Rumah-Rumah Kertas di Yogyakarta (1): Berdikari dan Raja Murah Bahagia di Dunia Perbukuan

Gumilar, Berdikari Book. (Foto: Radja Sinaga)

Melalui Radja Sinaga, cagak.id menghadirkan liputan rumah kertas, sebuah kiasan untuk menyebut toko buku independen. Rumah kertas, rumah bagi buku-buku (kertas). Tulisan ini mengangkat keberadaan toko buku di Yogyakarta, yang akan dibagi menjadi dua tulisan. Ini bagian pertama (1).


There is no friend as loyal as a book
— Hemingway

Yogyakarta telah lama melekat dengan istilah “istimewa”. Pantai selatan yang indah, hamparan kehijauan pada pegunungan, kampus-kampus bergengsi di Indonesia, sejarah atas Keraton Yogyakarta dan Mataram Islam. Namun semua itu tidak menjadi lengkap agaknya tanpa melihat bahwa Yogyakarta adalah “rumah kertas”. Ya, rumah kertas, dalam artian, Yogyakarta menjadi istimewa (juga) karena kehadiran toko-toko buku independen.

Di Yogyakarta, mencari toko buku semudah mencari bakpia— oleh-oleh khas Yogyakarta. Kehadiran toko-toko buku di Yogyakarta sepenuhnya berangkat dari kecintaan. Masing-masing toko buku membawa cerita, dinamika, dan nuansa yang berbeda-beda. Menariknya, di Yogyakarta, seseorang bisa membeli buku lebih murah dari harga satu gelas es teh Solaria. Atau seseorang yang beranggapan esensi buku adalah isinya tentu bisa menyewa buku layaknya menyewa kendaraan kala berliburan di Yogyakarta.

Yang Berdiri untuk Generasi

“Kalau di rumah sih terserah anak-anak ya. Sebenarnya budaya membaca buku di rumah saya nggak ada. Ya itu tadi pada lebih senang baca komik, main PS,” kata Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka saat berbincang bersama Najwa Shihab dalam acara peresmian Pojok Baca di Kedai Markobar Makassar pada Oktober 2017.

Berbeda dengan Gibran dalam keluarganya, Dana Gumilar meyakini buku sangatlah penting bagi kehidupan pribadi, keluarga, dan kolega meski dirinya mengaku bahwa menjual buku di Indonesia tidaklah mudah, terlebih menjual buku di e-commerce. Anggapan itu diyakini Gumilar tidak serta-merta hanya berada di tangan dalam lingkaran penerbitan dan toko buku. Akses bacaan dengan harga yang bersahabat sebenarnya merupakan tugas negara. Namun, dirinya menganggap hal tersebut sangatlah mustahil didengar dan menjadi pertimbang serius bagi negara.

Penjualan buku di e-commerce hari-hari ini betapa mencekik para pedagang buku. Meski kemudahan berbelanja menjadi jargon dalam e-commerce, hal tersebut tetap menyisakan problematika yang akut. Dalam hal ini dimaksud adalah potongan-potongan yang disediakan e-commerce sehingga membuat harga awal jual yang ditetapkan toko buku dipangkas habis harganya. Tindakan itu tentu membuat margin harga buku hancur dan siklus kehidupan toko buku menjadi terganggu.

“Cuman negara kita kan keterlaluan ya! Wapresnya aja ngga baca buku, jadi ngga punya keseriusan isu baca sebagai budaya,” kata Gumilar sambil menyembat rokoknya.

Gumilar dikenal luas dalam dunia perbukuan di Indonesia melalui Berdikari Book. Sebuah toko buku independen yang dimulai sejak Agustus 2014. Kehidupan awal Berdikari dimulai dari kamar kos milik Gumilar. Dirinya mengerjakan penjualan buku itu awalnya seorang diri saat masih menjadi mahasiswa di Yogyakarta. Dalam menyiasati ketimpangan harga lantaran potongan-potongan yang dimiliki e-commerce, Berdikari menjadi galau. Pasalnya jelas, voucher-voucher yang digelontorkan e-commerce kian hari kian mengerikan lantaran potongan harga semakin tinggi nominalnya.

Selama Berdikari ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. (Foto: Radja Sinaga)

Di samping itu, Berdikari yang sejak semula telah konsisten memberikan diskon harus turut memangkas diskon yang mereka beri sendiri menjadi lebih kecil persentasenya. Gumilar juga keberatan untuk menaikan harga buku dengan mempertimbangkan upah minimun yang tergolong rendah. Alhasil, hari-hari ini, Berdikari terpaksa menjual buku-buku mereka di e-commerce dengan diskon yang kecil bahkan tanpa diskon.

Kendati demikian, Berdikari yang memiliki slogan “Selama Berdikari adaselama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, diskon dan free ongkir setiap hari” sejak semula memiliki aplikasi dan website tersendiri menyarankan untuk membeli buku dari dua opsi tersebut. Melalui aplikasi dan website Berdikari harga buku yang dijual lebih hemat.  

“Kalau tidak begitu kami nanti akhirnya bisa mati. Ya itu alternatif-alternatif seperti yang kami lakukan, ketimbang berharap ke negara ya…, ngga mungkin juga,” tuturnya.

Saat dijumpai di bilangan Elang Jawa, No 29, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Gumilar tengah asyik menatap layar laptopnya. Di seluruh ruangan tersebut, rak-rak yang nyaris menyentuh langit-langit rumah dijejali buku-buku. Di tengah ruangan, terdapat meja yang juga digunakan untuk meletakkan buku-buku pula. Di bagian samping, Berdikari menyediakan ruang baca, semacam perpustkaan, yang bisa diakses siapapun. Sementara di bagian halaman terdapat beberapa meja dengan bangku yang bisa dijadikan opsi lain untuk membaca.

Beberapa orang silih berganti datang ke Berdikari saat saya menyambangi tempat tersebut. Sepasang anak muda—lelaki dan perempuan—menyusuri tiap-tiap baris tulisan di punggung buku, dua orang yang berasal dari daerah Jabotabek memboyong beberapa buku sekaligus minuman yang memang juga dijual oleh Berdikari.

Tempat Berdikari yang saat ini bisa dikunjungi siapa pun merupakan tempat ketiga dalam kurun nyaris 12 tahun perjalanannya. Gumilar menyatakan niat dirinya menjual buku, yang kemudian menjadi toko buku Berdikari, karena memerlukan dana tambahan saat menjadi mahasiswa rantau. Dan Gumilar berterus terang bahwa usaha berjualan buku bukan jenis usaha yang pertama dicobanya.

Kendati demikian, berdirinya Berdikari hingga saat ini dikarenakan kecintaannya kepada buku-buku. Awal-awal Berdikari masuk ke gelanggang penjualan buku di indonesia, Gumilar telah menjadi seorang pembaca yang rutin. Baginya, saat itu, ketika pertama kali merintis Berdikari, dan buku-buku yang dijual tidak laku, Gumilar tidak risau, pasalnya jelas bahwa buku yang dijual toh bisa dibaca dirinya sendiri.

“Ya, walaupun sebelumnya udah coba-coba yang lain juga. Artinya ngga langsung ke buku. Kemudian karena waktu memulai Berdikari juga sudah mulai rutin membaca, jadi ya udah langsung buku aja diperjualkan, kalau ngga laku bisa dibaca sendiri,” kata Gumilar.

Bagi Gumilar, mendirikan Berdikari tidak semata-mata untuk mencari keuntungan. Gumilar melihat bahwa buku-buku sangat berguna bagi generasinya. Generasi ini bagi Gumilar sangatlah sederhana. Dirinya menginginkan setidaknya untuk anak-anaknya dan orang-orang yang ada di balik Berdikari hidup dalam ekosistem buku.

Gumilar membayangkan bahwa keluarganya, terutama anaknya, tidak merasa asing dengan buku kala dalam proses bertumbuh tersebut, terlihat jelas bahwa kehidupan Gumilar berkutat dalam tumpukan-tumpukan buku. Di sinilah Berdikari menjadikan orang-orang dekat Gumilar membuat jarak dengan buku sangatlah tipis.

Mendirikan Berdikari bagi Gumilar juga membuat anaknya mampu mengembangkan imajinasi. Pikiran anaknya dan juga orang-orang terdekat dalam lingkup Berdikari makin terbuka. Melihat itulah Gumilar betapa gembira.

Selain itu, Gumilar ingin mematahkan siklus penurunan pedagogik keluarga. Berdikari hadir baginya menjadi jalan lain bagaimana mengasuh anak. Buku-buku yang dibacanya banyak membantu membuat tumbuh kembang anak menjadi lebih baik, di samping pelajaran-pelajaran yang dibawa Gumilar dari orang tuanya.

“Maksud saya, misalkan saya punya anak, saya akan mendidik anak saya berdasarkan pengalaman apa yang saya alami dididik orang tua saya, itu akan saya teruskan kepada anak saya secara tidak sadar. Nah tetapi ketika saya hidup dengan buku, siklus itu terpatahkan,” akunya.

Kecintaan Gumilar yang terletak di Berdikari juga memberikan harapan atas penerbit-penerbit yang mencetak buku dalam skala terbatas, yang otomatis tidak bisa dijangkau toko buku seperti Gramedia. Jalan yang ditempuh Berdikari ini merupakan misi utama yang sejak lama telah ada.

“Misi utamanya ini sih, buku-buku yang ada di “toko biru”, itu di toko merah ada, tapi tidak berlaku sebaliknya,” bebernya.

(Foto: Radja Sinaga)

Saat ini Berdikari memiliki lebih dari 20 ribu katalog dengan lintas genre, baik itu buku sastra, sosial, sejarah, budaya, parenting, agama, terjemahan, dan lain-lain. Jumlah tersebut membuat Berdikari sebagai toko buku terbesar di e-commerce, sampai-sampai mengalahkan total katalog “toko biru”.  Dalam memasarkan seluruh katalog itu, Gumilar bersama rekan-rekan di Berdikari mengaku mengandalkan seutuhnya akses sosial media. Namun, baginya, dengan seluruh akses memasarkan buku-buku di dunia maya, entah melalui sosial media, e-commerce, sampai website-aplikasi pribadi Berdikari, tetap saja menggaet pembeli tidak menjadi mudah pula.

Berdikari yang percaya buku sebagai perkakas, kehidupan dikelilingi buku-buku, sebagaimana awal-awal Gumilar yang memulai Berdikari mengaku semua penjualan yang berhubungan trik marketing dilakukan sebagaimana dirinya memerlakukan kepada keluarga dan teman-teman di Berdikari. Kecintaan itulah yang kemudian disebarkan melalui sosial media dan dibaca banyak pengguna. Karena itu pula, Gumilar tidak ambil pusing apabila akhirnya ada yang tertarik dan mulai terpantik membaca atau sekadar mengunggah ulang konten sosial media Berdikari.

“Dan kami ngga bisa matok harus belinya di Berdikari.”

Aktifnya Berdikari di sosial media, terutama dalam melakukan ulasan buku-buku, membuat banyak orang salah kaprah dengan menganggap Berdikari sebagai toko buku kiri. Padahal yang dilakukan Berdikari sedari mula adalah menghapus batas atas sensor terhadap buku-buku dan alasan bahwa banyak buku-buku yang diklaim sejumlah pihak sebagai kiri banyak dijual oleh Berdikari. Cara itu, sekali lagi, adalah niat Berdikari bahwa buku adalah ruang budaya.

Meski kadung dilabeli “toko buku kiri”, dinamika yang dilalui Berdikari juga tak boleh dianggap remeh. Awal-awal lahir, Berdikari setiap hari diteror oleh, yang disebut Gumilar, ormas putih. Intensitas teror lambat laun menurun seraya ormas putih akhirnya dibubarkan. Di samping ormas, intel tak luput ambil bagian dengan memata-matai Berdikari. Acap kali, intel mendatangi langsung Berdikari. Tindakan-tindakan tersebut disinyalir lantaran tempat Berdikari yang sebelumnya tampak tertutup dan memberikan kesan subjektif yang tidak baik atas Berdikari.

Titik teror-meneror ini pernah mencapai puncaknya saat tiga kompi pasukan berseragam menyambangi Berdikari. Namun hal itu bukan karena konten-konten Berdikari di sosial media atau pun aktivitas lain yang memang dilakukan Berdikari.

“Cuman karena ada kesalapahaman, ada orang iseng, menantang tentara, kemudian ngasih alamat, nah alamatnya dikasih Berdikari,” jelasnya.

Pada usia nyaris 12 tahun, Berdikari berharap dunia perbukuan Indonesia benar-benar diurus secara serius oleh pemerintah. Gumilar yakin di tengah adanya subsidi hingga pengurangan pajak atas perbukuan tidak semata-mata membuat Indonesia benar-benar duduk sebagai bangsa yang memiliki kecintaan terhadap buku. Semua yang hari-hari ini dilakukan pemerintah terhadap dunia perbukuan Indonesia semata-mata hanyalah formalitas.

Perpustakaan Berdikari. (Foto: Radja Sinaga)

Hal itu diyakini Gumilar lantaran akses rasa terhadap buku belum benar-benar terealisasikan dengan tepat. Di tengah banyaknya perpustakaan dan akses kemudahan bukan menjadi titik utama bahwa membaca buku sesuatu yang vital. Gumilar meyakini titik Indonesia mapan dalam aspek membaca buku ketika para pejabat, kebijakan-kebijakan yang mempertaruhkan kehidupan rakyat Indonesia, tokoh-tokoh pemangku jabatan lekat dengan penyematan seorang pembaca.

Apabila titik itu telah dicapai maka Indonesia benar-benar menjadi bangsa yang bermatabat. Masyarakat pun menjadi naik kelas dalam aspek intelektualitas. Namun nyatanya tidak demikian. Gumilar pun menyebut kondisi hari ini, dalam dunia perbukuan, sebagai pembaca tanpa kepala.

“Ketika buku tidak dijadikan instrumen utama seperti yang kita alami, harganya sangat mahal, lebih mahal dari UMR harian, itu contoh konkret dari negara yang tidak peduli bacaan, kalau tidak peduli lalu apa yang mau dijadikan perkakas, dari mana gagasan itu lahir?” tanya Gumilar.

“Contohnya Laut Bercerita, dan itu salah satu bestseller, bahkan mega bestseller, buku-buku Pram kalau dicetak langsung habis, buku-buku sejarah, poin yang ingin saya sampaikan, ya nyata-nyata, Soeharto juga masih diangkat tuh jadi pahlawan nasional. Ya kemudian masyarakat yang baca, ya sekadar baca. Kalau saya menyebutnya pembaca tanpa kepala karena tidak memantulkan pemahaman,” lanjutnya.

Di tengah carut-marut itu, tetap saja, Gumilar tetap senang dan berbahagia berada di dunia perbukuan di Indonesia. Gumilar mengingat-ingat yang membuat dirinya cinta terhadap buku-buku selain faktor generasi, datang dari para pembaca. Gumilar mengenang bagaimana konten-konten mereka yang menyentuh pengguna sosial media. Tak sedikit unggahan Berdikari diapresiasi dengan berbagai cara. Bahkan dari orang-orang yang mengucapkan terima kasih tersebut menjadi suka membaca. Hal-hal yang tampak kecil itu nyatanya sangat bermakna bagi Gumilar dan Berdikari. Pencapaian yang memang tidak masuk dalam urusan laporan keuangan.

“Itu pencapaian-pencapaian yang tidak masuk dalam laporan keuangan. Kami sudah berjalan, Agustus 2026 sudah 12 tahun, itu juga menjadi pencapaian tersendiri ya bisa jalan, tidak terasa sudah berjalan 12 tahun walaupun dengan segala lika-likunya,” pungkas Gumilar seraya meminta maaf karena harus melanjutkan pekerjaan.

Ada untuk Menjaga Siklus Kehidupan Penerbit-penerbit di Indonesia

Kala kendaraan di parkirkan, pengunjung bisa dengan mudah mengira betapa luasnya Toko Buku Raja Murah. Rumah kertas satu ini cukup berbeda karena memang bangunannya merupakan gedung yang menjorok ke belakang. Saya mengunjungi salah satu tempat gudang TB Raja Murah yang berletak di Jalan Mrisi No 10, Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di bagian muka, di sebelah kiri melalui arah masuk, buku-buku disusun rapi. Masuk lebih dalam, di kanan-kiri pengunjung akan disuguhkan etalase buku non-fiksi dan fiksi. Dan setelah itu tampak gudang TB Raja Murah.

TB Raja Murah, Buku Murah. (Foto: Radja Sinaga)

Di gudang itu, tiap buku ditumpuk dengan ketinggian yang melebihi rata-rata tinggi badan orang dewasa. Dari ujung ke ujung yang tampak hanyalah buku-buku semata. Suasana itu seperti masuk ke sebuah labirin, pasalnya pengunjung tidak boleh asal masuk belaka karena sepetak jalan bisa tertutupi barisan buku. Pengunjung harus siap pula menajamkan pandangan untuk melihat judul-judul buku. Yang pasti, mencari buku di TB Raja Murah melelahkan yang menyenangkan.

Pengelola gudang tersebut bernama Arya Setiawan atau juga dikenal Wawan. Wawan merupakan anak dari perintis TB Raja Murah. Kala didatangi, Wawan tampak sibuk mengemasi buku-buku di depan pintu masuk gudang, tak jauh dari meja kasir.

TB Raja Murah memulai kiprah penjualan buku sekitar tahun 1980-an. Awal-awal dilakukan oleh Fanani, orang tua Wawan. Saat itu Fanani yang merantau dari Lamongan ke Yogyakarta sebagai mahasiswa. Di sela-sela berkuliah, TB Raja Murah didirikan. Namun, orang tua Wawan lebih kepincut untuk konsisten dalam penjualan buku. Saat TB Raja Murah berdiri, Wawan masih bersekolah putih merah.

Sepanjang perjalanannya, TB Raja Murah berpindah-pindah tempat. Awalnya dibuka di Taman Pintar, Jalan Panembahan Senopati, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi DIY.

“Dulu sebelum Taman Pintar, Melia Purosani ikut merintis. Terus pindah di Kantor Pos Yogyakarta, pindah di Shooping Center, saya masih SD,” tutur Wawan di depan gudang TB Raja Murah.

Ekspansi TB Raja Murah pun mulai tampak kala melakukan tur pameran buku di sejumlah daerah di Indonesia. Namun sayangnya, pada rentang tahun 2020, pandemi Covid-19 melanda. Pemerintah menetapkan kebijakan pembatasan sosial. Tur pameran pun secara mau tidak mau ikut mematuhi aturan.

Tak mau sekadar meratapi belaka, TB Raja Murah mulai melebarkan sayap penjualan buku secara online. Dari keputusan berjualan online, tur pameran akhirnya tidak lagi diadakan. Dan akses tidak melulu menyelesaikan banyak soal, pasalnya sebagaimana penjual buku yang mengandalkan marketplace dalam berniaga, problematika kebijakan pemilik marketplace membuat harga buku tidak stabil. TB Raja Murah yang terkenal menjual buku-buku murah harus memikirkan cara lain agar citra baik dan kepercayaan konsumen tidak patah akhirnya.

TB Raja Murah pun terpaksa menaikkan harga buku. Meski kenaikan harga lebih kepada pertimbangan adanya biaya admin marketplace dan beban pengemasan. “Tapi kan kadang ada orang yang beli online itu karena pertama irit bensin, yang kedua dia punya potongan harga. Tidak ada kendala terhadap penjualan,” kata Wawan.

Di tengah narasi Indonesia memiliki minat membaca rendah, Wawan menepis hal tersebut. Menurutnya survei-survei yang menyoalkan tingkat membaca tidak relevan apabila melihat kondisi penjualan TB Raja Murah. Kian hari, TB Raja Murah makin banyak pembeli.

Pembeli ini menurut Wawan sangatlah unik. Segmentasi yang terjadi di TB Raja Murah benar-benar mengikuti pola hari. Di akhir pekan, TB Raja Murah lebih condong menjual buku-buku anak karena banyak orang tua menghabiskan akhir pekan untuk membeli buku. Sementara di hari kerja, TB Raja Murah tak henti-henti didatangi pembeli dari mahasiswa-mahasiswa di Yogyakarta.Seperti namanya, TB Raja Murah menjual buku dengan harga yang memang benar murah. Wawan menyebutkan kalau buku-buku yang dijual di TB Raja Murah berkisar dari Rp3000 dan yang paling mahal dibanderol Rp30.000.

Buku-buku murah di “Raja Murah”. (Foto: Radja Sinaga)

Namun sebenarnya, kehadiran TB Raja Murah bukan semata-mata untuk pembaca. Lebih jauh lagi dari itu, harga murah yang ditawarkan TB Raja Murah sebagai itikad untuk kehidupan penerbit-penerbit di Indonesia. Untuk tetap menjaga rantai pasokan harga buku murah, TB Raja Murah membeli dalam skala yang besar langsung kepada penerbit. Pembelian ini tidak dipandang sebagai monopoli pasokan. Hanya saja, tutur Wawan, sistem perbukuan Indonesia bergerak sangat cepat, tiga bulan sekali toko-toko buku raksasa memperbarui katalognya. Otomatis buku-buku yang belum kunjung laku dipulangkan ke penerbit.

Alih-alih hanya berdebu di gudang, TB Raja Murah menampung buku-buku tersebut. Membeli dalam jumlah besar. Trik ini pula membuat banyak penerbit bisa kembali tetap melakukan pernebitan buku-buku baru.

Tak sampai di situ, penerbit-penerbit yang nyaris gulung tikar dan yang telah gulung tikar juga turut masuk dalam radar TB Raja Murah. Sekali lagi, siasat ini meringankan beban kerugian bagi penerbit tidak membengkak terlalu lebar. Siklus yang sederhana dan terpenting siklus yang menjelaskan bahwa buku-buku yang dijual tidak palsu.

“Bukunya itu biasanya kita borong semua. Dengan sistem cash. Jadi menekan hukum ekonomi, barangnya banyak kita beli semua, harganya bisa murah,” jelasnya.

TB Raja Murah yang telah berdiri lebih seperempat abad ini menurut Wawan membekas dalam ingatannya. Terlampau banyak kenangan selama menjual buku yang tak bisa dilupakan. Terutama bagi Wawan bagaimana menjual buku membuatnya dapat memahami psikologis serta keadaan ekonomi di berbagai tempat yang mereka sambangi selama tur pameran buku berlangsung.

Layaknya di Rembang, Jawa Tengah. Wawan melihat dearah itu memiliki minat baca yang bagus. Sebagai daerah yang berada di pinggir laut, penjualan buku di Rembang bisa sukses apabila hasil tangkapan nelayan juga memumpuni. Wawan melihat dari sana bagaimana rantai penjualan buku sangat terikat dengan ekonomi-ekonomi masyarakatnya.

Selain itu, berinteraksi dengan orang-orang baru, membantu calon pembeli mendapatkan buku yang tengah dicari, menawarkan buku-buku bagus kepada pembaca adalah hal lain juga yang menjadi dopamin bagi Wawan. Kini TB Raja Murah memiliki empat gudang yang berletak di Sleman dan Bantul. Sementara itu terdapat kios yang masih senantiasa menjual buku di Taman Pintar. Wawan mengaku tiap-tiap gudang itu paling tidak memiliki jutaan buku yang siap dijual.

TB Raja Murah yang awalnya berdiri dari emperan, kaki lima, kemudian menjadi sebesar ini karena pembaca. Wawan mengaku bahwa TB Raja Murah semkain menggema namanya dan membuatnya menjadi percaya masih banyak orang di Indonesia cinta membaca.

“Jadi saya pun senang sekali, saya kira wong mboco buku nganu opo yo, punah, ternyata engga e, masih ada,” aku Wawan, yang setelah itu menyodorkan saya buku tentang sejarah Hardcore Punk karya Pushead.[]


Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top