Jawaban Polemik Royyan Julian dan Nirwan Dewanto: Melacak Jejak atau Memetakan Daya Gerak?

Ilustrasi Yusrizal KW

Rabu, 4 Maret 2026, Nirwan Dewanto membagikan tulisan pada saya melalui chat pribadi Whassap. Esainya itu berjudul Darurat Pengaruh dan diterbitkan sivitaskotheka.org. Setelah membaca, rupanya esai itu untuk menanggapi komentar Royyan Julian. Polemik itu pada dasarnya berangkat dari pertanyaan sederhana, yaitu adakah jejak penyair Indonesia terdahulu dalam puisi Nirwan? Royyan mengatakan tak menemukan jejak itu.

Polemik kerap kali tampak seperti perbedaan pendapat, padahal yang sesungguhnya berbeda adalah cara membaca. Ketika Royyan Julian menyatakan sulit menemukan jejak penyair Indonesia terdahulu dalam puisi Nirwan Dewanto, sesungguhnya Royyan sedang bekerja dalam satu mode pembacaan tertentu: genealogis. Ia mengandaikan bahwa sejarah sastra mesti hadir sebagai kesinambungan yang dapat dikenali, bahwa pengaruh dapat dilacak melalui kemiripan, dan bahwa tradisi bekerja seperti garis yang menyambungkan penyair satu dengan lainnya. Dan dengan jejak itu, Nirwan Dewanto atau setiap penyair akan sah sebagai sastrawan Indonesia. Kira-kira begitu yang saya tangkap.

Respons Nirwan, mungkin sebaliknya, dan dalam tulisannya Darurat Pengaruh mencoba memperluas medan itu. Nirwan Dewanto menolak reduksi pengaruh pada relasi antarpenyair Indonesia, dan menyatakan bahwa pengaruh bekerja sebagai metabolisme luas hingga pada film, lukisan, agama, geologi, kuliner, dunia. Dia mengingatkan pada gagasan tentang anxiety of influence Harold Bloom, tetapi sekaligus menggesernya dari kecemasan genealogis ke kesadaran kosmologis. Pengaruh, bagi Nirwan, bukan jejak yang dapat ditunjuk, tapi sesuatu yang telah menjadi daging dan darah karya.

Keduanya sah, tentunya sebagai konteks. Namun, keduanya masih berbagi satu asumsi bahwa persoalan utama sastra terletak pada pengaruh. Royyan bertanya tentang jejak pengaruh sastra Indonesia yang semestinya ada; Nirwan justru memperluas cakrawala pengaruh itu yang niscaya terbentuk. Kedua pendapat itu benar, hanya saja tak akan menemukan titik temu, ketika niat dalam konteks Royyan dan Nirwan berbeda. Konteks Royyan adalah jejak pengaruh sebagai identitas sastra Indonesia, dan konteks Nirwan pengaruh sebagai apa saja dan dari mana saja.

Dua konteks itu, sebagai pertanyaan dan jawaban bisa mengandung kebenaran, tapi kebenaran yang relatif dan menggantung. Saya sepakat bahwa sastrawan Indonesia harus berada dalam semangat indentitas, tapi sekadar merujuk pada pengaruh geanologis juga menjadi masalah. Sebab sejarah sastra Indonesia sendiri tidak bersih dari pengaruh sastra asing. Untuk itu, bagi saya, apa yang penting adalah bagaimana cara menemukan cara baca baru untuk melihat sastra Indonesia.

Di sinilah saya mengusulkan pergeseran cara baca—dari melacak jejak menuju memetakan daya gerak. Saya menyebutnya DaGer—daya gerak teks. Mode ini tidak menanyakan garis silsilah langsung, tapi bagaimana distribusi energi dalam karya. Setiap teks sastra digerakkan oleh delapan unsur: tema, emosi, karakter, plot, gaya, struktur, meta, dan ludik. Unsur-unsur ini tidak hadir setara; selalu ada yang dominan, ada yang sedang, ada yang laten. Dalam hal ini, sejarah sastra dapat dibaca sebagai perubahan unsur dominan tersebut.

Jadi, mari kita lihat bagaimana DaGer bekerja dalam sejarah puisi Indonesia modern. Pada sajak Amir Hamzah, misalnya, unsur dominan adalah tema dan emosi metafisik. Sajak seperti Astana Rela bergerak menuju penyatuan dengan yang transenden. Struktur dan karakter tunduk pada horizon sakral. Subjek tidak berdiri sebagai pusat otonom; ia menyelaraskan diri dengan kosmos. Di sini, daya gerak teks bersifat tematik-emosional. Bahasa menjadi kendaraan menuju makna yang telah ditentukan oleh visi spiritual.

Lompatan terjadi pada Chairil Anwar. Dalam Aku, karakter—yakni subjek liris—menjadi pusat gravitasi. Emosi tetap kuat, tetapi kini diarahkan pada afirmasi diri. Plot minimal, tema menjadi medan perlawanan eksistensial, gaya mengeras. Dari dua puisi itu bisa kita lihat, daya gerak berpindah dari tema kosmik ke karakter-subjektif. Dunia bukan lagi horizon harmoni, melainkan arena konfrontasi. Unsur dominan berubah, dan bersama itu berubah pula struktur pengalaman yang dihadirkan puisi.

Bagaimana dengan Nirwan Dewanto, misalnya dalam Gandrung Campuhan? Di sini, kita menemukan dominasi unsur struktur dan meta. Puisi bergerak sebagai kolase referensi: mitologi Hindu, ikonografi Kristen, lukisan Bali, tubuh, kuliner, sejarah. Karakter tidak lagi heroik seperti pada Chairil; ia menjadi simpul dalam jaringan simbol. Tema tidak mengarah ke satu pusat; ia berlapis dan terdistribusi. Emosi tidak meledak, tapi berdenyut di bawah permukaan. Yang dominan adalah cara unsur-unsur itu dirakit. Struktur menjadi mesin utama; meta—kesadaran atas tradisi dan referensi—menjadi penggerak reflektif.

Dengan DaGer, kita melihat bahwa yang berubah bukan sekadar gaya atau identitas nasional, tapi pusat daya dalam teks. Pada Amir Hamzah, daya bertumpu pada tema; pada Chairil Anwar, pada karakter; dan pada Nirwan Dewanto, pada struktur dan meta. Jejak mungkin tidak terlihat sebagai kemiripan formal, tetapi gerak tampak sebagai pergeseran dominasi unsur.

Setelah pemetaan DaGer, kita dapat melangkah ke tahap reflektif melalui MRI—Mimesis, Rasa, Ide. Pada Amir, mimesis menghadirkan dunia sebagai cermin kosmos; rasa diarahkan pada kerinduan; ide terikat pada harmoni spiritual. Pada Chairil, mimesis memotret dunia sebagai medan konflik; rasa mengeras menjadi pemberontakan; ide berpusat pada kebebasan individual. Pada Nirwan, mimesis bersifat kolase; rasa tersebar sebagai resonansi simbolik; ide hadir sebagai kesadaran atas fragmentasi dan persilangan.

Dari sini muncul apa yang dapat disebut neohermeneutika intensi dan episteme zaman. Intensi dalam DagEr bukanlah niat psikologis penyair, tapi arah kesadaran yang dimungkinkan oleh struktur teks. Episteme zaman adalah kondisi pengetahuan yang memungkinkan unsur tertentu menjadi dominan. Amir menulis dalam episteme yang masih memberi ruang bagi kosmos sakral. Chairil muncul dalam episteme modernitas revolusioner yang mengutamakan subjek. Nirwan bergerak dalam episteme global yang terfragmentasi, di mana makna tidak lagi terpusat, namun bersirkulasi dalam jaringan tanda.

Dalam perspektif ini, pertanyaan Royyan tentang jejak tetap penting sebagai pengingat memori. Tetapi tanpa pemetaan daya gerak, jejak akan selalu tampak hilang atau terlalu samar. Sebaliknya, respons Nirwan yang memperluas pengaruh ke “dunia” benar dalam menolak pembatasan nasional, tetapi berisiko melarutkan sejarah konkret jika tidak disertai pemetaan unsur dominan.

DaGer menawarkan jalan tengah yang bukan kompromi, tapi pergeseran. Ia tidak menolak genealogi, tetapi membacanya sebagai perubahan distribusi daya. Ia tidak menolak kosmopolitanisme, tetapi menempatkannya dalam struktur teks yang dapat dianalisis. Dengan demikian, sejarah sastra tidak dipahami sebagai museum jejak, dan tidak pula sebagai lautan tanpa batas, tetapi sebagai medan pergeseran dominasi unsur.

Apa implikasinya bagi polemik ini? Bahwa perdebatan tentang pengaruh seharusnya digeser menjadi perdebatan tentang daya. Alih-alih bertanya apakah puisi Nirwan cukup Indonesia atau terlalu dunia, kita perlu bertanya unsur mana yang menggerakkan puisinya? Bagaimana distribusi itu berbeda dari pendahulunya? Apa yang dihasilkan perubahan itu terhadap cara kita mengalami bahasa?

Dengan memusatkan perhatian pada daya gerak, kita menghindari dua ekstrem: positivisme genealogis dan kosmopolitanisme yang kabur. Kita membaca teks sebagai struktur energi. Kita melihat sejarah sebagai mutasi dalam pusat gravitasi makna. Jejak mungkin tidak selalu terlihat; tetapi gerak selalu dapat dipetakan.

Pada akhirnya, polemik Royyan dan Nirwan penting bukan saja karena ia memutuskan siapa yang benar, tapi karena ia membuka ruang bagi pergeseran metode baca. Sastra Indonesia tidak semata berhenti pada silsilah, dan tidak pula larut dalam jaringan global tanpa bentuk. Ia bergerak melalui perubahan unsur dominan yang menggerakkannya. Tugas kritik bukan hanya melacak jejak masa lalu, tetapi memetakan daya gerak yang bekerja sekarang dalam sastra Indonesia. Dalam pergeseran itulah tradisi hidup sebagai distribusi daya yang terus berubah dan terlihat. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top