| Judul | Upacara Tradisional (Upacara Kematian) Daerah Sumatera Barat |
| Penulis | Tim Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah |
| Penerbit | Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985 |
| Tebal | 194 halaman |
Dalam kehidupan komunal, terdapat sejumlah ritual atau prosesi yang dilakukan oleh Masyarakat. Prosesi yang dilakukan biasanya terkait dengan siklus kehidupan maupun peristiwa penting yang berkaitan dengan kehidupan. Kita mengetahui sejak kelahiran hingga kematian terdapat ritual atau prosesi yang dilakukan. Misalnya saja turun mandi, pernikahan, hingga kematian. Demikian juga dengan ritual-ritual untuk kepentingan lain terkait dengan kondisi alam, penyakit, ketersediaan sumber alam, atau pembentukan pendukung kehidupan.
Salah satu ritual atau prosesi yang dibahas dalam buku berjudul Upacara Tradisional (Upacara Kematian) Daerah Sumatera Barat adalah upacara yang berkaitan dengan kematian. Upacara ini, sebagaimana dibahas dalam bagian awal buku, lebih banyak dilakukan menurut ajaran agama Islam dan juga aturan adat Minangkabau. Setelah kedatangan Islam, upacara kematian yang berlangsung biasanya dilakukan setelah penyelenggaraan mayat. Hal ini didasarkan pada anjuran untuk menyegerakan pelaksanaan pemakaman. Setelah pemakaman, baru kemudian upacara yang terkait dengan aturan adat dilakukan oleh pihak keluarga atau kaum yang terkait.

Prosesi upacara pemakaman yang ada di Minangkabau juga dibagi setidaknya menjadi tiga bagian. Pertama adalah upacara kematian orang biasa, yang dilaksanakan melalui tahapan persiapan, memandikan jenazah, mengafani, dan penguburan. Kedua adalah upacara kematian penghulu, dengan tambahan upacara setelah penguburan. Ketiga adalah upacara kematian Sutan, dengan tambahan upacara setelah penguburan dan upacara menghapus jejak. Tentu saja ada banyak tambahan dan tahapan yang lain yang didasarkan pada adat kebiasaan di masing-masing daerah dan kelompok masyarakat. Setidaknya, penjelasan dalam buku ini memberikan Gambaran umum bagaimana penyelenggaraan upacara kematian dilaksanakan, dengan berbagai cara dan kebutuhan-kebutuhan pelaksanaannya.
Penjelasan dalam buku ini juga disertai dengan transkripsi pidato pasambahan yang dilaksanakan pada upacara kematian. Transkripsi ini memberikan pengetahuan tambahan guna memahami upacara kematian. Dengan adanya kajian atau dokumentasi upacara kematian di Sumatera Barat ini kita dapat juga merefleksikan bagaimana agama Islam dan adat Minangkabau diimplementasikan, dan mendapatkan bentuk interaksi yang terjadi di antara keduanya dalam praktik upacara kematian.
Buku ini juga dilengkapi dengan penjelasan metodologis mengenai proses pengumpulan data, penyajian data, dan analisis yang dilakukan. Di satu sisi, buku ini memberikan contoh implementasi kajian budaya, baik dari sisi antroplogis, folklor, atau sastra lisan, yang berguna untuk kajian-kajian serupa. Kajian kepustakaan di bagian awal buku ini juga memberikan informasi penting mengenai konteks sosial budaya, agama, dan sejarah, yang berguna untuk dikembangkan lebih lanjut dalam berbagai kajian dan bidang ilmu. Buku ini juga menjadi salah satu hasil dari proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan pada tahun 1982/1983. Proyek serupa pada bidang bahasa dan sastra yang diadakan oleh Badan Bahasa juga secara massif telah mengumpulkan data dan kajian yang penting bagi kebudayaan di Indonesia.

Buku ini dibagi dalam empat bab, yaitu pendahuluan, upacara kematian, jalannya upacara kematian, dan penutup. Lokasi pendokumentasian upacara kematian ini delapan daerah tingkat dua di Sumatera Barat, disertasi dengan wawancara, dokumentasi, hingga kajian kepustakaan. Buku ini juga dilampiri dengan gambar-gambar yang terkait dengan kebudyaaan, dan khususnya artefak dan upacara kematian, seperti makam-makam, peralatan upacara, dan prosesi upacara. Sebagai tambahan, dilampirkan juga peta lokasi pendokumentasian dan peta wilayah.
Buku ini tentu saja dapat kita jadikan sebagai referensi dalam kajian budaya, khususnya di Minangkabau atau Sumatera Barat. Deskripsi dan dokumentasi yang disajikan dapat kita tinjau ulang, untuk diperbandingkan baik terkait waktu atau wilayah yang dikaji. Sebagai salah satu prosesi atau ritual, upacara kematian merupakan salah satu bentuk ekspresi kebudayaan, yang dilakukan oleh, dan memiliki peran penting dalam, masyarakat. Saya kira buku ini memiliki nilai penting untuk memahami kebudayaan, terutama yang berkaitan dengan siklus hidup, ritual, adat, dan keunikan masyarakat.
Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id





