Ipie, Deli, Kuli, dan Pedagogi

Orang tua dan anak-anak berlalu-lalang memasuki dan keluar dari tempat itu, SD Negeri 101878, Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumatera Utara. Sekolah itu tampak seperti sekolah pada umumnya, memiliki gapura, gerbang, dan hal-hal lainnya. Namun, siapa yang menyangka, bahwa sekolah itu ditimbun kisah di mana Bapak Republik Indonesia, Tan Malaka, pernah mengajar.

Kurang lebih 250 siswa bersekolah di sana. Dulunya, sekolah itu bernama Sekolah Deli Maatschappij. Ada juga yang menyebutnya sebagai sekolah Belanda.

“Sekolah kita ini disebut sekolah Belanda karena bersejarah,” kata Rostiana Lubis, seorang pengajar di sana.

Sekilas, bangunan bersejarah itu telah mengalami perubahan di sana sini. Terlihat arsitekturnya yang tak lagi mengedepankan Indische Bouwstijl atau Rumah Indis. Sebagaimana berbagai bangunan bersejarah di Indonesia, sekolah tersebut juga mengalami permasalahan ketahanan kontruksi.

Tampak satu bangunan dengan bentuk persegi panjang disekat-sekat menjadi empat bagian. Keempat bagian itu kini dijadikan kelas. Di dalam ruangan yang sekat itulah, dulunya Tan Malaka pernah mengajar.

Meski telah mengalami beberapa perubahan kontruksi, beberapa komponen dalam bangunan itu masih mempertahankan aspek-aspek kolonial. Hal tersebut tampak jelas saat memasuki ruangan yang disekat-sekat tersebut. Terdapat tiang beton yang berdiri kokoh, tiang yang umurnya tak lagi muda, tiang yang sering dijumpai dalam Rumah Indis.

Selain itu, dari bagian luar, terdapat kusen besar dan tinggi. Sebuah kusen yang memiliki bukaan ganda dan berlapis atau bermodel kupu tarung. Namun, terdapat sedikit perubahan dari kusen itu. Apabila kusen rumah Indis memiliki lapisan panil kaca di bagian dalam, Sekolah Deli Maatschappij hanya menyisakan daun pintu dari kayu dan besi-besi yang dipasang membentuk kotak-kotak sebagai pembatas.

Masih di bagian luar, terdapat beberapa kanopi yang bermodel peninggalan kolonial. Dinding-dinding kelas juga masih terasa menampakkan jenis beton khas kolonial.

Sementara bagian-bagian yang telah direnovasi tampak jelas pada langit-langit bangunan yang telah ditambahi sejumlah plafon. Kemudian lantai kelas, di beberapa sudut dinding dilakukan penambalan. Serta atap bangunan yang ditinggikan.

Kendati telah beberapa kali ada penambahan, bangunan bersejarah itu tetap tidak dipugar seutuhnya. Diceritakan 10 tahun lalu, pemerintah pusat menyambangi SD Negeri 101878. Tujuannya satu, melakukan revitalisasi.

Namun opsi itu ditolak. Para guru hanya mengizinkan untuk melakukan revitalisasi di depan bagunan alias halaman bangunan.

“Kalau kita bilang dari pusatlah itu. Dirubuhkan. Tapi kami tetap bertahan. Sepuluh tahun yang lalu,” kata Rostiana.

Bagi pihak sekolah, revitalisasi bukanlah target utama mereka untuk menjaga citra sejarah bangunan itu. Pihak sekolah hanya meminta penetapan cagar budaya atas bangunan tempat Tan Malaka pernah mengajar.

“Kami berkeinginan sekolah ini menjadi cagar budaya. Progresnya memang belum sampai ke kami, tapi sudah ada rancangan,” tuturnya.

Penetapan itu menurut pihak sekolah sangatlah penting, sebagaimana hingga kini para guru di sana menceritakan peran Tan Malaka sewaktu menjadi guru. Kisah-kisah Tan Malaka terus dijaga dari guru ke murid, dari mulut ke ingatan.

“Mengenai sejarahnya kami perkenalkan (kepada siswa-siswa),” terangnya.

Pendidikan dalam Pemikiran Tan Malaka

Pada awalnya, sebagaimana kebanyakan institusi pendidikan di Indonesia pada zaman kolonial Belanda, Sekolah Deli Maatschappij menerapkan konsep pendidikan yang ekslusif. Sekolah Deli Maatschappij hanya diperuntukan bagi mereka dari kalangan atas, berkulit putih, para orang kolonial, dan pribumi yang memiliki akses lantaran status sosial.

Melihat itulah, Tan Malaka merasa perih hatinya. Ketimpangan yang terjadi di Senembah membuatnya memiliki pandangan lain atas pendidikan. Konsep pendidikan yang diterapkan kolonial dalam pandangannya sangat ditentangnya.

“Kemudian mengajar di sekolah itu yang sebenarnya sekolahnya itu diperuntukan terhadap orang-orang Belanda yang ada di Senembah tapi juga diperuntukan masyarakat pribumi yang orangtuanya merupakan pejabat, termasuk juga di wilayah Serdang,” kata sejarawan dan akademisi Universitas Sumatera Utara, M. Azis Rizky Lubis.

Setibanya di Senembah dan diterima menjadi guru, Tan Malaka melakukan gebrakan terhadap sistematika pendidikan di sana. Meski dirinya juga mengajari para kaum elit, Tan Malaka tak menutup diri, bahkan dengan senang hati, untuk mengajar para masyarakat kelas bawah di Senembah, yakni orang-orang kuli kontrak perkebunan.

Kedatangan Tan Malaka memberikan pandangan baru terhadap dunia pendidikan di Senembah. Bagaimana pendidikan tidak lagi mementingkan jenis kulit sebuah ras hingga status sosial-ekonomi semata.

“Sehingga kita anggap bahwa pendidikan itu hanya bisa enyam masyarakat pribumi dari kalangan tertentu, tapi Tan Malaka mencoba membuka sekat-sekat tersebut. Pendidikan dianggap komoditas yang harus dirasakan semua kalangan,” terangnya.

Saat menjadi guru di Senembah, Tan Malaka memberikan berbagai pelajaran-pelajaran, mulai dari kesehatan dan membaca-menulis. Tan Malaka memberikan pengetahuan tentang kesehatan karena baginya sangat penting dengan melihat kondisi wilayah Senembah yang riskan menyerang penduduk di sana.

Terkait membaca dan menulis, Tan Malaka mengajarkan tak sekadar bahasa Melayu saja, dirinya juga memberikan pelajaran terhadap bahasa Belanda. Di sela-sela itu, Tan Malaka juga bercerita berbagai pengalamannya di banyak tempat sebagai pelajaran yang bersifat empirik.

“Untuk kurikulumnya secara detail kita tidak dapat karena betul-betul sangat misterius sekali. Bahkan kalau saya tidak salah, Tan Malaka tidak menggunakan nama asli. Tan Malaka itu di berbagai tempat menggunakan nama yang berbeda,” tuturnya.

Namun dedikasi itu tentunya tidak pernah disukai kolonial. Tan Malaka dianggap sebagai seorang yang berbahaya. Bagaimanapun membuat para kuli kontrak perkebunan menjadi orang-orang yang terpelajar akan menggoyangkan posisi sebagai penguasa.

Azis pun menuturkan dalam banyak momen, tindakan-tindakan Tan Malaka tersebut, berubah menjadi masalah. Hal inilah, selain merasa sakit dan tahan melihat bangsanya dipersekusi habis-habisan, membuat Tan Malaka tak lama menetap di Senembah.

“Sehingga itu yang membuat salah satu Tan Malaka untuk undur dari Senembah dengan cita-cita membuka sekolahnya sendiri dengan harapan dia bisa memberikan pendidikan bagi masyarakat,” pungkasnya.

Dalam catatan Tan Malaka sendiri (Dari Penjara ke Penjara), dirinya berada di Senembah tidak sampai tiga tahun—apabila menghitung secara keseluruhan 36 bulan. Tan Malaka tiba di Senembah pada Desember 1919 dan mengakhiri perjalanannya di Deli pada Juni 1921.

Pada biografi itulah Tan Malaka menceritakan berbagai pergolakan batin. Dirinya yang mendapatkan tekanan bertubi-tubi. Cibiran atas kerja-kerja teksnya yang dimuat oleh Sumatera Post dan tuduhan-tuduhan sebagai otak pemogokan Deli Spoor bergema.

Semasa tuduhan-tuduhan itu bergema, Tan merasa bersyukur, ada dua orang kulit putih yang senantiasa meragukan informasi-informasi yang ditujukan kepadanya. Hazejager, seorang pria berkebangsaan Jerman, selalu senantiasa memberikan informasi-informasi berupa tuduhan yang dilontarkan sebangsa kulit putih. Sementara Dr Janssen yang dikenalnya dengan baik jauh-jauh hari selama dirinya menempuh pendidikan di Belanda berulangkali mendatangi Tan untuk memastikan tuduhan itu meski Dr Janssen sebenarnya tidak mempercayai kabar tersebut.

Desakan-desakan itu pun membawa Tan ke meja yang lebih besar. Dirinya diundang para pejabat kulit putih di Senembah. Dalam perjumpaan itulah Tan melihat bagaimana kerja-kerja untuk memberikan pendidikan kepada kuli kontrak adalah tindakan bodoh. Kolonial menganggap itu hanya membuang duit semata. Namun Tan menolak anggapan itu. Dari forum itulah kemudian Tan memberikan adigium yang hari-hari ini sering dijadikan sepucuk aforisme, sebuah pandangan mengapa seseorang harus menerima pendidikan.

“Bahwa maksud pendidikan anak kuli terutama ialah mempertajam kecerdasan dan memperkokoh kemauan serta memperhalus perasaan si murid, seperti dimaksudkan dengan anak bangsa apa pun dan golongan apa pun juga. Bahwa di samping pendidikan kecerdasan, kemauan, dan perasaan itu mesti ditanam kemauan dan kebiasaan bekerja tangan dan perasaan menganggap pekerjaan tangan adalah pekerjaan penting dan bagi masyarakat tak kurang mulianya daripada pekerjaan otak semata-mata. Bahwa Senembah Mij khususnya dan Deli umumnya tak dapat akan rugi, kalau di sekitarnya banyak didapati buruh halus dan kasar yang benar-benar cakap, efficient dan mempunyai keinginan hidup (standard of living) yang tinggi,” tulis Tan dalam Dari Penjara ke Penjara.

Seusai pertemuan itu, meski para pembesar Senembah juga tidak menyukai Tan, dirinya pun membicarakan kepada Dr. Janssen, orang yang memberi dan membawanya kembali ke Indonesia, bahwa dirinya berhenti menjadi pengajar di Senembah. Alasan lain yang mendorong Tan Malaka untuk mundur sebagai guru karena Dr. Janssen tidak lama lagi akan meninggalkan Indonesia. Bagaimanapun, keberadaan Dr. Janssen di Senembah—sebagai aktor agar dibukanya sekolah untuk kuli kontrak—sangat membantu dan membuat posisi Tan yang tidak disukai banyak para pejabat kulit putih Senembah. Permintaan pemunduran diri itu disampaikan Tan Malaka seusai rapat yang “menyidangkannya”.

“Saya tahu bahwa tak lama lagi Dr. Janssen akan kembali ke Nederland. Saya “anak angkatnya” ini akan tinggal sendirian di antara tuan besar yang memusuhi warna kulit, paham politik, bahkan pekerjaan saya,” terang Tan.

Usai meninggalkan Deli, Tan pun berlabuh ke Jawa. Mula-mula menambatkan diri di Semarang. Dalam kepergiannya meninggalkan Deli, kebaikan Dr. Janssen turut menyertainya. Hal itu dijelaskan Tan, setelah dirinya mengatakan undur diri, Dr Janssen memberikan semacam pesangon berupa gaji dua bulan dan tiket ke Jawa.

“Dr. Janssen juga sudah menyuruh kantor membawa gaji saya buat 2 bulan dan membeli karcis kelas I untuk ke Jawa,” tutur Tan.

Dandy (2023) dalam tulisannya yang berjudul Pemikiran Tan Malaka tentang Pendidikan, 1920-1926, menjelaskan lebih rinci terkait bagaimana Tan mengajarkan para kuli kontrak di Senembah. Dandy menuliskan ada tiga pokok metode yang digunakan: analogi, dialog, dan jembatan keledai (meringkas sebuah buku).

Kelak, bagaimana hari-hari ini pendidikan yang dijabarkan melalui undang-undang, semangat pedagogi, bermula dari kerja-kerja Tan Malaka. Dandy menuliskan setidaknya ada sembilan konsep pentingnya pendidikan di Indonesia yakni, pendidikan gratis dan wajib, penggunaan bahasa Indonesia, pendidikan berbasis kepentingan Indonesia, peningkatan sekolah kejuruan, pendekatan pendidikan berbasis keadaan lokal, pendidikan untuk pembebasan, guru sebagai penyemangat, pendidikan yang dekat dengan rakyat, dan pendidikan sebagai kebutuhan masyarakat dan perjuangan kemerdekaan. 

Catatan:
Ipie adalah nama panggilan yang diberikan teman-teman dekat Tan Malaka sewaktu menempuh pendidikan di Belanda. Selain itu, nama panggilan Tan di sana adalah Ieb (Tan Malaka Bapak Republik yang Dilupakan, Tempo).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top