Author name: Deddy Arsya

Menulis puisi, cerpen, ulasan film dan buku, serta esai mengenai sejarah dan seni. Karya-karyanya telah dipublikasikan di surat kabar, majalah, dan jurnal nasional. Kumpulan puisi pertamanya yang berjudul Odong-odong Fort de Kock (Kabarita: 2013) masuk dalam daftar pendek Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2013 dan terpilih sebagai Buku Sastra Terbaik Tahun 2013 oleh Majalah Berita Tempo.

Deddy Arsya
Sketsa

Anjing, Pak Bupati! Babi, Pak Camat! Haram untuk Dimakan

Sebuah candaan fiqih tentang hukum makanan haram mendadak berubah menjadi kritik sosial tajam saat seorang ustad berteriak, “Anjing, Pak Bupati! Babi, Pak Camat!” di hadapan pejabat yang hadir. Meski diniatkan sebagai humor pemancing tawa, jemaah justru memaknainya sebagai peluapan kemuakan terhadap kekuasaan yang abai pada rakyat.

Anjing, Pak Bupati! Babi, Pak Camat! Haram untuk Dimakan Selengkapnya

Sketsa

Dua Hantu Lucu yang Bergentayangan dalam Perut Kita

Hantu-Hantu Lucu yang Bergentayangan dalam Perut Kita mengeksplorasi dua mitos urban: hantu minta sedekah dan pemburu kepala. Lebih dari sekadar cerita petakut, sosok ini merupakan personifikasi ketegangan ekonomi, kegagalan negara, serta trauma sejarah kelam pembangunan yang tersimpan dalam alam bawah sadar kolektif masyarakat yang hidup dalam himpitan beban sosial.

Dua Hantu Lucu yang Bergentayangan dalam Perut Kita Selengkapnya

Sketsa

Tukang Lauk yang Penangis

Kisah tukang lauk yang gampang menangis menjadi pintu masuk untuk merenungi makna air mata. Di tengah dunia yang memuja logika teknokratis dan ketenangan semu kekuasaan, tangisan hadir sebagai bahasa jujur atas ketidakberdayaan. Ketika kata-kata tak lagi memadai, air mata adalah laporan paling autentik tentang bagaimana nurani dan kekuasaan bekerja.

Tukang Lauk yang Penangis Selengkapnya

Sketsa

Pada Sebuah Sumur Tua

Di atas sumur tua tempat mayat-mayat ditimbun tergesa, kini tumbuh pohon besar yang daunnya rutin diambil untuk pengalas kue bika. Namun, di balik lezatnya kue itu, saat malam tiba terdengar jeritan lirih dari akar pohon: “Kami belum mati, Pak!”. Sebuah trauma sejarah yang menolak untuk mati.

Pada Sebuah Sumur Tua Selengkapnya

Sketsa

Piring Tipis dan Sumbu Pendek

Piring tipis adalah metafora untuk mereka yang amat perasa dan mudah merajuk. Sedikit saja tersinggung, mereka “retak” dan lari dari masalah, seperti pria di kampung penulis yang minggat hanya karena dipuji istrinya. Di sisi lain, ada “sumbu pendek” yang mudah naik pitam, memecahkan perkakas, hingga berujung KDRT. Keduanya sama-sama bermasalah dan menandakan adanya isu kesehatan mental. Mengapa kita begitu mudah tersinggung atau marah?

Piring Tipis dan Sumbu Pendek Selengkapnya

Sketsa

Mencari Induk Emas

Pada 1681, geolog Elias Hesse tiba di Padang, disambut gempa besar. Tujuannya: memastikan cadangan emas di Salido. Jejak demam emas kolonial ini berlanjut hingga akhir 1990-an, memicu perburuan harta karun di bekas-bekas tambang Belanda di pedalaman Bukit Barisan. Kisah ini tak hanya tentang emas, tapi juga tentang orang-orang setempat yang terus memburu induk emas yang legendaris.

Mencari Induk Emas Selengkapnya

Scroll to Top