Spektakel Lidah Gen Z di Medan: Memahami Rempah dengan Pendekatan Performatif

(Foto: Radja Sinaga)

Hujan belum jatuh kala Bengkel Seni Kelola Rempah dimulai di Teater Rumah Mata, Medan, Jumat (10/4). S. Metron Masdison memimpin acara bengkel yang dimulai dari pukul 9 pagi hingga 5 sore. Di hadapannya ada 14 peserta—meski seluruh peserta lengkap datang setelah jam makan siang—yang akan berkutat-ria melihat rempah dengan cara-cara yang berpangku tangan melalui kerja-kerja artistik.

“Apa yang dipikirkan ketika pertama kali mendengar kata rempah? Coba sebutkan satu kata,” tanya Metron.

Namun, sebelum pertanyaan itu akhirnya direspons satu per satu oleh para peserta, layar infokus yang membentangkan warna putih seketika berubah. Kini berganti dengan susunan kata-kata yang menegasikan bahwa ide mestilah liar. Metron menuliskan demikian untuk memantik para peserta memanaskan tungku proses kreatif.

Selain liar, ide pula mesti bebas. Metron menganggap bahwa ide di tangan para pekerja seni dan mereka yang mencintai gudang kesenian mesti bertindak seperti spons.

“Meresap apa saja. Jangan ditakar-takar,” terangnya.

Metron pun menerangkan bahwa ide sejatinya ada di mana-mana. Titik awal penciptaan karya justru berasal dari hal paling dekat oleh si pencipta. Kadang kadang justru di saku celana, terang Metron.

Usai pembukaan itulah, bengkel berlanjut ke arah yang lebih mendaki-daki. Seluruh peserta pun diperkenalkan magisnya ide. Bengkel digerakkan Metron dari peradaban yang dibangun Yunani. Dirinya melihat lanskap ide melalui pemikiran Plato. Bahwa ide sejatinya sebagai duplikasi.

Pertunjukan di Spektakel Lidah Gen Z. (Foto: Dokumentasi Panitia)

Ide yang akhirnya muncul dalam sebuah karya adalah apa-apa yang berserak di dunia. Setiap ide sulit tercerabut dari tatanan kehidupan.

“Kalau dia terkenal dengan istilah memesis. Apa yang ada di sebuah karya, produk, itu cuma duplikat, duplikasi dari dunia,” paparnya.

Selain itu, Metron menerangkan lagi, selain sebagai duplikat, orang-orang Romawi melihat ide sebagai prototipe. Karya-karya seni rupa yang hari-hari ini ditampilkan sebenarnya diciptakan dari bisa jadi tidak pernah ada.

Kemudian ide mengalami pergeseran. Metron melihat bagaimana abad pertengahan meletakan ide sebagai sebuah empiris dan intensif. Setiap karya dihasilkan dari proses sentuhan yang langsung antara si pencipta dan objek yang dijadikan dasar ide.

Pemaknaan ide dari abad pertengahan ini membikin adigium yang menjelaskan bahwa karya tidak bisa dihasilkan melalui ide yang sekilas saja. Maksudnya, dalam penuturan Metron, seorang warga Medan yang tak pernah merasakan dan mengetahui salju tak mampu membuat karya secara kuat tanpa merasakannya lebih dulu sekalipun pernah melihat salju dalam bentuk lain seperti di telepon genggam.

Dan, di puncaknya, di era mannerisme, ide juga mengalami pemaknaan tersendiri. Di era inilah, ide menjadi semacam distorsi. Setelah penjelasan itu, Metron pun menyebutkan sebenarnya, bahwa dari peradaban yang panjang itu, telah menjelaskan bahwa ide tetap berkesinambungan, nafasnya tak terputus-putus, saling berpilin merangkai tiap-tiap bangunan karya.

“Nah ini yang mau saya bilang. Tidak ada yang baru di bawah sinar matahari. Kemudian ada istilah duplikat. Ngga ada yang baru,” tuturnya.

Kendati demikian, bukan berarti tiap karya tersebut adalah pencaplokan semata dari apa yang telah terbentang. Ada peran kuat ketelatenan di sana, yang dinamai sebagai kreativitas. Bahwa titik itulah yang akhirnya, meski berangkat dari ide yang sama, tiap karya tetap ditampilkan berbeda.

Tampilan berbeda itu pula, lanjut Metron, didasari partitur subjektif tiap pencipta. Bahwa sejatinya ada sekat-sekat yang membatasi. Pertama adalah cara pandang. Lalu jangkar. Maksudnya bagaimana ide itu menyala dalam kepala pencipta. Metron mengandaikan bahwa seseorang yang mengambil lanskap ngarai tidak mungkin menghasilkan karya di luar ngarai itu.

Lebih lanjut, Metron melihat bahwa struktur seni juga membuat perbedaan-perbedaan itu. Tiap-tiap ide yang akhirnya menjadi karya tak mungkin berwajah sama dengan padanan seni yang telah ditetapkan.

Di akhir, sebagai pembatas ide, ada moralitas. Meski, ucap Metron, moralitas bersifat abstrak, tetap saja pengaruhnya mampu membatasi ide yang akan dikerjakan menjadi sebuah karya. Pembatasan itu terjadi justru ketika ide ditarik dan dipantulkan atas subjektivitas masing-masing pencipta.

Dan untuk mencapai semua itu, pungkas Metron, tiap pencipta harus memiliki input rasa ingin tahu.

Setelah menerangkan dasar-dasar itulah, pertanyaan semula dipulangkan. Apa yang dipikirkan ketika mendengar kata rempah? Sebutkan satu. Ada yang menyebut aroma, jamu, hingga kolonialisme. Dari satu kata itu, yang dipilih masing-masing peserta, akan berangkat mengerjakan produk. Entah itu fotografi, film, sastra, dan lain-lain.

Kendati demikian, Metron menyanyangkan, dengan ide-ide yang dituangkan oleh 14 peserta, seharusnya ada ruang untuk menumpahkan karya-karya yang telah dibangun.

“Kenapa ndak ada pemerannya?” tanya Metron.

Antara Memori Episodik dan Citraan Aroma

Anton Ego, tokoh fiktif dalam film Ratatouille, menjadi jalan pembuka Staf Khusus Menteri Kebudayaan RI, Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Annisa Rengganis, dalam melihat rempah. Saat itu, berbeda dari hari sebelumnya, siang yang terik, hujan tak turun—sebagaimana Metron menjadi pemangku dalam bengkel rempah.  Nisa, dalam dialog Eksplorasi Rempah di Ruang Performatif, memperlihatkan bagaimana detik-detik Anton Ego menyantap ratatouille yang dimasak Remi si tikus kecil dan teringat kenangan masa lalu sewaktu masih kecil. Kenangan yang membawanya akan masakan ibunya sendiri.

Annisa Rengganis dalam Dialog Lintas Gagasan. (Foto: Dokumentasi Panitia)

Dari sana pun Nisa melihat betapa dekat mengkaji rempah yang telah menjadi penghubung antara tubuh, memori, dan sejarah. Ketiga aspek itu, yang dihamparkan semula melalui Anton Ego, menjelaskan relasi yang kuat antara memori episodik dengan citraan aroma.

Pertama sekali, ingatan atas subjek ataupun objek (seseorang atau peristiwa) dapat terpantulkan seketika melalui rasa dan aroma. Makananan, masih dalam film tersebut, juga membangun daya afektif. Bagaimana kemudian dengan sebuah hidangan seseorang menapak tilas pengalaman personal dan emosional. Di titik Anton Ego, hal itu berupa makanan, yang mulanya dibangun melalui kekayaan rempah.

“Atau kita bisa menerjemahkan di dalam sini adalah rempah punya kekuatan sedahsyat itu,” tutur Nisa.

Nisa pun melihat rempah-rempah itu tak semata sebagai bahan komoditas dan sejarah yang menguar bau kolonialisme semata. Dirinya menyatakan bahwa rempah di Nusantara telah menjadi aspek budaya. Nisa menyebutnya sebagai kemaharagaman budaya. Betapa rempah di banyak daerah seperti Sumatera Barat, Bali, dan sebagainya menjadi teman akrab masyarakat.

Namun, ini yang kemudian dilihat Nisa, di zaman serba cepat ini, tentu pembicaraan rempah tak sedikit menjadi terganggu. Selain, rempah yang sejak lama mengakar dalam budaya tesis akademisi, tantangan lainnya bagaimana menghadirkan rempah sedekat masyarakat adat. Hal ini, menghadirkan lebih dekat, Nisa menyasar kepada Gen Z.

“Ada satu tantangan saya kira bisa jadi catatan kita bersama,” katanya.

Nisa, dengan menghubungkan media sosial, dunia serba cepat, dan Gen Z, melihat perlunya logika visual dan digital sebagai jembatan. Bahwa perbincangan rempah dari masa yang telah lepas dilihat Nisa kurang mampu terartikulasikan. Caranya? Nisa melihat peran media sosial di sana, kemagisan dunia visual dan digital yang hari-hari sangat dekat, tak hanya kepada Gen Z, ke seluruh generasi.

Melalui daya visual dan digital yang ditawarkan media sosial itulah Nisa melihat adanya transformasi narasi. Stigma rempah yang selama ini terkukung dalam susunan makalah, tesis, dan hasil riset akademik mendapatkan wajah baru.

“Rempah itu bisa simbol identitas modern, menjadi percakapan sehari-hari,” akunya.

Selain itu, menjadikan rempah sebagai sesuatu yang dekat, Nisa menyasar adanya ruang-ruang kreatif. Di sini, Nisa menekankan atas apa-apa yang telah terbentang dalam penciptaan para seniman dan budayawan.

Artinya, Nisa menelisik pentingnya pendekatan performatif. Di atas panggung, video, suara, makna rempah mampu sampai lebih mudah kepada Gen Z.

Berangkat dari Anton Ego, Nisa ingin memberitahu bahwa perbincangan rempah dapat dengan mudah dialihwahanakan, senantiasa mampu menghancurkan kultus berpilin-pilin diskusi akademik, yang akhirnya menciptakan transformasi narasi dan adaptasi sejarah rempah lebih modern.

Eksistensi Rempah

Kegiatan ini diberi tajuk “Spektakel Lidah Gen Z -Eksplorasi Rempah di Ruang Performatif” diinisiasi Herawanti Handayani (salah satu pengurus harian Teater Rumah Mata) atas dukungan Program Layanan Produksi Kegiatan Kebudayaan Kategori Pendayagunaan Ruang Publik dari Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025, Kementerian Kebudayaan. Puncak kegiatan ini akan digelar pada Jumat-Sabtu/ 10-11 April 2026 di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata, Jl. Sei Siguti 17A/30, Sei Sikambing D, Medan Petisah.

Lomba berbasis Rempah. (Foto: Dokumentasi Panitia)

Kegitan dibagi menjadi tiga bagian besar: Diskusi Dan Workshop, Lomba Berbasis Rempah serta Pertunjukan Seni Fokus kegiatan ini mengarah pada generasi muda kelahiran antara 1997-2012 atau sekitar 13-26 tahun (Generasi Z).  

Spektakel Lidah Gen Z berangkat dari sebuah permasalahan yang mereduksi eksistensi rempah yang berabad-abad diposisikan sebagai jati diri bangsa dan simbol kemakmuran serta kedaulatan bangsa, kini hanya difungsikan sebagai bumbu dan dilokalisir keberadaannya hanya di ruang paling domestik, yaitu dapur.  Kita mengalami amnesia massal pernah dijajah berabad-abad karena rempah. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top