Catatan Diplomasi Kebudayaan antara Minangkabau dan Negeri Sembilan

JudulNegeri Sembilan Hubungannnya dengan Minangkabau (Payong Terkembang)
PenulisM. Rasjid Manggis Dt. Radjo Penghoeloe
PenerbitPustaka Sa’adijah, 1970
Tebal142 halaman

Pada edisi sebelumnya, saya telah mengenalkan sebuah sumber penting mengenai hubungan Minangkabau dengan Negeri Sembilan, Malaysia. Sebuah buku berjudul Minangkabau and Negeri Sembilan Socio-Political Structure in Indonesia, karya P.E De Josselin de Jong. Dengan menggunakan judul yang tidak jauh berbeda, sebuah sumber penting lainnya adalah buku yang ditulis oleh M. Rasjid Manggis Dt. Radjo Penghoeloe yang bertajuk Negeri Sembilan Hubungannya dengan Minangkabau (Payong Terkembang).

Buku ini sangat menarik karena menyajikan berbagai informasi dan pengetahuan tentang asal-usul, sejarah, hubungan, dan kebudayaan yang terjalin di antara kedua daerah. Namun demikian, buku ini merupakan laporan perjalanan sebuah misi Muhibbah Kebudayaan pada 1968, yaitu perjalanan rombongan kesenian dari Sumatra Barat ke sejumlah daerah di Malaysia. Sebuah misi yang memperkenalkan kebudayaan dan kesenian Minangkabau, dengan pertunjukan kesenian, ceramah dan diskusi, rekaman, dan pertemuan-pertemuan dengan berbagai elemen masyarakat yang terkait.

Rasjid Manggis tidak hanya menyajikan secara rinci perjalanan rombongan Muhibbah Kebudayaan itu, namun juga menceritakan sejumlah hal penting yang ia dapati selama perjalanan. Misalnya saja, ia juga menulis tentang MARA, sebuah lembaga filantropi yang didirikan pada 1965, berfokus di bidang ekonomi dan pendidikan yang memberikan dukungan pada pribumi dan pelaku UMKM dan pengusaha di Malaysia. Bisa jadi, lembaga ini turut memberikan pengaruh pada inisiatif untuk menggerakkan perekonomian dan pendidikan seperti Gebu Minang dan Bank Perkreditan Rakyat.

Contoh kupasan Rasjid yang lain adalah mengenai Dewan Bahasa dan Pustaka, didirikan pada 1956, yang memberikan pengaruh penting dalam mengupayakan dan menyokong Bahasa Melayu sebagai bahasa resmi dan ilmu pengetahuan di Malaysia. Melalui berbagai program, utamanya penerbitan dan penyelidikan sastra lama, Dewan Bahasa dan Pustaka ini menjadi pilar penting bagi masyarakat dan budaya Melayu untuk terus berkembang.

Bagian kedua buku ini menyajikan informasi mengenai sejarah Negeri Sembilan, dan adat istiadat serta sistem sosial yang dianutnya. Rasjid Manggis menyajikan deskripsi yang cukup detil mengenai Negeri Sembilan, terutama pokok-pokok kebudayaan yang berlaku. Demikian juga dengan hubungan yang sangat dekat dengan Minangkabau setidaknya disampaikan oleh Rasjid Manggis mengenai raja-raja Negeri Sembilan yang dijemput dari Minangkabau dan sistem adat Temenggoeng dan adat Perpateh.

Buku ini dicetak dalam jumlah yang terbatas oleh Pustaka Sja’adijah, dengan catatan di halaman awal bahwa versi lebih lengkap dan luas akan diterbitkan setelah pelaksanaan seminar kebudayaan Minangkabau di Batu Sangkar pada 1970. Memang kita mengetahui bahwa seminar tersebut terlaksana, dan juga tulisan atau paparan mengenai Minangkabau dan Negeri Sembilan menjadi salah satu topik bahasan.

Namun demikian, versi yang lebih lengkap dari buku ini belum saya temukan. Buku ini menjadi salah satu dokumentasi penting dari perjalanan kebudayaan Minangkabau, yang menunjukkan diplomasi kebudayaan sebagai sarana penting dalam mengembangkan berbagai pikiran dan interpretasi kebudayaan. Sebagai sumber referensi penting, buku ini dapat dijadikan sebagai titik tolak untuk kajian-kajian kebudayaan Minangkabau, terutama dalam kaitannya dengan sebaran, sejarah, dan saling keterpengaruhan kebudayaan secara global.

Apa lagi, hubungan antara Minangkabau dengan Negeri Sembilan, atau dunia melayu secara umum, sangat kuat. Tentu saja hubungan seperti ini memberikan pelajaran penting untuk menelisik kekuatan-kekuatan kebudayaan yang terjadi, untuk merespon perkembangan masa depan. Sebagai dokumen kebudayaan, buku ini juga menyajikan catatan dari episode perjalanan kebudayaan yang pernah terjadi.     


Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top