Author name: Radja Sinaga

Lahir di Medan dan kini menetap di Yogyakarta. Alumni Kelas Menulis Prosa Balai Bahasa Sumatera Utara dan Peserta Residensi Belajar Bersama Maestro Kementerian Kebudayaan. Sebelum menempuh pendidikan lanjutan di Magister Sastra, Universitas Gadjah Mada, pernah bekerja sebagai jurnalis di salah satu media nasional Indonesia.

Radja Sinaga
Liputan

Spektakel Lidah Gen Z di Medan: Memahami Rempah dengan Pendekatan Performatif

Acara Spektakel Lidah Gen Z di Medan mengajak generasi muda keluar dari amnesia sejarah dengan memaknai kembali kekayaan rempah Nusantara. Melalui lokakarya proses kreatif bersama S. Metron Masdison dan pendekatan performatif digital gagasan Annisa Rengganis, rempah tidak lagi sekadar bumbu dapur, melainkan sumber inspirasi karya seni dan identitas budaya modern.

Spektakel Lidah Gen Z di Medan: Memahami Rempah dengan Pendekatan Performatif Selengkapnya

Esai

Yang Tak Disorot dari Buku Saku Massal

Esai ini mengkritik gagasan Donny Syofyan bahwa buku saku massal adalah solusi mahalnya buku non-fiksi. Penulis menyoroti absennya peran negara terkait pajak dan mahalnya bahan baku yang membebani penerbit serta penulis. Lebih jauh, penulis menegaskan bahwa aksesibilitas sejati harus inklusif bagi penyandang disabilitas melalui buku digital, bukan sekadar fisik murah.

Yang Tak Disorot dari Buku Saku Massal Selengkapnya

Liputan

Rumah-Rumah Kertas di Yogyakarta (2): JBS dan KK Book Rental Tetap Melaju di Pasar Buku

Menjelajahi “rumah kertas” di Yogyakarta, liputan ini mengupas dedikasi dua pegiat literasi. Indrian Koto mengelola Jual Buku Sastra (JBS) untuk memasarkan dan menerbitkan karya-karya indie. Di sisi lain, Teddy konsisten mempertahankan KK Book Rental sejak era 1990-an meski digempur kemajuan internet dan arus digitalisasi.

Rumah-Rumah Kertas di Yogyakarta (2): JBS dan KK Book Rental Tetap Melaju di Pasar Buku Selengkapnya

Liputan

Rumah-Rumah Kertas di Yogyakarta (1): Berdikari dan Raja Murah Bahagia di Dunia Perbukuan

Yogyakarta memiliki daya tarik istimewa melalui kehadiran toko buku independen atau “rumah kertas”. Toko seperti Berdikari Book dan TB Raja Murah berangkat dari kecintaan mendalam terhadap dunia literasi. Mereka berjuang menjaga ekosistem perbukuan dan kelangsungan hidup penerbit, sekaligus menyediakan akses buku yang terjangkau di tengah gempuran diskon e-commerce.

Rumah-Rumah Kertas di Yogyakarta (1): Berdikari dan Raja Murah Bahagia di Dunia Perbukuan Selengkapnya

Liputan

Apsas Dua Dekade Lebih: Jalan yang Memulangkan Suara untuk Pembaca

Apresiasi Sastra (Apsas) 2026 kembali hadir sebagai ruang “underground” yang mendobrak sekat antara pengarang dan pembaca. Bertempat di Bantul, kolaborasi bersama Radio Buku ini membahas sepuluh karya pilihan—mulai dari puisi hingga novel terjemahan—membuktikan bahwa di tengah arus digitalisasi, kecintaan pada literasi tetap menyala tanpa perlu menjadi elit.

Apsas Dua Dekade Lebih: Jalan yang Memulangkan Suara untuk Pembaca Selengkapnya

Liputan

Ipie, Deli, Kuli, dan Pedagogi

SD Negeri 101878 di Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumatera Utara, dulunya adalah Sekolah Deli Maatschappij. Sekolah ini menyimpan kisah sejarah di mana Bapak Republik Indonesia, Tan Malaka, pernah mengajar. Meski arsitektur kolonialnya telah mengalami perubahan, pihak sekolah berjuang meminta penetapan bangunan ini sebagai cagar budaya untuk terus menjaga warisan kisah sang pendidik.

Ipie, Deli, Kuli, dan Pedagogi Selengkapnya

Scroll to Top