Demam Cengkeh dan Hantu Komunis

Berkat demam cengkeh, kampung-kampung di sepanjang Bandar Sepuluh giat membangun masjid dan mushala, tapi lupa membangun orang-orang yang akan memakmurkannya. Sehingga, jika Ramadhan tiba, peninglah pengurus mencari guru alias mubalig alias penceramah alias ustad untuk mengisi pengajian di masjid dan mushala mereka yang megah. 

Beruntung dan sekaligus repotlah para guru karena jumlah mereka yang sedikit. Dalam semalam, guru bisa pindah dari satu masjid ke masjid lain. Dengan strategi begitu, dapat tetap makmurlah masjid dengan wirid. Beruntung jugalah Ustad X karena undangan mengisi wirid kepadanya ramai berdatangan. 

Tapi, ada satu masjid di situ yang jarang sekali mengadakan tausiah Ramadhan. Hanya sekali-sekali diisi pemuka setempat yang sedikit-sedikit pandai juga mengutip hadis dan ayat, tapi sayangnya jumlahnya terlalu kelewatan sedikit. Karena keseringan, bapak itu ke itu saja yang mengisi pengajian, jemaah menjadi bosan. Akhirnya, lebih sering, setelah isya, langsung saja tarawih + witir = pulang >> makan kolak sisa berbuka.  

Sebabnya adalah sebuah kisah simpang-siur:

Entah pada malam Ramadhan ke berapa dalam penanggalan Muhammadiyah, Ustad X yang tidak pernah menolak undangan wirid pulang dari motor bututnya setelah mengisi pengajian di masjid itu. Di tengah perjalanan, ketika melewati pesawangan (kawasan kosong antarkampung) dia merasa motornya amat berat seolah-olah tengah membonceng 2 ekor gajah. 

Sekalipun Ustad X hafal seluruh surat dalam juz 30 dan dapat menukil sepertujuhbelas isi kitab Shahih Bukhari, karena alasan yang tidak dapat dimengerti, dia tergidik juga, takut datang tanpa dapat dihadang.  

Ustad X, karena itu, lalu memacu sepeda motornya kencang-kencang. Sampai-sampai tangannya nyaris terpelintir karena memutar gas pada stang. Dalam kondisi sedang kecepatan penuh begitu, tiba-tiba saja, tak lebih dari sekejab mata, di hadapannya telah berdiri sosok perempuan berkebaya merah-marun dengan rambut putih terurai panjang-menjela hingga ke aspal. 

Karena terkejut bercampur takut itulah, naluri pembalap Ustad X refleks saja mencoba mengelak dengan membanting stang motornya. Bersebab jalan berpasir karena lama hujan tak datang ditambah ban motor sudah botak tak ketulungan, maka jatuhlah dia berguling-guling ke dasar lembah yang syukurlah tidak dalam-dalam amat bersama motor bututnya yang sudah tidak jelas lagi wujudnya setelah itu.  

“Itu pasti hantu Gerwani, Guru!” kata seseorang di kedai kopi. 

“Ke lembah itu dulu tentara membawa orang-orang Komunis, membariskannya di dasarnya, dan memberondongnya dari tubir jalan. Lalu menimbunnya begitu saja,” kenang yang lebih tua.

Cerita tentang jatuhnya Ustad X dari motor cepat betul tersebar bagai api membakar hutan di musim panas. Maka sejak kejadian itu, tak seorang ustad pun di sepanjang Bandar Sepuluh yang mau berceramah lagi ke masjid di kampung itu. Kalau ditawari pengurus, selalu saja jawabnya, “Jadwal ambo sudah penuh sebulan ini, Pak Pengurus!” 

Selain karena honornya semakin kecil bersebab demam cengkeh yang cepat sekali berakhir, belum lagi jaraknya yang agak jauh lagi terpencil, tetapi juga karena alasan yang hanya disebut diam-diam: Takut terbonceng hantu PKI! 

Padahal, kalau ditelisik-telisik benar, Ustad X jatuh dari motor karena kecapekan saja, lelah bercampur kurang tidur belaka, karena memang tiap malam dia harus mondar-mandir dari masjid ke masjid mengisi wirid.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top