
Saya tinggal di sebuah kampung agak di pinggang gunung di dataran tinggi Minangkabau di Sumatera Barat. Berjarak sekitar 15 kilometer dari kota wisata Bukittinggi, dan sekitar 10 kilometer dari kota kecil paling sering hujan Padangpanjang. Kampung berhawa sejuk, dengan masyarakat yang masih cukup taat pada tradisi, dan tampak religius sebagai pengikut Nabi Muhammad. Prosesi adat dilangsungkan saban tahun mengikuti ritme hidup: kelahiran, memasuki masa dewasa (khitan), menikah dan berkeluarga, hingga mati. Masjid dan mushola berbunyi tiap waktu sembahyang oleh lantunan kitab suci, anak-anak mengaji atau menghafal Quran, dan pengajian rutin agama saban pekan.
Saya menjadi penghuni kampung ini sejak beberapa tahun yang lalu. Dimulai saat saya menikah dengan seorang perempuan dari sini. Sebagai lelaki dari kultur Minangkabau (masyarakat matrilineal terbesar yang masih tersisa di bumi), yang mana kekerabatan ditentukan menurut garis perempuan (ibu), maka saya diharuskan tinggal di rumah keluarga kaum (klan) istri saya. Sekalipun boleh saja nanti saya membawa istri (dan anak-anak) ‘turun’ dari sana, tetapi butuh kemampuan keuangan yang cukup untuk melakukan itu. Maka, segera setelah menikah, saya meninggalkan kota saya, dan tinggal ke kampung istri saya di pegunungan ini.
Saya sendiri berasal dari daerah pesisiran, pinggiran Minangkabau yang kurang-lebih tidak begitu taat pada adat jika dibandingkan pusat kebudayaan suku-bangsa ini di pegunungan. Dibesarkan dalam kultur yang lebih bebas dari sebuah keluarga urban di Kota Padang, ibukota provinsi Sumatera Barat yang ramai dan padat. Mendapat pendidikan umum hingga perguruan tinggi, menonton film dan mendengarkan lagu, serta memenuhi rak-rak perpustakaan keluarga kami dengan buku-buku dari khazanah asing. Dapat dikatakan, saya telah tercerabut cukup jauh dari akar tradisi Minangkabau saya. Jadi, ketika saya memutuskan menikah di usia yang masih cukup mentah dengan perempuan dari sebuah kampung di ‘darat‘ atau dari ‘luhak‘ (representasi dari wilayah yang menjadi jantung bagi tradisi Minangkabau yang beradat), ayah saya was-was juga: “Apa akan bisa waang [kamu] menempatkan diri, orang di sana beradat semua!”
Dengan kekhawatiran serupa itulah saya ‘dilepas’ kawin.
***
Suatu pagi, laki-laki dewasa di kampung itu mengadakan kerja bakti membersihkan kampung. Sejak pukul 08.00, saya sudah nongkrong di kedai kopi dekat gerbang kampung, bersiap-siap untuk ikut serta, berusaha menjadi bagian dari masyarakat yang baik. Tertanya orang-orang pada belum banyak yang datang. “Kepala Kampung masih bergelung tidur mungkin itu,” kata seseorang lelaki paro baya yang duduk menunggu bersama saya di kedai kopi itu. Mereka mengenang Kepala Kampung yang lama, entah siapa, saya enggan pula untuk bertanya. Kepala Kampung yang lama itu, jam setengah 7 sudah datang ke lokasi kerja bakti, jauh sebelum orang lain datang. Kalau dia menyuruh bersihkan bantaran sungai, dia yang lebih dulu turun ke sungai. “Tak ada yang mampu begitu sekarang,” kata seorang yang lain.
“Pemimpin itu ditinggikan seranting, didahulukan selangkah. Jadi, dia yang mesti di depan untuk hal-hal apa pun, bukan dia pula yang ditunggu orang!” kata yang lain lagi.
Ketika kami masih bercakap-cakap, tak berapa lama Pak Kepala Kampung datang. “Mana yang lain?” katanya dari atas motor matic-nya menyapa ke arah kami.
“Di kedai arah ke simpang banyak, pergilah ke sana, basa-basi perlu juga untuk menggerakkan orang-orang,” kata yang paling tua di antara yang hadir.
Pak Kepala Kampung berangkat ke kedai kopi yang dimaksud. Lelaki paruh baya itu tampak bersemangat dengan jabatannya yang baru. Rakyatnya saja yang banyak ulah. “Memang susah menggembala orang kita, Sutan, susah sekali untuk diperintah dan menuruti perintah, harus diseru dan diajak dengan lunak,” katanya kepada saya. Saya hanya mengangguk saja tanda setuju.
Setelah diseru Kepala Kampung dari satu kedai kopi ke kedai kopi yang lain, barulah peserta kerja bakti banyak terkumpul. Pacul-pacul yang diseret menimbulkan bunyi ribut ketika bergesekan dengan keras aspal. Dentang sabit dan parang menyeruak di tengah-tengah kampung yang masih berselimut kabut. Orang-orang secara gelombang bergerak ke arah lembah, mulai membersihkan semak-semak di sepanjang pinggir jalan, menarah tebing dan munggul, dan menebangi betung-betung tinggi dan pohon-pohon besar yang condong menghalangi jalan. Saluran-saluran irigasi yang mengairi persawahan dibersihkan, diperdalam dan diperlebar. Bagian-bagian tertentu dari sungai dibendung dan ditinggikan untuk memperlancar aliran air. Lalu, menjelang siang, api-api unggun sudah menyala di beberapa titik, membakar gunungan sampah yang sudah mengering.
Saya hanya ikut kerja bakti sampai Dzuhur. Lalu tak berapa lama setelah itu, saya pergi ke kota. Eh, di jalan kampung, saya temui, ternyata kerja bakti belum usai. Saya berpapasan dengan orang-orang yang terus memandangi saya. Saya merasa bersalah dan kikuk juga harus berpapasan dengan mereka. Dipandangi orang-orang dengan sudut mata, duga hati saya, dikira saya tidak ikut berpartisipasi dalam kerja bakti. Tapi rupanya kebanyakan orang (setidaknya hampir sebagian) yang hadir sebelum Dzuhur tadi juga sudah tidak datang lagi setelah itu.
***
Istri saya betul-betul orang kampung sejati, menurut saya, dalam cara berpikir dan bersikap. Neneknya, yang membesarkannya, tampak berhasil menanamkan sifat itu padanya sejak kecil. Kaum-kerabatnya mungkin juga telah membentuk paradigmanya serupa sekarang. Nyaris seluruh usianya dihabiskannya di kampung, kecuali 4 tahun menempuh pendidikan di universitas di Padang. Kami bertemu ketika menuntut ilmu di universitas yang sama, saling jatuh cinta, lalu memutuskan kawin. Selama kami hidup satu atap, saya mendapati dia sering dimintakan tolong oleh orang kampungnya. Untuk acara apa pun, dia mau terlibat, bersusah-susah. Ada kerabat yang meninggal di provinsi tetangga, dia ikut bertakziah. Jika ada kerabat (baik jauh maupun dekat) yang menikah, dia merasa tak tega untuk tidak datang menghadiri. “Orang akan sangat senang kalau kita datang,” katanya suatu kali.
Berbeda sekali dengan saya. Dia sering mewanti-wanti jika penyakit malas saya bangkit untuk menghadiri ini dan menghadiri itu. “Si Anu tadi datang mengundang makan,” katanya mengabarkan kalau ada orang datang ketika saya sedang tidak di rumah.
“Kalau tidak datang bagaimana?”
Maka dia akan mencarikan alasan ini-itu agar saya pergi.
“Seganlah dengan orang!”
“Malu kita, waktu si A [kerabat kami] nikah, dia kan datang.”
Macam-macam alasan yang dikemukakannya, yang mau tidak mau memaksa saya pergi juga menghadiri. Kalau penyakit introvert saya makin parah, terpaksa dia mencari-carikan alasan jika ada yang usil bertanya, “Mana laki-mu, kok tidak tampak dari tadi?”
“Belum pulang dari kampus.”
“Banyak pekerjaan mungkin.”
“Sedang sibuk menulis di kamarnya.”
“Dikejar tenggat!”
“Lagi ada temannya berkunjung ke rumah.”
Orang-orang mungkin maklum. Saya pengarang, dari kota, asal pesisiran pula, setengah a-sosial, mungkin tak apa, biar saja. Tapi bisa jadi juga tidak begitu. Dasar, orang luar, tak tahu adat. Tapi untungnya, saya punya tameng kokoh, istri saya, yang begitu peduli, pada apa-apa hajat.
Kadang, jika ada wirid di masjid, dia mengajak saya menghadiri.
“Saya sudah bosan mendengar ceramah, di mana-mana orang ceramah, juga di kampus, jika setiap ada kesempatan, para pimpinan menceramahi saya terus,” kata saya men-candai-nya. Saya mengajar di sebuah universitas di Bukittinggi, berjarak sekitar setengah jam berkendara dengan motor.
Jika di kampung ada yang meninggal, dia juga senantiasa berpesan:
“Pergilah ke kuburan, tidak perlu ikut bekerja [menggali kubur] seperti orang-orang, duduk-duduk saja, sudah cukuplah!”
Begitupun kalau ada panggilan takziah, jika saya enggan ikut karena merasa tidak begitu kenal dengan keluarga yang meninggal, maka panjanglah khotbah istri saya: mengurai ranji panjang menjela-jela. Yang meninggal itu kakek dari ini, hubungannya dengan nenek kita ini, begini dan begini pertalian perkauman antara kita dan mereka …. Habis juga hari saya mendengarkan dia membacakan ranji.
“Kalau tinggal di kampung memang begitu,” katanya mengakhiri, “mau tidak mau harus menghadiri hajat orang, hajat baik maupun hajat buruk!”
“Ya, ya, memang begitu,” kata saya, manyun-manyun tak karuan.
Ya, ya, memang banyak yang harus dipertenggangkan.
***

Mempertenggangkan apa kata orang, sudut mata orang, pencong bibir orang sampai hari ini saya masih juga merasa terganggu dengan semua itu. Semuanya hadir sebagai mereka yang menonton dan memergoki saya, serta senantiasa mengancam kedirian saya. Ke mana-mana saya selalu merasa diawasi. Menara pengawasnya tuh ada di kedai-kedai kopi.
Maklum, dalam sistem matrilineal, rumah bukanlah tempat yang nyaman bagi laki-laki. Rumah semata milik perempuan, sementara laki-laki harus hidup ‘menggelandang’ di gelanggang (di ruang-ruang publik). Bagi orang-orang di kampung, terutama kampung Minangkabau, berdiam lama di rumah masih dianggap tidak elok, akan dipandang jelek. Jadi, keseharian bagi laki-laki, selain di tempat kerja seperti di sawah dan ladang, ya, di kedai kopi.
Mereka ke kedai kopi sehabis Subuh. Bubar sekira jam 8 pagi, ketika matahari sudah mulai kuning, untuk bersiap-siap pergi ke ladang. Ke kedai kopi lagi menjelang Dzuhur, pada jam-jam mengaso siang, sebelum kembali ke ladang. Lalu ke kedai lagi menjelang senja, tidak jarang sampai tengah malam. Selain untuk tidur ketika malam, sangat sedikit waktu dihabiskan di rumah untuk bercengkrama dengan anak dan istri.
Kedai kopi ada di setiap sudut kampung. Ke mana pergi ada kedai kopi. Kedai kopi biasanya dekat dengan gardu, yang berfungsi sebagai pos pemuda, pos ronda, yang kadang juga berfungsi sebagai pangkalan ojek. Jadi, berputar-putar di situ sajalah hidup sehari-hari laki-laki di kampung ini. Jadi, itu menjadi semacam tempat untuk mengawasi gerak-gerik juga. Ada orang mau ke mana dan sedang apa yang terjadi dengannya. Yang lewat, seolah terawasi. Pandangan-pandangan mata itu bagai melucuti seseorang dari keunikan dan kebebasannya. Bagai memergoki dan menginterogasinya.
Jadi, kalau tidak ada dia ke kedai kopi, orang akan bertanya: “Ke mana si Anu, sudah tidak nampak-nampak?”
Yang lain akan menjawab: “Dia sudah ‘minum’ di rumah bininya saja sekarang!”
Dan itu aib, bukan tindakan seorang lelaki ‘jantan’ jika sehari-hari bergaul dengan bininya saja di rumah. Berada di ketiak bini saja saban hari. Lelaki macam apa itu–banci!
Begitulah di awal-awal tinggal di kampung, seorang lelaki dari kerabat istri memberitahu saya. Lalu dia membawa saya turne dari satu kedai kopi ke kedai kopi. Saya diminta membawa beberapa bungkus rokok, menawarkan kepada setiap pengunjung, dan mentraktir minum siapa pun di situ. Sebentuk basa-basi dalam memperkenalkan ‘menantu baru’ mereka ke tengah orang ramai.
Sejak itu, saya jadi rutin juga ke kedai kopi. Menjadi pendengar yang baik atas obrolan orang-orang. Ikut menyela seperlunya saja. Memang ada banyak informasi yang baik yang didapatkan di sana, terutama bagi para peladang. Soal bibit unggul terbaru dan racun hama yang paling efektif untuk penyakit tanaman jenis tertentu, misalnya. Info seputar fluktuasi harga komoditas pertanian sangat up-to-date. Kita juga gampang tahu informasi terbaru tentang keadaan kampung dan segala kabar burung yang mengitari para penghuninya.
Tetapi, bagi saya yang bukan peladang serius, dan tidak begitu berniat kepo urusan orang lain, jadi bosan juga dengan obrolan yang itu ke itu saja. Jadi belakangan saya lebih sering menghabiskan hari di rumah, membaca, menulis, menonton tv atau bermain dengan anak-anak, dan di akhir pekan larut dalam kesunyian ladang. Hanya untuk menjawab tanya orang kampung saja kadang saya masih menyempatkan diri ke kedai kopi.
Sementara perempuan juga punya tempat berkumpul. Di sawah atau ladang ketika tengah bekerja bersama-sama. Di pondok atau dangaunya ketika santap siang. Ketika sore, di warung-warung sayur yang menyediakan bahan dapur sederhana. Ketika malam, sesi tidur-tiduran di masjid selepas Magrib menunggu waktu Isya datang.
Kejadian-kejadian penting dan aneh yang terjadi di kampung dibicarakan di situ. Kenapa anak gadis si Anu sudah sedewasa itu belum kawin juga? Kenapa anak bujang si Anu belum tamat kuliah sementara kawan-kawan seangkatannya banyak yang sudah bekerja dan berumah tangga? Gosip, desas-desus, kabar angin, mendapat tempat yang luas untuk dibicarakan, termasuk juga tabiat orang-orang tertentu yang mereka anggap ‘ganjil’ atau berperilaku ‘sumbang’, ya semisal tabiat dari mereka yang tidak begitu suka bermasyarakat, atau jarang terlihat menghadiri hajat-hajat. Mereka akan ditandai, mungkin dicela diam-diam, dan untuk kemudian jika ada berkepentingan hajat, orang-orang akan menghukumnya dengan tidak mau berpartisipasi dalam hajatnya. Kematiannya sepi. Pestanya sunyi. Helatnya tak dihadiri.
Tekanan sosial di kampung lumayan keras. Mungkin itu sebabnya orang-orang berduyun-duyun merantau. Mencari peruntungan ekonomi yang lebih baik. Menukar rutinitas yang monoton dan membosankan di kampung. Tetapi selain itu juga ingin melepaskan diri dari tekanan masyarakat dan kungkungan adat. Jika terus di kampung, Anda tidak bisa ngapa-ngapain, semua di gelanggang mata orang banyak, senantiasa dijaga dan diawasi. Untuk menjadi manusia yang lebih bebas, dengan petualangan hidup yang lebih bergairah, orang-orang lantas pergi meninggalkan kampung.
***
Di hari Sabtu dan Minggu, ketika saya tidak ke kampus, biasanya saya ke ladang. Tidak berapa jauh dari rumah. Saya menanam apa saja di situ, cabai dan terong, jagung dan jahe, sesekali selada. Di sebelah ladang saya, ada ladang bawang milik seseorang. Tingga besar dan tegap, saya pikir dia akan kuat dan betah bekerja di ladang. Sebelum memutuskan tinggal di kampung, dia merantau di Jakarta, berdagang pakaian. Namun, karena dihantam covid, Tanah Abang ‘digembok’, terpaksalah dia pulang kampung. Memilih berladang. Sebab, mau apa lagi coba? Tapi belakangan ini sedang musim hujan. Sehingga ladangnya tidak begitu menghasilkan panen yang bagus.
Suatu kali saya bertemu dia di kedai kopi.
“Banyak panen bawang?” kata saya mencoba membuka pembicaraan.
“Sedikit. Hari hujan saja. Harga juga murah!”
“Berapa sekarang?”
“15.000 sekilo.”
“Sudah lumayan?”
“Tidak sebanding dengan jerih-payah!”
Dia memutuskan mau balik ke Jawa, “Balik lagi ke rantau-lah!”
“Kenapa?” tanya saya.
“Di sini tak ada uangnya!” katanya tertawa.
Dia menyeruput kopi, menghembuskan rokok ke langit-langit kedai, sembari tersenyum sumbing. “Tak apalah, lebih bebas, bisa ngapa-ngapain, lebih banyak pilihan juga kan kalau di sana?”
Tak banyak pilihan memang di kampung ini. Selain berladang, palingan jadi tukang ojek. Ada juga satu-dua mengukir di bengkel ukiran. Selebihnya tak ada lagi. Sedang lingkungan sosial terasa sekali menekan dengan berbagai tuntutan. Jadi, pada akhirnya, merantau jugalah.
Akhir-akhir ini saya memang tidak bertemu dia lagi. Di ladang, di kedai kopi, di masjid, dia tidak tampak. Ladangnya terlihat dikerjakan kakak laki-lakinya. “Sudah balik ke Jawa, tidak betah di sini,” katanya ketika saya tanya tentang adiknya.
“Bawalah bawang ini pulang!” dia menyerahkan seikat besar bawang merah yang masih melekat di daunnya. Dia juga memberi saya dua kol bulat besar Saya sumringah.
“Mau alpukat juga, kebetulan sedang berbuah, panjat saja!”
Saya pandangi pohon alpukat di tubir tebing di pinggir ladangnya, memang lagi lebat-lebatnya.
Saya cepat-cepat mengiyakan.
Untungnya tinggal di kampung, ya itu, ada-ada saja yang memberi ini dan itu. Orang-orang juga ringan tangan menolong kalau ada suatu kesusahan. Kadang terasa enak juga hidup bermasyarakat, beramai-ramai dalam pergaulan orang banyak. Dibutuhkan dan membutuhkan. Hidup terasa ada arti.
Sekalipun hukuman sosial minta ampun juga kejamnya atas yang ‘salah’ dan ‘ganjil’.
***
Baru-baru ini ada kerabat jauh istri saya mau melangsungkan pesta pernikahan. Tapi, tiga hari menjelang hari H, belum ada persiapan yang berarti. Di rumah gadang-nya, baru hanya ada si calon pengantin dan ibunya yang terlihat, dan satu-dua orang kerabat dekat. Kerabat-kerabat lain kabarnya tak ada yang mau datang menolong.
Malam itu si ibu tergopoh-gopoh datang ke rumah kami, dengan mata sembab hampir menangis, mencari-cari istri saya.
“Tak ada yang mau diajak untuk mengundang orang!” katanya. “Kamu sajalah ya, mintak tolong kami, kamu kan sudah biasa juga ‘memanggil’ orang,” berharap sangat istri saya mau menolongnya.
Istri saya, agak berat hati, menyanggupi. Harusnya bukan dia yang dimintai tolong, sebab kerabat-kerabat mereka yang lebih dekat masih banyak yang semestinya melakukan itu.
Tapi ibu itu beralasan, sebelum memutuskan ke rumah kami, dia sudah mendatangi seorang kerabatnya yang pantas, tapi, jawaban yang didapatkan terasa menyakitkan: “Saya tidak bisa, saya harus ke sawah mengambil upah, kalau tidak [bekerja ke sawah] kami bisa tidak makan!”
Padahal, tidak segitunya juga kali. Dia bisa saja meluangkan agak sehari-dua hari untuk membantu helat kerabatnya, toh tidak akan membuatnya sampai tidak bisa makan segala.
“Itu hanya alasan saja,” kata istri saya.
Kata istri saya lagi, si ibu yang punya helat itu suka bertengkar dengan orang lain, suka mencari perkara dengan siapa pun bahkan karena urusan-urusan sepele saja. Baru-baru ini, misalnya, dia bertengkar dengan tetangganya hanya karena cabang pohon jambu milik sang tetangga sampai menjalar ke halaman rumahnya. Sebelumnya, entah karena apa, dia juga pernah bertengkar dengan menantunya, yang memaksa menantunya turun dari rumah dan memilih tinggal di sebuah pondok di tengah persawahan. Tetapi, yang paling membuat orang-orang menjauhinya ialah karena dia kurang begitu terlibat dalam pergaulan bermasyarakat. “Dia jarang memenuhi panggilan orang, tidak suka ‘datang’ ke helat orang. Jadi, yang dialaminya sekarang, itu semacam hukuman sosial yang ditimpakan masyarakat terhadapnya.”
Tapi kasihan juga, kata saya. Padahal hari pernikahan dan pestanya makin dekat. Belum ada yang rampung persiapannya satu pun. Masakan belum dimasak. Rumah belum dihias. Undangan belum dipanggil. Masih banyak hal remeh-temeh lain yang semestinya sudah rampung. “Jangankan memasak, ke pasar saja belum!” kata istri saya agak terkekeh.
“Kenapa bisa begitu?” kata saya heran.
“Iya, itulah, dia juga yang salah. Kalau sudah begini, mau apa coba. Waktu sudah kasip. Banyak sekali yang harus dibeli. Belum lagi, daging yang baik untuk rendang juga susah mencarinya di pasar sekarang kalau tidak jauh-jauh hari dipesankan ke tukang daging,” kata istri saya menjelaskan.
Ibu itu telah menyerahkan secabik kertas berisi daftar nama-nama yang akan diundang ke tangan istri saya. Istri saya meminta saya mengantarnya dengan motor, mendatangi satu demi satu.
“Walah, kebagian saya yang repot, belum lagi banyak gini yang harus diundang,” kata saya.
“Ini baru undangan untuk membantu memasak dan mempersiapkan helat, belum lagi nanti undangan pesta, seluruh orang kampung yang diundang tahu!”
Pesta pernikahan secara adat tidak ada pakai kartu undangan. Orang diundang dengan cara didatangi satu-satu dari rumah ke rumah. Tidak ada katering juga, atau event-organizer untuk mengelola acara pesta, semua berlangsung hanya atas ‘kemurahan hati’ para kerabat untuk terlibat membantu, sejak dari awal sampai akhir.
Namun, rumitnya, para kerabat tidak mau berpartisipasi. Pemilik pesta was-was bukan main, mondar-mandir tak menentu, tampak kebingungan, dan sesekali menangis.
“Bisa saja dia jatuh pingsan sebelum pesta dilangsungkan,” kata istri saya.
Tapi pesta akhirnya berlangsung juga. Para kerabat mau melunakkan hati dan berbondong-bondong datang membantu. Tamu dan undangan hadir juga sekalipun mungkin diam-diam menggerutu. Tidak ada cacat yang berarti, selesai dengan sukses.
“Kejadian ini bisa jadi pelajaran bagi kita,” kata istri saya sambil menyalin sekantong besar rendang yang diperolehnya sebagai ‘upah’ karena telah membantu. (*)




