
I
Di Warmindo Mang Asep, saya sedang fokus merampungkan proposal tesis. Besok saya bimbingan. Tahun ini saya harus lulus. Adik saya sudah mau kuliah. Saya harus cepat kerja supaya bisa membiayainya. Itu sebab kenapa saya tetap memandangi layar laptop meski tahu Falendra menyapa saya dengan klakson dari tempat parkir.
“Sibuk terus nggak capek apa?” katanya sesudah memarkirkan motornya, “Santai bentarlah. Ngopi-ngopi dulu. Sebat.”
Duduk di bangku di depan saya, Falendra tersenyum. Saya mengembuskan napas, mengedip-ngedipkan mata. Ucapannya masuk kuping kiri, keluar dari kuping kanan. Saya sedang malas meladeni olok-oloknya. Untuk apa? Ia saja lebih sibuk kerja daripada saya. Ia juga tak akan mau menanggung uang kuliah adik saya. Kenapa pula ia suruh saya santai dan tenang saja?
Meski begitu, ketika ia bertanya, “Ardi belum ke sini?”, saya tetap menanggapinya, “Lagi pesen, tuh.”
Falendra menengok sebentar ke arah sana. Ia lalu melolos Surya dari saku bajunya kemudian menyulutnya. Saya kembali meliriknya. Sekilas. Namun, itu cukup membuat saya tahu, Falendra ingin mengatakan sesuatu. Cepat-cepat saya alihkan pandangan ke layar laptop, membacai kata demi kata. Saya benar-benar sedang tak mau mendengar Falendra mengomentari usaha saya tanpa tahu apa yang melatarbelakanginya.
Saya diam. Falendra diam. Kami berdua sibuk dengan laptop dan sigaret masing-masing. Senyap ini barangkali akan berlangsung selamanya seandainya Ardi tidak datang dan berkata, “Wah, diem-dieman aja kenapa, nih? Pada galau ditinggal Nasir mau nikah?”
Saya masih membacai proposal saya. Sebab, saya tahu bahwa Falendralah yang akan cepat menanggapinya. Katanya, “Kamu itu, Bos, cepetan nyusul sana. Udah tua, jomblo. Nggak bosen apa?”
Saya tersenyum kecil, tak kaget dengan Falendra yang begitu. Seperti kepada saya, ia suka menasehati Ardi yang belum punya calon istri. Padahal, ia sama saja. Meledek orang lain hanyalah caranya melupakan situasinya sendiri. Begitulah hobinya: mengomentari segalanya.
“Sabar to, Ndra,” ucap Ardi ketika saya melihat ke arah Falendra, “jodoh kan udah ada yang ngatur. Kita tinggal jalanin aja. Nggak harus buru-buru, to.”
Falendra manggut-manggut. Namun saya tahu, itu hanyalah pura-pura.
“Tuh,” lanjut Ardi ketika saya kembali membaca proposal tesis saya, “Muqor aja juga masih kuliah aman-aman aja.”
Mendengar itu, saya menoleh kepadanya. Bagi saya, ucapan Ardi bermakna ia belum menemukan orang yang memenuhi standarnya. Kriterianya kelewat tinggi sampai-sampai usia tiga puluh hampir terlewati. Menuding saya yang sedang berjuang merampungkan studi hanyalah siasatnya menghindarkan diri untuk mengakui.
“Kalau dia mah,” sergah Falendra, “mau nikah kalau udah nerbitin novel, Bos. Mau jadi sastrawan dulu dia ini.”
Saya tersenyum. Lagi-lagi, Falendra mengulangi gayanya. Namun, kali ini saya tak membiarkannya. Sebab, saya tahu, ia sendiri belum menikah karena ingin terlebih dulu punya rumah. Tidak selayaknya ia bilang begitu. Itu sebab kenapa saya lalu berkata, “Besok beli cermin, Ndra. Yang besar. Pasang di kamarmu.”
Falendra tersenyum kecut. Ia tak berkata-kata, kembali menikmati sigaretnya, dan saya senang bisa memberi sekakmat padanya. Namun, Ardi merusak kesenangan itu dengan dengan berkata, “Tenang aja, Qor, nggak apa-apa seusia kita belum menikah. Seumur hidup itu nggak sebentar. Nggak perlu buru-buru.”
Saya menoleh ke arahnya, tak percaya bahwa Ardi akan berkata begitu rupa. Sudah hampir dua tahun sejak ia mengeluhkan perempuan-perempuan di sekitarnya. Sampai saat ini, boro-boro sudah ada yang menjadi pilihannya, mendekati standarnya saja belum ada.
Saya pun mendehem kecil, bersiap memberi Ardi sekakmat juga. Namun, belum sempat bibir saya terbuka, Nasir lebih dulu tiba dan lantang berkata, “Birabirabirabirabi.”
Tangan kanannya membanting tiga undangan atas nama saya, Ardi, dan Falendra. Saya menoleh ke arahnya, menahan diri agar tidak keceplosan dan merusak kebahagiaannya.
II
Di Warmindo Mang Asep, saya mengklakson Muqor yang sedang memelototi laptopnya. Ia mengabaikan saya dan saya paham mengapa ia begitu. Ia tergila-gila pada sastra dan sepertinya sedang mengerjakan novel pertamanya. Namun, itu hanyalah pelarian semata. Saya tahu alasan sebenarnya. Itu sebab kenapa saya lekas menuju ke tempatnya duduk untuk ngobrol santai saja.
“Sibuk terus,” kata saya, “nggak capek apa? Santai bentarlah. Ngopi-ngopi dulu. Sebat.”
Ketika mengatakan itu, saya tersenyum. Bukan apa-apa, saya hanya ingin mencairkan suasana. Namun, Muqor sepertinya tidak memahami maksud saya. Ia kelihatan tidak senang meski berusaha bersikap biasa saja. Saya pun berusaha membelokkan percakapan dengan bertanya, “Ardi belum ke sini?”
Dugaan saya benar belaka. Sebab, meski menjawab, “Lagi pesen, tuh,” Muqor terlebih dahulu mengembuskan napas dan mengedip-ngedipkan mata. Saya sudah hapal itulah yang dilakukannya tiap kali ada sesuatu yang mengusik hatinya. Saya mengamatinya dan menjadi yakin bahwa ia memang berusaha menyembunyikan ketidaksenangannya. Mendapati itu, saya memutuskan tak lagi mengajaknya bicara dan merogoh sebatang Surya dari saku saya.
Ketika menyulutnya, saya tahu Muqor melirik ke arah saya sejenak dan cepat-cepat mengembalikan pandangan ke layar laptopnya. Namun, saya tak menggubris itu. Sebab, saya memahami itulah caranya menghadapi kondisi yang sedang ia alami. Ia baru saja ditinggal pacarnya. Ardi yang memberi tahu saya. Jelas itu tidak mudah. Saya bisa memakluminya.
Saya lalu memilih diam, dan kami tak saling bicara sampai Ardi datang dan berkata, “Wah, diem-dieman aja kenapa, nih? Pada galau ditinggal Nasir mau nikah?”
“Kamu itu, Bos,” sahut saya, “cepetan nyusul sana. Udah tua, jomblo. Nggak bosen apa?” Saya tahu, dari gelagatnya yang masih menatap laptop, Muqor tak mau menanggapi Ardi. Sebagai mahasiswa sastra yang gagal perihal cinta, menulis novel mungkin cara pelampiasannya. Ia tersenyum kecil mendengar ucapan saya.
“Sabar to, Ndra,” balas Ardi, “jodoh kan udah ada yang ngatur. Kita tinggal jalanin aja. Nggak harus buru-buru, to.”
Saya mengangguk-angguk, setuju saja dengan ucapannya itu. Siapa juga yang kurang kerjaan mau menyangkalnya?
“Tuh,” sambung Ardi, “Muqor aja juga masih kuliah aman-aman aja.”
Mendengarnya, saya melirik ke arah Muqor. Saya khawatir candaan itu tidak menyenangkannya. Suasana hatinya sedang tak baik. Saya paham bagaimana rasanya putus cinta. Sampai berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, setelahnya, sakitnya bisa masih terasa, apalagi jika itu terjadi di usia akhir kepala tiga. Karenanya, saya menanggapinya dengan bercanda, “Kalau dia mah mau nikah kalau udah nerbitin novel, Bos. Mau jadi sastrawan dulu dia ini.”
Saya tak ingin suasana bertambah rumit. Ini sudah malam. Semuanya lelah. Candaan yang tak pada tempatnya bisa membikin naik darah. Namun, agaknya Muqor benar-benar sedang kacau hatinya. Bukannya mengiyakan saya, dengan ketus ia justru berkata, “Besok beli cermin, Ndra. Yang besar. Pasang di kamarmu.”
Mendengarnya, saya diam saja, kembali mengisap Surya, tak mau memperkeruh suasana. Saya berharap, Ardi pun peka pada situasinya. Namun, bukannya melakukan hal yang sama seperti saya, ia malah bermain api dengan berkata, “Tenang aja, Qor, nggak apa-apa seusia kita belum menikah. Seumur hidup itu nggak sebentar. Nggak perlu buru-buru.”
Saya terperanjat. Sebab, apa yang Ardi katakan sama saja menyiram minyak ke atas bara. Dan benar saja, Muqor langsung berhenti menatap layar laptopnya, mendehem kecil, dan tampak ingin membalasnya. Namun, belum sempat ia melakukannya, Nasir lebih dulu tiba dan berkata, “Birabirabirabirabi.”
Tangan kanannya membanting tiga undangan atas nama Muqor, Ardi, dan saya. Saya menoleh ke arahnya, menahan napas mendengar candaan Nasir yang jelas sangat tidak pas waktunya.
III
Di Warmindo Mang Asep, saya sengaja berlama-lama memesan nasi orak-arik kesukaan saya. Saya tidak ingin lekas menemui Muqor yang sibuk dengan laptopnya. Ketika mendengar suara klakson dari arah tempat parkir, saya tahu itu berasal dari motor Falendra. Namun, saya masih tak beranjak dari tempat saya. Saya ingin ke sana setelah Muqor berbincang dengannya.
Saya melakukan itu bukannya tanpa alasan. Mereka berdua sama-sama sedang murung. Muqor baru saja putus dengan pacarnya, sementara Falendra belum lama ditolak lamarannya. Mereka berdua juga sama-sama tahu keadaan masing-masing. Muqor pernah bercerita kepada saya, yang kemudian saya ceritakan kepada Falendra, sementara Falendra malah bercerita sendiri kepada Muqor yang kemudian diceritakan pada saya.
Membayangkan dua orang yang sedang sensitif duduk berhadapan membuat saya girang. Salah kata sedikit saja bisa menjadi ampelas bagi luka yang belum kering permukaannya. Namun, diam-diam saya justru mengharapkan itu terjadi. Asyik sekali jika mereka cakar-cakaran atau saling cekik di sini.
Meski begitu, khayalan saya agaknya tidak akan terlaksana. Sudah beberapa waktu sejak Falendra mengklakson Muqor dari tempat parkir sana. Namun, saya belum mendengar tanda-tanda Falendra menjambak Muqor dan Muqor mencekik leher Falendra.
Saya pun jadi tergoda untuk menoleh ke arah Muqor dan Falendra. Saya ingin tahu apa yang sedang mereka berdua percakapkan. Sangat tidak lucu jika mereka ternyata diam-diam merencanakan pemberontakan tanpa melibatkan saya. Saya mesti ada dalam pembicaraan macam itu karena hanya sayalah yang bisa menjadi panglimanya.
Percuma. Tak ada suara apa-apa dari mereka kecuali sesekali dan samar-samar. Saya jadi tak tahan lagi dan memutuskan berjalan ke meja tempat keduanya duduk. Baru beberapa kali melangkahkan kaki, saya sudah geleng-geleng kepala sendiri. Tak ada cakar-cakaran. Tak ada cekik-cekikan. Tak ada percakapan tentang pemberontakan.
Muqor sibuk dengan laptopnya, sementara Falendra asyik mengisap rokoknya. Saya bergegas mendekati mereka lalu berkata, “Wah, diem–dieman aja kenapa, nih? Pada galau ditinggal Nasir mau nikah?” Saya sengaja mengatakan itu karena memang ingin memancing emosi mereka.
“Kamu itu, Bos, cepetan nyusul sana. Udah tua, jomblo. Nggak bosen apa?”
Saya tersenyum dalam hati mendapati orang yang ditolak lamarannyalah yang pertama memakan umpan saya. Saya pun cepat menanggapi, “Sabar to, Ndra, jodoh kan udah ada yang ngatur. Kita tinggal jalanin aja. Nggak harus buru-buru, to.” Namun, saya tak mau berhenti di situ dan lekas melanjutkannya dengan berkata, “Tuh, Muqor aja juga masih kuliah aman-aman aja.”
Menyebut namanya, saya berharap Muqor segera ikut masuk dalam percakapan yang ingin saya dengarkan. Namun, alih-alih begitu, Falendralah justru yang menyahutnya, “Kalau dia mah mau nikah kalau udah nerbitin novel, Bos. Mau jadi sastrawan dulu dia ini.”
Saya yang semula mau kecewa jadi girang mendengarnya. Sebab, saya tahu celetuknya itu akan membikin jengkel Muqor yang sedang tidak bisa diajak bercanda. Lagi pula, ia tidak sedang mengerjakan naslah novelnya. Dan seperti dugaan saya, dengan dingin dan tajam ia menyahutinya, “Besok beli cermin, Ndra. Yang besar. Pasang di kamarmu.”
Falendra tersenyum masam, tak lagi menanggapi. Ia memang tak suka berdebat tentang hal-hal macam begini. Karena itulah, saya sendiri yang harus terus memanas-manasi agar Muqor makin terbawa emosi. “Tenang aja, Qor,” ucap saya ketika Falendra mengisap rokoknya, “nggak apa-apa seusia kita belum menikah. Seumur hidup itu nggak sebentar. Nggak perlu buru-buru.”
Seperti harapan saya, Muqor tampak terkejut mendengarnya. Ia pasti terbakar dadanya. Ia berdehem kecil, dan saya tak sabar menunggu ia kembali menyemburkan lidah apinya. Namun, belum sempat ia mengatakannya, Nasir lebih dulu tiba dan berkata, “Birabirabirabirabi.”
Tangan kanannya membanting tiga undangan atas nama Muqor, Falendra, dan saya. Saya menoleh ke arahnya, makin senang karena celetuknya akan kian membakar suasana. []
Kaliwanglu, 28 Oktober 2025




