Pirin Tukang Loge & Dunia Tipu-Tipu

Ilustrasi: Aprililia

Pirin di kampung saya terkenal sebagai tukang rabab. Pandai mendendangkan cerita. Kisah sedih haru membuat pendengarnya terhanyut menangis. Kisah bahagia dan lucu membuat penontonnya tertawa sentosa. Menyelang-nyelinginya pula kisah-kisah itu dengan pantun-pantun asmara. Jadilah namanya, Pirin Asmara.   

Tapi, Pirin yang satu ini bukan tukang gesek biola.

Pirin Loge, namanya. Kepandaiannya, “melagu” juga. Hanyut pula orang oleh lagunya.

Mula-mula, dia melagu dalam jubah toke, agen, tukang pakang. Apa-apa saja dijualnya.

Dijualnya kerbau, katanya, kerbau keturunan Si Binuang. Kerbau sakti pengawal Cindua Mato ketika mengalahkan Raja Imbang Jayo. Padahal, kerbau kurus, kanai biadi pula, virus cacing perut, yang tiap sebentar mencret dan badannya tak akan pernah mau berisi.

Dijualnya kuda, katanya, kuda keturunan Si Gumarang. Kuda sakti tunggangan puti-puti. Dengan kuda ini, Puti Reno Langguak berkirap ke Kuto Basa. Dengan kuda ini pula, Mande Rubiah menyingkir ke Indrapura. Padahal itu, kuda sawah belaka. Kepala tegak ekor mencodak. Lebih sedikit saja dari keledai.

Dijualnya jawi, katanya, keturunan dari sapi besar Australia. Hanyut dibawa angin barat. Terdampar di Bali, jadi sapi bali dia. Dihanyutkan lagi oleh angin muson, terdamparlah di pantai kita. Padahal itu, jawi ratuih saja. Jadi kampung, sedikit lebih besar dari kambing. Sepuluh karung diberi makan sehari, akan sebesar itu saja badannya. Tak akan bertambah-tambah dagingnya. Tulang saja yang banyak.    

Sekali-dua terjual juga dagangannya. Tapi lama-lama, tidak lagi.

Jadi, sudah tahulah orang, kalau dia banyak lagunya. Tukang loge betul.

Jadi, karena lagunya tidak mempan lagi di kampung, merantaulah dia. Bertukar profesi. Jadi tukang obat, mengembang lapak dan tenda, dari pekan ke pekan. Digilingnya merica dengan jelatang ayam, dicampur sedikit dengan jahe dan temulawak. Dikasih gula jawa dan asam sewa. Dimasukkannya ke botol-botol kecil sebesar ibu jari. Disorak-sorakkannya di tengah pasar sebagai minyak sumbu badak. Pengobat segala macam penyakit, kudis kurap barah, di kerampang di ketiak, luka tukak meruyak bernanah, obat segala obat, mujarab bahkan buat burung yang tak lagi mau tegak. Anda ingin punya anak, tidak? Mandul dan bisul, apa sajalah …

Laku, berduyun-duyun orang yang beli. Tapi, lama-lama, sepi juga, mungkin karena terbukti tak ada penyakit yang sembuh dari obat sampah macam begitu. Jangankan sembuh, celaka yang tiba.  

Maka, di lain waktu, dipanjangkannya rambutnya, kuku kaki dan tangannya, kumis jambang janggut misainya, dibukaknya seluruh pakaiannya, pakai kodek dari kulit kayu saja dia lagi, ditambah untaian taring celeng atau babi di lengan kanan dan kiri, dikalungkan pula ular satu dua di lehernya, biawak dan kadal tersampir di bahunya, dihitamkan benar alisnya, dicila-cilakan matanya tiap sebentar. Dia tidak melagu lagi, diam saja, mengangguk atau menggeleng saja kerjanya sekarang. Untuk menjelaskan jualannya, dicarinya asisten seorang, sebagai tukang sorak pengganti suara dirinya: bukan sumbu badak lagi, tapi minyak Dayak. Obat segala macam bisa, ular atau biawak, kalajengking atau lipan memantak? Pusss, sekali gosok sembuh hilang tak berjejak…!!!    

Laku, berduyun-duyun pula orang yang beli.

Dari pekan ke pekan, berganti-ganti saja asal itu obat: kadang dari Talang Mamak, lalu Siberut-Sipora, lalu Suku Anak Dalam disebutnya pula, juga Papua.

Di kampung saya, orang-orang bisa tertipu berkali-kali. Entah karena saking bodohnya, atau si penipu yang memang handal lagi lihai berkelah dan bertukar diri. Yang jelas, kami melarat lagi sengsara bukan karena malas atau tidak mau bekerja keras, tapi karena sering ditipu.

Datang Belanda, ditipu Belanda. Disuruh berodi, membangun jalan, menebas hutan, “agar maju seperti kami pula kalian!” Dipancangnya tanah, diberinya konsesi datuk-datuk agak sedikit, lalu dilubanginya gunung dan bukit. Dikeruknya, lumpur. Kata kami, itu lumpur. Padahal emas. Berton-ton emas sudah dilarikan Belanda dari kami punya tanah dan ulayat.

Pernah pula, diajak bekerja, ke perkebunan, jadi kuli kontrak. Lagi-lagi, hidup dikira bakal enak. Gaji besar. Setahun-dua tahun bakal terkumpul uang. Pulang kampung nanti bisa beli ternak sekandang dan sawah berbidang-bidang. Owalah, lagi-lagi kena tipu. Ditipunya dengan judi, dengan rumah-rumah bordil, jadi banyak utang, tak dapat lagi pulang. Jadi kuli, sampai mati. Dengan anak-bini sekali. Abadi, kuli.

Datang Jepang, kena tipu lagi. Diajak bekerja, ke Loge kita, katanya—ke Logas, Logas!

Bangun jalur kereta. Menuju pantai timur sana. Menghubungkannya dengan pantai barat. Bakal dapat tunjangan, gaji besar, di sana tersedia beras berlimpah dan lauk-pauk banyak. Membantu pemerintah. Menghadapi musuh dalam perang besar. Asia Timur Raya. Oh, saudara tua kami yang tercinta. Diumbuak-umbainya.

Rupanya, malah, jadi romusha. Iya, betul, membangun jalur kereta. Tapi, menebas rimba gadang. Makan kurang. Habis kurus kering. Banyak yang tidak pulang. Mati. Macam anjing. Macam anjing saja mati. Tergeletai di mana-mana. Tak terkubur dengan betul.

Itulah mulanya, istilah ‘loge’ itu asalnya.

Kata orang kampung saya, mereka yang pandai menipu, disebut tukang loge. Ingatan akan masa Jepang yang masih tersisa. Ingatan akan nasib buruk pernah kena tipu. Tapi, nasib buruk itu, jadi trauma. Berulang-ulang datangnya. Akhirnya, jadi biasa.

Setelah merdeka, dikira akan selesa. Hidup makmur dalam alam yang bebas dari penjajah. Dari tukang tipu. Eh, bangsa sendiri, penipu pula. Aduh. Makin lihai. Makin canggih. Makin gila logenya.   

Di bawah pemerintah diktator, dilogenya orang dengan pidato-pidato.

Diktator berganti diktator, ditipu lagi dengan pelajaran sekolah, museum-museum, dan sejarah … dan pengumuman-pengumuman rutin di TVRI tentang keberhasilan ‘pembangunan’. Kalau berair sawah yang di atas, insyaallah—minimal—basah pula sawah yang di bawah, kata pemerintah ketika mengucurkan dana besar-besaran untuk stimulus ekonomi bagi penguasa-penguasa besar. Kalau yang pembesar-pembesar ini kaya, kalian si rakyat blingsatan, akan dapat juga kuah-kuahnya.

Eh, yang kaya memang makin kaya. Yang miskin, melarat terus—selamanya. Abadi, melarat. Bergenerasi-generasi melarat.  

Lalu, datang masa demokrasi,  tukang tipu eh malah tak kurang-kurang. Ditipunya orang dengan janji ini janji itu untuk bisa terpilih jadi pejabat. Ketika sudah terpilih, dilanyaunya saja orang yang pernah dijanjikannya itu dengan nasib buruk.   

Tidak ada resolusi dalam arti penyelesaian. Yang terjadi adalah pembekuan kesadaran. “Ideological closure,” kata orang hebat. Yang paling abadi di negeri ini, jadinya, bukanlah kemerdekaan, bukan pula pembangunan, melainkan profesi tukang loge itulah. Pekerjaan ini tak pernah kekurangan peminat dan selalu menemukan pasar setia. Sejarah berganti kostum: seragam kolonial, pakaian militer, jas pejabat, hingga baju kampanye. Hanya saja, lakonnya tetap sama, hanya dialognya yang diperbarui agar terdengar lebih segar. Seperti kata Onghokham, sejarawan itu, tak ada yang berubah di negeri kita. Yang ada hanya berganti. Praktik loge-meloge juga. Ada terus, tak pernah berubah, hanya pemainnya saja yang bertukar.

Ironisnya, setiap zaman mengaku membawa kemajuan, sementara rakyat tetap diminta bersabar dan percaya. Di situlah paradoksnya: semakin sering ditipu, semakin terlatih pula kita mengenali tipu daya. Hanya saja, pengenalan itu tidak otomatis membebaskan kita dari kena tipu. Di situlah pakaknya kita. Menjadi sebuah bangsa yang terlalu sering berharap, terlalu mudah percaya, dan terlalu terbiasa memaklumi—seakan-akan penipuan bukan lagi penyimpangan, melainkan bagian dari tata cara bernegara belaka.

Pada akhirnya, di mana-mana ada Pirin-nya. Tukang loge, berbiak dia, jadi banyak. Bersalin dan bertukar rupa tiap sebentar. Jadi presiden dan menteri pula dia, gubernur dan bupati, buya dan dai, rektor dan akademisi ….

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top