
1/ Seceruk Lubang Impian
Lubang itu tumbuh di kepala Edo. Mula-mula kecil. Tambah lama tambah besar. Kemudian menetap dan jadi obsesi. Lubang tipe apa yang pantas bagi bapaknya?
Seceruk lubang jenazah, sebuah makam indah di Eden Prime, adalah verifikasi valid status mendiang. Sangat membanggakan jika dipublikasikan di media sosial.
Bertahun-tahun Edo mempelajari brosur iklan Eden Prime dengan teliti. Tidak ada lubang yang murah. Ada beberapa paket lubang hemat untuk keluarga, tetapi nominalnya masih tidak terjangkau Edo. Meski begitu, ia berharap jika bapaknya wafat dimakamkan di tempat yang sama dengan pahlawan, pejabat, dan konglomerat. Bisa menyanjung tujuh tingkatan leluhur serta menjadi teladan tujuh turunan lebih.
“Aku mau Bapak dikubur di sini,” tekadnya.
Aku terpana. Apa untungnya? Berbeda dengan pemikiranku. Aku ingin dikubur di tengah lingkungan keluarga. Jika dekat, makamku akan sering dikunjungi, dibersihkan, dan dibacakan Yasin-tahlil.
Dengan pertimbangan bahwa bapaknya sudah bau tanah dan mustahil bisa mengikuti ritual haji, Edo batal mendaftarkan beliau naik haji. Daftar tunggu terlalu lama: 10 tahun lebih.
“Jangan-jangan, Bapak keburu berpulang,” ucapnya ketika berdiskusi panjang-lebar-lama denganku.
Maka, tabungan haji dialihkan untuk persiapan membeli sebuah lubang jenazah. Mekkah terlalu jauh. Setidaknya, di Eden Prime Moslem Area bisa tidur damai dekat prototipe Ka’bah di bawah naungan pohon kurma dan zaitun. Lubang mulia itu adalah persembahan terbesar dan terakhir pada bapaknya. Wujud bakti Edo sebagai anak laki-laki tertua.
Edo berikrar akan berjuang mati-matian demi Eden Prime. Kadang, saat malam terlampau dingin, ia membayangkan hari sakral sunyi-senyap, iring-iringan mobil melaju pelan, menembus gerimis, dan lubang itu—lubang impian—akhirnya memeluk tubuh bapaknya dengan haru. Tidak perlu ada upacara besar. Tidak perlu ada pelayat berlebih. Hanya keluarga inti dan lubang itu. Lebih dari cukup.
“Lubang tipe apa yang terjangkau olehku?”
Sengaja kukeraskan tawaku. Lucu sekali melihatnya bingung perihal pepesan kosong.
“Serahkan saja katalog ini. Biar Bapakmu memilih sendiri,” tantangku.
Edo makin bingung, “Kalau Bapak milih yang premium?”
Pada umumnya orang bekerja untuk hidup, Edo adalah anomali yang bekerja untuk mati.
2/ Lintasan Joging
Kutafsirkan Edo iri. Lebih tepat disebut tersinggung pada orang-orang di sekelilingnya. Ia terlalu melebih-lebihkan masalah sepele. Jiwa filosofisnya meronta. Tidak menerima fakta bahwa orang mati mendapat penghormatan dari semua karyawan Eden Prime.
Jenazah diantar iring-iringan mobil mewah, berkeranjang-keranjang bunga segar, rekuiem syahdu, dan air mata puitis. Karyawan Eden Prime berjejer rapi. Seragam ala korporat klasik minimalis: kemeja abu-abu arang dengan logo kecil Eden Prime di dada, celana hitam polos berpotongan lurus, kartu identitas tergantung di leher. Jangan sebut sebagai pelayan dukacita. Merekalah barisan profesional operator sistem kematian.
Aku dan Edo menjaga kebersihan dan keindahan lintasan joging. Pagi, siang, sore, kadang hingga malam, selama 8 jam kerja atau lebih, memastikan tidak ada daun gugur atau noda tanah yang mencoreng citra afterlife premium. Jengkal demi jengkal!
Kami hafal bau tanah, tapi tanah ini tidak kenal kami. Tidak layak dimakamkan di sini! Cukuplah sebuah lubang sempit diselimuti tanah merah di pemakaman umum kampung. Nisan dari batu kasar mencong, terkadang dilangkahi, bahkan diberaki kambing.
Suara Edo berdengung di telingaku. Tentu saja ceramah tentang siklus klasik atasan-bawahan. Mungkin materi kuliahnya dulu. Dendam pekerja pada pemilik perusahaan, dendam kelas pekerja pada kelas borjuis, dendam rakyat jelata pada penguasa.
“Ini salah Marx. Ia tidak bilang kalau kutukan kasta mengikuti sampai alam barzah. Pada jasad pun aku iri,” protes Edo sambil mengembuskan asap rokok ke langit impian.
Aku tidak kenal Marx, tapi sepakat dengan omongan Edo. Beberapa daun gugur lagi seolah tidak merasa bersalah membuat pekerjaanku tidak pernah selesai. Untunglah, daun mati hanya perlu disapu dan dibuang, tidak perlu dikubur. Lebih ekonomis dan praktis.
3/ Calon Pahlawan di RestArea
Menurut pemikiranku, serupa beasiswa dan bansos, seharusnya ada kebijakan sosial khusus yang tidak tertulis di Eden Prime terhadap karyawan yang loyal. Semacam hak istimewa spiritual atau penghargaan atas pengabdian bertahun-tahun.
Edo, seharusnya masuk kategori itu. Dua belas tahun setia di bidang yang sama. Setiap pagi bersanding dengan matahari, menyusuri lintasan joging sambil menyapu bunga, daun, atau ranting yang gugur, memastikan tidak ada sampah yang mengganggu langkah pelari atau mengurangi estetika jika difoto. Bahaya jika ada influencer yang memviralkan lintasan joging kotor cuma karena sehelai daun kering. Bisa merusak nama baik pemakaman.
“Sejak dulu aku penasaran. Apa yang tampil jika QR ini kupindai?” tanyanya lirih sambil meraba sebuah nisan marmer bertuliskan nama seorang pejabat.
Ah, lagi-lagi ia memikirkan pertanyaan bodoh. Macam mana aku tahu? Apa pula manfaatnya jika aku tahu?
“Seingatku, pernah dijelaskan Bu Fei divisi marketing, isinya profil jenazah lengkap. Mulai lahir, sekolah, kerja, hingga meninggal. Lengkap dengan foto, video, dan testimoni orang-orang terdekat.”
“Kau pernah coba pindai?”
“Kerjaanku masih banyak,” seruku gusar dan geregetan.
Aku menggoyang-goyangkan batang bugenfil. Daun-daun tua rontok sekaligus. Mudah kusapu. Hahaha … si bodoh Edo khusuk mencermati layar ponsel. Alisnya hampir bertaut. Tampaknya ia memindai QR Code di nisan tadi. Ia terlihat takjub menyaksikan isinya.
Edo tahu letak makam yang saban hari diziarahi, atau berkala pada hari tertentu, atau hanya sekali ketika penguburan kemudian sepi pengunjung. Jika senggang sesekali membaca nama-nama pada nisan, mana yang terkenal, mana yang tidak. Semua dilakukan dengan tenang, karena arwah tidak suka keramaian.
“Seharusnya ada lubang gratis atau subsidi, Do. Bukankah reputasi pemakaman akan naik jika dihuni oleh pahlawan? Bapakmu pahlawan, kan? Dulu kau pernah cerita begitu,” pancingku berapi-api.
Ia terlihat ragu, menyedot rokok dalam-dalam, seolah sedang mengumpulkan segala memori yang berhubungan dengan kepahlawanan bapaknya. Sejujurnya, aku hanya mengarang dan mengira-ngira. Ternyata Edo menanggapi dengan serius. Bahkan terlalu serius! Ah, telanjur begini, mending kulanjutkan saja permainan ini supaya makin panas.
“Masalahnya adalah,” katanya lambat sambil menerawang memandangi kepulan asap yang menghilang di langit-langit restarea, “apakah konsep pahlawan dalam kepalaku sama dengan isi kepala Bos? Bapak, jelas pahlawan. Sebagian besar orang kampung diajar Bapak. Mulai alif-ba-ta, fasih mengaji, hingga khatam Al-Qur’an. Juga adab dan bela diri. Kalau tidak ada Bapak, bisa rusuh. Kau lihatlah tingkah anak-anak kampung sebelah. Azan Magrib masih nongkrong di bawah tiang listrik, pacaran, atau gitaran.”
“Kalau Bos tidak percaya, tinggal menyodorkan piagam penghargaan gelar pahlawan atau tanda bintang. Atau kau buatlah video ketika bapakmu mengajar,” candaku asal bunyi.
“Mana ada model begitu, Kampret! Boro-boro penghargaan, bayaran saja alakadarnya,” selorohnya.
“Pahlawan sudah biasa hidup pas-pasan,” aku terkekeh dan melemparkan puntung rokok ke tempat sampah lalu menyepak lututnya.
Trotoar basah. Satu-dua tetes air mulai turun. Aku paham, pahlawan butuh massa untuk memvalidasi perjuangannya. Di negeri ini, banyak pahlawan yang terkubur nama dan maknanya. Tanpa bukti, tidak segampang itu diakui dan digelari pahlawan.
“Cobalah kau lobi Bos. Barangkali ada kemudahan untuk bapakmu. Mungkin ada promo lubang murah, atau boleh dicicil, atau subsidi, atau diskon, atau undian lubang gratis, atau apalah,” saranku mencoba membesarkan hatinya.
Gaji kami selalu dibayar tepat waktu. Jelas cukup untuk biaya hidup sebulan, sambil sesekali menraktir teman makan bakso pengkolan. Namun, tidak cukup untuk membeli sebuah lubang di sini—di tempat yang kami rawat setiap hari.
4/ Proposal Terlalu Waras
… Kesimpulannya, dengan dimakamkannya Bapak saya di sini, akan membawa keuntungan bagi Eden Prime. Saya yakin, keterlibatan Eden Prime dalam bidang kemanusiaan akan menyayat perasaan banyak pihak sehingga mereka berbondong-bondong memakamkan sanak-keluarga di sini karena Eden Prime terbukti peduli dan mengasihi sesama manusia meski sudah jadi jenazah. Sungguh sebuah promosi yang sangat natural, murah, dan menguntungkan karena tidak perlu membayar biro iklan dan artis.
Demikianlah proposal yang dibuat Edo. Berminggu-minggu ia berdiskusi dengan teman semasa kuliah, disempurnakan oleh chat GPT. Edo yakin keadilan akan berpihak. Filosofinya seperti makam Eden Prime kelas reguler: tanah sama rendah, nisan sama tinggi. Pun dengan bapaknya, tidak lebih rendah atau lebih tinggi dibanding yang lain.
Aku tertawa dalam hati, mengembalikan berkas itu hati-hati ke dalam map, dan menepuk pundaknya keras-keras.
“Semoga berhasil, Do!”
5/ Rencana Resign
Aku mengguncang bahunya perlahan. Meski tidak ada air mata, aku tahu ia menangis. Kepalanya menunduk. Wajahnya gelap. Tangannya mencengkeram tanah dan melemparkannya keras-keras ke dalam lubang. Sedih karena bapaknya meninggal? Kecewa karena proposalnya ditolak bos Eden Prime? Atau marah?
“Kenapa sih kau lemah begini? Laki, oyyy!” bentakku.
“Aku mau resign,” tukasnya spontan.
Dahiku berkernyit, “Kenapa? Sayang, gajinya kan lumayan.”
“Daripada nyapu lintasan joging, mendingan nyapu makam Bapak biar nggak diberakin kambing.”
“Kan bisa nyapu sebelum berangkat kerja. Kalau kau resign, tahlilan kampung dibayar pakai apa? Ngutang? Jual kitab?” tantangku.
Edo tercenung. Kesadarannya merambat perlahan. Ia masih hidup. Beban masih banyak. Tanggung jawab belum selesai. Ialah pengganti bapak. Setelah pemakaman masih ada serentetan panjang hajatan dukacita: tujuh hari, seratus hari, seribu hari. Jika berhenti kerja, siapa yang membiayai kebutuhan rumah? Listrik perlu dibayar. Makam perlu dirawat.
“Betul juga. Sama-sama menyapu, di lintasan joging bisa dapat uang, di sini tidak. Baiklah, aku tidak jadi resign. Makam Bapak bisa kusapu sebulan sekali jika libur kerja,” putusnya mantap.
Sebuah lubang jenazah di kampung lunas dibayar. Masih ada cukup dana untuk ritual selametan dukacita dan bertahan hidup. Bumi menutup. Bapaknya baru saja selesai berpulang, diantar beberapa sanak-kerabat. Berlawanan dengan imajinasi Edo. Tidak ada paket pemakaman Eden Prime meskipun yang paling murah. Tidak ada barisan karyawan Eden Prime menyambut jenazah Bapak.
Sandalku sedikit melekat dengan tanah. Warung Mak Karsih ramai didatangi pelayat yang memesan es teh. Anak-anak mengambil sisa permen, roti, dan air mineral. Dunia masih bisa ceria. Edo bukan lagi filsuf setengah matang. Ia kini murni anak laki-laki biasa yang kehilangan bapak. Di sakunya meringkuk manis sebuah amplop. Sebagai perwakilan Eden Prime, tadi pagi aku menyerahkan uang donasi dari kantor padanya. Ia belum tergugah membuka. Semoga saja berisi uang sumbangan setara gaji satu tahun. []
Semarang, 25 Januari 2026




