri Kapsul Waktu berada di Kota Padang. Mereka berpikir mulanya ada di Jakarta. Berdiri sejak 2022, Valdo mengumpulkan koleksi sebanyak itu dalam kurun tiga tahun saja, berbekal marketing di sosial media.

Setiap Produk Bernyawa dan Bercerita

“Setiap produk itu bernyawa,” ujar Valdo. Menurutnya tiap barang menyimpan memori kolektif masing-masing. Entah itu memori sedih, bahagia, maupun menyebalkan. Valdo tidak mengira bahwa pengunjungnya rela datang jauh hanya untuk menghirup aroma sabun atau shampoo misalnya. Yang paling berbekas di ingatan Valdo, adalah seorang wanita yang datang dari Kalimantan. Ia ke Kapsul Waktu  hanya untuk menghirup aroma shampoo yang tidak lagi diproduksi. Air mata si pengunjung mengalir. Melihat itu Valdo mengerti, dan memberikan ruang untuk wanita tersebut menangis.

Produk-produk aneka mereka di masa lalu. (Foto: Fahmi Akbar)

Ketika jauh lebih tenang, Valdo bertanya mengapa menangis. Wanita itu bilang, ia teringat ketika dimandikan ibunya pakai shampoo tersebut. Ketika itu sedang keramas, ibu memijat pelan rambutnya sembari bertanya, “Gimana aromanya? Enak nak?”. Wanita itu mengakui, ketika menghirup aroma shampoo koleksi galeri Kapsul Waktu, sejenak ibunya seperti hadir dan mengelus kepalanya.

Merasa iba, walau dengan berat hati Valdo menawarkan shampoo itu boleh dibawa pulang Wanita itu. Di luar dugaan, wanita tersebut menolak. Katanya, jika shampoo itu ia bawa, tidak ada lagi alasan baginya untuk kembali ke Galeri Kapsul Waktu Nusantara nantinya.

Ada juga seorang pria yang datang dari Pekanbaru. Pria itu minta untuk ditinggalkan sendiri di ruangan favorit pengunjung selama setengah jam. Kemudian Valdo memenuhi keinginannya. Tidak ada suara dari dalam. Ketika waktu yang ia minta habis, pria itu keluar dari ruangan yang penuh benda produk masa lalu itu dengan mata sembab. Pria itu tidak bilang apa-apa. Tapi asbak yang memang disediakan Valdo, terlihat sudah penuh. Valdo tidak lanjut bertanya, rasanya seperti memahami saja, mungkin ada kenangan yang dijemput dengan kesedihan melihat salah satu koleksi masa lalu itu.

Ada juga cerita mengenai seorang cucu dan neneknya. Si cucu terngiang-ngiang soal shampoo bebekidz. Ia lupa shampoo apa itu. Ketika konten Valdo lewat, ia tercengang, ia merasa itu adalah jawaban dari do’anya. Ketika ia kecil, sewaktu pulang kampung, ia sangat menginginkan shampoo itu dan minta kepada neneknya. Karena ekonomi terbatas, sang nenek sampai berhutang kepada pemilik warung untuk memberikan shampoo yang diinginkan cucunya.

Melihat shampoo itu melalui konten Valdo, si perempuan bertanya boleh tidak shampoo itu ia beli. Ia rindu mencium aromanya. Awalnya Valdo menolak, karena barang itu hanya satu-satunya koleksi yang ia miliki. Tapi akhirnya, ia memberikan gratis pada perempuan tersebut. Tidak disangka-sangka, satu minggu kemudian, ia mendapat kiriman shampoo yang sama dengan jumlah banyak dari pengikutnya.

Pembiayaan dan pengelolaan galeri, semuanya dilakukan mandiri oleh Valdo. Tidak ada bantuan dana dari mana pun, murni uang pribadi. Pengunjung bisa masuk secara gratis, tanpa dipungut biaya, tidak ada tiket.

Saset sampo-sampo jadul. (Foto: Fahmi Akbar)

Mengenai kapsul Waktu Nusantara sebagai destinasi nostalgia,  Valdo mengatakan bahwa itu disematkan oleh pengikutnya di sosial media. Bahkan, alamat yang tercantum di google maps, ia juga tahu dari pengikutnya. Kala itu, ia bingung kenapa galeri tiba-tiba ramai kunjungan, ketika ditanya dapat alamat dari mana, pengunjung berkata ia tahu dari google maps. Dari situ Valdo memeriksa, dan ternyata benar, sudah ada yang membuatkan.

Tapi bagi pengunjung yang baru datang, tak jarang ada yang terkejut. Pasalnya titik google maps berada di belakang galeri dan bersebrangan dengan pemakaman umum. Ada pengunjung yang terkejut diberitahukan sudah sampai tapi malah tiba di kuburan.

Seperti yang dijelaskan Valdo, galeri ini tidak tergerus waktu karena mengulas memori kolektif yang pasti dialami pengunjung. Marketing di sosial media yang dilakukan Valdo, awalnya juga diinisiasi oleh adiknya. Awalnya Valdo menolak, tapi lama-lama, ketika ia mulai menemukan trik marketingnya, ia mulai percaya diri. Kebanyakan konten Valdo, berisi review produk, darimana ia mendapatkannya. Cerita-cerita dalam video pendeknya, seringkali reka adegan saat Valdo mendapatkan barang tersebut dan cerita-cerita penjual barang yang ia beli.

Mainan anak-anak dulu. (Foto: Bunga Suci Pertiwi)

Menariknya, konten itu tidak hanya dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Jika banyak masyarkat Indonesia merasa relate dengan konten mengenai review produk, pengunjung dari luar negeri yang datang tertarik dengan mainan. Salah satunya, konten mainan pistol yang sampai ke sosial media pengunjung dari negara-negara Amerika Latin. Selain itu juga ada kunjungan dari teman-teman Tunisia, Belanda dan Australia. Pengunjung dari Asia Tenggara untuk saat ini, ada yang datang dari Kamboja. Digambarkan oleh Aldo, pengunjung dari Kamboja berpenampilan layaknya mafia, dengan fashion ala aktor lawas Hongkong. Lucunya ketika datang, pengunjung dari Kamboja berkata kepada Aldo untuk tidak perlu takut, karena mereka tidak akan mengambil ginjal Aldo.

Koleksi yang paling disukai pengunjung, adalah packaging produk harian dalam berbagai merek. Sama halnya dengan Valdo. Baginya itu paling berkesan, karena mulanya ia mengumpulkan barang-barang dari kliping iklan produk dalam majalah yang ia kumpulkan. Ditanya barang yang paling mahal, menurut Valdo, relatif sama dengan harga produk saat ini. Sebab kebanyakan barang-barang itu ia dapatkan dari pengepul barang bekas.

(Foto: Bunga Suci Pertiwi)

Adanya galeri ini tidak terlepas dari dukungan keluarga. Galeri yang menjadi lokasi Kapsul Waktu, adalah rumah peninggalan nenek Valdo. Koleksinya pertama-tama dititipkan di rumah orang tua Valdo di Talang, Solok. Dari istrinya pun, meski tidak satu hobi dan terkadang tak paham apa yang Valdo lakukan, istrinya tetap mendukung, tidak pernah marah atau pun menghakimi. Bahkan, di awal-awal membangun Kapsul Waktu, ketika ekonominya sedang susah, Valdo sempat ingin berhenti dan melelang semua koleksi yang ia miliki. Istrinya melarang, dan berkata bahwa mereka akan hidup dari galeri itu.

Arga, anak Valdo, juga tidak pernah merecoki koleksi bapaknya. Si kecil itu kadang hanya mengambil mainan satu dua, lantas dikembalikan lagi.

Melalui akun media sosialnya Kapsul Waktu Nusantara, Valdo juga bersama tim memproduksi video-video atau semacam film pendek. Semua aktor yang terlibat dalam konten Kapsul Waktu, adalah teman-teman Valdo. Terkadang anak-anak tetangga. Walau tidak ada pengamanan ketat, koleksi di sana aman terjaga. Tidak jarang, mahasiswa datang ke galeri sekedar nongkrong, menjadikan galeri tempat diskusi sampai subuh. Jika ada keperluan dan harus pergi, Valdo hanya berpesan untuk tidak membuat berantakan dan mengunci pintu pada teman-teman yang nongkrong di sana.

Mengenai rencana ke depan, Valdo berharap bisa melengkapi semua koleksi berdasarkan kliping iklan majalah yang ia miliki. Ia juga berniat membangun warung kopi dengan konsep dangau layaknya jaman dulu. Terbuat dari papan-papan, menjual makanan tradisional seperti jajanan basah. Diungkapkan oleh Valdo juga, ia berencana untuk pindah ke kota besar seperti Jakarta, agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Karena lokasi tersebut dikira Valdo lebih strategis bagi teman-teman yang ingin datang dari mana saja. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top