
Sebanyak itu kepala desa sebelum dan sesudah dia, tapi hanya dia seorang yang dipanggil Pak Desa. Sebab-karenanya ialah: validasi.
Dia bekas tentara. Takut orang padanya. Ke mana-mana dia pakai sepatu tentaranya. Diperlagakkannya ke siapa pun yang sempat mengobrol dengan dia. “Dulu, dengan ini sepatu, saya turun ke Timtim. Bersejarah betul, bukan?”
Larinya kencang. Napasnya napas kuda. Maklum, sudah terlatih sejak muda. Jadi, tiap pagi, mondar-mandirlah dia di jalan-jalan desa, memperlagakkan fisiknya yang prima itu. Seolah hendak mencari jawab saja. “Tua-tua begini, saya masih kuat, bukan?”.
Banyak lagi contoh lain-lah. Pokoknya, tiap selesai berbicara, selalu ditutupnya dengan pertanyaan kepada lawan bicaranya, yang ujung kalimat tanyanya ‘bukan’.
Jadi, yang dikejarnya melulu pengakuan.
Dan sejak terpilih jadi kepala desa, ujung tanyanya, berganti sedikit saja. Dari ‘bukan’, menjadi ‘tidak’.
“Bermanfaat, tidak?” katanya dalam sambutan di sebuah acara perkumpulan kuli desa.
Dia bertanya soal program makan bergizi untuk anak-anak desa yang memang rata-rata kurang gizi dan ngantukan. Perut buncit dan leleran. Anggaran jalan desa 2,1 km dipangkas, lampu kampung di tiga dusun ditunda, untuk membiayai dapur umum tiga bulan. Sementara masalah pengangguran pemuda desa, harga padi anjlok dari Rp5.800 ke Rp4.200 per kilo, dan kedai-kedai kampung lengang-sepi dibiarkan saja. Orang malas ke lepau saja itu, jangan menghubungkannya dengan daya beli yang menurun segala.
“Berguna, tidak?” Dia bertanya lagi, di kesempatan lainnya, kali ini soal kebijakannya memberi hansip ronda tugas-tugas baru di luar ronda malam, termasuk mengawasi obrolan warung kopi dan memantau kiriman pesan warga yang dicurigai menyebar fitnah. Perdesnya diteken sendiri, tanpa rapat bersama di balai desa. Alasannya: “Darurat. Desa butuh cepat.” Hansip aktif juga boleh rangkap jabatan sebagai ketua dusun, kepala seksi apa pun, bahkan bendahara BUMDes, tanpa perlu mundur dari pos jaganya lebih dulu. Usia pensiun hansip pun diperpanjang, tentu saja, atas kebijaksanaan Pak Desa.
“Berfaedah, tidak?”
Tanyanya pula, di saat yang lain pula, terkait rencananya mengalihfungsikan hutan-hutan desa untuk sawah percontohan dan kandang ternak kolektif yang menuai kekhawatiran. Demi swasembada pangan, katanya. Warga yang selama turun-temurun bergantung pada hutan itu untuk hidup mereka tak pernah diajak bicara.
“Berdampak, tidak?”
Bertanya lagi dia mengenai upayanya mendirikan koperasi desa besar, satu-satunya koperasi, dikelola langsung oleh koleganya, yang mengambil alih simpan-pinjam, penggilingan padi, hingga warung sembako warga. Laporan keuangan tempel di papan pengumuman cuma satu lembar: “Pemasukan: Banyak. Pengeluaran: Perlu.” Audit warga ditolak: “Rahasia dagang.” Transparansinya dipertanyakan. Akuntabilitasnya tak jelas.
Tak akan sempat orang berpikir hendak menjawab seluruh tanya-tanya itu. Sudah dijawabnya sendiri soalnya, saat itu juga. Dia sebenarnya sudah punya jawabannya, yang dibawanya sejak dari rumah, yang baik menurut hatinya. Jadi, bertanya itu untuk dijawabnya sendirilah itu.
Pertanyaan jenis ini, namanya rhetorical question, telah mencapai keberhasilannya di tangan seorang negarawan kampung macam Pak Desa ini. Dia terus saja bertanya, di mana-mana. “Bermanfaat, tidak?”.
Padahal, di kedai-kedai, warga desa tetap bicara, berbisik-bisik. “Program makan bergizi bikin pemilik dapurnya kaya mendadak, anak-anak hanya dapat serapih roti belaka”, bisik anak muda yang gagal melamar jadi hansip. “Koperasi desa itu untuk memperkaya kolega dan anak-beranaknya Pak Desa saja itu,” kata yang lain pula sambil mengacau kopi dengan sendok timah. Rakyat desa itu kiranya tidak diam saja, mereka mencatat juga dalam alam pikirannya, sekalipun mencatatnya diam-diam pula.
Manusia memang memiliki kebutuhan dasar untuk merasa disetujui. Hal ini berlaku untuk semua orang, mulai dari anak kecil yang melukis di dinding, remaja yang mengunggah foto di media sosial, dan termasuklah Pak Desa kita ini yang bertanya kepada seribu warganya apakah program-programnya bermanfaat? Hanya saja, ketika menanyakan itu, ia sudah memegang toanya sendiri dan tidak berniat memberikannya kepada siapapun.
Bedanya Pak Desa dengan orang kebanyakan adalah orang kebanyakan menunggu validasi dari orang lain. Sedangkan Pak Desa kita ini cukup efisien untuk memproduksinya sendiri. Ini sebenarnya bisa dilihat sebagai inovasi kepemimpinan yang revolusioner. Bayangkan efisiensinya. Dia bertanya. Dia pula yang menjawab. Dia yang posting, dia pula yang me-like. Semua orang tepuk tangan. Sudah. Selesai. Karena, mesinnya sekarang ini memang memberi panggung buat siapa yang paling kencang berteriak: “Bermanfaat, Pak Desa, tentu saja bermanfaat. Alhamdulillah!”.
Di manapun Pak Desa berada, di balai desa, di pematang sawah, di hajatan kawinan, pertanyaan tentang manfaat selalu hadir, dan jawabannya selalu sama. Ini terlihat seperti ‘stabilitas’ yang kita semua patut kagumi di tengah desa yang penuh ketidakpastian. Kepemimpinan memang membutuhkan keyakinan. Keyakinan membutuhkan konfirmasi. Dan konfirmasi yang paling efisien adalah konfirmasi yang kita buat sendiri.
Bahkan, setelah Pak Desa mati pun, dari dalam kuburnya, agaknya nanti dia akan terus menuntut validasi:
“Piye, enak zamanku toh?”




