Pak Bupati dan Kucing Mencret

Ilustrasi: Aprililia

Di kampung saya, lebaran bisa batal karena persoalan yang amat remeh. Sandal jepit Pak Bupati yang baru dibeli khusus untuk pergi sembahyang ke tanah lapang besok pagi hilang sebelah tepat di puncak malam takbiran. Sempak biru kesayangan Pak Camat untuk salat eid besok hari dicuri maling menjelang berakhir malam. Nasi lemak dan opor ayam bikinan istri Pak Gubernur habis dicotok ayam sekalipun sudah disimpan rapat di bawah tudung saji di dapur terkunci di rumah dinas yang dijaga polisi sebelum imam sembahyang hari raya bersiap-siap mengangkat tangan untuk takbiratul ihram.

Memang tidak pernah benar-benar bersua kejadian yang begitu sejauh ini. Hanya anekdot saja. Untuk mencemooh belaka, dan menunjukkan bahwa, aspek yang penting-penting dari hayat hidup orang banyak bisa tak ada artinya oleh karena tertimpa urusan remah penguasa. Seolah-olah, urusan penguasa itulah yang amat pentingnya, setakberarti apa pun itu. Sedang, sebaliknya, urusan rakyat atau masyarakat, bisa tak berarti sama sekali, sepenting apa pun itu bagi mereka, jika kekuasaan tak menganggapnya penting.

A.A. Navis, dengan gemilang menggambarkannya dalam cerpen Pak Menteri Mau Datang. Betapa penting dan menentukannya urusan yang dibawa Pak Ayup, lelaki pensiunan dari dusun yang terpencil dan jauh, datang ke sebuah kantor jawatan provinsi hendak menyurus supletoir gajinya—atau rapel gaji—yang sudah setahun lebih belum juga diterimanya. Setiap bulan ia sudah menyurati jawatannya itu minta diuruskan. Namun, tak ada sebetik pun berita balasan. Kini, ia sendirilah yang datang, kata Navis menceritakan.

Anak perempuannya yang paling bungsu akan kawin. Seekor kambing perlu dipotong. Dan untuk seluruh biaya perkawinan itu, ia memerlukan supletoir gajinya yang sudah setahun terbenam terus itu.  

Tapi, bagi jawatan itu, mengurus penyambutan kedatangan Pak Menteri amat jauh lebih penting daripada melayani hak-hak seorang pegawai yang telah berdinas tiga puluh tahun lebih, yang urusannya takkan memakan waktu sepuluh menit. Kedatangan Pak Menteri sudah demikian kasip. Kantor sibuk. Para pejabat pemilik tanda tangan sibuk. Para pegawai yang memegang stempel tak kalah sibuk. Lintang-pukang menyiapkan berbagai acara penyambutan, semeriah dan seberkesan mungkin bagi pejabat pusat itu.

“Sekarang tidak ada urusan kawin. Pak Menteri mau datang,” kata seorang kepala bagian setengah menghardik Pak Ayup pada akhirnya, setelah tiga hari lamanya si tua malang itu, menunggui kantor jawatan tanpa memperoleh hasil.

Betapa menjengkelkan kekuasaan macam begitu. Di masa sekarang, ada pula contoh, satu sajalah dulu, seorang pejabat dari pusat, menteri pula dia, yang susah payah orang banyak mencarikan air galon untuk dia mandi setiap berkunjung datang ke daerah. Kalau dia datang ke tenda bencana, misalnya, mengunjungi lokasi terdampak banjir atau galodo, lebih payah pula petugas mengurusi kedatangan dia ketimbang mengurusi para korban lagi.    

Kekuasaan atau penguasa biasa menunjukkan kekuatannya urusan yang remeh-temeh itulah. Sedang untuk hal-hal yang besar dan penting, mereka sering tak mampu dan tak berdaya.

Tapi, dengan urusan yang tak terlihat penting pula, kekuasaan bisa jadi bubur sejarah. Penguasa-penguasa berubah dari tonggak gadang menjadi debu zaman belaka.

Kekuasaan yang telah bertahan lama bisa jatuh karena sepatu. Ingat Imelda Marcos, istri Presiden Filipina, Ferdinand Marcos. Kekuasaan monarki yang terlihat begitu kuat runtuh karena liontin—ingat Maria Antoinette istri Raja Louis XVII dari Prancis. Keduanya hadir di tengah kesengsaraan rakyat—dan menjadi pemicu ledakan keresahan.  

Di negeri kita, kerusuhan besar pernah terjadi karena sebuah becak disita petugas tibum—ketertiban umum. Penguasa sering menggangap gerobok penjual sala maco kaki lima sebagai remeh, yang akan mudah dirampas, diamankan, dan dinaikkan ke atas mobil petugas. Bagi hidup yang sakit, yang kecik-kecil begitu, akan menjadi pemantik berbahaya bagi kobaran besar, menggulung apa yang pantas digulungnya.

Api besar itu kerap dinyalakan oleh korek kecil bernama salah urus. Aparat menyebutnya insiden; masyarakat menyimpannya sebagai luka. Kasus-kasus penggusuran kota, penertiban pedagang kaki lima, atau penyitaan gerobak dan alat kerja—yang dalam bahasa resmi disebut penataan—sering dianggap urusan kecil. Padahal, bagi yang digusur, itulah satu-satunya pintu hidup. Ketika pintu itu ditutup dengan paksa, sejarah membuka jendela lain: protes, perlawanan, dan kadang kerusuhan.

Pak Bupati di kampung saya, kebetulan, punya seekor kucing yang amat dicintanya. Kucing yang dikawal kiri-kanan, muka-belakang, oleh satuan pengawal rumah dinas pula. Kucing itu senantiasa berada di atas stroller mewahnya dengan anggunnya. Jika hendak kejamban kucing itu, ada pula petugas khusus yang bertugas melap kerampangnya. Jika lapar dan hendak makan dia, ada pula petugas satu lagi, yang khusus menyediakan makan dan minumnya. Artis-artis berfoto dengan kucing itu, para kepala dinas menunjukkan kesetiaan dengan menghormati kucing itu seperti menghormati yang punya.

Agak hati saya, bisa pula batal hari raya kalau kucing Pak Bupati tiba-tiba sakit perut atau mencret menjelang hilal diumumkan terlihat.  

Air saja yang mencuru dari pembuangan kucing itu. Apa akal lagi. Sudah sebalik dokter hewan dipanggil, yang mencret tidak juga berhenti.

Hanya saja, hati-hati Pak Bupati, kucing yang bernama Pedro ini, bisa jadi juga akan menjadi penyebab keruntuhan kekuasaan Anda nanti. Mana tau.  

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top