Memburu Buaya ke Muara Silida

Jejak Loji/Benteng Croenebrug di tepian muara Salido. (Foto: Yuka Fainka Putra)

Tiga ratus tahun lalu, seorang insinyur Jerman yang bekerja untuk VOC, Johann Wilhelm Vogel, pernah mencatat tentang predator ganas di muara Salido. Dalam laporan pelancongannya yang terbit pada 1704, Zeven jhrige Ost-Indianische Reise-Beschreibung atau Catatan Perjalanan Tujuh Tahun ke Hindia Timur, diceritakan bagaimana seorang tentara kehilangan kakinya di situ.

Dipotong bersih oleh buaya bagai ditebas kapak, kaki itu ditemukan kembali utuh di dalam perut reptil menakutkan ini. Kini, di atas benteng tempat tentara malang itu pernah bermarkas, berdiri kandang sapi. Buaya-buaya masih berkeliaran di perairan tenang di sekitarnya, ada yang enam meter panjangnya, kata orang. Hanya mantra untuk memanggilnya saja yang sudah tidak ada lagi yang tahu.

***

Saya berdiri di satu sisi Fort Cronenburg yang sudah compang-camping. Bentuknya nyaris tak lagi jelas, dihajar pusaran topan zaman, berabad lamanya.  Benteng itu dahulu jangkar utama VOC di Salido, kampung kuno 75 km sebelah selatan Padang, pesisir barat Sumatra.

Catatan dan peta lama menyebutnya begitu, meski jejak fisiknya kini tidak sepenuhnya utuh dapat dikenali. Kita hanya bisa menerka-nerka, ya, di situ, di situ itu, pernah ada.

Yang tersisa sekarang hanyalah serpih-serpih belaka: batu fondasi yang telah ditimpa fondasi rumah era zaman baru, dinding yang telah dicarah dicacah di sana-sini, dan pecahan tembok dan tiang yang mungkin telah dilekatkan pada tembok dan tiang lain.

Di hadapan saya, dari sisi utara benteng, terhampar muara yang tenang dengan air hampir dapat dikata jernih-bening. Sulit menolak bayangan bahwa di titik inilah, berabad lalu, rahang buaya pernah mengatup pada tubuh manusia—seorang prajurit VOC yang pongah tapi lengah di tepian air.

Di atas benteng kuno itu sekarang berdiri rumah batu penduduk, juga peternakan sapi.

Dari sebuah kerangkeng besi di kaki benteng, salak keras anjing-anjing jantan pemburu menggema tanpa jeda. Di luar kandang, seekor anjing betina kampung—kurus, buruk rupa, dengan susu menggantung berat—menggeram ke arah kami.

“Anjing betina sedang beranak, Bang!” kata seorang fotografer saya.

Saya segera menarik tangan anak laki-laki 10 tahun saya yang ikut berdiri di tepi muara. Ia tak peduli ancaman anjing itu. Perhatiannya tersedot ke arus air di bawah benteng, tempat gerombolan ikan kecil bermotif zebra berenang bergerombol, berkilau di bawah cahaya siang yang terik membakar.

Reruntuhan Benteng Croenebrug di Salido. (Foto: Yuka Fainka Putra)

Kami naik ke bagian paling tinggi dari sisa benteng, mencari jarak dari anjing betina yang terus menggerung seolah kami hendak merampas anak-anaknya. Dari dalam kerangkeng besi, anjing-anjing jantan pemburu tetap juga menyalak tanpa ampun. Sedang dari arah lain, sapi-sapi melenguh berat dari dalam kandangnya pula. Aroma pesing kejambannya menguar ke udara yang kami hirup bersama pahit bau kotorannya. Di kejauhan, debur ombak terdengar samar. Pantai Salido yang cukup ramai pengunjung memang hanya selempar pandang.

***

Lanskap Salido sejak lama digambarkan sebagai lembah datar yang subur, diapit pegunungan tinggi di kedua sisinya. Di tengahnya mengalir Batang Salido—sungai yang turun dari perbukitan Bukit Barisan dan bermuara tepat ke laut di kampung Salido itu. Sumber-sumber VOC kadang menyebutnya Sillida, tapi cerita rakyat menamainya Salidah—satu lidah, tempat penghulu-penghulu di kawasan bermusyawarah mencapai kesepakatan. Di depan pesisirnya, Pulau Cingkuak juga pernah menjadi titik penting—pos pertahanan, gudang, sekaligus pusat administrasi VOC, kadang ganti-menggantikan dengan pos VOC di Salido.

Di sepanjang lembah Salido itu, kampung-kampung tumbuh mengikuti aliran air dan jalur dagang. Kampung Salido—pusat pemukiman di dekat pantai—menjadi lokasi berdirinya benteng dan bangunan batu tadi. Sedikit ke arah hulu, Bunga Pasang dikenal dengan kebun lada yang indah dulu, sekarang jadi pusat durian. Kajai, atau Kadje dalam penulisan lama, hanya berjarak sepertiga jam berjalan kaki dari sana. Lebih jauh lagi, Kampung Tambang berdiri di kaki Gunung Tambang, menjadi gerbang terakhir sebelum jalur pendakian menuju lubang-lubang emas VOC dan sekaligus sebagai lokasi pasar mingguan para penambang. Sementara itu, Salido Ketek, atau Sillida Ketjil kata dokumen VOC, juga terletak di aliran air yang sama, tersuruk sekitar lima kilometer lebih dalam lagi ke arah hulu.

VOC tidak hanya memburu lada ke Salido, tetapi juga emas. Era lada habis, tapi era emas tidak. Berlanjut terus sampai ke sini, ke masa kita kini. Gerondong pemecah batu berbunyi saban siang dan malam, pagi dan petang, di rumah-rumah—utamanya—di Kampung Tambang. Lubang-lubang penggalian tersebar puluhan kalau tidak akan ratusan banyaknya bahkan di samping-samping rumah.  Sementara agak jauh di dalam perbukitan, ada lebih banyak lubang-lubang tambang, sisa-sisa abad-abad lalu, maupun lubang-lubang baru melanjutkan yang lama.

Dari benteng Salido yang sekarang saya berdiri inilah, Vogel, si Jerman, memulai perjalanan menuju pusat tambang emas di Bukit Tambang itu. Kapalnya mula-mula berlabuh di Cingkuak, lalu menyusuri pantai dengan perahu kecil hingga mencapai pintu muara Salido. Dan di pintu muara itulah, Fort Cronenburg—nama benteng itu—terpacak.

Sisa Benteng Croenebrug pada bagian yang masih cukup utuh. (Foto: Adek Firlanda)

Secara topografis, pilihan mendirikan benteng di situ masuk akal belaka. Ia berdiri di posisi strategis: di belakangnya bukit terjal, Langkisau, spot wisata terpenting di Pesisir Selatan. Di sisi kanannya, muara dalam. Dan di samping kirinya, akses ke laut terbuka. Halaman depannya, padang datar berbentuk sudut lancip, semacam tanjung kecil, menghadap ke salah satu lengan dari pintu muara yang sekarang ditumbuhi semak, hutan nipah, dan pohon kepala. Halamannya yang lapang itu dan pintu keluar ke arah pantai sekira membentuk huruf L, terbuka pada satu sisi, tetapi terlindung secara alami oleh kombinasi bukit dan air di sisi lain. Membuatnya relatif aman dari serangan musuh.

Namun, perlindungan alam itu tidak berlaku bagi semua ancaman.

Sisa-sisa Loji/Benteng Croenebrug di Salido. (Foto: Adek Firlanda)

Dalam catatan perjalanan yang ditinggalkan Vogel, muara di sisi benteng itu wilayah predator ganas. Ia menulis tentang seorang tentara yang mengabaikan peringatan, Dirck Gysbertse, yang memutuskan mandi di sungai meski buaya telah terlihat sebelumnya. Tak lama setelah ia berenang, jeritan terdengar. Ketika akhirnya ia ditemukan dan ditarik ke darat, kaki kirinya telah hilang, “terpotong bersih di atas lutut, seolah ditebas kapak,” kata Vogel.

Para perwira VOC, menurut catatan yang sama, sempat berdiskusi tentang bagaimana menangkap buaya tersebut dan mengambil kembali bagian tubuh yang hilang. Mereka kemudian memanggil seorang “Moor tua” yang dikenal memiliki kemampuan melacak dan menaklukkan hewan berbahaya. Dengan lingkaran yang digambar di pasir dan mantra yang tak mereka pahami, lelaki itu memulai ritualnya. Apa yang kita sering kenal sebagai ilau—dendang mantra untuk memanggil-menghadirkan.

Satu per satu buaya muncul ke darat, berlari ke sana kemari, namun bukan yang mereka cari. Hingga akhirnya, seekor buaya lain keluar dengan gerak lambat, hampir seperti tak mampu berjalan. “Itulah yang kalian cari,” kata lelaki tua itu.

Para serdadu menembaknya di bagian belakang telinga, di titik paling rentan, lalu menusuknya hingga mati. Ketika perut buaya itu dibelah, kaki yang hilang itu ditemukan masih utuh di dalam tubuhnya.

***

Dari puncak benteng, saya memandang ke arah timur. Tepatnya, ke arah hulu. Rawa berpasir terbentang tidak jauh dari benteng itu, ditumbuhi semak ransam dan nipah, terhubung pada tepian bukit. Di sanalah, saya membayangkan, buaya dalam catatan Vogel itu berjemur, berdiam, nyaris tak terlihat, tapi menunggu untuk menerkam?

“Masih banyak,” kata seorang lelaki paruh baya yang tiba-tiba menghampiri kami. Ia baru saja menenangkan anjing-anjingnya. “Ada yang sampai enam meter panjangnya.”

Ia pemilik anjing-anjing itu, sekaligus pengelola peternakan sapi ‘di atas’ benteng itu.

“Ada 16 ekor,” katanya lagi. “Satu, belum lama ini, mati—diterkam buaya.”

Buaya menerkam sapi?

Air di muara itu tampak tenang, nyaris bening, amat mengundang. Saya membayangkan kesegarannya. Di tengah hari panas yang begitu berdengkang dan keringat yang lengket seperti lumpur membaluri sekujur badan, keinginan untuk menceburkan diri terasa memanggil-manggil dengan ganjil.

***

Buaya di muaranya, tapi juga ada harimau di hulunya. Telah menjadi ancaman utama yang bertahan lama, baik bagi manusia maupun ternak di Salido. Catatan Vogel menggambarkan bagaimana kucing besar itu menyeret mangsanya ke dalam semak, mengunyah-ngunyahnya dalam gelap ransam, bahkan dari jarak yang dekat ke permukiman.

Memantau Buaya di tepian muara Salido dari bekas Loji/Benteng Croenebrug. (Foto: Adek Firlanda)

Salah satu laporan mencatat seorang pengawas perempuan yang diserang saat bekerja di tambang emas di Kampung Tambang. Ia diseret ke dalam belukar, sementara para pekerja lain hanya mampu berteriak, karena sedang tidak bersenjata, dan tanpa keberanian pula untuk mendekat. Dalam keadaan putus asa, perempuan itu menggunakan batu panjang yang dibawanya, menusuk harimau itu, hingga akhirnya hewan itu melepaskan cengkeramannya dan melarikan diri.

Ia selamat, meski dengan luka parah di leher dan lengan, tubuhnya penuh bekas cakaran.

Tidak semua seberuntung itu.

Saya kali ini telah berada di Kampung Tambang. Susah payah mencari sisa-sisa tambang emas VOC yang mungkin masih tersedia. Sesekali menengok peta tambang kuno untuk mencocokkan dengan yang ditemui di lapangan.  

Di manakah titik harimau menyerang penambang emas di sini?

Saya mencari ‘pagger’, semacam tembok tinggi dan panjang yang membatasi perkambungan penduduk pribumi dengan kawasan tambang. Bertanya sana dan sini. Tapi tidak bertemu sesuatu yang pasti. Saya mencari pasar paling awal, pasar lama era VOC, tempat budak-budak tambang emas Perusahaan Dagang Belanda itu turun berbelanja kebutuhan mereka sekali sepekan. Tidak bersua juga jejak-jejaknya, kecuali dari toponimi ‘pasar lama’, ‘koto lama’. Bersua banyak lubang di ceruk-ceruk bukit memang. Puluhan meter panjangnya dan penuh simpang. Ada rel-rel dan gerobak-gerobak pengangkut di atasnya.

Namun, juga sudah tidak dapat dipastikan lagi, benar-benar berasal dari era VOC atau dari era kolonial Belanda setelahnya, atau bahkan setelah itu? Lubang-lubang baru juga telah banyak tumbuh setelah Belanda angkat kaki, diusahakan dan dikelola masyarakat setempat kali ini. Jadi, masa lalu telah berhimpit-himpitan di situ, menghasilkan lanskap yang berlapis-lapis, dan terkadang blur lagi kabur.  

Jadi, setelah lelah berpusing-pusing di Kampung Tambang, kami naik terus ke hulu, mengikut garis sungai, menuju kampung lain, ke Salido Ketek, atau Salido Sari Bulan.

Tersadar di pinggir sungai itu jugalah, lebih ke hulu lagi, sekitar lima kilometer jauhnya. Deras airnya dilihat dari pinggir kampung, jernih, dan berbatu-batu besar. Sekeliling kampung rimba lebat. Pinggirannya, kebun durian, pinang, kulit manis, cokelat, cengkih, dan kopi. Ada juga beberapa tumpak sawah. Dulu, sekali, tentu kebun lada. Di era VOC, jadi salah satu pusat penghasil lada setelah Bungo Pasang. Tidak ada emas di sini. Tidak ada galian. Tidak ada lubang. Tidak terdengar gerondong penghancur batu seperti di Kampung Tambang.  

“Tapi, kalau mau masuk ke dalam hutan arah ke timur, sekitar 10 jam lebih berjalan kaki, akan bersua Gunung Arum”, kata seseorang di situ. Indra Bakti, pemuda setempat. Kuat. Lincah.

Tambang emas Belanda pada 1935-1939, kata arsip Belanda yang saya baca. Menggantikan tambang emas di Bukit Tambang yang sudah gulung tikar satu dekade sebelumnya.

“Ayah saya dulu pernah ke sana. Dulu sekali. Sehari semalam, pulang-pergi?” kata saya memastikan. Indra menggangguk. Saya saling berpandangan dengan anak laki-laki saya.

Jadi, kami dibawa berkeliling kampung Salido Ketek itu saja.

Di ujung kampung, ada bangunan besar PLTA. Warisan kolonial punya. Berdiri tahun 1912.

Menghasilkan listrik, untuk mendukung operasi tambang emas di sana, lalu memasok listrik bagi perusahaan semen Belanda di Indarung, dan setelah kemerdekaan sempat pula menerangi sekujur wilayah selatan ini dulu.  

Sumber airnya dari mana?

Jauh, lebih ke hulu lagi.

Kalau berkunjung ke Salido Ketek, mesti ke situ, katanya pula.

Kami berjalan ke jalan setapak. Kanal-kanal besar penuh air melintasi perbukitan terjal. Jembatan-jembatan perjalanan air dibangun menghubungkan bukit dengan bukit.

Foto Udara PLTA/PLTM Salido Ketek. (Foto: Yuka Fainka Putra)

Kami melintas di atasnya. Hutan raya berlapis-lapis di sisi kanan kami, sebagian ditanami ladang di bagian yang dekat jalan setapak, sementara di sisi kiri, tebing dalam, terhampar ke bawah dengan kemiringan sedang, di ujungnya, terlihat sungai, bergejolak-bergederam arusnya di sela-sela batu besar.   

“Apa sekarang masih ada harimau di sini?” tanya saya pula mengedarkan pandangan pada hutan lebat di belakang. Terlihat, tiga lapis gunung, bagian dari Bukit Barisan, dan nun di lapis ketiga yang jauh itulah Gunung Arum, kata pemandu kami itu. Puncaknya, berselimut awan. Terlihat begitu jauh, kaki saya gemetaran membayangkan perjalanan ke sana. Hujan mulai turun perlahan. Tipis saja, untungnya. Kami tak punya mantel. Jalan basah dan licin.  

Mungkin di hutan yang jauh itu masih ada harimaunya, kata pemandu kami lagi. Dia menawarkan perjalanan bersianyut mengikuti kanal air PLTA. “Tiga kilometer panjangnya, nanti berakhir di Jenjang Seribu,” katanya penuh semangat. Saya sempat melihat jenjang yang dikatakanya sebagai titik akhir petualangan air. Tinggi curam.

Dengan anak-anak tangga yang kecil dan lumutan, mungkin telah licin sekarang untuk dilewati. Dulu, tiga tahun lalu, sempat jadi tempat wisata di sini, katanya pula. Ramai orang datang, ribuan turis yang berkunjung. Tapi kini, sepi, jalan-jalan licin berlumut, jembatan-jembatan kayu lapuk, dan bagian-bagian tertentu telah somplak.   

Aliran air yang dibuat Belanda di Salido Ketek untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik yang digunakan untuk kebutuhan energi sebagian besar wilayah Pesisir Selatan pada zaman Belanda. (Foto: Yuka Fainka Putra)

***

“Tapi, yang turun ke kampung tidak pernah terdengar lagi. Terakhir, pada 1990-an, harimau makan sapi penduduk beberapa kali,” kata Engku Guru ketika kami juga bertanya soal harimau kepadanya.

Kalau buaya, ada?

“Tidak ada buaya di sini,” katanya dengan yakin.

“Tapi di jembatan kembar—di muara—ada, Engku!” sela seorang gadis muda. Ia tertawa ringan, kawat giginya berkilau dengan motif bunga kehijauan. Di sampingnya, seorang gadis lain berdiri lebih diam. Keduanya murid sebuah sanggar seni tradisi di kampung itu.  

Guru mereka—lelaki tua tadi, yang dipanggil Engku—menjelaskan bahwa salah satu tari yang diajarkannya adalah tari kain, biasa dipentaskan dalam kenduri atau sunat rasul atau perhelatan lain. Dasar gerakannya berasal dari silat, ciri khas tari Minangkabau. Dimainkan perpasangan.

“Cobakanlah sedikit!” pinta saya pada dua gadis muda itu.

Mereka terlihat malu-malu. “Belum hapal betul,” kata salah seorangnya.

Gurunya, tersenyum saja, memandangi murid-muridnya. Selain sebagai guru seni, lelaki tua itu juga dikenal sebagai analis batu. Ia mampu membedakan batu yang mengandung emas dan kadar kandungannya sekaligus. Semacam geolog pribumi, begitu.

“Insyaallah bisa,” katanya mantap.

Meski pendidikannya tak pernah tuntas. “SR saja tidak tamat!” kata seorang pejabat kampung yang hadir bersama kami menjelaskan, yang juga kepala sanggar seni itu.

Otodidak, semata otodidak.

Saya memburu dengan napas tercekat. “Bagaimana ceritanya kok bisa?”

Ternyata, Engku Guru itu pernah menjadi asisten seorang geolog Jerman. Profesor. Saya lupa pula bertanya, yang jelas profesor ahli tambang. Pengetahuannya diperoleh dari situ, dari pengalaman yang berlapis itu.

“Soal buaya,” katanya kemudian, “kalau di hulu ini tidak ada. Kalau ada, pasti di muara.”

Saya bertanya lagi, apakah dulu pernah mendengar ada “tukang ilau” buaya?

“Tukang ilau harimau ada,” jawab Engku itu.

Ia bercerita, pada 1960-an, harimau sering memangsa ternak bahkan manusia di kampung itu. Untuk menangkapnya, digunakan metode “ilau” itulah. Dipanggil, dirayu, dengan mantra-mantra perindu, agar masuk ke dalam perangkap, semacam penjara, atau kerangkeng dari kayu.

Namun kini, cara itu ditinggalkan.

Ketika harimau masuk kampung lagi tahun 1990an, tidak lagi diilau.

“Ditembak. Tentara dari Koramil sini yang datang menembak,” katanya lagi.

Mengapa tidak diilau lagi?

“Lebih jelas. Langsung mati.”

“Tukang ilau masih ada?” tanya saya, nyinyir.

Ia mengangkat bahu. “Mungkin saja.”

***

Setelah turun dari kampung-kampung di bagian hulu, saya kembali hilir. Ke muara yang sama di awal saya datang. Air di muara itu terlihat tetap tenang, agak sedikit keruh sekarang, mungkin karena hujan semalam, tapi tidak memberi tanda apa-apa. Di tepiannya, seekor bangau kali ini tampak berdiri diam seperti sedang mematut-matut sesuatu. Buayanya tidak terlihat. Tapi pemilik sapi itu bilang ada, enam meter, dan sapi-sapinya jadi saksinya. Juga anjing-anjing. Di sini, tampaknya dua dunia tidak pernah benar-benar berpisah, yang lama masih menunggu di bawah permukaan, yang baru berdiri di atasnya—membangun kandang, memelihara sapi, hanya tidak lagi tahu mantra apa yang mesti diucapkan bila keduanya bertemu?

Dalam perjalanan pulang, anak laki-laki saya ada bertanya: buaya itu bisa ditangkap tidak, Yah? Saya bilang, dulu bisa, dengan mantra, dengan lingkaran di pasir, dengan seorang tua yang tahu cara bicara kepada sesuatu yang tidak kita mengerti, alam gaib, jihin, hantu, atau entah apa. Sekarang? Saya tidak menjawab. Saya tidak tahu juga apakah tukang ilau buaya seperti yang diceritakan Vogel tiga ratus tahun yang lalu itu masih ada atau bahkan benar-benar pernah ada? Mungkin penerusnya masih hidup di suatu sudut kampung entah di mana, menyimpan mantranya, seperti menyimpan sesuatu yang tak lagi dibutuhkan tapi tak tega juga untuk dibuang begitu saja.  []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top