
Pada tahun 1955, Ali Akbar Navis menerbitkan sebuah cerita pendek berjudul “Robohnya Surau Kami” di majalah Kisah. Ceritanya tentang seorang lelaki tua penjaga surau yang menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur yang diasahnya sendiri dengan sangat tajam. Sejak Kakek Garin, lelaku tua itu, bunuh diri, tidak ada lagi yang mengurusi surau tersebut, kayu-kayunya diambil satu-satu oleh ibu-ibu yang butuh kayu bakar, sedangkan pagarnya dicabuti anak-anak yang mau membuat layang-layang.
Saya tinggal di sebuah kampung dekat tempat di mana latar cerita itu konon berasal. Buku yang memuat cerita itu telah diterbitkan ulang oleh penerbit yang tidak lagi sama untuk cetakan 89 pada 68 tahun kemudian. Pada suatu malam yang dingin di kedai kopi, saya bertanya kepada seseorang lelaki tua tetangga jauh saya yang bekerja sebagai marbot di masjid kampung itu, apakah dia pernah mendengar kisah sebuah surau di sekitar sini yang telah lapuk lantas runtuh setelah garinnya bunuh diri dengan sebuah pisau cukur yang diasahnya sendiri?
Alih-alih menjawab pertanyaan saya, ia malah sibuk bersungut-sungut sembari mengatakan bahwa sang tokoh betul-betul tolol sekaligus sesat. Seharusnya dia tidak perlu melakukan itu. Percaya pada bual-bual tanpa dasar dari seorang pembual di kedai kopi yang memang disediakan untuk menguji ketangkasan membual? Pilihan Kakek Garin dalam cerita konyol itu, telah membuat citra marbot di seluruh alam Minangkabau menjadi buruk, bahkan mungkin juga di seluruh jagat dunia Islam, katanya dengan muram. Tadah kopinya bergetar ketika dia meletakkan gelas dengan agak lebih keras setelah meminum regukan yang terakhir.
Marbot di masjid di kampung itu tinggal jauh dari keluarganya. Dia hanya pulang sekali seminggu. Dia punya sepetak kecil ladang yang diusahakannya yang terletak tidak jauh dari masjid untuk mengisi-ngisi hari di sela-sela mengimami 5 waktu sembahyang. Selain mengurusi ladang kecilnya itu dan menjadi imam, dia juga mengajar anak-anak kampung mengaji Quran setelah ashar. Membersihkan masjid sekali sejumat. Menggosok lantai tempat berwuduk sekali 3 hari. Selebihnya, setelah isya, kalau tidak lelah betul, dia akan singgah di kedai kopi. Ketika itulah saya kadang-kadang bertemu dengannya, dan kadang-kadang pula terlibat obrolan biasa untuk mengisi kebisuan di jeda-jeda iklan televisi atau kebosanan menatap layar ponsel masing-masing. Kedua perkakas persegi itu sedikit-banyak telah mengurangi kemampuan manusia berbual-bual.
Boleh jadi, A.A. Navis mengarang ceritanya itu tanpa berpikir terlalu panjang akan akibat yang akan ditanggungkan para marbot seantero alam Minangkabau dan di seluruh jagat semesta di masa yang jauh kemudian. Di dunianya masa itu, profesi marbot bukanlah profesi yang diincar-incar banyak orang. Dapat dikata, itu bukanlah jadi bagian dari profesi. Tidak jarang, posisi marbot alias garin dianggap rendah belaka. Namun sekarang, ada banyak informasi di grup-grup whatshapp soal penerimaan marbot dengan gaji yang cukup dan tunjangan hidup yang menarik untuk seorang yang hidup membujang, bahkan masih memadai untuk yang punya keluarga kecil. Masjid-masjid semakin banyak dibangun dan tak banyak orang yang mau menjagainya siang dan malam. Jadi, profesi ini sangat dibutuhkan sehingga punya daya tawar yang menjanjikan.
Di tengah menaiknya daya tawar profesi ini di tengah masyarakat, garin di kampung kami justru meminta berhenti. Begitu tiba-tiba. Tidak ada yang bakal menyangka, dan memang tidak ada tanda-tanda. Dia terkadang memang ketiduran sehingga subuh lewat tanpa azan, tapi toh tidak ada juga yang bakal mempermasalahkan, tidakkah marbot bukan mesin yang bisa disetel dengan pasti seperti weker atau alarm ponsel. Bahkan mesin saja juga tak selamanya bisa tak tepat waktu, kadang baterainya sudah lemah, atau ada bagian tertentunya yang rusak. Terkadang dia juga ‘menghilang’ dari masjid beberapa hari karena ada hajatan di kampungnya, toh masyarakat juga sudah memaklumi belaka. Manusia mana yang tidak punya urusan ini dan itu.
Lalu, telah terdengar saja kabar, kalau Ustad Garin itu mengundurkan diri. Dia menghitung, dengan pas dan pasti, 10 tahun 2 bulan 17 hari. Tepat di hari keberangkatannya, murid-murid mengajinya mengarang puisi sedih untuk melepas kepergiannya. Tim rabana latihan cepat-cepat dengan memilih lagu sendu untuk ditampilkan pada malam kepergian marbot yang dilepas dengan wirid sederhana. Ada pengantar dari pengurus masjid. Ada kata-kata penghabisan dari sang marbot. Ada kesan dan pesan dari salah seorang jemaah yang tertua. Jadi, perpisahan itu berurai air mata juga. Sebelum mobil jemputan, disopiri seorang keponakan, anak-anak mengajinya melambai-lambaikan tangan berbaris setengah bergayut di pagar-pagar masjid demi melepas guru mengaji mereka.
Jadi, memang, tidak ada yang tahu alasan sebenarnya kepergian marbot itu yang sekonyong-konyong. Dia, dalam sambutannya, hanya mengatakan kalau kaum persukuannya baru-baru ini telah mengangkatnya menjadi datuk. Jadi, dia pemimpin adat bagi sukunya sekarang. Saya harusnya tidak memanggilnya Ustad Garin lagi tiap bertemu, tetapi harusnya Engku Datuk. Tugas kepenghuluannya itu yang membuatnya harus memutuskan untuk berhenti jagi garin. Memang tidak elok juga kedengaran, seorang datuk, kepala kaum, pemimpin suku, jadi marbot. Pada titik itulah saya menyadari, martabat profesi marbot belumlah naik seperti yang dikira banyak orang, masih juga terpuruk seperti yang sudah-sudah, sekalipun sudah ada gaji tetap yang layak, dan kelangkaan yang membuatnya menjadi terkesan jadi mahal sebagaimana dalam teori permintaan dan penawaran.
Hanya saja, apakah tidak seorang pun yang punya pikiran kalau si marbot mengundurkan diri setelah saya sarankan membaca cerpen Robohnya Surau Kami karangan A. A. Navis yang terkenal itu?
Sebelum dia berangkat pulang-habis malam itu, dia sempatkan juga menyinggahi kedai kopi. Dan kami bertemu lagi, untuk yang ke sekian kali, dan untuk yang terakhir kali, menyampaikan kepada saya kalau dia sudah membeli buku yang “kita ceritakan tempo hari”.
“Ada rupanya di Pasar Lereng,” katanya tampak girang.
Dia tersenyum-senyum saja, sembari menggoyang-goyangkan kaki dan menelekan kedua sikunya ke atas meja. Perpisahan tidak menyedihkannya. Berhenti dari pekerjaan yang telah lama dilakoninya tidak tampak membuatnya gusar. Kopinya baru saja datang, dan teh pesanan saya sudah hampir habis. Saya undur diri, “Selamat saja di jalan, Ngku!” Kami bersalaman. Lebih hangat dan lebih lama dari biasa. Saya menyalami kemenakannya juga. Setelah minum kopi, dia tentu akan segera menaiki mobilnya, yang sudah penuh barang-barang, yang akan membawa bekas marbot itu pulang ke kampungnya. Ke kaumnya, yang sangat membutuhkannya.
Malam berikutnya, marbot baru datang.
Lantunan azannya sudah lain. Bacaan ayatnya juga sudah lain.



![Humor [dan] Islam](https://www.cagak.id/wp-content/uploads/2025/10/sadvcty3tgg-1024x612.jpg)
