Merangkum Nada, Kata, Rasa, dan Wajah di Galeri Antik Medan

Pengunjung membeli buku di Galeri Antik Medan. (Foto: Radja Sinaga)

Di ibu kota Sumatera Utara, orang-orang mengenali tempat berukuran 3,4 x 8 meter itu sebagai Galeri Antik Medan, menampung pelbagai hal dalam suatu tempat. Lokasinya di bilangan HM. Joni No. 8, Kota Medan, Sumatera Utara.

Jhon Fawer saat dijumpai tengah duduk di depan Galeri Antik Medan, di meja sebelah kanan dengan setumpuk kaset. Tampak ada album dari FireHouse hingga Daughtry, band asal Amerika Serikat.

Namun kehadiran Galeri Antik Medan tidak tercipta begitu saja. Jhon menuturkan bahwa adanya tempat tersebut tak jauh dari pengaruh Literacy Coffee. Literacy Coffee sebagaimana para aktivis, seniman, dan mahasiswa bukan sesuatu yang asing. Pasalnya jelas, Literacy Coffee sebagai “rumah” ruang koletif yang acapkali mengadakan diskusi dan acara-acara seni. Berdiri pada 2017, Literacy Coffee telah berjuang sedimikian hebatnya dan semangat tempat tersebut akhirnya menjadi jalan terbentuknya Galeri Antik Medan.

Lantas pada November 2025, akhirnya Galeri Antik Medan berdiri. Semangat yang dibawa dari Literacy Coffee dijadikan jalan.

Dari Kelontong ke Lumbung

Jhon mengatakan walau semangat itu berasal dari Literacy Coffee membuat Galeri Antik Medan semata-mata tidak memiliki jati dirinya. Galeri Antik Medan memiliki prinsip layaknya kelontong. Dalam arti lain, Galeri Antik Medan menyediakan berbagai hal dalam satu kemasan.

Kemasan ini tidak jauh panggang dari hal-hal seni. Di sana, setiap pengungjung akan dihamparkan buku, kaset, barang antik, coffee corner, dan sebagainya. Dengan jalan ini, Jhon mengatakan bahwa ekosistem lebih terjaga. Tidak seperti bagaimana Literacy Coffee yang menurut Jhon fokus menjual kopi pada saat itu.

“Aku kemarin itu di awal, Literacy Coffee hanya fokus jual kopi dan aku pikir sangat terganggu. Tidak cukuplah,” kata Jhon.

Sebenarnya apa yang dilakukan Jhon tidak berbeda dari KK Book Rental di Yogyakarta, yang beberapa waktu lalu diliput cagak.id, bahwa menghidupi dunia literasi dengan sistem ekonomi subsidi silang. Tempat yang tersedia dimaksimalkan untuk saling bahu-membahu dalam bekerja.

Lusia dan Jhon Wajah Galeri Antik Medan

Berbekal semangat Literacy Coffee tak lengkap agaknya mengingat peran Lusia Damanik dalam Galeri Antik Medan. Lusi dalah istri Jhon. Pasca studi lanjutan di Jakarta pada 2019 dan melakukan program magang di Bangkok, Lusi ingin menciptakan wajah Medan yang lain. Hal itulah yang dikerjakan Lusi dan Jhon bersama-sama pascapernikahan mereka berlangsung di tahun yang sama saat Galeri Antik Medan mengudara.

Jhon, suami Lusi, dan pemilik-pengelola Galeri Antik Medan. (Foto: Radja Sinaga)

Jhon memiliki semangat yang belum punah dari Literacy Coffee dan Lusi menyempurnakan semangat itu melalui kerja-kerja yang sistemik. Alhasil, konsep yang hari ini terpampang jelas bagi pengujung kala melihat Galeri Antik Medan adalah dua pikiran yang berpadu-padan.

Lusi pun menyusun segala konsep. Menghadirkan rak-rak penuh buku dan kaset menjadi satu. Namun, tidak sampai di sana. Tak lengkap rasanya, Literacy Coffee yang dulunya juga ruang kolektif diskusi, yang sama artinya dengan ruang komunikasi, Lusi menutup mata untuk membuat coffee corner. Dari coffee corner ini, Lusi menganggap bahwa Galeri Antik Medan juga berlapang pintu menampung pengunjung untuk menikmati sambil santap-bersantap.

Dan begitulah berdirinya Galeri Antik Medan. Penamaan yang juga disumbang atas pemikiran Lusi.

Kelontong yang Menolong

Apabila disangkut-pautkan dengan kelontong, tentu setiap pengunjung harus membeli. Namun Galeri Antik Medan tidak demikian. Konsep boleh sama, niat tentu tidak.

Maka, Galeri Antik Medan yang bergerak dalam toko buku alternatif tidak mengharuskan setiap pengunjung membeli. Buku-buku yang terpajang di rak-rak, yang nyaris sebagian besar buku-buku bekas boleh dibaca sesuka hati di tempat. Tak hanya membaca di lokasi, Galeri Antik Medan percaya membaca buku tak melulu harus membelinya. Konsep rental ini yang dikembangkan lebih padu oleh Lusi bersama Jhon.

Tiap pengunjung hanya perlu merogoh kantong Rp 2 ribu untuk per satu judul buku yang dirental. Dan untuk menghindari dari orang-orang tak bertanggungjawab, Lusi menyarankan agar setiap peminjam melakukan deposit terhadap buku yang dipinjam.

Dari pinjam-meminjam ini Jhon juga awalnya terkejut. Bahwa ternyata ada orang-orang yang memiliki animo membaca tetapi ogah membeli buku. Perjumpaan dengan orang-orang itu meyakinkan Jhon bahwa rental-merental buku bukan suatu yang menyenangkan.

Dari penuturan Jhon, golongan yang lebih senang merental ini menganggap bahwa membeli buku membuat ruang di rumah mereka menjadi sesak.

“Orang-orang menengah ke atas lebih senang menyewa. Dia bilang daripada buat semak di rumah mending aku sewa aja,” tuturnya.

Semangat Galeri Antik Medan ini juga ingin menghancurkan stigma Sumatera Utara, yang di mana Medan termasuk di dalamnya, masih minim literasi. Jhon yakin, meskipun hanya satu persen saja dari 2,4 juta warga Medan, bisa mengubah stigma tingkat membaca tersebut terpinggirkan. Hal itu juga dilihatnya dengan semakin banyak toko-toko buku alternatif di Medan.

Lantas, Jhon pun menyatakan sebenarnya yang terjadi di Medan bukan sesuatu yang rendah terhadap membaca. Hanya saja, dengan yakin disebutnya, orang-orang Medan lebih senyap dalam menjalani hidup sebagai pembaca buku yang tulen.

“Ada di Kampung Lalang, Belawan. Aku pikir ada geliatnya. Medan ini ngga lemah, Medan ini sangat tertutup,” celetuknya.

Apabila dari sisi buku untuk menolong pengunjung, perjalanan Galeri Antik Medan yang juga menjual kaset tak jauh berbeda. Seluruh album yang dijual, yang ditampilkan berjejeran di rak sebelah kiri, mulanya karena Jhon ditelpon seorang kenalan. Jhon mengenang momen itu. Katanya, seorang kenalan sedang dililit permasalahan ekonomi dan menelponnya untuk meminta bantuan.

“Aku butuh duit Jhon, belikan lah semua koleksiku ini,” ucap Jhon menirukan kenalannya.

Lantas Jhon pun mengiyakan, di samping uang yang dimiliki masih cukup untuk membantu koleganya tersebut. Saat perbincangan ditelepon itu, Jhon memboyong sekitar 500 kaset dari si kolega. Tak dinyana, saat kaset-kaset itu sampai ke rumahnya, jumlahnya lebih besar. Jumlahnya tiga kali lipat.

Di samping bersyukur, Jhon akhirnya juga kaget. Bahwa dengan kaset yang dibeli dari koleganya itu membuat ruang di kediamannya makin sempat, dan koleksi kasetnya semakin banyak sebab dirinya memang sudah mengumpulkan kaset dengan genre tematik seperti lagu-lagu Batak.

Jhon pun kepikiran untuk menjual kaset-kaset itu. Kaset-kaset yang menurutnya bukan sesuai selera. Berbekal marketplace, Jhon sekali lagi ditampar kejutan. Dari 1500 kaset yang diborongnya, ternyata ada yang dibandrol setengah juta bahkan lebih.

Tak Sekadar Pedagang

Ada kesamaan dari kecintaan Jhon dengan buku dan kaset. Kesamaan itu membuat Jhon tak sekadar jadi pedagang semata. Galeri Antik Medan, yang kini memiliki koleksi 30 ribu lebih kaset, memiliki niat bahwa kaset juga memiliki ruang yang antar-disiplin. Di tengah gempuran platform musik digital, Jhon yang memulai dunia perkasetan ini merasa ruang musik tetap memiliki pertarungan teks sebagaimana buku.

Lusi, pemilik dan pengelola Galeri Antik Medan. (Foto: Radja Sinaga)

Di dalam lirik-lirik lagu, Jhon merasa bukan sekadar kata-kata yang dibaris-bariskan. Lirik itu tidak sedikit membahas pelbagai problematika yang dialami manusia. Dia meyakini itu bermula dengan melihat lagu-lagu ciptaan Nahum Situmorang—komponis berdarah Batak yang didapuk juara dua dalam sayembara lagu kebangsaan nasional.

Perkembangan dunia musik Batak yang sekilas dituturkan Jhon mengalami perubahan. Kini, sangat kental bagaimana musik Batak sangat individualis. Kendati begitu, Jhon melihat tetap ada sesuatu yang membuat musik layak dibahas dan ditelusuri inti sarinya.

“Kalau melihat teks lagu menjadi asyik. Apa sih persoalan utama yang digambarkan di dalam lagu. Meski kalau dalam Batak, hanya menyuarakan lagu-lagu individual saja. Masih jauh dari universal. Internasionale mungkin ya,” terangnya.

Namun, Jhon melihat bagaimana di Medan, pencarian-pencarian tersebut belum terjadi. Lantas dirinya pun terpantik untuk melihat musik sebagai sebuah literasi, sebuah ruang lain yang tak sekadar instrumen semata. Sayangnya, hingga kini, Jhon mengaku belum menyentuh posisi tersebut. Kesadaran atas apa yang dipikirkannya masih jauh.

“Pengen ini merombak soal kaset. Tapi menurut aku hanya bisa mengampanyekan itu sebenarnya,” akunya.

Yang Berupaya Menyatukan Nada, Kata, Rasa, dan Wajah

Semula Literacy Coffee lalu dikembangkan bersama Lusi, istrinya, menjelma sebagai Galeri Antik Medan tidaklah perjuangan yang mudah. Jhon mengaku dirinya memiliki utang terhadap buku. Kehidupan yang hingga kini tak lepas dari kehadiran buku. Berulangkali Jhon diselamatkan buku kala krisis ekonomi melanda.

Dengan buku-buku yang dimiliki itu kemudian dijual Jhon. Hasil penjualan itulah yang menghidupinya dalam banyak momen. Dan hal itu bagi Jhon adalah peristiwa penyelamatan.

“Saat aku ngga ada uang, buku ini menyelamatkan, aku bisa jual koleksi,” katanya saat menatap ke jalan HM Joni yang hilir mudik kendaraan.

Alasan lain, dalam lingkup kaset, Jhon mendapatkan banyak koneksi. Orang-orang yang datang untuk menjual dan membeli Jhon membuatnya menjadi lebih berwarna.

Kini, bersama Lusi, Jhon fokus mengelola Galeri Antik Medan. Menurutnya, hal tersebut lebih masuk akal sebab di masa silam, dirinya pernah mengajak sejumlah orang untuk menggiatkan apa yang tengah dibangun, dalam hal ini kaset tentunya. Namun, semangat yang dimiliki Jhon tampaknya bukan sesuatu yang menarik bagi orang yang diajak berjuang bersama-sama.

“Ini (kaset) dua kali kudrop (untuk dijual) ke mahasiswa,” tuturnya.

Pengalaman lain juga dituturkannya kala mengelola Literacy Coffee. Jhon mengenang sewaktu mengelola Literacy Coffee yang mengudara pada 2017 itu dikerjakannya seorang diri. Lantas membuatnya kelimpungan. Menurutnya, ruang kolektif diskusi tidak menjadi apa pun jika tak didokumentasikan secara baik, ketika tidak menghasil profit berupa materi.

“Buat apa seleberasi terus tapi ngga terdokumentasikan,” tutup Jhon.

Meski demikian, perjuangan-perjuangan itu tidak pernah padam. Bersama Lusi, Galeri Antik Medan masih berdiri dengan semboyan tersebut. Di tengah sebagai toko buku alternatif, record store, coffee space, Galeri Antik Medan masih senantiasa menampung pelbagai rupa. Hal itu tercermin dari mengoleksi barang-barang antik dan menampung kerajinan tangan sejumlah orang di Medan.

Tak kurang pula, Galeri Antik Medan melapangkan tempatnya untuk creative space untuk para musisi, komunitas sastra, dan organisasi apa pun di Medan.

Sekali lagi, Lusi dan Jhon berupaya untuk menyatukan nada, kata, wajah, dan rasa di tengah Kota Medan yang kerap mendapat stigma sebagai kota dengan tingkat kriminalitas yang tinggi di Indonesia. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top