
“Iya, Tuan,” katanya setengah berteriak.
Kalimat itu telah menjadi bunyi paling setia di rumahku. Lebih setia dari detak jam dinding, lebih setia dari lantai yang tak pernah berpindah. Sejak aku menemukannya—kira-kira berusia satu bulan—dan berlanjut pada fase ia mulai belajar bicara serta mengenal kata, sampai usianya menginjak dua puluh tiga tahun, sungguh tak banyak yang keluar dari rongga mulutnya selain kalimat itu. Seolah lidahnya memang diciptakan hanya untuk satu kepatuhan.
Aku tidak pernah secara sadar mengajarinya berkata demikian. Kalimat itu tumbuh sendiri, seperti lumut di dinding lembap. Mula-mula tipis, nyaris tak terlihat. Lama-lama menutupi segalanya.
Anak itu sering luput dari perhatianku. Bahkan ketika aku memandangnya, aku tidak benar-benar melihatnya. Ia seperti kemoceng yang tergantung di dinding rumah: benda yang fungsinya baru diingat ketika debu sudah terlalu tebal dan mulai mengganggu mata. Tubuhnya kecil dan kurus, seperti kesalahan yang terlalu lama dibiarkan hingga akhirnya tampak wajar. Kadang aku lupa ia ada, kadang aku berharap ingatan tentangnya juga ikut hilang bersama malam.
Aku menemukannya di depan sebuah rumah ibadah, pada suatu malam yang gerimis. Hujan turun pelan, macam ragu-ragu hendak membasahi bumi. Ia tergeletak di sana, telanjang, kulitnya kebiruan, napasnya tipis seperti benang yang hampir putus. Entah siapa yang meletakkannya. Entah dengan doa, atau sekadar membuang beban. Namun aku tahu, siapa pun orang itu, pasti berharap bayi itu ditemukan oleh seseorang yang dianggapnya baik. Aku tidak tahu mengapa malam itu aku berhenti. Aku bisa saja berjalan terus.
Di rumah, Minatun menangis saat melihat bayi itu. Tangisnya bukan sekadar iba, melainkan lega yang tumpah sekaligus. Lima belas tahun menunggu seorang anak telah membuat hatinya berlubang, dan bayi itu jatuh tepat ke lubang itu. Ia tidak bertanya dari mana asalnya, tidak mempersoalkan darah dan garisnya. Baginya, cinta tidak perlu alasan selain kehadiran. Aku membiarkannya. Aku melihat wajah Minatun kembali terang, dan untuk pertama kalinya setelah lama, rumah kami terasa hangat.
“Badshah! Bagaimana suamiku, apa kau suka dengan nama itu?”
Aku mengangguk. Aku selalu mengangguk pada Minatun. Anggukan itu adalah cara termudah mempertahankan kedamaian. Maka nama itu melekat dan, sejak saat itu, bayi itu memiliki tempat di rumah kami. Tempat yang perlahan-lahan bukan lagi milikku.
Hari-hari selanjutnya penuh suara. Tangis, tawa, langkah kecil yang belum sempurna. Minatun hidup sepenuhnya untuk anak itu. Setiap batuknya membuat Minatun cemas, setiap tawa kecilnya membuat Minatun menangis haru. Aku melihat diriku sendiri perlahan tergeser ke pinggir, seperti perabot lama yang masih dipertahankan karena sayang dibuang. Aku tidak marah. Setidaknya, aku meyakinkan diriku sendiri demikian. Aku hanya merasa makin sunyi di rumah yang makin ramai.
Saat usianya dua tahun, setelah perayaan ulang tahunnya yang dibuat Minatun begitu mewah seolah ingin membayar seluruh penantian hidupnya, Minatun pergi. Tidak ada tanda. Tidak ada sakit yang bisa kupegang sebagai penjelasan. Janji Tuhan ditepati dengan cara yang paling tak bisa kuterima. Rumah kembali hening, tapi bukan hening yang damai. Hening yang menekan dada.
Aku mencari-cari kesalahan. Aku menyalahkan diriku, lalu Tuhan, kemudian anak itu. Setiap senyumnya memanggil wajah Minatun dari ingatanku. Aku tidak sanggup menatapnya. Maka aku berhenti peduli. Aku membiarkannya begitu saja. Dalam diam, aku berharap ia mati, agar ingatan itu ikut mati bersamanya.
Akan tetapi ia tidak mati. Ia justru tumbuh. Tumbuh seperti anak-anak pada umumnya. Dan itu tak lain lantaran jasa seorang pembantu tua di rumahku yang merawatnya diam-diam. Aku tahu, tapi aku berpura-pura tidak tahu. Hingga suatu hari yang mendung, pembantu itu ikut menyusul Minatun, dan aku kembali sendirian dengan anak yang tak pernah kuminta, tak pernah aku mengerti.
Saat itulah aku menjadikannya pembantu. Bukan karena aku membutuhkan tenaganya, melainkan karena aku membutuhkan jarak. Dengan menjadikannya pembantu, aku bisa memerintah tanpa harus mencintai.
“Badshah!”
“Iya, Tuan.”
Ia selalu datang cepat. Terlalu cepat. Seolah keterlambatan adalah dosa yang tak terampuni. Aku tahu ia tahu bahwa bila ia terlambat, murkaku akan tumpah padanya. Dan murka itu, entah mengapa, membuatku merasa masih hidup.
Ia selalu berdiri di sudut ruangan bila aku tak menjulurkan perintah padanya. Ia sama sekali tidak bergerak. Seperti patung. Aku tahu ia ada, tapi aku tidak melihatnya kecuali bila aku memanggil namanya. Aku menentukan kapan ia menjadi manusia dan kapan ia kembali menjadi benda.
Ia tidak pernah sekalipun bertanya mengapa aku memperlakukannya seperti itu. Ia juga tidak pernah sekalipun membela dirinya bila aku menyalahkannya atas perbuatan yang tidak ia lakukan. Dan itu sungguh membuatku gelisah.
Sejujurnya aku ingin ia menuntut; protes, atau mungkin mangkir. Namun ia tidak pernah melakukannya. Sehingga aku tak punya alasan untuk menghukumnya dengan lebih keras. Meskipun aku bisa saja melakukannya. Sungguh ia hanya menerima, dan penerimaan itu malah membuatku terasa seperti ditunjuk-tunjuk olehnya.
Hari demi hari, ia belajar segala hal tentang rumah ini. Jadwalku, kebiasaanku, bahkan perubahan kecil dalam nadaku, ia pelajari. Sehingga kesudahannya ia pun tahu kapan aku merasa lapar, kapan aku ingin sendiri, atau kapan aku ingin marah. Betapa jarang ia melakukan kesalahan, bahkan hampir tak pernah. Dan itu membuatku makin terasing di rumahku sendiri.
“Badshah!”
“Iya, Tuan.”
Aku suka membaca buku untuk menepikan kesedihan. Buku sastra, alam, dan buku apa saja yang dapat menjauhkan aku dari ingatan tentang Minatun. Dan anak itu: ia begitu mahir menyusun ulang buku-bukuku. Bahkan ia tahu letak semula buku-buku itu daripada diriku. Padahal perpustakaan itu gelap dan lembap, seperti kepalaku sendiri. Sungguh, aku sering merasa ia melihatku jauh lebih jujur daripada aku melihat diriku sendiri.
Ia tidak pandai berbohong. Aku tahu itu. Ia juga mengetahui banyak hal tentang orang-orang yang datang ke rumahku. Bahkan ia juga tahu tentang isi bisik-bisik yang sering tamu-tamuku pertontonkan di belakangku. Itu membuatku makin yakin bahwa ia memang serupa bumi yang pandai menyerap segalanya tanpa harus bereaksi. Dan itu membuatku makin takut.
“Badshah!”
“Iya, Tuan.”
Setiap jelang tidur, aku selalu memanggilnya: bertanya tentang rumah atau tentang tamu-tamuku. Kadang kalau perasaan takutku tengah membesar, aku juga bertanya tentang dirinya. Dan ia akan menjawab semua pertanyaan itu seterang mungkin, tanpa menyembunyikan apa pun dariku. Kejujurannya benar-benar membuatku merasa telanjang di hadapannya.
Aku selalu menyuruhnya untuk tidur cepat. Aku tidak ingin ia bangun terlambat. Sebab bila itu terjadi ritme hidupku akan terganggu. Sejujurnya aku malu mengakui bahwa keberadaannya telah menjadi bagian dari keteraturanku.
“Badshah!”
Entah mengapa aku tiba-tiba saja ingin memanggilnya. Aku dengar suaraku memantul di dinding rumahku, dan kemudian kembali padaku dalam bentuk suara yang terdengar asing. Untuk sesaat, aku tidak tahu apakah aku memanggilnya, atau sedang memanggil diriku sendiri.




