
Khalil Mutran, penyair asal Baalbek, Lebanon, pernah menulis sebuah diwan panjang 400 baris.
Di antara barisnya, dia menulis:
Sebagian mengutuk Nero, tetapi aku mengutuk bangsa
Jika mereka menentangnya, pasti akan mundur dia
Setiap bangsa menciptakan Nero-nya sendiri pula
Apakah itu “Caesar” atau “Khosru” namanya – sama saja
Sekira seratus tahun setelahnya, negaranya dihantam pembantaian. Dibelasah tak kenal ampun dengan gergasi jahanam. Menderita dan hancur. Tercabik-cabik nestapa.
Tidak saja negaranya, tetapi juga negara-negara lain di kawasan. Binasa. Remuk.
Si gila Trump dan rekan jahatnya, Netanyahu, mengamuk di situ.
Siapa yang harus bertanggungjawab atas “kegilaan” mereka—manusia durjana itu?
Seperti kata Mutran, pemimpin jahat tidak jatuh dari langit. Ia tumbuh dari tanah sosial yang memeliharanya. Setiap bangsa, pada saat tertentu, akan melahirkan Neronya sendiri, dengan nama yang berbeda, dengan kostum yang lebih modern, tetapi dengan watak yang sama.
Siapa Nero? Anda tentu tahu, bukan?
Hari ini, nama itu bisa dibaca sebagai Donald Trump di satu sisi, dan Benjamin Netanyahu di sisi lain. Gila, mereka gila. Orang gila berparang, kata kita. Lebih lagi. Sekarang, parangnya jadi mesin perang mengerikan, pesawat tempur penghancur, bahkan nuklir.
Menyebut mereka “gila” jelas tidak membuat persoalan selesai. Mereka sadar. Waras. Cerdas. Hanya saja, dalam logika sosial, “kegilaan” semacam itu tidak berdiri sendiri. Ia adalah hasil dari akumulasi pembiaran, dari normalisasi retorika kasar, dari legitimasi yang diberikan sedikit demi sedikit hingga akhirnya menjadi kepongahan.
Dalam istilah karikaturalnya, ini seperti sebuah masyarakat yang menonton api kecil di sudut rumahnya, menghangatkan tangan di sana, lalu pura-pura terkejut ketika rumah itu akhirnya terbakar habis.
Orang-orang Amerika paham itu, sebab merekalah pelakunya.
Kalian lebih patut mendapat celaan!
Bukankah kalian yang mendudukkan dia ke kursinya?
Bersorak gembira dengan kemenangannya?
Tidakkah kalian diam ketika kegilaan itu satu perlu satu menimbulkan korban—celaka dan nestapa bagi orang lain, bagi bangsa lain?
Lalu, kini kalian mulai “resah” ketika kegilaan itu, justru mulai mengganggu hidup kalian sendiri, bukan?
Itulah munafiknya Amerika. Pemimpinnya, dan juga masyarakatnya.
Di banyak masyarakat tradisional, termasuk dalam ingatan sosial Minangkabau, orang gila tidak pernah sepenuhnya menjadi urusan individu. Ia adalah tanggung jawab kolektif. Ada kesadaran bahwa keganjilan perilaku seseorang, jika dibiarkan, akan menjalar menjadi ancaman bagi hidup orang banyak.
Oleh karena itu, tindakan atas orang gila baladiang ini segera diambil. Apakah dengan dicari obatnya, dijaga geraknya, atau bahkan dibatasi secara fisik jika diperlukan:
Yang bertanggungjawab atas “sagalo karadjo si gilo itoe” adalah “sadonjo tatanggoeang ateh diri pamilinjo, korong kampoeangnjo atau nagarinjo.” Oleh sebab itu, tugas kerabatnyalah untuk “mamintakkan oebe’ atau mantjari doekoen,” demikian ditulis dalam Soeloeh Agam edisi April 1933.
Bandingkan dengan apa yang terjadi hari ini. Ketika “kegilaan” itu tampil dalam bentuk kekuasaan, ia justru diberi tempat, diproduksi ulang melalui media, dan dilegitimasi melalui mekanisme demokrasi itu sendiri.
Tidakkah kalian telah memilihnya dua kali?
Di sinilah tanggung jawab kolektif menjadi tidak bisa dihindari. Rakyat Amerika—dan Israel—tidak lagi dapat berlindung di balik argumen bahwa mereka “tidak tahu” atau “tidak terlibat”.
Dalam sistem yang memberi suara kepada warga—yang kita agung-agungkan sebagai demokrasi itu—diam adalah bentuk persetujuan paling sunyi. Membiarkan adalah bentuk dukungan paling pasif. Dan ketika kebijakan yang dihasilkan menciptakan penderitaan luas, baik berupa pembantaian, penghancuran, dan dehumanisasi, maka garis tanggung jawab itu harus diperluas.
Pengambil keputusan jelas bersalah dan harus dituntut atas kejahatan mereka. Akan tetapi, mereka yang memungkinkan keputusan itu terjadi, juga harus bertanggung jawab.
Seluruh warga Amerika kini harus dimintai pertanggungjawaban!
Seperti kata puisi Mutran lagi:
Mereka merangkak-rangkak di mukanya dan diapn sombonglah jadinya
Mereka mengagungkannya dan mengembangluaskan bayang-bayangnya
Hingga bumi pun penuh dengan kejahatan di mana-mana
Mereka berikan kekuasaan mereka kepadanya
Maka dia pun menjadi tiran atas mereka
Penguasa hanya mungkin menindas semaunya
Bila tidak ada perlawanan yang ditakutkannya
Orang Amerika dan Israel jangan enak-enak saja, merasa tidak bersalah pula, atas apa yang telah terjadi di dunia kita kini. Kita harus memboikot mereka. Sampai mereka menenangkan si gila mereka itu. Kalau daya gugah demokrasi ialah pada kemampuannya untuk mengoreksi, sekaranglah saatnya untuk kalian mengoreksi apa yang telah kalian buat. Koreksilah hasil ngawur dari demokrasi kalian itu sekarang juga.
Untuk itu, yang paling mungkin kita lakukan, saat kini ini, kita harus menutup telinga dari segala suara orang Amerika dan Israel itu atas kita. Kampus-kampus mesti menutup pintu bagi setiap ilmuwan mereka. Jangan malah mengundang mereka dengan penuh inferior. Memberi mereka panggung untuk membuai-buai kita dengan gagasan-gagasan muluk kemanusiaan, sementara mereka diam—atau bahkan mendukung—atas kejahatan yang telah negara mereka perbuat kepada kemanusian yang mereka bicarakan itu.
Kata-kata manis tentang demokrasi, hak asasi manusia, dan kemanusiaan universal yang mereka sampaikan telah kehilangan kredibilitasnya ketika bertabrakan dengan praktik yang bertolak belakang yang kita telah sama-sama saksikan belakangan ini. Bahwa masyarakat modern, ternyata, dengan segala klaim rasionalitasnya, kadang lebih permisif daripada masyarakat tradisional dalam menghadapi “kegilaan” yang berbahaya.
Dahulu, seseorang yang membahayakan orang lain akan segera dibatasi geraknya. Jika si gila makin menjadi, mengganas dan mencelakai, maka tindakan lain harus segera diputuskan, begitulah dilaporkan koran Soeloeh Agam edisi yang sama. Kaum kerabatnya, jika tidak lagi mampu menanggungkan ulahnya, dapat bermufakat untuk “mampaboee’kan satoe kandang (toetoepan)” supaya si sakit tidak lagi pergi kian-kemari. Jika si gila berhasil keluar, kerabatnya dapat bersepakat “dikoengkoeang (dipasoeang)“, sebelah kakinya atau keduabelahnya. Ada juga yang merantai si gila pada pinggangg dan ujung rantai itu diikatkan ke tunggak gadang.
Sekarang, warga Amerika dan Israel itulah, yang harus menjalankan tugasnya lagi. Mengikat dan merantai Trump dan Netanyahu itu. Satu, kebatkan dia ke patung liberti Anda yang agung itu. Satu lagi, cor di tembok ratapan yang suci!
Jika Anda tidak melakukannya, jangan bicara apa pun lagi kepada kami.
Apa saja yang Anda sampaikan—nonsense!




