| Judul Buku | Tragedie Dilajar Pergerakan |
| Penulis | Decha (D. Chairat) |
| Penerbit | Roman Indonesia, 1939 |
| Tebal | 64 halaman |
Roman Indonesia adalah sebuah penerbit yang beralamat di Pasar Malintang, No 8, Padang. Penerbit ini mengeluarkan serial bernama sama, Roman Indonesia. Seri ini dipimpin oleh Boerhanoeddin dan D. Chairat, administrasi oleh A. M. Isma’il dan ilustrator Anas. S. M. Beberapa orang yang menjadi anggota sidang penulisnya adalah Suska (pemimpin koran Persamaan), Dali (Pemimpin majalah Raya), dan A. Hasjmy (Poedjangga Baroe). Diterbitkan dua mingguan, seri ini dibandrol dengan harga langganan 3 bulan f0.50 atau senomor seharga f0.17,5.
Nomor dua dari seri ini berjudul Tragedie Dilajar Pergerakan yang ditulis oleh Decha. Cerita roman ini dimulai dengan peristiwa rapat sebuah organisasi pergerakan yang akan mengadakan openbare vergadering (rapat umum) untuk mengobarkan semangat perjuangan rakyat. Karena itu, ditunjuklah kemudian Kesoema Djaja, seorang anggota baru organisasi yang pandai berorasi. Sementara Doerman, salah seorang pengurus organisasi yang telah lama membangun kelancaran administrasi dan program organisasi, merasa kecewa dengan pilihan pembicara rapat akbar tersebut.
Di sisi lain, Moeljani, istri Doerman, merasa jatuh cinta kepada Kesoema, yang dilihatnya ketika acara rapat umum. Meskipun dia telah bersuami, namun ia merasa kurang berbahagia, dan berangan-angan untuk minta cerai dan membujuk Kesoema menjadi suaminya. Kesempatan itu datang, ketika Doerman mendapatkan tugas dari organisasinya untuk berkeliling daerah mempersiapkan program organisasi selama satu setengah bulan. Moeljani kemudian mendatangi Kesoema untuk menyampaikan keinginannya. Setelah dibujuk beberapa kali, melalui surat-surat yang dikirimkan oleh Moeljani, akhirnya Kesoema menerima. Akan tetapi, Kesoema tidak mengetahui bahwa sebenarnya Moeljani adalah istri dari Doerman.
Setelah pulang dari tugasnya berkeliling daerah, Doerman akhirnya mengetahui kelakukan istrinya. Dia kemudian pergi meninggalkan rumah dan kampungnya. Sebelum kepergiannya, Doerma mengirim surat peringatan kepada istri dan Kesoema. Ia pergi tanpa tujuan. Dan akhirnya, setelah beberapa tahun, ia membaca sebuah berita bahwa Kesoema akhirnya ditahan dan dipenjarakan karena isi pidatonya yang dinilai berbahaya oleh pihak keamanan. Doerman kembali ke kampungnya, dengan roman yang berbeda, karena selama perjalanannya ia tidak lagi sempat mengurus dirinya sendiri.
Doerman membayar seseorang untuk membunuh Kesoema di penjara. Ia juga membunuh istrinya sendiri. Kemudian ia bunuh diri dengan pisau yang digunakannya untuk membunuh istrinya. Dari surat yang disiapkannya sebelum membunuh istrinya, orang-orang kampung mengetahui siapa pelaku yang membunuh Moeljani dan kemudian bunuh diri itu. Inilah tragedi yang terjadi di kalangan orang-orang pergerakan, seperti yang tercantum dalam judul roman ini.
Roman ini, dan juga roman-roman yang diterbitkan oleh Roman Indonesia dan penerbitan sejenisnya di berbagai daerah, merupakan tulisan-tulisan yang memiliki misi untuk membangkitkan semangat perjuangan rakyat Indonesia pada masa penjajahan. Seperti pada pengantar roman ini, Decha menyatakan bahwa banyak sekali tulisan-tulisan yang dikirimkan oleh para penulis ke Roman Indonesia. Akan tetapi, kebanyakan tulisan itu berisi kisah-kisah percintaan. Berkebalikan dengan semangat yang ingin dibangun oleh.
“Tertampak sepintas laloe soenggoeh mengasjikkan, karena tangan pembatja tidak koeasa melepaskan boekoe itoe sebeloem tamat, tetapi apa boeahnja. Ia mechajal, dia memboeat rantjangan pekerdjaan dianatas djalan2 jang diadjarkan oleh boekoe jang masih dibatjanja. Boeahnja mati semangat, mati kejakinan oentoek berbakti kepada bangsa dan tanah air. Hal jang sematjam ini sangat meroesak dan meroegikan masjarakat kita”.
Sebagaimana lazimnya seri roman, buku ini juga dihiasi dengan ilustrasi, iklan-iklan toko buku dan terbitan Roman Indonesia, serta pemberitahuan bagi distributor. Bahasa yang digunakan roman ini masih sederhana, dengan alur cerita yang juga bisa ditebak. Akan tetapi, akhir cerita ini memang sedikit mengejutkan, yang keluar dari harapan pembaca di bagian awal dan tengah cerita. (***)
Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id





