Almarhum di Atas Kuburan

Judul tulisan ini, “Almarhum di Atas Kuburan”, merujuk nama belakang penyair Zikri, sekaligus judul buku puisi perdananya, Wifi di Atas Kuburan (JBS, 2025). Sebuah analogi.

Dengan menulis “di atas kuburan”, saya ingin menyatakan ada sesuatu yang tak lazim—di mana biasanya tempat almarhum pasti “di dalam kuburan”. Di sini seolah almarhum tidak menjalani tata-cara dan prosedur umum. Bahkan bisa saja dianggap gentayangan. Maklum, almarhum selama ini hanya dipahami sebatas mendiang, status pembeda antara si mati dengan yang hidup.

Padahal makna asli almarhum itu ialah “yang dirahmati Allah”, semacam doa bagi si mati. Sebagai doa, seyogianya almarhum ditempatkan di atas kuburan, agar ia menyepuh nisan dengan cahaya keselamatan. Begitulah almarhum menghubungkan kita dengan harapan dan penghiburan.

Strategi Desakralisasi dan Deprofanisasi

Analogi posisi tak lazim almarhum, merepresentasikan cara kerja puisi di dalam buku ini. Ia mendesakralisasi apa yang dianggap “suci” dan prosedural. Puisi dan kelindan teks para penyair lain ditindih, diplesetkan atau di-pastiche-kan. Pusara keramat, mitologi, cinta, intimitas keluarga, interaksi sosial, falsafah adat dan norma, hingga tradisi merantau yang “waw” di Minangkabau, diparodikan sedemikian rupa.

Tak tanggung-tanggung, ia ambil palu godam dari dua penyair besar, Chairil Anwar dan Sitor Situmorang. Pada Chairil, puisi “Aku” yang agung itu ia parodikan dengan ikon-ikon virtualitas (hal. 22). Sekilas terasa segar. Tapi vitalitas penanda jiwa zaman (zeitgeist) pada masa “berjoang”, menjadi mandeg di masa sekarang.

Ikon-ikon pascamodern yang dicantelkan di sekujur tubuh “Aku”, membuatnya labil dan parsial. “Aku” versi Zikri ini tak mungkin diunduh ke belakang; sedang di masa kini pun ia hampir aus meregang istilah, apatah lagi di masa depan yang segalanya bakal berubah. Dapat dibayangkan, tatkala istilah-istilah virtual tersebut tak lagi popular (atau saking populernya malah jadi streotipe), maka mengaburlah aku-lirik sebagai subjek eksistensial.

Aku
(Pasca Chairil Anwar)

kalau sampai paket dataku
kumau tak seorang kan merayu
tidak juga kau

tak perlu pasword wifi itu

aku ini handphone kentang
dari kumpulannya terbuang

biar UU ITE menembus akunku
aku tetap mengupload menerjang

emot dan hashtag kubawa berlari
berlari
hingga habis penuh memori

dan aku lebih tidak peduli
aku mau paket data seribu giga lagi

Ungkapan Chairil lainnya tak luput diplesetkan, seperti aku ini binatang lajang/ dari kumpulannya terbujang (hal. 48), bukan kematian benar menusuk kalbu/ keridaanmu menerima segala tiktok (hal 61). Bahkan secara teknis, disadari atau tidak, buku ini dibuka oleh sebuah sajak pendek tentang kematian, “Berita Kepulangan”: telah berpulang kepada puisi/ seekor anjing yang menyalak lantang/ dalam dadaku// telah berpulang kepada puisi/ seekor laron yang melelehkan sayapnya/ di matamu. Persis buku Chairil yang dibuka puisi pendek “Nisan” (1942). Bukan kematian benar/ menusuk kalbu/ Keridaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ dan duka maha tuan bertahta.

Sedangkan untuk judul buku, Zikri mengambil-alih “Malam Lebaran” Sitor Situmorang, “Bulan di atas kuburan”. Jika dilihat bagaimana wifi menjadi kebutuhan 24 jam manusia sekarang, tak hanya pada malam Lebaran, tentulah judulnya akan menjadi “Bukan Malam Lebaran”. Dan itulah yang dinyatakan secara implisit.

Dengan demikian, puisi-puisi Zikri bergerak di reruntuhan sakralitas, sesuatu yang agung, suci dan keramat. Semua direspon dan disusun ulang secara acak, cair, dan profan, memancing kelucuan dan suasana riang jenaka. Resikonya, ya, seperti nasib “Aku” di atas.

Tapi sebaliknya, Zikri membawa yang profan masuk ke wilayah sakral, menjanjikan kontemplasi di tengah keriuhan. Wifi, simbol perangkat massal, ditempatkannya di pos spiritual; di atas kuburan. Itulah yang memungkinkan pancaran rasa haru, pencitraan baru, fitur-fitur asyik tapi khusuk, doa-doa takzim merasuk serta suara-suara jernih namun mengusik. Pendeknya, de-sakralisasi yang diimbangi de-profanisasi, mencuatkan paradoks, ironi serta hal lucu dan jenaka, tapi sekaligus menyelipkan humor kritis dan nyelekit. Meminjam konsepsi Milan Kundera, itulah gelak-tawa subversib, bikin kita tak cepat lupa.

Ulang-Alik Tematik

Zikri mengangkat pergulatan manusia modern, baik secara personal maupun komunal, di tengah simulakra benda-benda, kultur urban dan fitur-fitur virtual yang mendatangkan keterasingan. Di bagian ini kita akan melihat lebih lanjut bagaimana strategi desakrilisasi dan deprofanisasi itu dia operasikan.

Di satu sisi, Zikri membangun suasana dengan cara relatif hening, semacam upaya mengenang “tasik yang tenang” (sakralitas ala STA). Tapi toh bayang-bayang desakralisasi membuatnya lebih tampak sebagai “tasik beriak”, menyerupai gairah laut dan gejolak ombak. Atau, kita bisa ambil gambaran Butet Kartaredjasa ketika meliput pembacaan sajak humor Jose Rizal Manua di Yogya. Tulisnya, Bukan hanya meluncurkan bait-bait puitis. Tetapi menghidupkan makna, memberi warna dan watak, sehingga puisi yang semula ‘alim’ menjadi galak membetot saraf tawa (Berita Buana, 10 Maret 1991).

Sebaliknya, di sisi lain, parodi pop-culture, lelucon lapau, gelitik dunia surau atau impresi sehari-hari dalam sajak Zikri, menjadi pemantik kejenakaan, sebentuk upaya menghadirkan “trem penuh sesak” (dalam “Kota-Harmoni” Idrus yang hibuk). Tapi toh atmosfir deprofanisasi membuat ironi dan satir malah mencuat diam-diam.

Di antara dua ruang inilah Zikri bergerak ulang-alik merayakan keragaman tematik.

Mari kita lihat contohnya dari kedua sisi. Sisi pertama, ada sebuah puisi yang sebenarnya bernuansa kontemplatif, tapi samar-samar menyelipkan citraan virtual penggoda libido, jika bukan iman. Akibatnya, dalam berkontemplasi, kita ditarik membayangkan yang “bukan-bukan”, minimal menahan senyuman. Apalagi ia jadikan dolanan anak (yang riang) sebagai penutup, sehingga kontemplasi berada di ambang buyar. Tapi, tidak. Ia telah meletakkan “amiin” paling akhir, mengunci kontemplasi dengan diksi transendental; kau tak mungkin serta-merta berjingkrak girang karenanya. Sabar dan tahankanlah.

tuhan/ anugerahilah kami benda-benda penghalau sunyi/ mainan yang tak dijual di play store dan sex toys terkini/ berilah kami tawa bayi, tawa yang belum dijajah emot hahahihi/ simpanlah duka kami ke tempat/yang tak tersentuh hashtag dan komentar caci maki/ sembunyikanlah air mata kami seperti kami/ sembunyikan folder bokep di laptop kami// hompimpa alaium gambreng/ amiin. (“Doa yang Log In dari Bocah yang Log Out”, hal.34).

Dalam “Di Beranda Bersama Rosalia” ini, di antara curhat lirih, ia menggelitik kita lewat ironi: betapa aku takkan menggerutu, rosalia/ kadang hidup memberiku humor tak lucu/ seperti vidio musikalisasi puisi di youtube/ tiba-tiba disisipi iklan shopee c.o.d// betapa aku takkan tergugu, rosalia/ tak jarang hidup memberiku haru tak tersudu/ seperti ucapan selamat ulang tahun/ di dinding facebook teman yang sudah lama meninggal//

Suasana itu dapat lebih lanjut dirasakan dalam puisi “Mendengarkan Elly Kasim Suatu Pagi” dan “Ke Warung Membeli Minyak Tanah”. Keduanya berupa impresi sehari-hari, tapi mengandung kenangan riang-pedih. Sajak “Cadas dalam Rahim” lebih sederhana dan polos, tapi mampu menghadirkan hubungan krusial antara ibu dan anak.

Sebaliknya, coba kita lihat contoh sisi kedua. Dalam puisi berikut, hasrat bermain-main amat kentara, tapi ajaibnya, ketakziman batiniah justru bangkit secara alamiah: dalam sembahyang/ ingatanku justru pada puisi/ yang belum rampung// dalam puisi/ pikiranku malah ke sembahyang/ yang belum khusyuk// ingin kusembahyangkan puisiku/ sebagai jenazah yang koyak-cabik/ diterkam takabur berbulu takbir// ingin kupuisikan sembahyangku/ sebagai metafora yang berjalan tertatih/ dari hayya ‘alash shalah menuju hayya ‘alal falah// antara sembahyang dan puisi/ aku menerka-nerka;/ kaukah itu yang tuma’ninah dalam spasi?// (“Sembah dan Puisi”, hal. 26).

Hal sama terasa dalam “Penuhi Kami dengan Kekosongan”. Bergaya slengek’an, tapi berujung pada gairah sufistik atau Zen: […] biar enak tahi direndang/ biar empuk batu dipanggang/ tak putus kata sekali cincang//oh bahasa di ujung langit/oh kata di pangkal lidah/ penuhi kami dengan kekosongan. Sementara “Parade Kata Empat Onggok” menjejal ikon dan benda urban, mencipta alienasi ala Afrizalian, tapi sungguh segar dan menantang.

“Ucapan Selamat yang Tidak Menyelamatkan” (hal. 20) adalah sinisme nan sarkas. Nama-nama menyandang gelar kebesaran, tapi terkesan olok-olok. Ucapan selamat kepada sosok “yang dimuliakan” itu, menyelipkan kemarahan dan rasa ngilu yang peram. Selamat siang, william mangkuto sati/ apa kau pernah melihat ular menetas dari sebutir pidato/ atau meraba kemunafikan pada sebongkah amin di akhir doa? Begitu seterusnya. Bahkan kemarahan diperbesar dalam bait tersendiri.“aku pernah minum jus rasa bangkai/terbuat dari kalimat pada visi misi/dan baliho berjejer seperti kudis di selangkangan.

Demikianlah, ia konsisten mengolok dan melesakkan serangan, tapi pada bait akhir terbitlah keperihan yang tak tepermanai: “aku hanya punya siti rukayah/ dia bisa membuat telur asin dari tangisnya sendiri/ kami bahagia setiap kali ada yang berderai dari matanya.”

Puisi penutup dalam buku ini, “Plung” (hal. 72), mengingatkan kita pada puisi Jose Rizal Manua—“Berak”: Termenung di atas kloset/mengkhayal, jadi/presiden/…./Plung!” Zikri membalik posisi “plung”, dari akhir ke awal, bahkan jadi judul. Tapi ia mengisinya secara deklaratif. telah kutulis puisi untukmu, kekasih/ puisi organik dan anorganik/ agar kau mudah memilah/ saat membuangnya/ ke tong sampah. Semacam pernyataan sikap kepenyairan yang bukan sekadar “khayalan” Meski ujung nasibnya sama; satu lobang kloset, satu tong sampah. Tapi pada Zikri ada jenis organik dan anorganik yang bisa dipilah dan dipilih sehingga menerbitkan sedikit harapan. Jadi tepat belaka ditarok di halaman penutup.

Sebenarnya Zikri punya modal besar untuk menulis puisi satir berlatar religiusitas dan kultur tradisional, baik lantaran statusnya sebagai anak siak (santri), maupun minatnya atas transformasi nilai-nilai tradisional ke kultur urban. Beberapa puisi menunjukkan itu. Mulai “Mantan Ajrumiyah”, “Kepada Tarbiyah”, “Kekasih Tuanku Fakih”, “Tuhan dan Tahun”,“Kepada Bajak Laut yang Menepuk-nepuk Dada” hingga “Tahlil dalam Kandang”. Semua berbau tasawuf-tarbiyah. Lihat misalnya “Usikum Wa Nafsi”. Padat-singkat, tapi amat luas rujukannya: maka nikmat dustamu/ yang mana lagi/ yang kau tuhankan?

Karena mengandung hal-hal khusus, sajak jenis ini butuh olahan secara khusus pula, misalnya dalam hal penggunaan istilah Arab dan tajaan kitab-kitab. Zikri meleburnya untuk memintal jarak agar tampak wajar dan akrab. Ini hampir sama dengan persoalan logat yang akan kita bahas sebentar lagi. Dan satu hal yang tak hilang: meski mengangkat soal ketarbiyahan yang menuntut ketakziman, toh Zikri tetap dengan kenakalan bawaan yang khas tiada obat: berayun antara yang sakral dan profan.

Selain itu, sebagai santri-pembelajar, Zikri mengunjuk pergulatan intelektualitasnya secara referensial dalam serial “Vultus I (hal. 18), Vultus II (hal.46) dan “Vultus III” (hal. 68). Mengingatkan pada “serial puisi Susi” Gus tf yang menjalin (jika bukan memilin) kosmologi timur-barat. Meski berhubungan, ketiga puisi itu tak dimuat berjejer, melainkan berjarak belasan halaman. Apakah demi mengurangi kadarnya yang rada berat? Entahlah.

Sebelum menutup pembicaraan di bagian ini, ada satu lagi potensi Zikri yang saya kira perlu ia sadari (ssttt..sebenarnya ini rahasia!). Meski kecenderungannya bermain di puisi humor dengan pelbagai versi dan variasi, Zikri juga punya karya yang relatif “netral”. Dalam arti, tak mudah digeneralisasi karena begitu stabil secara emosi dan konsisten membangun contens; intens dan menyentuh. Dua di antaranya adalah “Aku tak Tahu di mana Aku Akan Padam”, dan “Jarak Mataku ke Matamu Masih Sajak”. Ini modal Zikri agar tak tersangkar oleh satu kecenderungan, sebab jalan Almarhum masih panjang. Tak ada larangan jika suatu saat posisinya bergeser dari “di atas” menjadi “di dalam” kuburan.

Pilihan Sejak Awal

Meski demikian, pilihan Zikri saat ini, setidaknya di buku ini, memang humoritas yang membebaskan. Melalui strategi desakralisasi/deprofanisasi, terlihat ia tipe “penyair berkesadaran” memilih bentuk, tema, dan gaya puisinya sejak awal. Persoalan memilih tak bisa dianggap mudah. Ada yang bilang itu bisa dilakukan sambil jalan, tapi dalam banyak kasus, anggapan itu keliru. Banyak penyair kita yang terhormat, tak ketemu gaya sendiri karena abai memikirkan orientasi puitik yang kudu dikukuhi.

Zikri memilih puisi-puisi satir jenaka, meski dalam beberapa hal bersifat kitsch. Konsepnya barangkali bermain-main, bukan main-main—kalau boleh meminjam konsepsi Kelompok Seni Rupa Bermain Surabaya.

Ada sejumlah istilah dan fenomena yang dapat kita gunakan untuk jenis puisi ini, seperti puisi humor, puisi satir atau parodi, puisi dagelan dan puisi mbeling. Dan mungkin kini harus ditambahkan: “puisi quotes”—dari jenis yang jenaka. Pelakunya cukup banyak, baik sekedar lewat maupun yang konsisten. Di antaranya Hamid Jabbar, F. Rahardi, Jose Rizal Manua, Yudhistria ANM Massardi, Remy Sylado serta para pendukung puisi mbeling, termasuk Joko Pinurbo yang menggabungkan gaya mbeling dengan gayanya sendiri.

Deretan penyair mutakhir juga punya kecenderungan ini. Misal, Thendra BP, Kedung Romansa, Dahri Dahlan, Hilmi Faiq, Deddy Arsya, Maulidan Rahman Siregar, Godi Usnat, Fredy Wowor dan Muhaimin Nurrizqy. Selain itu, di antara puisi yang “serius” terselip satu-dua puisi “bergurau” seperti dalam puisi Saut Situmorang, Ahda Imran, Acep Zamzam Noor, Nuryana Asmaudi atau Taufiq Ismail.

Sesungguhnya Zikri termasuk dalam golongan orang-orang ini, tapi ia punya gaya tersendiri di locus ini. Minimal tampak dari 48 judul puisi yang sebagian sudah kita bicarakan di atas, sekalipun rujukannya tak konstan. Ia melompat lincah ke sana ke sini, mencoba aneka gaya dan strategi. Ketimbang bilang tak punya pendirian, saya kira lebih tepat melihatnya dari perspektif semangat total-football di arena kontestasi humoria.

Kadang ia memakai gaya Sapardian, lebih kurang demikian: aku ingin mencintaimu dengan rumah makan sederhana/ dengan kata yang tak sempat diucapkan rendang kepada gigi/ yang menjadikannya tiada// tak ada yang lebih tabah/ dari dji sam soe bulan juni/ dirahasiakannya pahit hidupnya/ kepada rokok kretek itu// yang fana adalah paket data, pencitraan abadi// (“Hip Hopisasi Puisi”, hal. 56).

[….] kau ingin mencintaiku dengan bermenung/ dengan gaya tapai jatuh ke aspal/ dengan tatapan kacamata kuda/ dengan diam ular tertelan tangkai sapu/ dengan senyap gagang peria menjalar dinding rumah// (“Puisi Cinta Penuh Boba”, hal. 64).

Kadangkala ala Jokpinian, seperti bait ini: […] mereka pulang ke kampung halaman/ tapi lupa halaman berapa/ tidak ada tanah/ apalagi air// (“Lagu Pulang Kampung”, hal. 40). Atau ini: pulang dari rantau/ aku belikan bapak ikat pinggang// setiba aku di rumah/ malah pinggang bapak dililit hutang// “untuk ongkosmu balik ke rantau”/ kata bapak sambil berkacak pinggang// (“Oleh-Oleh dari Rantau”, hal. 29)

Kadang pola gabungan, misalnya puisi “Amin, Amin, Amin, Amin, Amin” (hal. 16); bertolak dari teks Sapardi, tapi garapannya Jokpinian: permisi, tuhan/ bunyi doa-doaku kah itu/ yang minta-minta tak tahu malu/ seperti bunyi token nyinyir melulu//

Kadang gaya mbeling: orang-orang mencium/bunga-bunga plastik//orang-orang menyaru/kupu-kupu plastik//orang-orang menyatakan cinta/yang mungkin juga plastik//dari mata plastik/ jatuh ke hati plastik// tapi tak mengapa/ asalkan semua/ anti pecah// tapi masih bisa disebut hatikah/sesuatu yang tidak pernah/bisa patah// (“Mengatakan Cinta 5.0”,hal 42).

Bisa melalui pola tradisional: plesetan pantun dan petatah-petitih. Bulat air oleh paralon/bulat kata oleh mikrofon//tiba di mata jangan pakai soflens/tiba di perut jangan pakai stagen//hafal jalan karena google maps/hafal kaji karena internet//tapi jalan telah dianjak oleh anjing lalu/kaji telah dialih oleg asu singgah.

Zikri pun bermain pastiche, sebuah gaya yang sengaja mengambil baris/bait atau contens teks populer, lalu dieksplorasi demi makna lain. Saut Situmorang jago dalam hal ini. Puisinya “Misalkan Kita di Dili” mengambil teks Goenawan Mohamad, “Misalkan Kita di Sarajevo”. Puisi yang lirih tentang pembantaian Sarajevo, disentak Saut dengan realitas keras di beranda rumah sendiri. “Aku Ingin” Sapardi yang dibangun secara romantik dari anasir bumi (air, angin, tanah, api), diganti dengan eros ketubuhan yang lebih telanjang dan murni.

“Disebabkan oleh Angin” Rendra, ia inisiasi dengan aura romantik pengalamannya sendiri yang otentik menjadi “Disebabkan oleh Rendra”. Sebuah ungkapan Rendra lainnya, direspon jadi begini: Medan di dalam/ Medan di luar/ Menyatu dalam rantau!// Meski terkesan mudah, itu tak gampang. Sama sulitnya nulis haiku. Zikri tampaknya belum berhasil. Sajak “Aku” Chairil misalnya, lebih sebagai plesetan, jika bukan tempelan, belum pastiche. Tak ada makna baru kecuali kerajinan puzzle virtual yang lebih bernilai kitsch.

Puisi kitsch, tentu saja hilang greget. Sebut misalnya “Kelok Bujang”, “Pantai Puruih”, “Berbuka Puasa di Azan Ashar”, “Membawa Sabun Tombak ke Medan Perang”, dan “Yang Berdengung di Kepalaku”. Puisi-puisi tersebut, pinjam istilah Zikri sendiri, bagai “pantun tak ada isi/hanya tinggal sampiran sangsi”. Atau,“hari ini tak ada lagi puisi/ hanya tinggal diksi modifikasi.”

Celakanya, “Wifi di Atas Kuburan” yang jadi judul buku ini, termasuk jenis dimaksud. Walau beridiom virtual yang profan, sebenarnya puisi ini tetap mengharukan. Aku-lirik berpesan agar anak-anaknya kelak berziarah ke makamnya. Basa-basi sosial, “sekadar login instragram”, demi kenyamanan sekitar, bagaimana pun tetap menghubungkan insan secara prosedural. Tapi dua bait “jawaban” dari plesetan puisi dan lagu, terlalu “pecicilan”. Kesannya, satir yang didramatisir. Padahal, nuansa puisi sudah di taraf reflektif, di mana sinyal jernih wifi memancarkan satir secara alamiah.

kunjungi aku
kunjungi aku, anak-anakku
tidak atas nama ziarah tidaklah
sekedar hpmu terhubung wifi pun jadi

bukan kematian benar menusuk kalbu
keridhaanmu menerima segala tiktok

datangi aku
datangi aku, anak-anakku
tidak untuk menghantar doa tidaklah
sekedar kau bisa login instagram pun jadi

walaupun hidup seribu tahun
kalau tak ada postingan apa gunanya

Perkara Logat dan Minoritas

Menurut Hartojo Andangdjaja, sastra Indonesia miskin sajak humor. Sejak tahun 30-an humor lebih banyak ditemui dalam prosa seperti cerita Suman Hs, M. Kasim dan Aman Dt. Majoindo, itu pun sekadar hiburan. Padahal, Nusantara basis penciptaan pantun yang kaya dan beragam, termasuk dalam hal humor. Bukan hanya pantun-pantun jenaka, tetapi pantun-pantun kasih sayang pun kerap memancing senyum (lihat Dari Sunyi ke Bunyi, 1991).

Hartojo tidak merumuskan secara defenitif apa itu puisi humor, tapi menceritakan adegan penjual obat kuat di depan bisokop dekat Taman Puti Bungsu, Bukittinggi. Dalam logat Minang kental, tukang obat itu berhujah,”Tuan-tuan, kalau Tuan-tuan tidak minum obat ini, percayalah: selangkah Tuan pergi/ bini Tuan cari laki.”

Bagi Hartojo, dua frase terakhir merupakan bentuk puisi sederhana yang mampu membangkitkan rasa humor di kalangan pendengarnya. Tema seksualitas melalui cerita-cerita pornografi yang ditabukan, ia wedarkan di sekitar pasar secara berseloroh dan main-main, justru jadi katup pelepas ketegangan. Ekstrimitas pandangan mencair dalam kemadiaannya.

Apa paling menarik bagi saya adalah satu hal kecil tapi memberi efek kuat dalam puisi humor: logat. Bagi Hartojo, si penjual obat dekat Jam Gadang itu bertambah digdaya humoritasnya karena ceritanya disampaikan dengan logat daerah, logat Minang.

Kebetulan di sini, logat Minang Zikri cocok belaka mengacak keminangannya, melalui pantun, petatah-petitih, kaba, atau lagu. Tentu dengan mentransformasikan kelisanan ke dalam tulisan, sehingga logat itu tetap bisa “didengar” atau dirasakan. Nikmatilah “Hip Hopisasi Puisi” ini: [..] ondeh mak oi//hidup tak lagi berhulu/nasib berjalan tanpa tuju/seperti hari raba’a pukul satu/ada celana tak berbaju// tapi sanak jangan bersedih hati/ serupa itu pula mainnya kini//follower dipangku/subscriber dibimbing/orang stalking dipertenggangkan//posting mengata/hastag memakai/surga di bawah telapak kaki wifi.

Bukankah memang, percakapan sehari-hari sering mengandung humor melalui logat bahasa daerah masing-masing? Kadang mendengarnya saja kita sudah merasa “lucu” (tentu ada konteksnya), dan itu bisa muncul dalam karya sastra. Katakanlah dalam logat Batak, Betawi, Timor, Papua, atau Melayu-Manado. Meski kadang tak berpretensi melucu, toh tetap membangkitkan ghiroh tertentu, semacam sense of humor yang bikin segar suasana. Tapi ini harus dilihat hati-hati sebab bisa bias, bisa-bisa melanggengkan eksotisme-slapstik.

Yang jelas, kembali pada Hartojo, ketika bahasa Indonesia memformulasikan bentuk-bentuk percakapan secara formal—yang cenderung menjadi bahasa pikiran ketimbang bahasa perasaan—saat itulah menurutnya puisi humor menjadi minoritas dalam kesusasteraan kita.

Dari sedikit itu Zikri unjuk diri. Meski kini minat menulis sajak humor (aneka varian) cukup tinggi, tapi lebih banyak menyukai jenis “puisi quotes” yang pretensius—penyair sebagai motivator emoticon! Zikri tetap lain: jenaka, tak jarang jenius. apalah arti seribu kapal/ jika armadamu tak merindukan laut// tulisnya dalam “Kapten Menanak Batu”.

Penutup dan Rekomendasi

Demikianlah sedikit respon apresiatif atas puisi-puisi Zikri Almarhum yang insyaallah dirahmati Allah. Semoga Zikri tidak manyun, tapi tersenyum dan tertawa. Selanjutnya, untuk melihat perkembangan puisi humor terkini (dalam arti luas), kiranya menarik membandingkan Wifi di Atas Kuburan ini dengan Tuhan Tidak Tidur Atas Doa Hambanya yang Begadang (Erka, 2018) karya Maulidan Rahman Siregar.

Kedua buku ini sama-sama nyeleneh, satir, jenaka. Bila satir Zikri pada baris dan bait, satir Maulidan pada keseluruhan sajak. Keduanya sama mengambil idiom virtual kekinian. Maulidan membawanya ke perayaan popular-massal seperti di arena dangdut dan koplo, Zikri ke ranah transisi tradisional-urban seperti dalam kontestasi adat, petatah-petitih dan tambo. Zikri punya protetipe tokoh Siti, Maulidan punya figur Hasti. Sumonggo, para kanti! ***

/Siteba-Yogya, 2025-2026

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top