
Kampungmu laksana titik dalam kepungan pulau-pulau, dipagari laut biru tua kala siang dan ketika malam tiba menjelma lembaran hitam yang berkilauan. Rumah-rumah panggung tegak di atas tiang kayu besi, beratap rumbia yang setiap musim hujan mestilah diperbaiki. Di halaman-halaman rumah, jemuran sagu telentang di atas anyaman daun kelapa, sementara dari dapur menjalar bau kenari yang disangrai bersama kelapa parut.
Kaum hawa di kampungmu rata-rata mengenakan kain panjang yang dililitkan di pinggang, sedangkan sebagian lainnya memakai kebaya lusuh warisan ibu mereka. Kaum adam, senang belaka memakai sarung dilipat tinggi saat bekerja di kebun atau memancing di laut. Di antara mereka, ikatan pela gandong menjadi tali tak terlihat yang menghubungkan satu kampung dengan kampung lain—jika ada yang membangun rumah, semua akan datang bergotong-royong; jika ada kematian, semua akan datang menangis bersama.
Kau tumbuh di antara semua itu, di bawah cerita-cerita yang disampaikan Nene Nuhu, tetua yang tak sekalipun pernah kau lihat duduk tanpa mengunyah sirih pinang. Bibirnya merah pekat, giginya malam, tapi suaranya pagi yang terang. Kata Nene Nuhu, cengkeh yang tumbuh di tanah kampungmu konon pernah sampai ke Kemet: negeri tanah hitam yang subur setelah banjir sungai panjang surut. Bau harum dari kuncup-kuncup itu telah menempuh laut berbulan-bulan lamanya, dibawa angin musim timur, singgah di pelabuhan yang asing bagi lidahmu.
Nene Nuhu juga mengatakan kalau kongsi dagang yang datang ke tanahmu adalah makhluk rakus. Itu sebab mereka tak sungkan membunuh saudara-saudaramu di Banda, kala kukuh tak mau menjual pala kepada perusahaan tamak tak tahu malu itu. Dan siapa pun yang masih setia berdagang dengan orang Cina, orang Jabir, atau orang Kalinga, patutlah dicap sebagai pedagang gelap. Bahkan pada orang Sirani, yang lidahnya sebenua dengan mereka—tetap saja dianggap gelap; dianggap haram.
“Ale musti ingat,” katanya suatu malam saat kalian duduk di bale-bale bambu menghadap laut. “Orang bisa larang kita bicara, larang kita berlayar, larang kita berdagang. Tapi orang tidak bisa larang cerita ini hidup.”
Kau mengangguk. Dan malam itu kau berjanji, meski dalam hati, bahwa suatu hari kau akan membawa cengkeh kampungmu melewati batas yang mereka buat.
***
Yang ditunggu, yang dinanti akhirnya datang juga saat Pak Ama—lelaki paruh baya yang wajahnya acap tertutup sorban putih—mengajakmu ikut dalam perjalanannya. “Kita bawa sedikit saja,” bisiknya seraya menunjuk karung goni di sudut rumahnya. “Biarpun sedikit, kalau sampai ke tangan orang Kalinga, itu tanda kita masih ada.”
Ada sesuatu dalam suaranya yang membuatmu percaya, meski sesekali kau merasa ia begitu banyak tahu. Ia tahu kapan patroli biasanya lewat, tahu di teluk mana lampu kapal jarang terlihat. Namun rasa percayamu sungguh telah pula mengalahkan debar curigamu, apalagi wajah ayahmu selalu muncul ketika kata cengkeh disebut.
Pada malam angin timur bertiup kencang, kau berangkat. Kau berjalan menyusuri jalan setapak menuju pantai, menjinjing karung kecil berisi kuncup cengkeh kering. Di depan kau, di bawah pohon kenari tua, Pak Ama tengah menunggu. “Cepatlah, angin timur sudah berbalik,” pintanya.
Kalian berlayar dalam perahu belang, menembus arus yang bergolak pelan. Setiap kali kau memejamkan mata, wajah-wajah dari cerita Nene Nuhu terbit: lelaki-lelaki yang kepalanya dipenggal, perempuan-perempuan yang diikat di pohon kenari, dan anak-anak yang dibiarkan menangis di bawah terik matahari. Semua karena menolak menjual hasil kebun mereka kepada orang-orang yang datang dengan senyum palsu dan senjata.
Pak Ama menunjuk cahaya kecil di kejauhan. “Itu mereka,” katanya. Seorang lelaki naik, melanting senyum kehati-hatian yang berlimpah. Dia pedagang dari Kalinga, salah satu dari sedikit yang masih mau barter kain tenun dengan rempah. Namun sebelum lelaki Kalinga itu sempat berbicara, dari arah utara terdengar bunyi yang membuat darahmu beku—derap dayung cepat dan teriakan dalam bahasa asing yang menumbuk telinga. Patroli!
Pak Ama mencengkeram lenganmu. “Turun cepat!”
Kalian mencebur ke laut. Asin air menampar wajah; menyesakkan dada. Dari bawah permukaan, cahaya obor berkelebat, tombak bergerak cepat. Kau masih berusaha meraih karung yang perlahan tenggelam menuju ke dasar laut, tapi Pak Ama menahannya. “Biarkan! Nyawa lebih mahal dari segenggam cengkeh,” desisnya.
Kau ingin protes, tetapi arus sudah menyeretmu menjauh.
Kalian terdampar di pantai lain yang sunyi. Tubuhmu menggigil, Pak Ama terbatuk-batuk. Ia menatapmu lekat, seakan ingin memastikan kau tak akan menyesal. “Kita gagal malam ini. Lain waktu kita coba lagi.”
Esoknya, ketika matahari sepenggalah kau kembali ke rumah. Di halaman, ibumu tengah menjemur sagu. Wajahnya datar, tapi matanya menatapmu lama, seakan mampu menafsir sisa garam di rambutmu. “Kalau bapakmu masih hidup,” katanya pelan, “dia pasti ikut kau.”
Kau terdiam. Bapakmu hilang di laut lima tahun lalu, dalam pelayaran yang juga membawa cengkeh untuk barter. Orang bilang perahunya karam di tengah badai. Namun Nene Nuhu selalu percaya ada yang lain. “Kadang badai itu bukan angin,” katanya suatu malam. “Kadang badai itu bisa juga manusia.”
***
Seorang anak berlari dari dermaga—tergopoh-gopoh menjinjing sebongkah urita perihal perahu dari utara yang singgah sebentar di teluk seberang. Tak ada yang tahu siapa pemiliknya, tapi katanya tengah mencari rempah. Orang kampungmu tampak berhati-hati, sebab tak semua kapal yang datang membawa niat luhur.
Pak Ama menemui kau malam itu. “Kita coba lagi. Tapi kali ini kita ikut adat.”
Kalian pun pergi ke rumah seorang tetua adat, lelaki kurus dengan rambut sewarna perak. Di tengah rumahnya kau melihat sebuah tikar pandan terbentang. Kau juga melihat sebuah piring anyaman berisi sirih, pinang, kapur, dan sepotong kain merah tergeletak. Lelaki itu duduk bersila, menutup mata, kemudian melantunkan doa dalam bahasa yang tak kau mengerti sepenuhnya. Namun doa itu terasa macam ombak kecil: naik perlahan, pecah di tepi, lalu surut.
Selesai doa dipanjatkan, ia menatap kalian bergantian. “Kalau laut mau terima kalian, laut juga mau tahu kalian anak siapa. Jangan bawa hanya cengkeh; bawa juga nama leluhur kalian. Biar kalau laut marah, dia ingat kalian bukan musuh.”
***
Perjalanan kedua dimulai saat bulan hampir penuh. Perahu belang kalian berlayar lebih jauh kali ini, mendebah lintasan patroli yang biasanya dijaga kapal besar. Angin musim timur membopong bau garam juga bau hujan yang datang dari jauh.
Di tengah laut, langit sekonyong-koyong gelap. Petir berkelebat di ufuk. Ombak mulai meninggi, tetapi Pak Ama tetap tenang—terlalu tenang, seolah badai itu sudah ia kenali. Kau berusaha menjaga karung tetap kering, mendekapnya seakan mendekap masa depan.
Badai mereda. Di kejauhan terlihat lampu kecil. Kau tentu berharap itu perahu dari utara, tapi yang kau tengok senyata hanya siluet kapal tinggi bertiang tiga; berbendera tiga warna yang berkibar.
Sigap Pak Ama memerintahkan untuk berbalik arah, tapi dua sekoci dayung tiba mendekat dari belakang. Teriakan dalam bahasa asing kembali menyembur seraya bunyi letusan senapan sumbu yang meletus di udara, diiringi asap pekat. Air memercik setinggi anak empat tahun saat peluru timah jatuh ke laut.
Pak Ama memandangmu sekejap—pandangan yang membuat jantungmu terasa menciut—lalu meraih karung cengkeh dan melemparkannya ke laut. Spontan kau hendak menyelam menyusul karung cengkeh yang tampak perlahan menyelam menuju dasar laut. Namun sekali lagi Pak Ama menahanmu. “Biarkan saja!” katanya. Seketika menyembur kelegaan yang aneh dari wajahnya, bukan kekecewaan.
Kau sempat sejenak berpikir tentang sesuatu, tapi waktu sangatlah pendek bila ingin digunakan untuk sekadar memikirkan sesuatu yang tebersit muncul di dada dan kepala. Maka, tak ada yang dapat kau lakukan selain segera melompat ke dalam laut—demi meloloskan diri dari murka si penjaga alur.
Ketika tiba di dalam air laut, lagi-lagi kau masih ingin menyusul-menyelamatkan karung cengkeh itu, tapi arus mengganjur kau dan Pak Ama ke arah gelap. Kau pun pasrah. Dalam kepasrahan itu, sesekali kilat memperlihatkan wajah Pak Ama yang berusaha berenang menjauh darimu. Lalu gelap menelan segalanya.
***
Kau terbangun di pantai berpasir putih yang asing. Pak Ama terbaring di dekatmu, matanya terpejam, napasnya lemah. Sebuah perahu belang kecil merapat. Seorang lelaki muda melompat turun, mengenakan kain yang diikat tinggi. “Kalian orang gandong kami,” katanya setelah sebuah nama kampung kau sebut. “Kalau kalian jatuh di laut, kami juga yang harus angkat.”
Malam tiba, kau duduk di tangga memandang laut. Dalam dadamu bergeliat rasa kehilangan yang bercampur baur dengan rasa aneh. Bunga rawan itu hilang lagi, tapi cerita, laut, dan dendam masih meletup.
Dari dalam rumah, terdengar suara Pak Ama berbicara pelan dengan lelaki muda yang menjemput kalian. Kata-kata mereka kadang terdengar cepat, kadang setengah berbisik, dan dalam bahasa yang tak sepenuhnya kau pahami. Namun telingamu menangkap beberapa: perbatasan, kompeni, dan jalur bersih.
Pak Ama keluar, mendekat. Senyumnya bukan lagi senyum hangat yang kau kenal.
“Sudah selesai urusan kita. Besok mereka akan mengira jalur ini terlalu berbahaya. Tidak ada yang akan berani lewat sini lagi.”
Kau mengerutkan kening. “Bukankah … itu jalur kita?”
Pak Ama menatapmu lama, lalu berkata dengan suara nyaris tanpa nada, “Bukan ‘kita’. Jalur itu milik mereka yang memberi upeti lebih. Mulai besok, aku bekerja untuk mereka.”
Sejenak kau kehilangan kata-kata. Angin laut menjulurkan bau asin dan amis yang menyesakkan. Kau mengingat malam-malam sebelumnya—patroli muncul tepat waktu, karung yang selalu dibuang, dan tentu saja wajah yang selalu menampilkan kelegaan saat cengkeh tenggelam. Semua benang saling mengait, membentuk gambar yang tak pernah kau sangka: kau hanyalah umpan.
Pak Ama meraih dayung yang bersandar di dinding. “Kau bebas pulang. Ceritakan apa saja yang kau mau. Tapi ingat, laut punya telinga. Dan ada orang-orang yang akan memastikan kau tak pernah berlayar lagi.”
2025
Catatan:
Bunga rawan, sebutan lain untuk cengkeh.





Alur elok dan dalam