
“Anjing, Bapak-bapak. Babi, Ibu-ibu. Haram untuk dimakan!”
Mula-mula, begitu. Ceramah ringan dan lucu. Tentang fiqih. Hukum makan-memakan menurut Islam. Apa yang boleh, apa yang tidak untuk dikonsumsi oleh seorang muslim. Halal lagi baik, jelas itu. Yang berdarah dingin, bertaring, yang mati tercekik, atau tanpa terlebih dahulu disebut nama Tuhan, dan segala macam … jangan.
Beberapa kali Ramadhan, topik itu saja yang diceramahkannya di masjid kami. Bukan salah dia juga kali. Penguruslah yang melulu menjatahkan topik itu. Jadi, seolah-olah, dia memang ahlinya itu. Ada juga sedikit-banyak sangkut ilmunya ke situ. Lihai pula dia memang menukil hadis dan ayat. Belakangan, sudah pula menukil berbagai kitab fiqih. Dibanding-bandingkannya pendapat para imam mazhab yang empat. Makin lama, makin canggih juga dia.
Tapi, yang satu itu tidak lupa, tersebut juga. Bahan bercanda. Pemancing jemaah tertawa. Menjagakan yang terkantuk-kantuk, dengan semacam dan seolah ‘hardikan’. Karena, memang, kalimat itu disampaikan dengan sejenis ‘tekanan’—sedikit teriakan, bagai kemarahan yang ditahan.
Lalu, suatu kali, pas di jadwal ustad itu betul, datanglah Tim Safari Ramadan dari kabupaten. Didampingi pula tim kecamatan. Ada Pak Bupati dan Pak Camat tentu hadir serta.
Ketika tampil ustad kita, mau tidak mau, tersapa pulalah mereka:
“Anjing, Pak Bupati. Babi, Pak Camat. Haram untuk dimakan!”
Tergelak setengah bersoraklah jemaah. Yang terkulai-kulai ayam karena mengantuk jadi terjaga. Yang menyuruk-nyuruk dan bersandar-sandar letai di balik tonggak gadang jadi menegakkan punggung dan kepala. Memang itulah tujuannya ustad kita. Tapi agaknya, kelampauan sekali ini, sudah terdorong lidah, kata orang.
Jadi, seminggu itu, ustad kita ini saja cerita orang. Bulan puasa memang, tapi lidah kan tidak puasa. Hasrat bercerita kan tidak shaum pula.
“Hebat pula si ustad, berani dia mengata-ngatai pejabat, tidak kita saja lagi yang kena umpat.”
“Memang anjing itu Pak Bupati—Pak Camat babi!”
Lalu, menguarlah sudah berbagai keluhan pembangunan dan kekuasaan. Jalan kampung yang bergenerasi-generasi tidak pernah diperbaiki. Jikapun diperbaiki, ditambal-tambal sedikit, sebentar rusak lagi. Pupuk subsidi yang raib-hilang ditelan malam lalu tiba-tiba dijual bebas di pasaran. Tali bandar jebol, jempatan putus, bendungan ambruk, tak pernah benar-benar terselesaikan. Bantuan korban galodo yang sudah setahun lebih belum juga turun-turun sekalipun terus-menerus dijanjikan. Apa sih yang Bapak-Bapak Pejabat itu bisa lakukan? Bahkan satu bak tempat pembuangan sampah pun mereka itu tak mampu menyediakan bagi kampung itu sehingga sampah rumah tangga tidak tahu akan dibuang ke mana. Jadi penuhlah sungai dan sampah oleh sampah, masyarakat juga yang disalahkan. Tambang-tambang pasir dan batu diberi izin seluas-luasnya hingga merusak alam. Kabarnya pula, proyek-proyek daerah, jatuh ke berbagai perusahaan fiktif milik keluarga mereka saja.
Padahal, siapapun tahu, bukan untuk mencela Pak Camat dan Bupati maksud ustad kita. Alih-alih memaki, bukankah tujuannya untuk menghargai?
Agaknya, di sinilah kelisanan bekerja?
Berbeda dengan keberaksaraan, kelisanan bertumpu pada bunyi–intonasi. Juga konteks. Tapi lebih dari itu, yang juga amat penting, asosiasi sosial—pengalaman bersama yang melekat pada kata itu di dalam si pendengar, pada jemaah yang lelah dan yang letai, oleh pertarungan dengan hidup.
Di saat yang bersamaan itulah, sebuah katup terlepas sudah: ustad kita mewakili suara protes yang terpendam dari jemaah. Kemuakkan pada kekuasaan yang tidak pedulian, yang selama ini tidak punya pintu untuk disuarakan, dan terus-menerus menyumbat dalam alam ketaksadaran, tiba-tiba meluap melalui sejentik guyonan. Apa yang diniatkan sebagai guyonan, pada akhirnya justru telah jadi jalan pelepasan bagi kritik yang terpendam.
Ia semacam menjalankan fungsi klasik humor: ventilasi kritik sosial.
Ustad kita ini memang bukan pengkritik. Tapi, ia pada akhirnya jadi medium kritik orang banyak. Uustad, boleh saja, memegang mik. Tapi, jamaah yang banyak itulah yang menentukan makna yang disampaikannya. Ustad memang tidak bermaksud mengkritik. Tapi masyarakatlah yang membutuhkan kritik itu, sehingga mereka menciptakan maknanya sendiri.
Entah bagaimana nasib ustad kita setelah mengaji di malam itu. Entah dibayarkan honornya entah tidak oleh pengurus. Yang jelas, setiap Tim Safari Ramadan tiba, biasanya ada ‘meninggalkan’ sesuatu. Amplop untuk pembangunan masjid atau apalah gitu. Tapi, sekali itu, tampaknya zonk.
Pengurus masjid saja yang akhirnya menggerutu.




