Menjelajah Heboh Sastra 1968 Lewat Nazwar Sjamsu

Ilustrasi: Yusrizal KW

Dikatakan oleh Nazwar Sjamsu (selanjutnya akan disebut Sjamsu) dalam kata pengantar bukunya Mendjeladjah Heboh Sastra 1968 Menudju Titik Kebenaran (1970), bahwa, “Kehebohan itu tidaklah akan berlarut-larut yang mungkin amat pelik menyelesaikannya, tetapi dengan terbitnya buku pembelaan oleh Jassin sendiri atas cerpen itu maka kini persoalannya bukanlah mungkin habis begitu saja malah menjadi lebih besar dan meluas hampir-hampir mencakup seluruh bagian penting dari kultur islam.”

Dengan kata lain, lewat kutipan (kata pengantar) tersebut Sjamsu hendak mengatakan bahwa buku H.B. Jassin berjudul Heboh Sastra 1968 Suatu Pertanggungan Jawab hanya kembali memperkeruh suasana setelah ribut-ribut karena cerpen “Langit Makin Mendung” karya Kipanjikusmin, yang sebetulnya keadaannya sudah mereda.

Buku yang ditulis oleh Sjamsu sebagaimana yang sudah disebutkan merupakan counter terhadap buku H.B. Jassin yang ditujukan untuk menyebarluaskan pembelaannya ke publik. Sayangnya, semangat untuk menuju titik kebenaran yang digaungkan oleh Sjamsu belum atau malah tidak tercapai.

Yang membuat publik geram karena di dalam cerpen “Langit Makin Mendung”, Tuhan digambarkan sebagai manusia tua yang berkacamata emas. Sementara nabi-nabi digambarkan telah merasa bosan di surga dan hendak turun ke bumi. Penggambaran zat Tuhan dalam dunia Islam tentunya merupakan hal yang asing, wajar apabila kemudian cerpen ini mengundang keributan.

Pertama di Medan pada bulan Oktober 1968 atau satu bulan setelah cerpen itu terbit, kemudian keributan merembet ke Jakarta. Saat itu, Majalah Sastra dituntut, golongan tertentu bahkan menghendaki pembubaran terhadap media tersebut. Mereka yang mempermasalahkan cerpen tersebut, juga menuntut Kipanjikusmin untuk diadili.

Namun, H.B. Jassin selaku redaktur, pasang badan. Kipanjikusmin tidak pernah memenuhi panggilan ke pengadilan. H.B. Jassin-lah yang menerima panggilan itu. Dikatakannya dalam bukunya bahwa antara imajinasi dengan kenyataan objektif adalah dua hal yang berbeda. Hukum yang berlaku di kenyataan objektif tidak dapat digunakan untuk mengukur imajinasi. Maka tidaklah tepat jika kemudian didatangkan ahli-ahli agama Islam dalam persidangan tersebut.

Meskipun naluri manusia selalu ingin tahu wujud Tuhannya, tetapi ia tidak akan pernah dapat menggambarkannya, dalam arti berdasarkan kenyataan yang sesungguhnya. Itulah salah satu yang dikatakannya dalam pembelaan terhadap cerpen “Langit Makin Mendung”. Kipanjikusmin menurutnya tidak bermaksud menghina Tuhan, nabi, islam, Pancasila, hingga UUD 1945. Yang ia lakukan justru kritik terhadap situasi di Indonesia.

Keterangan dari H.B. Jassin ternyata tidak memuaskan semua pihak. Salah satunya adalah Nazwar Sjamsu. Sayang di dalam bantahan-bantahan Sjamsu terkandung kontradiksi. Namun, bukan berarti H.B. Jassin juga tanpa cela. Salah satu kesalahan H.B. Jassin—disebutkan oleh Sjamsu—adalah mencampuradukkan antara Islam dan agama lain dalam meperbandingkan penggambaran Tuhan—sekaligus penggambaran Tuhan ini bertentangan dengan surat An-Nahl ayat 74. Sementara kesalahan utama Sjamsu dalam analisisnya tidak memposisikan terlebih dahulu, teks sastra, atau dalam hal ini teks cerpen itu sendiri seperti apa. Kemudian juga posisi teks Alquran dalam analisisnya. Dalam bukunya tersebut dengan membabi buta Sjamsu menghajar Kipanjikusmin bahkan H.B. Jassin selaku redaktur.

Di halaman 10 bukunya, ia langsung memukul keras Kipanjikusmin, berkata bahwa Kipanjikusmin bukanlah seorang mukmin yang sebenarnya menurut ajaran Islam atau masih amat baru kemukminannya dalam taraf mempelajari Islam tetapi telah tampil ke muka memberanikan diri memasuki persoalan yang sampai kini masih kabur bagi segolongan masyarakat—soal penggambaran wujud Tuhan—bahkan ia dituduh seorang kristen. Kipanjikusmin dianggap sembarangan-semau-maunya. Rasanya tidak seorang pun dari pribadinya yang benar-benar mukmin tidak akan tergetar jiwanya. Itu yang dikatakan Sjamsu pada halaman 9. Namun, cukup disayangkan, Sjamsu tidak meninggalkan jaminan atas tuduhannya. Artinya tuduhannya itu hanya spekulatif, tidak adanya bukti yang empiris.

H.B. Jassin

Jika H.B. Jassin mengatakan bahwa antara imajinasi dengan kenyataan objektif itu berbeda. Sjamsu justru menunjukkan hal-hal yang sebaliknya. Ia seakan-akan menganggap teks cerpen “Langit Makin Mendung” adalah teks yang mengandung kebenaran, layaknya Alquran. Karena ketidakbenaran tersebut, kemudian membuat Sjamsu mengatakan kalau Kipanjikusmin telah melontarkan ejekan, menempatkan Muhammad selaku pribadi utama di surga. Analisisnya diawali dengan mengutip surat Mukmin ayat 11.

Kemudian Al-Mu’minun ayat 99-100, Al-Ankabut ayat 64, An-Nahl ayat 97, An-Naba ayat 17-18, dan Al-Qari’ah ayat 6-11. Pada intinya ayat-ayat tersebut digunakan untuk membantah apa yang terdapat di dalam cerpen “Langit Makin Mendung” karya Kipanjikusmin mengenai surga, yang oleh cerpen tersebut eksistensinya dikatakan sudah ada. Menurut Sjamsu, saat ini surga belum ada, sebab semua makhluk akan dibangkitkan bersama-sama. Maka dengan dasar apa Kipanjikusmin telah menguraikan dalam cerpennya bahwa para Nabi itu kini telah berada di surga? Itulah pertanyaan Nazwar Sjamsu di halaman 13. Lebih lanjut di halaman yang sama, teks itu menurutnya disusun tanpa ilmu pengetahuan.

Jika cerpen tersebut terbit pada hari-hari sekarang, mungkin Kipanjikusmin telah dituduh menyebarkan hoax. Pertanyaan tersebut terkesan memposisikan teks sastra sebagai sebuah kebenaran. Keadaan nabi yang digambarkan—sebagaimana digambarkan oleh teks itu—sudah berada surga seolah-olah benar adanya. Dan keadaan surga yang digambarkan pun tidak sesuai dengan ayat-ayat Alquran.

Di surga kelak, seseorang tidak akan pernah bosan, selalu hidup dalam keadaan yang sentosa. Sjamsu bahkan menuntut Kipanjikusmin untuk menunjukkan surga yang konkrit itu di dalam semesta raja yang luas. Hal ini sebetulnya sama juga seperti yang dituntut oleh H.B. Jassin, jika memang benar cerpen itu dianggap menghina Tuhan, ia meminta agar Tuhan dihadirkan di persidangan. Sayangnya, soal hal ini, Sjamsu tidak menanggapi di dalam pembahasannya. Entah, tidak ditemukan alasan untuk itu.

Begitu pun dengan iblis yang diceritakan merajai neraka, juga kendaraan yang dinamakan Buroq yang digunakan oleh nabi. Keduanya dituntut juga oleh Sjamsu. Kipanjikusmin oleh Sjamsu dianggap punya maksud tertentu karena telah menggambarkan itu semua di dalam cerpennya. Pada keterangan sebelumnya telah dikatakan, Kipanjikusmin bahkan dituduh seorang Kristen.

Tuduhan ini muncul setelah Kipanjikusmin menggunakan ayat-ayat dalam injil sebagai landasan ia menulis. Tuduhan ini mungkin didasari oleh memanusiakan Tuhan sebagaimana tergambar di dalam cerpen. Sjamsu juga menunjukkan, Kipanjikusmin berusaha menyelewengkan ajaran ayat suci Alquran. Hal itu bisa dibaca pada halaman 28 hingga 40. Lagi-lagi tuduhan itu bersifat spekulatif. Sjamsu tidak memberikan jaminan yang pasti jika Kipanjikusmin memang demikian adanya.

Di halaman 53, Sjamsu mengatakan sebagai berikut:

Tetapi tidakkah setiap tulisan itu mengandung niat dasar selaku titik tolak dan maksud rencana selaku tujuan? Apakah pengarang dengan permohonan maafnya itu juga membuang niat dan rencana yang terkandung dalam hatinya dan menyadari kesalahan yang diperbuatnya hingga membunuh niat dan rencana yang tadinya telah menjadi kenyataan serta merubahnya untuk yang lain, apakah permohonan maafnya itu hanya tersebab benturan yang dihadapinya saja atau hanya mengelakkan cara dalam usaha pada pelaksanaan niat dan rencana yang tersimpan dalam hatinya? Karenanya betapa orang dapat memberikan maaf kalau penulis itu tidak merubah niat dan rencananya yang memang tiada seorang lain bisa merubahnya, nanti akan berulang lagi dalam pelaksanaannya.

Kutipan di atas adalah tanggapan bernada pesimis Sjamsu terhadap permohonan yang dilontarkan Kipanjikusmin, setelah terjadi keributan karena cerpen karyanya. Sekaligus pernyataan itu berkelanjutan dengan argumentasi Sjamsu mengenai pertanyaan H.B. Jassin, mengapa A.A. Navis dituntut, sedang Kipanjikusmin dituntut? Menurut Sjamsu, antara keduanya berbeda. Walaupun A.A. Navis menghadirkan Tuhan di dalam cerpennya, tetapi niat dasar, maksud, dan rencana berbeda, ditinjau dari nada dan isinya.

Amatlah disayangkan, secara implisit Sjamsu justru mengamini pendapat H.B. Jassin mengenai pembedaan kenyataan yang objektif di imajinasi. Di halaman 77, Sjamsu mengatakan:

Maka dengan buku kecil ini kita hanya mengharapkan agar ummat manusia yang sekitar 90 juta lebih itu dapat mengambil garis pemisah antara hal-hal yang berfungsi ajaran agama yang diridai Allah menurut sunnah dan ajaran rasulnya dengan hal-hal yang bersifat fantasi karangan belaka, antara keduanya itu tidak boleh dicampur-adukkan.

Argumentasi tersebut secara tidak langsung mengakui apa yang dikatakan oleh H.B. Jassin. Namun, di halaman 108, Sjamsu kembali menyampaikan apa yang sudah dijelaskannya di halaman-halaman sebelumnya. Kisah perjalanan nabi sebagai diturunkan dalam majalah sastra terang-terangan berusaha menyimpangkan ajaran Islam karena di dalam ajaran Islam tidak ada kisah sebagai yang dituliskan oleh Kipanjikusmin.

Memang sulit menemukan titik temu diantara keduanya—antara kenyataan objektif dan imajinasi. Teks sastra tidak bisa dituntut harus menyajikan kebenaran. Artinya ketika suatu teks dirujuk kepada kenyataan, akan ditemui fakta yang dimaksud itu. Teks sastra pada dasarnya hanya memberikan kemungkinan-kemungkinan, alasan-alasan tertentu, sebuah peristiwa atau kenyataan yang kita dapati bisa terjadi.

Bahan-bahan—modalitas—yang digunakan tidaklah mungkin tidak berasal dari kenyataan. Bahan-bahan untuk menyusun teks sastra. Tetapi, masalahnya dalam kasus cerpen “Langit Makin Mendung” karya Kipanjikusmin, salah satu bahan yang digunakan berasal dari apa yang dianggap suci dari agama Islam. Dalam hal ini zat Tuhan dan beberapa hal yang menyertainya.

Kasus cerpen “Langit Makin Mendung”, tidak serta-merta hanya soal kenyataan objektif dan imajinasi, seperti yang disampaikan H.B. Jassin sebagai dasar pembelaan. Juga tidak semudah Sjamsu menghakimi Kipanjikusmin dengan dasar-dasar agama. Ada semacam hubungan yang rumit diantara agama dan sastra dalam hal ini, sebetulnya belum terjelaskan oleh H.B. Jassin sebagai orang yang berada di pihak sastra, dan juga Sjamsu orang yang berada di pihak agama.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top