
Melalui Radja Sinaga, cagak.id menghadirkan liputan rumah kertas, sebuah kiasan untuk menyebut toko buku independen. Rumah kertas, rumah bagi buku-buku (kertas). Tulisan ini mengangkat keberadaan toko buku di Yogyakarta, yang akan dibagi menjadi dua tulisan. Ini bagian kedua (2).
Punggawa Penerbit Kecil
Di pinggiran Yogyakarta, tepatnya di Jalan Keloran Dalam, Kasihan, Kabupaten Bantul, DIY, sebuah rumah kertas yang teduh berdiri dikelilingi sawah, kebun kecil, dan hamparan yang serba hijau. Berbeda dari yang lainnya, rumah kertas satu ini berdiri dengan model rumah panggung, bertingkat dua, yang semuanya menggunakan kayu jati. Di dalam rumah kertas ini, jejeran buku saling berimpit-impit di dalam rak-rak buku.
Nama rumah kertas ini adalah Jual Buku Sastra Sumatera atau sering dikenal dengan singkatan JBS. Rumah kertas ini dikelola secara penuh oleh Indrian Koto, yang juga dikenal luas sebagai penulis. Saat dijumpai, Koto tampak tengah menyusun dan memeriksa sebuah daftar terkait buku-buku. Di dekatnya, penyair Kedung Darma Romansha sesekali mengajak Koto berbicara.
JBS memulai kiprah penjualan buku dari 2006 silam. Membuka di Yogyakarta dan beberapa wilayah di Pulau Jawa. Saat-saat itu, JBS memasarkan buku di acara-acara sastra. Sementara untuk penjualan di luar Yogyakarta, JBS membuka MK Art Sindikat. Seluruh penjualan JBS dirintis melalui komunitas ke komunitas.
Buku-buku yang dijual JBS kebanyakan datang dari penerbit-penerbit indie, yang menerbitkan dalam jumlah eksemplar secara terbatas dan tak mampu ditampung toko-toko buku konvensional yang mengharuskan setiap cetakan ribuan per judul buku. Pilihan ini ditempuh karena pengalaman Indrian Koto yang tergabung dalam penerbit indie dan berkecimpung dengan banyak kolega yang mengurusi penerbitan-penerbitan kecil.
Koto mengaku sebenarnya dalam penjualan buku yang sukar adalah menemukan buku-buku yang dicetak dalam jumlah terbatas. Selain itu, terbitan-terbitan buku dari penerbit indie memiliki keunikan tersendiri. Bisa saja di satu toko, buku yang diterbitkan penerbit indie tidak terlalu populer, sementara di tempat lain laris manis. Dan, kebanyakan buku-buku yang diterbitkan secara indie memiliki kualitas yang bagus.
“Ngga terlalu banyak sih, bisa tiga (dipasok per judul buku oleh JBS). Tapi bisa aja buku tertentu yang ngga bisa keluar. Karena buku ini menarik pasarnya,” tutur Koto.
Apabila awal-awal memasarkan buku melalui komunitas ke komunitas, yang mana berarti penyebaran bergantung terhadap eksistensi komunitas tersebut, kini JBS memanfaatkan marketplace. Sebagaimana toko buku lainnya, Koto mengaku menjual melalui e-commerce membuat buntung.
Hal itu dikarenakan banyaknya potongan harga. Ditambah pula tetek bengek biaya admin yang ditetapkan pemilik e-commerce. Alhasil, harga jual yang ditetapkan JBS dengan dana yang masuk ke rekening selalu berbeda.
“Saya jual buku itu minus,” terangnya.
Kendati demikian, Koto mengaku tidak ambil pusing. Dirinya tetap saja berbahagia menjual buku. Dari kesenangan yang tak terhingga ini, JBS pun turut mengembangkan sayap bisnis dalam dunia penerbitan. Penerbit JBS yang dikelola Koto telah ada sejak 2014. Sebelum akhirnya membuka penerbitan pribadi, Koto telah lama berkecimpung pula dalam dunia penerbitan. Mula sekali, Koto menapaki dunia penerbitan dari MK Art Book yang berfokus menjual buku-buku terjemahan.
Baginya, melebarkan sayap ke dunia penerbitan karena berkaitan dengan toko buku. Pula Koto yang getol membaca merasa ada saja tulisan-tulisan yang memiliki kualitas bagus tetapi tak mendapatkan ruang untuk diterbitkan atau bisa pula sebuah karya jelek malah mendapatkan kesempatan publikasi.
“Nah sebagai penerbit saya punya kapasitas memilih itu. Sebagai pedagang buku saya bisa mengurasi buku yang saya jual,” tuturnya.
Dari pengalaman menjual buku-buku dari komunitas ke komunitas, lapak satu ke lapak lain, penerbit JBS mengambil sikap dalam menerbitkan buku dengan sistem pre order on demand. Alhasil, buku yang diterbitkan berjumlah 100 eksemplar dan seterusnya dicetak berdasarkan pesanan dari pembeli. Cara ini, selain menutup kemungkinan kerugian yang besar, juga berguna untuk menjaga harga buku yang dipasarkan tidak dijual dengan harga yang terlampau murah. “Tetapi yang kami jamin di penerbit JBS adalah mereka tidak menemukan buku ini kami jual di harga diskonan, misalnya Rp 10.000, Rp 15.000-an,” bebernya.
Hal lain yang membuat JBS berbeda karena sikap yang lebih condong untuk menerbitkan buku-buku berdasarkan permintaan redaksi. Koto mengaku jika JBS tak melakukan pemasaran secara umum dengan menjual paket penerbitan. Selain itu, JBS juga melakukan kurasi terhadap naskah-naskah yang dikirimkan oleh sejumlah penulis.
Di tengah opini yang menyeruak tentang niat baca di Indonesia rendah, Koto cenderung tak terlalu percaya demikian. Baginya yang menjadi permasalahan terletak bukan kepada niat, tetapi waktu orang-orang yang telah makin sedikit untuk membaca. Rutinitas bekerja, bermain sosial media, dan lain hal adalah salah satu dari sekian banyak yang menyita waktu. “Kalau dibilang pembaca, kita kan membaca WA. Rajin kirim-kirim pesan kan?” kelakar Koto.
Di usia yang nyaris dua dekade berkiprah, Koto mengaku dunia yang dijalaninya dalam perbukuan sangatlah berharga. Kenangan-kenangan selama menjadi penjual buku, mendapat dukungan-dukungan dari teman terdekat, kisah boncos saat berjualan karena buku yang didagangkan tak laku menjadi alasan yang selalu membuat Koto bertahan.
Dari hiruk-pikuk yang telah dijalani Koto dalam mengelola JBS, dia mengaku kalau tidak ada alasan baginya meninggalkan bisnis ini. “Sastra itu kesenangan saya. Jadi selama saya menyukainya, saya tidak punya alasan meninggalkan,” kata Koto dengan mantap dan sedap.
Menjadi Pembaca Tak Melulu Harus Membeli Buku
Kemanakah seorang pembaca yang tidak memiliki banyak uang tapi animo membacanya menggelinjang? Orang-orang pasti menyarankan ke perpustakaan. Namun itu terlalu biasa. Di Yogyakarta, menjadi pembaca tidak melulu harus membeli buku. Maksudnya bukan berarti bisa dengan mencuri.

Sebelum era internet menjelanak, sosial media bertumbuh, kehidupan pembaca di Yogyakarta diwarnai dengan rental buku. Sistemnya seperti perentalan kaset film dahulu dalam masa kejayaannya. Namanya Teddy, orang-orang akrab memanggil dengan sebutan Om Teddy. Teddy sangat lekat dengan dunia perbukuan yang dikenal luas sebagai KK Book Rental yang berletak di Jalan Kusumanegara, Banguntapan, Bantul, DIY.
Teddy telah memulai bisnis perentalan buku ini sejak masih mengenakan seragam putih abu-abu. Alasannya membuka perentalan buku sangat sederhana, di tengah kesenangannya membaca buku, mengapa tidak sekalian dirinya menyewakan buku-buku tersebut? Dari niat ini, Teddy mendapatkan uang saku tambahan untuk membeli buku-buku baru.
Selain itu, di saat itu, pada 1990-an, Gramedia sebagai toko buku memulai menjajakan ke dunia buku-buku Jepang. Dari sana, minat baca masyarakat di Yogyakarta semakian komunal. Masuknya Teddy dalam KK Book Rental di tahun 1992 merupakan momen yang tepat baginya.
“Pas saya masuk, Gramedia ngeluarkan produk, saya ikutin,” kata Teddy di depan KK Book Rental.
Pembaca yang hendak meminjam buku di KK Book Rental sangatlah mudah. Di sini, tutur Teddy, yang dibutuhkan adalah kejujuran semata. KK Book Rental tidak pernah meminta penahanan identitas bagi perental, cukup mencatat namanya saja. Harga rental yang ditawarkan juga tergolong murah. Teddy menyebutkan tiap buku yang dirental memiliki harga yang variatif. Untuk buku-buku terbitan baru akan dibandrol dengan harga sepuluh persen dari harga beli. Namun harga itu semakin lama kan semakin murah.
Cara ini memang riskan dari aspek pencurian. Teddy bahkan tak lagi bisa mengingat sudah berapa banyak buku yang dipinjam tidak dikembalikan. Namun hal-hal kecil itu tidak mematahkan niatnya untuk menutup KK Book Rental.
“Tapi kalau kita lihat dari negatifnya ngga pernah maju kok. Kita punya mantan, kita udah nikah, tapi lihat mantan terus, ngga selesai-selesai kan,” terangnya.
Teddy mengaku tidak tahu berapa keseluruhan judul buku yang ada di KK Book Rental. Yang pasti, tiap minggunya, KK Book Rental memasok buku-buku baru. Dalam seminggu, KK Book Rental bisa memasok minimal 15 buku, entah itu novel hingga komik.

Di saat publik terus berbicara aspek internet mengerus banyak hal, pelanggan yang meminjam buku di KK Book Rental tidak mengalami penurunan. Teddy lebih bersepakat bahwa tumbangnya satu persatu jasa perentalan buku karena aspek pada tahun 1980-an orang-orang tidak memiliki akses hiburan yang ragam seperti saat ini.
Lagipula, Teddy meyakini memang Indonesia sejak semula adalah bangsa yang literasinya rendah. Teddy menyebutkan kalau pada zaman kerajaan, akses bacaan sangatlah eksklusif, hal ini berhubungan terkait golongan dan jenis bahasa. Memasuki zaman penjajahan, yang bisa menjangkau bacaan juga kalangan-kalangan elit pula.
Di era saat ini, Teddy melihat pemerintah yang telah menetapkan pelajaran membaca juga bukan sesuatu yang seutuhnya baik. Baginya, sekolah-sekolah membuat anak-anak tidak pernah mencintai buku karena buku yang dibaca pertama kali hanyalah buku pelajaran semata.
“Artinya begini, pasar orang yang suka membaca itu tetap sedikit walaupun zaman berubah. Apakah internet berpengaruh dalam minat baca, terhadap rental buku. Sebelum internet ada, minat baca kita rendah. Jadi sebetulnya tidak berpengaruh. Jadi sebetulnya minat baca berkurang sih ngga,” yakinnya.

Di tengah dinamika itulah, yang buat Teddy bertahan kembali atas kenangan-kenangan yang masih melekat kuat di benaknya. Bagaimana seorang perental setia awal-awal meminjam masih anak sekolah, saat kembali lagi ke KK Book Rental telah berkeluarga. Selain itu, menurut Teddy, menjadi pembaca membuat dirinya merasa berbeda. Di dalam buku, Teddy menemukan hal lain, yang membuatnya semakin kaya. Buku mengubah cara pandangnya.
Teddy juga tak pernah risau dengan harga buku yang makin hari makin mahal. Dengan seloroh dia mengatakan: apa gunanya toko roti? Ya, Teddy tetap bertahan untuk KK Book Rental. Penambahan katolog buku sampai saat ini masih dibantu oleh bisnis usaha lainnya. Baginya, hal tersebut hanyalah subsidi silang dalam sistem ekonomi.
Sebenarnya, ada banyak lagi rumah kertas yang bisa dijelajahi di Yogyakarta. Namun, apapun namanya, rumah kertas tetaplah rumah kertas, pintunya hanya mampu menawarkan satu hal saja yakni pengetahuan. Penawaran ini, meski tunggal semata, nyata kekayaannya tak bertepi sampai kapan pun.***

Baca juga bagian pertamanya:
Yogyakarta memiliki daya tarik istimewa melalui kehadiran toko buku independen atau “rumah kertas”. Toko seperti Berdikari Book dan TB Raja Murah berangkat dari kecintaan mendalam terhadap dunia literasi.
Lanjutkan Membaca >>




