Author name: Deddy Arsya

Deddy Arsya, adalah penyair dan sejarawan. Mengajar di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Sumatra Barat. Ia dikenal sebagai salah satu contoh langka yang berhasil menjembatani wilayah kreatif dan ilmiah secara setara. Puisi-puisinya bertumpu pada lokalitas, trauma sejarah, dan perspektif pascakolonial — diolah lewat ironi dan humor. Dua kumpulan puisinya, Odong-odong Fort de Kock (2013) dan Khotbah Si Bisu (2019), terpilih sebagai Buku Sastra Terbaik versi Majalah TEMPO. Sedangkan karya-karya sejarahnya konsisten memilih sejarah sosial-bawah yang diabaikan historiografi arus utama — dengan metode yang menggabungkan arsip tertulis dan tradisi lokal. Mendisiplinkan Kawula Jajahan (2017), yang mengkaji bagaimana kekuasaan kolonial membentuk dan mendisiplinkan masyarakat terjajah lewat sistem pemenjaraan, memperoleh Wisran Award.

Deddy Arsya
Kolase

Ketika Meriam Prancis Menghantam Natal dan Tapanuli, Inggris Terusir dari Bengkulu, dan VOC Menangguk Untung Besar

Perang Tujuh Tahun antara Inggris dan Prancis pada abad ke-18 turut merambat hingga ke pesisir barat Sumatra. Ketika armada Prancis berhasil menghancurkan benteng-benteng milik Inggris di Natal, Tapanuli, dan Bengkulu, VOC mengambil kesempatan. Dengan kedok netralitas, Belanda diam-diam memonopoli perdagangan lada lokal dan meraup keuntungan besar dari jatuhnya kekuasaan Inggris.

Ketika Meriam Prancis Menghantam Natal dan Tapanuli, Inggris Terusir dari Bengkulu, dan VOC Menangguk Untung Besar Selengkapnya

Kolase

Banjir Berulang Melanda Padang

Sejak era Kompeni, Padang terus dibayangi ancaman banjir berulang akibat luapan sungai. Berbagai upaya dari pembangunan bendungan, pengerukan, hingga pembuatan banda bakali pada masa kolonial belum mampu menghentikan keganasan air. Sejarah mencatat pola berulang yang tak pernah usai: manusia berupaya membangun, tetapi luapan sungai senantiasa merobohkannya kembali.

Banjir Berulang Melanda Padang Selengkapnya

Sketsa

Surat-Surat Pribadi Pejabat Fiskal Kompeni

Surat-surat pribadi pejabat fiskal Kompeni di Benteng Padang menyingkap sisi manusiawi para penguasa kolonial: kerinduan pada keluarga, rutinitas rumah tangga, hingga interaksi dengan masyarakat lokal. Namun, catatan sejarah ini tetaplah timpang, sebab hanya merekam suara tuan-tuan Kompeni, sementara kehidupan para budak dan rakyat biasa tenggelam dalam senyap.

Surat-Surat Pribadi Pejabat Fiskal Kompeni Selengkapnya

Sketsa

“Bermanfaat, Tidak?”: Pak Desa Pemburu Validasi

Sketsa ini menceritakan sosok Pak Desa, mantan tentara yang terobsesi pada validasi. Melalui pertanyaan retoris “Bermanfaat, tidak?”, ia memaksakan pengakuan atas kebijakan-kebijakannya yang kontroversial. Dari anggaran yang dipangkas hingga transparansi yang kabur, Pak Desa tidak mencari jawaban, melainkan konfirmasi diri. Sebuah potret satir tentang kepemimpinan yang sibuk memuji diri sendiri.

“Bermanfaat, Tidak?”: Pak Desa Pemburu Validasi Selengkapnya

Sketsa

Matinya Tukang Oyak

Artikel sketsa “Matinya Tukang Oyak” karya Deddy Arsya menyoroti Epen, pelobi ulung yang memanfaatkan rasa malu warga untuk menggalang dana desa. Kematiannya membuat proyek mangkrak, sekaligus menjadi sindiran tajam bahwa pembangunan sering kali lebih bergantung pada kelihaian pelobi personal daripada sistem birokrasi yang adil.

Matinya Tukang Oyak Selengkapnya

Sketsa

Saatnya Warga Amerika Merantai si Gila Trump

Artikel ini menyoroti tanggung jawab kolektif warga Amerika dan Israel atas terpilihnya pemimpin destruktif seperti Trump dan Netanyahu. Mengambil pelajaran dari sejarah dan kearifan lokal Minangkabau, penulis menegaskan bahwa masyarakat tidak bisa lepas tangan dari “kegilaan” pemimpinnya. Diam berarti setuju, dan kini saatnya warga membatasi ruang gerak para tiran tersebut.

Saatnya Warga Amerika Merantai si Gila Trump Selengkapnya

Scroll to Top