
Ketika merasa tidak percaya diri saat belajar menulis puisi, pertemuan dengan Iyut Fitra, yang akrab dipanggil Kuyut, bisa mengubah keadaan. Demikianlah pengalaman saya ketika kelas 3 SMP, persis 20 tahun lalu, dan ternyata bertahun-bertahun kemudian saya sadari bahwa saya tidak sendiri. Banyak orang mengalami hal yang sama setelah beberapa lama berbincang-bincang dan berinteraksi dengannya.
Dalam lingkungan budaya di Payakumbuh, Kuyut agaknya dengan sadar mengambil peran itu, lebih banyak mengajarkan semangat menulis melalui relasi antar pribadi, tindakan sosial, dan keterlibatan dalam kegiatan budaya. Sementara Gus tf mengambil peran lain yang sama pentingnya, melalui pendalaman tekstual, ketekunan dalam kepengrajinan, dan keyakinan pada fungsi ilmu.

Payakumbuh punya budaya belajar yang menyenangkan. Bila ada seseorang yang dianggap ahli di suatu bidang, kita tinggal datang ke rumahnya, mengetuk pintu, dan menyampaikan bahwa kita ingin belajar, sekalipun si tuan rumah tidak mengenal kita. Budaya belajar dari rumah ke rumah tersebut sebenarnya bukan kebiasaan khas yang baru terjadi di lingkungan seni modern.
Dalam tradisi surau Minangkabau, itu sudah lebih dahulu jadi “gaya hidup”, yang secara filosofis disebut “murid mencari guru”. Seseorang pergi ke suatu surau untuk mempelajari kaji tertentu selama beberapa waktu dan ketika sudah dianggap selesai ia akan pergi ke surau lain untuk mendapatkan kaji lainnya.
Alih-alih menjadikan murid sebagai pengikut setia, seorang guru di surau (biasanya disebut Syech) malah mendorong, atau setidaknya tidak membatasi muridnya, untuk menambah kaji ke surau-surau lainnya. Yang sampai saat ini tidak saya ketahui jawabannya, mengapa budaya khas surau itu bisa meluas ke luar arena surau, turut mengental di lingkungan seni modern. Semenjak saya remaja, hal demikian sudah terjadi sebagai sesuatu yang lumrah belaka.
Sewaktu kelas 1 SMP, saya menonton sebuah band rock membawakan lagu Pull Me Under dan Under a Glass Moon dari Dream Theater. Penampilan mereka membuat saya ingin menjadi gitaris dan beberapa minggu kemudian bersama seorang kawan saya berhasil menemukan rumah gitarisnya.
Kami menyampaikan keinginan belajar gitar dan ia mempersilakan masuk ke studio musiknya, lalu meminta kami memainkan sebuah lagu. Setelah melihat kami tersendat-sendat memainkan Smells Like Teen Spirit dari Nirvana, ia menyuruh kami duduk dan memberikan pelajaran pertama. Sebuah latihan kromatik (chromatic exercise) untuk meningkatkan kelenturan, kekuatan, dan koordinasi jari tangan kiri.

Setelah latihan pertama itu, kami disuruh datang lagi minggu depan dan seterusnya untuk melihat perkembangan kemampuan kami dari satu materi ke materi berikutnya. Kalau ada teknik gitar tertentu yang ingin kita kuasai sementara si guru tidak menguasainya, biasanya ia akan menyarankan belajar ke gitaris lain. Waktu itu tidak ada skema semacam les privat berbayar sebagaimana lumrahnya les bahasa asing dan les komputer. Semua proses belajar-mengajar terjadi begitu saja, tanpa terbayang ada peluang bisnis, dan semuanya hanya berdasarkan kesungguhan si murid. Guru tidak pernah memaksa agar kita rajin latihan dan semacamnya. Siapa yang rajin datang maka akan dapat banyak pelajaran.
Dalam situasi yang sama, dua tahun kemudian, ketika saya ingin belajar menulis puisi, tetangga saya Feni Efendi, mengantarkan saya ke rumah gadang Kuyut. Sembari Feni menunggu di belakang rumah, saya naik ke tangga rumahnya dan mengetuk pintu. Setelah terdengar suara tuan rumah mempersilakan masuk, saya membuka pintu dan saat itu saya melihat Kuyut dan Gus tf sedang menonton bola di televisi.
Dengan gugup saya masuk ke rumah gadang tersebut dan langsung menyampaikan maksud saya sambil menunjukkan beberapa lembar kertas HVS yang berisi sejumlah puisi saya. Kuyut mengambil kertas di tangan saya dan membacanya sekilas. Saya masih ingat waktu itu Gus tf langsung bercanda, barangkali karena melihat saya sangat gugup. “Wah sekarang bukan jadwal bahas puisi tapi nonton bola,” katanya, yang dalam dialek bahasa Minangkabau-Payakumbuh terkandung nuansa humor dan itu cukup membantu saya lebih santai. “Minggu depan kita diskusi ya,” timpal Kuyut.

Semenjak itu saya semakin rutin menemui Kuyut dan Gus tf. Baru kemudian saya ketahui bahwa rumah gadang tersebut merupakan markas komunitas Intro, sebuah kelompok akar rumput yang didirikan Kuyut bersama teman-teman pada tahun 1990. Semakin sering ke Intro saya menemukan pola belajar yang berbeda.
Bersama Gus tf saya punya jadwal bertemu khusus sekali seminggu baik untuk membahas karya atau membahas buku yang saya pinjam. Sementara bersama Kuyut, dalam seminggu bisa setiap hari bertemu, bisa juga hanya sekali dalam sebulan, dan umumnya lebih banyak dalam bentuk diskusi lesehan, belajar mengajukan pendapat, bersama remaja lainnya yang datang ke Intro.
Di masa-masa itu Kuyut sudah sering mempublikasikan puisinya di sejumlah media bereputasi dan baru saja mempublikasikan buku pertamanya. Ia juga dipercaya mengelola sebuah Sanggar Sastra Siswa Indonesia yang didukung majalah sastra Horison di SMA 2 Payakumbuh. Beberapa tahun sebelumnya, kelompok musik Intro sudah mempunyai album musik-puisi Musim Kematian Bunga yang sering tampil dan dikenal di lingkungan seni-budaya di Sumatra Barat, juga diputar di radio-radio kota.
Kelompok teater Intro yang dikelola sutradara/penulis naskah Della Nasution juga telah mendapatkan kepercayaan yang baik untuk menampilkan sejumlah pertunjukan teater di berbagai kota di Indonesia. Tanggung jawab sosial mereka juga tetap berjalan. Mereka tetap menerima dan melatih secara cuma-cuma orang-orang yang dating, termasuk siswa sekolah (dari SD hingga SMA) di kota Payakumbuh, yang ingin ikut berkesenian, atau sekadar membaca buku-buku yang disediakan.

Saya tidak pernah membayangkan bahwa selama belajar di Intro Kuyut dan Gus tf lebih terasa serupa teman daripada guru, padahal usianya tidak jauh berbeda dari orang tua saya. Saya yang sedemikian peragu, ditambah lagi saat itu saya masih terkena gangguan bicara gagap (stuttering), pelan-pelan mulai percaya diri untuk memperlihatkan karya sendiri dan berbicara dengan orang lain. Mereka memang sama-sama keberatan disebut sebagai guru dan tidak ingin urusan saya dengan mereka disebut hubungan guru-murid.
Tapi Kuyut membawa sikap seperti itu lebih jauh hingga ke sisi lainnya. Setiap kali saya dibawa ke acara diskusi ke berbagai kota di Sumatra Barat, meskipun rekan-rekan Kuyut mengenali saya sebagai muridnya, atau kadang disebut juga sebagai “anak-anak Intro”, Kuyut tetap mengenalkan saya kepada mereka sebagai kawannya. Caranya memosisikan anak-anak yang datang ke rumahnya sebagai kawan itu ternyata demi sedikit mengikis rasa cemas yang terlanjur berlebihan.
Namun begitu, karena bersikap demikian, tak jarang pula Kuyut terasa terlalu berani membiarkan anak-anak seperti saya “menyebur ke sungai tanpa diajarkan berenang”. Ketika Intro didatangi kawan-kawan sesama seniman misalnya, yang segenerasi atau di atas generasi Kuyut, saya berharap hanya jadi pendengar saja ketika mereka berbincang.
Yang Kuyut lakukan malah mengajak saya ikut berbincang dengan mereka seakan-akan kami semua sudah lama kenal dan satu generasi belaka. Di masa-masa awal itu, Kuyut dan juga Gus tf beberapa kali mengingatkan agar sedikit saya lebih percaya diri bahkan berani berbicara meskipun hal-hal sepele saja dengan kawan-kawan seniman atau sastrawan yang kami temui.
Kuyut tidak mengajarkan bagaimana cara memulai pembicaraan dan hanya meminta saya untuk mencari cara sendiri tanpa perlu diajar-ajarkan. “Kalau di acara beramai-ramai seperti ini jangan mengekor-ngekor seperti bebek pula,” begitu katanya kepada saya.

Suatu kali sekitaran tahun 2006 rombongan mahasiswa dan dosen jurusan Sastra Indonesia datang ke Intro. Setelah mengetahui nama beberapa mahasiswa, saya mendekati mereka dan menunjukkan bahwa saya punya kliping karya-karya mereka. Cara ini ternyata mangkus juga. Saya tidak ingat apa yang disampaikan Pinto Anugrah saat saya tunjukkan kliping karyanya, tapi bermula dari satu-dua komentar lalu ngalor-ngidul ke mana-mana.
Dalam banyak kesempatan berikutnya, saya menggunakan cara yang sama untuk memulai percakapan dengan penulis-penulis yang datang ke Intro, termasuk ketika rombongan sastrawan dari Yogyakarta datang ke Payakumbuh tahun 2008 untuk mengikuti Temu Penyair 4 Kota.
Payakumbuh pada masa itu memang dapat disebut sebagai kota yang memiliki daya tarik kuat sebagai tempat berkumpul. Upaya Kuyut dan kawan-kawannya sejak tahun 1990-an dalam membangun hubungan baik dengan berbagai kelompok membuat siapa pun yang datang merasa diterima di kota ini.
Situasi ini diperkuat oleh kenyataan bahwa Payakumbuh telah menjadi salah satu pusat pendidikan penting di Sumatra Barat. Keberadaan kampus pertanian, sejumlah SMA dan SMK unggulan, serta lembaga pendidikan tradisional seperti puluhan surau tarekat, membuat kota ini sudah terbiasa dengan kedatangan orang-orang dari luar kota.
Selain faktor sosial tersebut, kondisi geografis dan lingkungan juga mendukung. Udara yang sejuk dan posisi strategis Payakumbuh—di antara Pekanbaru di Provinsi Riau dan tetangga terdekatnya, Bukittinggi—menjadikannya selalu tampak ramai. Aktivitas ini turut didukung oleh potensi wisata alam yang, meskipun tidak banyak, tetap diminati.
Dari sisi ekonomi, harga-harga jauh lebih murah. Payakumbuh bersitumpu pada usaha kecil dan menengah sebagai penggerak utama. Dukungan dari produsen bahan pangan langsung dari daerah sekitar memperkuat aktivitas ekonomi ini. Tidak mengherankan jika pusat kotanya terasa hidup hampir tanpa henti, dengan pasar kuliner yang beroperasi nyaris 24 jam.

Namun begitu, dengan sejumlah faktor tersebut, kehadiran komunitas Intro yang digerakkan Kuyut dan para pegiat seni lainnya bukanlah sebagai bagian integral dari ekosistem ekonomi yang mulai tumbuh pelan-pelan. Malahan sebaliknya, komunitas Kuyut dan kawan-kawan tidak terbawa dalam pertumbuhan ekonomi kota kecil itu, melainkan menyisip sebagai gerakan pinggiran yang masih bergantung pada siasat-siasat tak terduga. Dengan segala kelenturan dan improvisasi, mereka dapat bersitahan tanpa harus jadi pihak yang kalah telak dalam gerak-laju ekonomi yang tidak mengakomodasi semua pihak.
Komunitas Intro dalam hal ini menghadapi persoalan yang kurang-lebih sama dengan kota-kota kecil lainnya di Indonesia. Hanya saja, situasi-situasi tertentu yang membuat para pegiat seni-budaya di Payakumbuh tetap bisa berjuang lebih lama untuk kotanya adalah akumulasi modal sosial dan kemudian modal kultural yang pelan-pelan mereka dapatkan dari keberterimaan karya-karya mereka di media yang terpandang di zamannya.
Keteguhan Kuyut mengikuti jalan pendahulunya, misalnya seperti Gus tf, dalam menampilkan karya di media di Padang dan Jakarta dengan besaran honorarium yang relatif cukup baik saat itu, dan sejumlah kecil pekerjaan turunan dari profesi sebagai sastrawan, untuk sementara waktu sudah dapat menjadi penopang yang cukup membantu dalam menggerakkan kesenian secara pelan-pelan di kotanya.
Dalam hal menumbuhkan rasa kepemilikan warga atas kota, saya mengenal Kuyut sebagai sosok yang tidak pernah melangkah surut. Ia punya motivasi yang tak terbendung untuk menciptakan kaitan kuat antara menikmati puisi dan merayakan kota, meski hanya lewat kejadian kecil belaka. Dengan sikap serupa itu, tidak heran jika soal pendatang dan pribumi tidak pernah jadi perkara di Payakumbuh, bahkan tidak akan mudah mengira mana yang lahir-besar di Payakumbuh dan mana yang mulanya hanya merantau ke kota itu.

Saat kelas 1 SMA, saya ingin masuk Sanggar Sastra di SMA 2 tapi awalnya tidak bisa karena saya berasal dari SMA 1—dua sekolah yang sejak dulu saling bersaing. Kuyut mengatakan kepada guru di sana bahwa betapa tidak pentingnya perbedaan sekolah, dengan alasan yang diajukannya, “karena kita di Payakumbuh.” Akhirnya saya diterima di sanggar itu bahkan Kuyut mengusulkan saya menjadi pengurusnya.
Kurang dari satu dekade kemudian, tatkala Kuyut mengadakan agenda di Payakumbuh dan mengundang semua kelompok, tak terelakkan sejumlah orang yang dianggap “sedang berlawanan” turut hadir. “Perselisihan di luar jangan bawa ke Payakumbuh. Kita di Payakumbuh. Kota ini untuk bertukar pikiran,” ujar Kuyut.
Di lain kejadian, saya pernah terlibat perdebatan keras dengan sesama warga Payakumbuh, seorang pengurus lembaga agama, di media sosial. Kuyut mempertemukan saya di sebuah warung kopi dan mempersilahkan kami berdebat secara sehat, ditonton oleh cukup banyak orang, dan Kuyut menjadi moderatornya.
Namun, selain dari kejadian-kejadian kecil seperti itu yang sangat banyak contohnya, paling tidak ada tiga peristiwa yang bagi saya paling penting terkait upaya gigih Kuyut menciptakan irisan penting antara puisi, kota, dan warga. Tentu saja, karena terlalu banyak yang dilakukan Kuyut untuk kotanya, bagi orang lain yang punya interaksi berbeda dengan Kuyut, ada peristiwa lain yang lebih dianggap penting.
Setelah pembentukan komunitas Intro pada tahun 1990, sekitar tahun 2001 di Payakumbuh terjadi pertikaian sengit antara Walikota dan Ketua DPRD terkait pembangunan tangga yang cukup lebar dan tinggi, yang menghubungkan pinggiran jalan dan pusat pertokoan lantai dua di pusat kota. Salah satu kejenuhan masyarakat waktu itu, para pejabat tersebut sudah bertikai sejak sebelumnya, dengan berbagai serangan yang sangat acak, sehingga perkara tangga tersebut hanya medan baru untuk serang-menyerang.
Di tengah kesengitan itu, Kuyut bersama komunitas Intro melakukan pertunjukan puisi eksperimental dengan penuh daya di tangga batu tersebut. Cukup memecah kemadegan, seperti bunyi periuk dilemparkan ketika dua ekor kucing sedang bertengkar. Sebuah upaya yang tidak perlu gigantik untuk mengubah makna ruang dari dalih konflik politik menjadi arena ekspresi warga.
Kurang dari satu dekade kemudian, ketika rasa penasaran masyarakat mulai tumbuh perihal apa lagi yang akan dilakukan komunitas Intro di kota itu, Iyut membuat agenda Puisi November sekali setahun, sebuah acara lomba pembacaan puisi bebas yang terbuka bagi siapa saja, dengan hadiah 3-5 kardus buku pilihan.
Yang menarik perhatian, jurinya terdiri dari satu seniman dan dua juri lagi datang dari kalangan masyarakat umum, seperti tukang ojek, tukang sabit rumput, petani, dan semacamnya. Penilaian lomba itu dilakukan dengan cara mencantumkan poin langsung setelah seseorang selesai membacakan puisi. Agenda ini disenangi masyarakat bukan hanya karena berbagai cara orang membacakan puisi, tetapi karena juga karena “aksi” para juri.
Meski dalam beberapa kasus setiap juri menunjukkan nilai yang tidak jauh berselisih, tapi tak jarang ketika juri dari kalangan seniman memberikan “nilai tinggi”, juri-juri dari kalangan pekerja dengan santai memberi nilai sangat rendah, begitu juga sebaliknya. Sayangnya, setelah vakum beberapa tahun, Kuyut tidak jadi menyelenggarakan kembali Puisi November dengan tambahan hadiah mulai dari ayam bangkok hingga kambing betina.
Penyelenggaraan Payakumbuh Poetry Festival tahun 2020, yang mulanya secara daring, merupakan warisan terakhir inisiatif Kuyut dalam mencoba membangun keterkaitan antara kota, puisi, dan warga. Sejak dua dekade lalu Kuyut dan kawan-kawan sudah menyelenggarakan sejumlah festival tapi baru festival yang terakhir ini bisa disebut cukup bertahan lebih dari lima tahun.
Dalam menyelenggarakan festival demi festival, meski patah tumbuh hilang berganti, Kuyut selalu memberi fokus pada pendidikan sastra dengan menyertakan siswa sekolah dan guru-guru sebagai publik terlibat. Beberapa kali Kuyut menyampaikan kepada saya bahwa festival sastra yang bisa ia bangun barulah sebagai tempat mempertemukan kerja-kerja sanggar menulis yang sudah dilakoninya sejak awal abad ini dengan jejaring sastra nasional yang menjadi medan karirnya.
Keinginan Kuyut untuk membangun festival sastra yang besar dan bertahan lama memang belum tercapai. Sambil tertawa-tawa minum kopi pagi di beranda rumahnya, saya beberapa kali pernah mengingatkan kepadanya bahwa hal itu tidak akan tercapai (setidaknya dalam waktu dekat) karena memang Kuyut tidak punya ambisi-obsesi yang katakanlah kuat untuk mencapainya. Ia seringkali lebih mengedepankan dan sudah merasa cukup dengan kekhidmatan perayaan meski hanya sekadar dalam bentuk baca puisi di warung kopi. Itu sebabnya, bagi Kuyut, acara kecil dengan bermodalkan donasi suka-suka sama berharganya dengan festival sastra yang dapat bantuan dana.

Meski kadang-kadang ia kembali menyatakan keinginannya agar Payakumbuh punya festival yang membuat orang-orang se-Indonesia datang ke kotanya, pada akhirnya jika peluang seperti itu tidak ada ia kembali merasa cukup dengan acara kecil-kecilan belaka tanpa perlu menyesali apa yang belum bisa dijalankannya. “Berapa beras yang ada, sebanyak itu kita masak,” ungkapnya menggunakan perumpamaan Minangkabau.
Tidak heran jika dilihat dari penyelenggaraan festival sastra, Payakumbuh tampak seperti kota yang lama tertidur dan sesekali bangun. Akan tetapi kalau dilihat dari berbagai bentuk acara dengan beragam skala yang diselenggarakan setiap tahun, Payakumbuh selalu terjaga seperti tak tidur-tidur.
Pernyataan penyair Fariq Alfaruqi bahwa “bagi Iyut Fitra puisi adalah silaturahmi, puisi sebagai salam” sungguh tepat menggambarkan bagaimana dalam pengalaman saya tersebut Kuyut tidak hanya menulis puisi sebagai sebuah karya pribadi, tetapi juga menggunakannya untuk membangun berbagai bentuk komunikasi. Apa yang disebut sebagai “silaturahmi” itu bahkan tidak hanya dalam pengertian luas, tetapi juga terjadi dalam makna lebih khusus.
Sebelum era media sosial, saya sering melihat Kuyut mengirim sajak-sajak pendek ke berbagai orang di berbagai daerah tanpa membicarakan apapun kecuali balas-membalas pesan dalam bentuk puisi yang sambung-menyambung. Sebuah kebahagiaan sederhana. Tak ada percakapan apa-apa, apalagi komentar, selain sajak yang terus memanjang hingga selesai begitu saja ketika salah satu tidak membalas lagi. Sering saya temukan, terutama bagi orang-orang yang baru memulai belajar menulis, berbalas-balas potongan sajak seperti itu menjadi semacam latihan menulis dan nyatanya memang sejumlah penulis merasa cocok dengan cara belajar seperti itu.
Dalam contoh lain, terkait sikap personalnya terhadap pembangunan kota misalnya, saya tak sekali dua kali melihat Kuyut mengirim puisi via pesan ponsel ke sejumlah otoritas dan cara itu ternyata cukup mengena, meski puisi itu bukan cuplikan pandangan yang harfiah. Para otoritas tersebut mengajaknya bertemu untuk membicarakan apa pandangan yang ingin disampaikan Kuyut, meski ujung-ujungnya dalam beberapa contoh kita tahu bahwa pemerintah hanya tampak mendengar.
Di kesempatan yang berbeda, sejumlah pedagang, tukang parkir, tukang ojek, montir motor, dan wartawan paruh waktu yang pernah saya jumpai menceritakan perkenalannya dengan Kuyut melalui puisi, begitu juga bagi orang yang hanya pernah berinteraksi sekali-duakali dengannya. Tidak semua karena membaca bukunya langsung: ada yang mengaku mengenal karena waktu SD pernah membacakan puisinya untuk lomba, ada yang mengenalnya karena mengantarkan keponakan membaca buku di Intro, ada yang mengenalnya karena Kuyut pernah menyablon baju bertuliskan potongan puisi dan lain sebagainya.
Kecintaan Kuyut pada puisi memang bukanlah sesuatu yang dibesar-besarkan atau dipaksa-paksakan agar tampak. Kesehariannya sebagai warga masyarakat pun sudah melekat dengan jalan hidup yang diambilnya sebagai penulis puisi. Meskipun menjadi penyair di Indonesia cenderung tidak begitu dianggap, Kuyut justru secara organik memampangkan bahwa di tengah masyarakat seorang penyair juga bisa mengambil banyak peran tanpa meninggalkan puisinya.
Beberapa tahun terakhir, ketika menutup percakapan, ia sering mengucapkan salam yang dibuatnya sendiri, yakni salam puisi tak henti-henti!. Bagi saya, ucapan salamnya ini adalah ekstraksi dari sikap hidupnya yang memulai semuanya dengan puisi, memperjuangkannya dengan puisi, dan menjadikan relasi antar penyuka puisi sebagai relasi persaudaraan.
Pada sore hari 27 April 2026 lalu, Kuyut berpulang. Ia telah menulis sepuluh buku puisi dari Musim Retak (2006), Dongeng-Dongeng Tua (2009), Beri Aku Malam (2012), Baromban (2016), Lelaki dan Tangkai Sapu (2017), Mencari Jalan Mendaki (2018), Sinama (2020), Kepadamu Kami Bicara (2022), Dengung Tanah Goyah (2024), hingga Maek (2025). Guru Besar Kajian Sastra dan Budaya dari FIB UI, Prof. Melani Budianta suatu kali pernah menulis bahwa “aroma Payakumbuh mengentalkan sajak-sajak Iyut dengan nuansa lokal dalam tema-tema universal.”
Apa yang disebut sebagai aroma Payakumbuh itu, menurut saya, mengalami perubahan penting, setidaknya di sepuluh tahun pertama dan sepuluh tahun kedua publikasi buku-bukunya. Pada periode pertama kita akan mudah menemukan sosok pejalan keras kepala dan penuh haru dalam menghadapi dunia. Karya-karya periode ini banyak ditulis dengan gaya bahasa yang cenderung suram sekaligus meluap-luap.
Pejalan itu tak hanya mencintai kotanya sendiri tetapi juga kota-kota lain yang dimasukinya, atau lebih tepatnya mempertemukan kotanya dan kota-kota lainnya dalam nuansa—meminjam salah satu larik dalam Musim Retak— “terkubur puing-puing namun pada badai masih setia.”
Sementara itu pada periode kedua, Kuyut tampak memberikan fokus yang besar pada dinamika manusia dan ruang, yang sebagian besar memproyeksikan persoalan kotanya sendiri. Dengan tema yang beragam, Kuyut tampak menebalkan irisan antara laki-laki dan perubahan sosial, budaya sungai dan mitologi, benda-benda dan politik, hingga situs megalitik dan kehidupan sehari-hari. Ia merancang buku-bukunya secara tematik dengan gaya bahasa yang lebih variatif namun tetap menampakkan sensibilitas seorang pejalan.
Seperti bait puisi Kepadamu Kami Bicara, “kami adalah truk sampah setiap pagi, sapi yang dihela bajak, domba-domba kurus, stasiun penuh lalat, tanah bersengketa, rumah rumah digusur, halaman kantor parlemen, pos ronda yang ditinggalkan,” pejalan itu kini menurunkan keriuhan dari dalam dirinya sembari meninggikan volume dari tempat-tempat yang dimasukinya. Suara-suara protes dalam puisinya, yang cenderung tidak lantang, bukan sebatas suara manusia dalam ruang tetapi seperti suara ruang yang dimasuki manusia.

Sehari setelah wafat, Kuyut dimakamkan esok paginya, di tanggal yang sama dengan peringatan Hari Puisi Nasional. Teman saya di Payakumbuh menyampaikan kabar mengharukan: orang yang datang ingin menyolatkan jezanah almarhum begitu ramai sehingga sholat jenazah mesti dilakukan di halaman rumah gadang yang lebih lapang.
Prosesi pemakaman berjalan lancar di bawah langit yang cerah, dan setelah pemakaman selesai barulah turun hujan. “Kuyut tidak tergantikan,” kata saya kepada Gus tf melalui ponsel setelah memastikan perasaan saya sudah cukup tenang. Jawaban beliau cukup menguatkan saya. “Iyut memang tak tergantikan. Tapi…, apa pun tetap tumbuh sesuai zamannya.” []




