Author name: Deddy Arsya

Deddy Arsya, adalah penyair dan sejarawan. Mengajar di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Sumatra Barat. Ia dikenal sebagai salah satu contoh langka yang berhasil menjembatani wilayah kreatif dan ilmiah secara setara. Puisi-puisinya bertumpu pada lokalitas, trauma sejarah, dan perspektif pascakolonial — diolah lewat ironi dan humor. Dua kumpulan puisinya, Odong-odong Fort de Kock (2013) dan Khotbah Si Bisu (2019), terpilih sebagai Buku Sastra Terbaik versi Majalah TEMPO. Sedangkan karya-karya sejarahnya konsisten memilih sejarah sosial-bawah yang diabaikan historiografi arus utama — dengan metode yang menggabungkan arsip tertulis dan tradisi lokal. Mendisiplinkan Kawula Jajahan (2017), yang mengkaji bagaimana kekuasaan kolonial membentuk dan mendisiplinkan masyarakat terjajah lewat sistem pemenjaraan, memperoleh Wisran Award.

Deddy Arsya
Sketsa

Pada Sebuah Sumur Tua

Di atas sumur tua tempat mayat-mayat ditimbun tergesa, kini tumbuh pohon besar yang daunnya rutin diambil untuk pengalas kue bika. Namun, di balik lezatnya kue itu, saat malam tiba terdengar jeritan lirih dari akar pohon: “Kami belum mati, Pak!”. Sebuah trauma sejarah yang menolak untuk mati.

Pada Sebuah Sumur Tua Selengkapnya

Sketsa

Piring Tipis dan Sumbu Pendek

Piring tipis adalah metafora untuk mereka yang amat perasa dan mudah merajuk. Sedikit saja tersinggung, mereka “retak” dan lari dari masalah, seperti pria di kampung penulis yang minggat hanya karena dipuji istrinya. Di sisi lain, ada “sumbu pendek” yang mudah naik pitam, memecahkan perkakas, hingga berujung KDRT. Keduanya sama-sama bermasalah dan menandakan adanya isu kesehatan mental. Mengapa kita begitu mudah tersinggung atau marah?

Piring Tipis dan Sumbu Pendek Selengkapnya

Sketsa

Mencari Induk Emas

Pada 1681, geolog Elias Hesse tiba di Padang, disambut gempa besar. Tujuannya: memastikan cadangan emas di Salido. Jejak demam emas kolonial ini berlanjut hingga akhir 1990-an, memicu perburuan harta karun di bekas-bekas tambang Belanda di pedalaman Bukit Barisan. Kisah ini tak hanya tentang emas, tapi juga tentang orang-orang setempat yang terus memburu induk emas yang legendaris.

Mencari Induk Emas Selengkapnya

Sketsa

Haji Bakil dan Kaum Miskin Desa

Di kampung ini, gelar “Haji” bukan hanya status religius, tapi juga simbol sosial yang sering diselipi sindiran. Haji Bakil, sebutan untuk para haji yang pelit dengan gaya spiritual, menjadi spesies sosial yang keberadaannya memicu tawa pahit kaum miskin. Melalui humor, mereka menertawakan kesenjangan, menolak tanpa memberontak, dan menjaga agar dunia tidak sepenuhnya dimiliki oleh para Haji Bakil. Artikel ini mengupas paradoks sosial di mana haji menjadi simbol kesalehan sekaligus bahan satire paling efektif.

Haji Bakil dan Kaum Miskin Desa Selengkapnya

Scroll to Top