
Suara yang Menembus Batas
Rekaman suara itu pernah beredar luas di jagat maya: suara seorang anak perempuan Palestina yang terjebak di dalam mobil, memohon pertolongan di tengah rentetan tembakan. Ia adalah satu-satunya yang masih bertahan hidup setelah mobil yang ditumpanginya bersama keluarga diberondong serangan tentara Israel. Suara kecil yang gemetar itu menembus batas bahasa dan geografi, membuat dunia yang jauh terasa begitu dekat.
Suara tersebut kini menjelma menjadi bentuk visual melalui tangan Kaouther Ben Hania, sutradara asal Tunisia yang mentransformasikan tragedi itu ke dalam docudrama berjudul The Voice of Hind Rajab. Film ini pertama kali tayang di Festival Film Internasional Venesia ke-82 pada 3 September 2025. Sejak pemutarannya, film ini menjadi salah satu karya yang paling banyak dibicarakan karena keberaniannya mengolah arsip suara menjadi pengalaman sinematik yang intim dan menekan. Film The Voice of Hind Rajab juga baru saja masuk dalam daftar nominasi Oscar untuk Film Fitur Internasional Terbaik.

Ketegangan yang Bertahan dalam Ruang
Film ini bukan tontonan yang mudah. Selama durasinya, penonton dipaksa bertahan dalam satu situasi krisis yang nyaris tanpa jeda: panggilan telepon antara Hind Rajab atau Hanood, gadis enam tahun dan petugas pusat layanan darurat Palestina. Mobil yang ia tumpangi telah dihantam tank militer IDF. Keluarganya telah tewas ditembak. Ia sendirian. Panggilan itu berlangsung lama, dan dalam kelamaannya itulah tekanan dibangun.
Ketegangan bahkan telah dirasakan sejak sebelum panggilan Hanood tersambung. Film memperlihatkan bagaimana saudara Hanood terlebih dahulu mencoba menghubungi layanan darurat, sebelum sambungan tiba-tiba terputus. Ketika suara Hanood akhirnya terdengar, kita tidak hanya mendengar seorang anak yang meminta dijemput, kita menyaksikan waktu yang berjalan lambat, ketidakpastian yang memanjang, dan sistem yang tak mampu menembus situasi genting tersebut.
Sebagai transformasi dari medium audio ke visual, film ini tidak memilih merekonstruksi kondisi Hanood di dalam mobil secara langsung. Justru sebaliknya, ketegangan dibangun melalui ruang yang tampak “aman” yaitu kantor pusat layanan darurat yang menerima panggilan tersebut. Kamera yang tidak bisa diam di antara para petugas penyelamat, menjadi wajah dari kecemasan kolektif itu.
Rekaman asli percakapan menjadi fondasi emosional yang tak tergantikan. Namun alih-alih memperlihatkan visual tragedi di lokasi kejadian, film memusatkan perhatian pada dinamika di ruang kontrol bagaimana para operator harus menenangkan seorang gadis kecil lewat suara, sambil menahan kepanikan dan frustrasi mereka sendiri. Mereka berada dalam dilema yang menyiksa. Mereka terus berbicara agar Hanood tetap sadar dan tidak merasa sendirian, sementara permintaan evakuasi yang mereka ajukan belum bisa disetujui karena akses tertutup dan risiko serangan militer.
Pengambilan gambar close-up pada wajah para operator memperlihatkan tekanan yang tak terucap. Ruang kantor yang sempit, suara telepon yang terus terhubung, dan jeda-jeda sunyi di antara percakapan membangun atmosfer tegang yang berbeda. Menghadirkan situasi dimana seseorang bukan terkurung secara fisik di dalam mobil, melainkan terperangkap dalam sistem dan situasi yang tak memberi jalan keluar. Kamera menangkap ketidakberdayaan institusional, bagaimana kemanusiaan berbenturan dengan batas politik dan militer.
Harapan yang Tertunda dan Runtuh
Dengan penuh emosi, para petugas berulang kali memohon agar ambulans segera diberangkatkan. Waktu berjalan lambat. Berjam-jam panggilan berlangsung, dan Hanood masih bertahan bahkan ketika ia kembali melaporkan adanya serangan. Ketegangan tidak mereda, ia justru menumpuk dalam ruang yang sama, di antara headset, monitor, dan suara kecil yang semakin lemah.

Ketika akhirnya ambulans diizinkan berangkat, harapan yang sempat muncul itu segera runtuh. Serangan kembali terjadi, kali ini menimpa tim penyelamat yang berusaha menjemputnya. Film tidak menawarkan penyelamatan heroik. Ia menutup tragedi dengan kenyataan pahit “tidak ada yang terselamatkan dalam peristiwa tersebut.”
Melalui pilihan fokus ini, film memperlihatkan bahwa tragedi bukan hanya terjadi di titik ledakan, tetapi juga di ruang-ruang koordinasi yang dipenuhi usaha, doa, dan ketidakberdayaan. Ketegangan lahir bukan dari visual kekerasan, melainkan dari kesadaran bahwa semua orang di ujung telepon itu ingin menyelamatkan, namun terhalang oleh struktur yang lebih besar dari mereka.
Dari Arsip ke Pengalaman: Strategi Sinematik
Ben Hania tidak menjadikan film ini sekadar reproduksi arsip tragedi. Ia tidak berhenti pada dokumentasi fakta, tetapi mengolahnya menjadi docudrama dengan ketegangan yang nyaris seperti film thriller gaya Hollywood. Strategi ini bukan untuk mengeksploitasi penderitaan, melainkan untuk menghidupkan kenyataan. Membuat penonton bukan hanya tahu, tetapi merasakan. Jika peristiwa ini disajikan dalam format dokumenter konvensional dengan wawancara dan footage arsip, mungkin ia akan tetap menyentuh, tetapi tidak sedemikian imersif. Docudrama memberi ruang bagi empati yang lebih visceral.
Film sebagai Ruang Memorial dan Advokasi
Di sinilah letak kekuatan film sebagai medium. Film mampu mempertemukan fakta dan emosi dalam satu ruang pengalaman. Ia memadukan arsip, dramatik, suara, tubuh, dan ruang menjadi kesatuan yang menggerakkan afeksi. Dalam konteks isu Palestina hari ini (yang sering kali terjebak dalam statistik, laporan politik, atau perdebatan ideologis) film seperti The Voice of Hind Rajab mengembalikan wajah dan suara manusia ke pusat narasi.
Isu kekerasan di Palestina kerap tampil sebagai angka korban, peta wilayah, atau analisis geopolitik. Namun sinema mengubah angka menjadi individu. Ia memperlambat waktu, memaksa kita tinggal lebih lama dalam satu kejadian, dan menghadirkan pengalaman yang tidak bisa dengan mudah di-scroll atau dilewati. Ketika penonton merasa stres, sesak, atau tak berdaya selama menonton film ini, itu bukan kegagalan estetika, justru itulah keberhasilan etisnya. Film membuat kita merasakan ketidakberdayaan yang mungkin dialami korban.

Sebagai media, film memiliki jangkauan yang luas dan daya distribusi global. Festival seperti Venesia menjadi pintu masuk bagi cerita-cerita dari wilayah konflik untuk mendapatkan legitimasi artistik dan perhatian internasional. Dari sana, percakapan meluas, ke ruang kritik, media sosial, diskusi publik, hingga ruang-ruang akademik. Film menjadi alat advokasi yang bekerja melalui pengalaman, bukan hanya argumen.
Yang menarik dari pendekatan Ben Hania adalah upayanya untuk “terlibat” tanpa mengklaim kepemilikan atas tragedi. Ia tidak menambahkan resolusi dramatis atau penyelamatan heroik. Tidak ada katarsis yang menenangkan. Justru ketidakselesaian itu dipertahankan karena memang realitasnya belum selesai. Konflik masih berlangsung. Suara-suara seperti Hind masih berpotensi terulang.
Dalam hal ini, film menjadi ruang memorial sekaligus ruang perlawanan. Ia menyimpan suara yang mungkin akan tenggelam oleh arus informasi harian, dan sekaligus menolak normalisasi kekerasan. Melalui pengolahan bentuk dari rekaman audio menjadi pengalaman visual yang intens, film ini menunjukkan bahwa sinema bukan sekadar hiburan, melainkan medium politis yang mampu mengintervensi cara kita melihat dunia.The Voice of Hind Rajab membuktikan bahwa satu suara kecil dapat menggema lebih jauh ketika diberi ruang artistik yang tepat. Dan mungkin, di tengah kebisingan global, film adalah salah satu cara paling efektif untuk memastikan bahwa suara itu tidak hilang begitu saja. []




