“Karena Puasa” Sebagai Segala Alasan

Ilustrasi: Aprililia

Orang kita, dalam berpuasa, ada-sada saja polahnya. Jika disigi-sigi untuk perintang-rintang hari atau koreksi diri sambil menertawai diri, asyik juga. Teringat saya, seorang ayah, marah pada anaknya di bulan suci Ramadan. Dia, sehari-hari suka bercarut—berkata kasar dan kotor. Segala umpatan jorok dan buruk mudah keluar dari mulutnya. Ada yang bilang, carut marut itu bak gula-gula saja bagi dia di hari biasa.

“Jangan bikin saya marah. Ini bulan puasa. Kalau tidak puasa, saya tampar kamu, saya sumpah serapahi kamu,” begitu katanya, kurang lebih. Saya tersenyum, sebab, setelah itu, saya ingat-ingat, hebat juga bulan puasa ini bagi dia. Semua drastis menghambat perilaku buruknya. Termasuk dia tidak jadi memaki dan menampar anaknya. Sebab, memang, di hari biasa, ia tak jarang melekatkan tangan ke anak sembari carut. Ketika ia ingin meyakinkan istrinya kalau dia tidak main kartu– berjudi menjelang sahur dengan teman-temannya, dia cukup berkata, “Sumpah, saya tidak bohong. Ini bulan puasa, untuk apa bohong!”  Padahal, dia berbohong.

Ada pula, seorang remaja. Di hari biasanya suka pakai baju seksi, dijadikannya bagian kecantikan terbuka versi dirinya untuk enak dilihat oleh siapa saja sehingga ia mendapat pencitraan seksi. Ketika bulan Ramadan ini, temannya nyeletuk ke dia, “Tumben pakainnya gak seksi lagi?”  Dengan enteng dia menjawab, “Kan bulan suci Ramadan. Harus menghormati orang berpuasa dong!” Dia bilang, ibunya menganjurkan pilihlah pakaian yang sopan untuk menghormati orang berpuasa.

Seorang ibu, yang tidak menepati janjinya kepada teman arisannya, enak-enak saja bilang, “Maaf lupa. Maklum puasa!” Begitu juga, pegawai yang kerjanya lalai, datang telat malahan sesampai di kantor tidak mengerjakan apa-apa, dimaklumi karena dia berpuasa. Dan yang tak kalah membuat kita tersenyum malu, ketika seorang yang biasa tidak pernah salat, tiba dia rajin salat lima waktu. Ketika temannya mengomentari, “Udah rajin salat ni Uda?” Dia jawab, “Segan kita kalau tidak salat di bulan puasa!” Kita tak tahu, kepada siapa dia segan.

“Ternyata, disadari atau tidak, puasa membuat orang punya alasan untuk tidak melakukan sesuatu karena, mungkin tafsir sederhananya, bulan yang harus diisi dengan segala kebaikan. Bulan penuh berkah. Bulan segala kebaikan adalah anjuran paling penting untuk dilakukan semaksimal mungkin. Sehingga tak heran, kita melihat orang yang tiba-tiba rajin salat, bersedekah dan tarawih hampir tak pernah tinggal, walau sebelum dan sesudah Ramadan sebagaimana tahun-tahun lalu, ia tidak salat dan kurang bersedekah lagi. Ibadah musiman kesannya,” kata seorang guru, pada anaknya, sembari ngobrol di beranda menjelang waktu berbuka masuk.

Kalau dikaji-kaji dengan cara sederhana saja perilaku-perilaku tersebut, kita kadang juga bisa malu pada diri sendiri. Bukan tak mungkin, kita termasuk di dalam yang kita tertawakan sebagai perilaku berpuasa orang kita. Karena itu, kalau kita bertengkar dengan seseorang ada yang mengingatkan, “Tidak baik bertengkar, ini bulan puasa!” Kita pun mematuhi leraiannya itu. Maka, arti di balik itu, kita boleh bertengkar di bulan selain Ramadan. Sebab, terlalu sering, kita mendengar ungkapan, cara membahasakannya, disadari atau tidak, membuat runtuhnya nilai lain ketika nilai yang satu ditegakkan.

Terkadang kita, kata Buya Jafar di tausiyah subuh, untuk mendapatkan makna, nilai, kebahagiaan tertentu yang diidamkan, tanpa disadari kita melakukan perlawanan terhadap kebenaran lain, sehingga menjadi kesalahan atau kelalaian baru, yang sesungguhnya semata-mata akibat karena penafsiran dan pemahaman kita akan kata atau makna kata yang lemah. Mestinya, barangkali bisa begini: untuk hal kebaikan, ukuran capaiannya selalu ada kata “untuk lebih baik”, untuk “menjadi “sangat lebih baik” dan “luar biasa lebih baik”. Misalnya, saya ingin puasa lebih baik, baik saya tidak mau berbohong! Pokoknya jelas, tak ada yang terlemahkan.

Jika tidak, kita akan terlanjur bersering-sering berkata, “Maaf ya, saya puasa, jangan bikin saya marah!”, “Ini bulan puasa, tidak baik marah-marah”, “Kamu puasa tidak, kok gaya bicaranya meremehkan orang”, “Kalau tidak puasa, karena kurang ajarnya dia, saya bakar rumahnya!”, dll. Atau, ada ajakan, “Ini bulan puasa, sebaiknya diisi dengan kegiatan bermanfaat!” Lho, kalau tidak bulan puasa memangnya, tidak diisi dengan kegiatan bermanfaat.

Hebatnya lagi, orang berbohong di bulan suci ini pun, kalau dia berkata, “Sumpah, mana mungkin saya berbohong di bulan puasa ini. Bisa batal puasa saya!”, kita dengan mudah akan terpengaruh. Begitu juga, ketika kita berbohong, lalu diancam orang, “Ini bulan puasa! Jangan bohong ya, dosa kamu nanti!”, akhirnya, semula mungkin akan tetap bohong, tapi karena “ini bulan puasa”, kita cepat-cepat mengaku.

Kita kadang makhluk yang suka membuat kebaikan di satu sisi, meruntuhkan kebaikan yang lain di sisi lain. Kita cenderung memaksakan sesuatu sesuai apa yang kita inginkan dan pikirkan, sehingga kebenaran adalah apa yang enak di depan mata walau menutup mata tanpa sadar untuk yang lebih hakiki di bagian lain.

Bulan Ramadan adalah bulan suci, bulan ampunan, takut orang berbuat dosa. Sehingga, akibat pemahaman yang dangkal, ilmu rendah pula, sehabis puasa, selepas idul fitri, merasa bayi kembali. Merasa tiada dosa. Karena apa? Karena merasa, berbuat baik telah dilakukan atas nama bulan puasa, yang katanya penuh ampunan.***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top