Author name: Deddy Arsya

Deddy Arsya, adalah penyair dan sejarawan. Mengajar di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Sumatra Barat. Ia dikenal sebagai salah satu contoh langka yang berhasil menjembatani wilayah kreatif dan ilmiah secara setara. Puisi-puisinya bertumpu pada lokalitas, trauma sejarah, dan perspektif pascakolonial — diolah lewat ironi dan humor. Dua kumpulan puisinya, Odong-odong Fort de Kock (2013) dan Khotbah Si Bisu (2019), terpilih sebagai Buku Sastra Terbaik versi Majalah TEMPO. Sedangkan karya-karya sejarahnya konsisten memilih sejarah sosial-bawah yang diabaikan historiografi arus utama — dengan metode yang menggabungkan arsip tertulis dan tradisi lokal. Mendisiplinkan Kawula Jajahan (2017), yang mengkaji bagaimana kekuasaan kolonial membentuk dan mendisiplinkan masyarakat terjajah lewat sistem pemenjaraan, memperoleh Wisran Award.

Deddy Arsya
Sketsa

“Bermanfaat, Tidak?”: Pak Desa Pemburu Validasi

Sketsa ini menceritakan sosok Pak Desa, mantan tentara yang terobsesi pada validasi. Melalui pertanyaan retoris “Bermanfaat, tidak?”, ia memaksakan pengakuan atas kebijakan-kebijakannya yang kontroversial. Dari anggaran yang dipangkas hingga transparansi yang kabur, Pak Desa tidak mencari jawaban, melainkan konfirmasi diri. Sebuah potret satir tentang kepemimpinan yang sibuk memuji diri sendiri.

“Bermanfaat, Tidak?”: Pak Desa Pemburu Validasi Selengkapnya

Sketsa

Matinya Tukang Oyak

Artikel sketsa “Matinya Tukang Oyak” karya Deddy Arsya menyoroti Epen, pelobi ulung yang memanfaatkan rasa malu warga untuk menggalang dana desa. Kematiannya membuat proyek mangkrak, sekaligus menjadi sindiran tajam bahwa pembangunan sering kali lebih bergantung pada kelihaian pelobi personal daripada sistem birokrasi yang adil.

Matinya Tukang Oyak Selengkapnya

Sketsa

Saatnya Warga Amerika Merantai si Gila Trump

Artikel ini menyoroti tanggung jawab kolektif warga Amerika dan Israel atas terpilihnya pemimpin destruktif seperti Trump dan Netanyahu. Mengambil pelajaran dari sejarah dan kearifan lokal Minangkabau, penulis menegaskan bahwa masyarakat tidak bisa lepas tangan dari “kegilaan” pemimpinnya. Diam berarti setuju, dan kini saatnya warga membatasi ruang gerak para tiran tersebut.

Saatnya Warga Amerika Merantai si Gila Trump Selengkapnya

Sketsa

Anjing, Pak Bupati! Babi, Pak Camat! Haram untuk Dimakan

Sebuah candaan fiqih tentang hukum makanan haram mendadak berubah menjadi kritik sosial tajam saat seorang ustad berteriak, “Anjing, Pak Bupati! Babi, Pak Camat!” di hadapan pejabat yang hadir. Meski diniatkan sebagai humor pemancing tawa, jemaah justru memaknainya sebagai peluapan kemuakan terhadap kekuasaan yang abai pada rakyat.

Anjing, Pak Bupati! Babi, Pak Camat! Haram untuk Dimakan Selengkapnya

Sketsa

Dua Hantu Lucu yang Bergentayangan dalam Perut Kita

Hantu-Hantu Lucu yang Bergentayangan dalam Perut Kita mengeksplorasi dua mitos urban: hantu minta sedekah dan pemburu kepala. Lebih dari sekadar cerita petakut, sosok ini merupakan personifikasi ketegangan ekonomi, kegagalan negara, serta trauma sejarah kelam pembangunan yang tersimpan dalam alam bawah sadar kolektif masyarakat yang hidup dalam himpitan beban sosial.

Dua Hantu Lucu yang Bergentayangan dalam Perut Kita Selengkapnya

Sketsa

Tukang Lauk yang Penangis

Kisah tukang lauk yang gampang menangis menjadi pintu masuk untuk merenungi makna air mata. Di tengah dunia yang memuja logika teknokratis dan ketenangan semu kekuasaan, tangisan hadir sebagai bahasa jujur atas ketidakberdayaan. Ketika kata-kata tak lagi memadai, air mata adalah laporan paling autentik tentang bagaimana nurani dan kekuasaan bekerja.

Tukang Lauk yang Penangis Selengkapnya

Scroll to Top