| Judul | Sejarah Kebudayaan Sumatera |
| Penulis | Dada Meuraxa |
| Penerbit | Hasmar, 1974 |
| Tebal | 832 halaman |
Bagi saya, buku karya Dada Meuraxa berjudul Sejarah Kebudayaan Sumatera ini merupakan karya babon, dalam makna cakupan yang sangat luas dan komprehensif mengenai sejarah kebudayaan yang dibahasnya. Buku ini membahas dengan sangat detil mengenai aspek-aspek sejarah berupa asal usul, peristiwa, kesenian, hingga tinggalan-tinggalan penting yang ada di setiap provinsi di pulau Sumatra.
Buku ini dimulai dengan sejarah asal usul dan berbagai dinamika yang terjadi di Aceh. Diikuti dengan sejarah budaya di Sumatra Utara, asal usul penamaan Pulau Sumatera, sejarah budaya di Sumatera Barat, sejarah kebudayaan di Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, hingga Bangka Belitung. Sejumlah catatan juga disajikan secara tidak teratur, misalnya terkait dengan teori-teori mengenai asal usul yang berkembang mengikut beragam sumber, atau diakibatkan peristiwa yang beredar secara luas dan tidak hanya di satu daerah.
Dada Meuraxa juga memberikan kontribusi penting melalui bukunya ini, dengan menghadirkan suntingan sejumlah karya sastra klasik yang ada di beberapa daerah, khususnya di Aceh dan Minangkabau. Halaman 64 – 143 merupakan salinan syair Perang Sabil (tiga versi), yang menjadi api semangat masyarakat Aceh dalam menentang penjajahan Belanda. Sementara itu, dari Minangkabau Dada Meuraxa menyajikan suntingan syair Nazam Sunur yang dikarang oleh Tuanku Sunur (halaman 489-499), dan juga Syair Perahu yang menurut Dada Meuraxa bukan karangan Tuanku Sunur melainkan karya Hamzah Fansuri (halaman 500-507), serta karya lainnya misalnya syair yang dikarang oleh Tuanku Imam Bonjol.
Keseriusan Dada Meuraxa dalam menyusun buku ini terlihat dari begitu lengkapnya informasi dan data dukung yang dimilikinya. Pemahaman atas sejarah kebudayaan memerlukan usaha yang cukup keras, apalagi bila masing-masing daerah memiliki perbedaan yang cukup besar. Dengan demikian, meskipun Dada Meuraxa jarang kita dengar dalam kajian-kajian Sejarah dan kebudayaan, namun sebenarnya buku ini dan juga beberapa buku lain yang ditulisnya membuktikan bahwa ia memiliki penguasaan dan ketekunan yang luar biasa. Namanya juga telah dijadikan sebagai nama rumah sakit daerah di Provinsi Aceh, sebegai bentuk penghormatan akan kontribusinya.
Buku ini juga mengesankan karena Dada Meuraxa menyajikan banyak informasi yang penting dari setiap daerah dan peristiwa yang dipaparkannya. Ia seperti menguasai betul bahan-bahan dan sejarah kebudayaan yang berkembang di berbagai daerah di Pulau Sumatra ini. Pengetahuan yang dimilikinya juga mencerminkan kecintaannya pada bidang kebudayaan. Buku ini saya kira sekarang cukup langka untuk didapatkan dan dibaca oleh khalayak ramai.
Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id





