Author name: Deddy Arsya

Menulis puisi, cerpen, ulasan film dan buku, serta esai mengenai sejarah dan seni. Karya-karyanya telah dipublikasikan di surat kabar, majalah, dan jurnal nasional. Kumpulan puisi pertamanya yang berjudul Odong-odong Fort de Kock (Kabarita: 2013) masuk dalam daftar pendek Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2013 dan terpilih sebagai Buku Sastra Terbaik Tahun 2013 oleh Majalah Berita Tempo.

Deddy Arsya
Sketsa

Matinya Tukang Oyak

Artikel sketsa “Matinya Tukang Oyak” karya Deddy Arsya menyoroti Epen, pelobi ulung yang memanfaatkan rasa malu warga untuk menggalang dana desa. Kematiannya membuat proyek mangkrak, sekaligus menjadi sindiran tajam bahwa pembangunan sering kali lebih bergantung pada kelihaian pelobi personal daripada sistem birokrasi yang adil.

Matinya Tukang Oyak Selengkapnya

Sketsa

Saatnya Warga Amerika Merantai si Gila Trump

Artikel ini menyoroti tanggung jawab kolektif warga Amerika dan Israel atas terpilihnya pemimpin destruktif seperti Trump dan Netanyahu. Mengambil pelajaran dari sejarah dan kearifan lokal Minangkabau, penulis menegaskan bahwa masyarakat tidak bisa lepas tangan dari “kegilaan” pemimpinnya. Diam berarti setuju, dan kini saatnya warga membatasi ruang gerak para tiran tersebut.

Saatnya Warga Amerika Merantai si Gila Trump Selengkapnya

Sketsa

Anjing, Pak Bupati! Babi, Pak Camat! Haram untuk Dimakan

Sebuah candaan fiqih tentang hukum makanan haram mendadak berubah menjadi kritik sosial tajam saat seorang ustad berteriak, “Anjing, Pak Bupati! Babi, Pak Camat!” di hadapan pejabat yang hadir. Meski diniatkan sebagai humor pemancing tawa, jemaah justru memaknainya sebagai peluapan kemuakan terhadap kekuasaan yang abai pada rakyat.

Anjing, Pak Bupati! Babi, Pak Camat! Haram untuk Dimakan Selengkapnya

Sketsa

Dua Hantu Lucu yang Bergentayangan dalam Perut Kita

Hantu-Hantu Lucu yang Bergentayangan dalam Perut Kita mengeksplorasi dua mitos urban: hantu minta sedekah dan pemburu kepala. Lebih dari sekadar cerita petakut, sosok ini merupakan personifikasi ketegangan ekonomi, kegagalan negara, serta trauma sejarah kelam pembangunan yang tersimpan dalam alam bawah sadar kolektif masyarakat yang hidup dalam himpitan beban sosial.

Dua Hantu Lucu yang Bergentayangan dalam Perut Kita Selengkapnya

Sketsa

Tukang Lauk yang Penangis

Kisah tukang lauk yang gampang menangis menjadi pintu masuk untuk merenungi makna air mata. Di tengah dunia yang memuja logika teknokratis dan ketenangan semu kekuasaan, tangisan hadir sebagai bahasa jujur atas ketidakberdayaan. Ketika kata-kata tak lagi memadai, air mata adalah laporan paling autentik tentang bagaimana nurani dan kekuasaan bekerja.

Tukang Lauk yang Penangis Selengkapnya

Sketsa

Pada Sebuah Sumur Tua

Di atas sumur tua tempat mayat-mayat ditimbun tergesa, kini tumbuh pohon besar yang daunnya rutin diambil untuk pengalas kue bika. Namun, di balik lezatnya kue itu, saat malam tiba terdengar jeritan lirih dari akar pohon: “Kami belum mati, Pak!”. Sebuah trauma sejarah yang menolak untuk mati.

Pada Sebuah Sumur Tua Selengkapnya

Scroll to Top