Author name: Deddy Arsya

Deddy Arsya, adalah penyair dan sejarawan. Mengajar di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Sumatra Barat. Ia dikenal sebagai salah satu contoh langka yang berhasil menjembatani wilayah kreatif dan ilmiah secara setara. Puisi-puisinya bertumpu pada lokalitas, trauma sejarah, dan perspektif pascakolonial — diolah lewat ironi dan humor. Dua kumpulan puisinya, Odong-odong Fort de Kock (2013) dan Khotbah Si Bisu (2019), terpilih sebagai Buku Sastra Terbaik versi Majalah TEMPO. Sedangkan karya-karya sejarahnya konsisten memilih sejarah sosial-bawah yang diabaikan historiografi arus utama — dengan metode yang menggabungkan arsip tertulis dan tradisi lokal. Mendisiplinkan Kawula Jajahan (2017), yang mengkaji bagaimana kekuasaan kolonial membentuk dan mendisiplinkan masyarakat terjajah lewat sistem pemenjaraan, memperoleh Wisran Award.

Deddy Arsya
Liputan

Memori Berlapis Generasi tentang Emas Sebesar Kuda di Salido

Artikel ini menelusuri memori berlapis dari berbagai generasi di Salido mengenai masa kejayaan tambang emas kolonial Belanda. Dari kisah hubungan pekerja lokal dengan orang asing hingga legenda mistis tentang induk emas sebesar kuda yang bernyawa, seluruh cerita unik ini terus hidup dan diwariskan secara turun temurun hingga masa kini disana.

Memori Berlapis Generasi tentang Emas Sebesar Kuda di Salido Selengkapnya

Kolase

Pejabat Tinggi VOC Korupsi, Dicambuk dan Dirantai di Depan Umum, Dibuang Jauh ke Afrika

Karier gemilang Coenraet Fredrik Hofman, Komandan VOC Pantai Barat Sumatra, harus berakhir tragis akibat skandal korupsi besar-besaran. Setelah terbukti menyelewengkan dana perusahaan dan bersekongkol dengan bawahan serta istrinya, ia dipecat, dicambuk, dan dibuang ke Tanjung Harapan di Afrika untuk menjalani hukuman kerja paksa selama 15 tahun pada usia senjanya.

Pejabat Tinggi VOC Korupsi, Dicambuk dan Dirantai di Depan Umum, Dibuang Jauh ke Afrika Selengkapnya

Kolase

Raja Ibrahim dan Perang Panjang Melawan Monopoli Garam VOC

Pada awal abad ke-18, VOC memaksakan monopoli garam di Pantai Barat Minangkabau, memicu perlawanan sengit dari sentra-sentra produksi lokal. Dipimpin oleh tokoh seperti Raja Ibrahim, masyarakat menolak tunduk. Rentetan pertempuran ini membuktikan bahwa hegemoni Kompeni tidak bisa dipertahankan murni lewat paksaan, melainkan harus berujung pada kompromi.

Raja Ibrahim dan Perang Panjang Melawan Monopoli Garam VOC Selengkapnya

Kolase

Ketika Meriam Prancis Menghantam Natal dan Tapanuli, Inggris Terusir dari Bengkulu, dan VOC Menangguk Untung Besar

Perang Tujuh Tahun antara Inggris dan Prancis pada abad ke-18 turut merambat hingga ke pesisir barat Sumatra. Ketika armada Prancis berhasil menghancurkan benteng-benteng milik Inggris di Natal, Tapanuli, dan Bengkulu, VOC mengambil kesempatan. Dengan kedok netralitas, Belanda diam-diam memonopoli perdagangan lada lokal dan meraup keuntungan besar dari jatuhnya kekuasaan Inggris.

Ketika Meriam Prancis Menghantam Natal dan Tapanuli, Inggris Terusir dari Bengkulu, dan VOC Menangguk Untung Besar Selengkapnya

Kolase

Banjir Berulang Melanda Padang

Sejak era Kompeni, Padang terus dibayangi ancaman banjir berulang akibat luapan sungai. Berbagai upaya dari pembangunan bendungan, pengerukan, hingga pembuatan banda bakali pada masa kolonial belum mampu menghentikan keganasan air. Sejarah mencatat pola berulang yang tak pernah usai: manusia berupaya membangun, tetapi luapan sungai senantiasa merobohkannya kembali.

Banjir Berulang Melanda Padang Selengkapnya

Sketsa

Surat-Surat Pribadi Pejabat Fiskal Kompeni

Surat-surat pribadi pejabat fiskal Kompeni di Benteng Padang menyingkap sisi manusiawi para penguasa kolonial: kerinduan pada keluarga, rutinitas rumah tangga, hingga interaksi dengan masyarakat lokal. Namun, catatan sejarah ini tetaplah timpang, sebab hanya merekam suara tuan-tuan Kompeni, sementara kehidupan para budak dan rakyat biasa tenggelam dalam senyap.

Surat-Surat Pribadi Pejabat Fiskal Kompeni Selengkapnya

Sketsa

“Bermanfaat, Tidak?”: Pak Desa Pemburu Validasi

Sketsa ini menceritakan sosok Pak Desa, mantan tentara yang terobsesi pada validasi. Melalui pertanyaan retoris “Bermanfaat, tidak?”, ia memaksakan pengakuan atas kebijakan-kebijakannya yang kontroversial. Dari anggaran yang dipangkas hingga transparansi yang kabur, Pak Desa tidak mencari jawaban, melainkan konfirmasi diri. Sebuah potret satir tentang kepemimpinan yang sibuk memuji diri sendiri.

“Bermanfaat, Tidak?”: Pak Desa Pemburu Validasi Selengkapnya

Scroll to Top