Author name: Deddy Arsya

Menulis puisi, cerpen, ulasan film dan buku, serta esai mengenai sejarah dan seni. Karya-karyanya telah dipublikasikan di surat kabar, majalah, dan jurnal nasional. Kumpulan puisi pertamanya yang berjudul Odong-odong Fort de Kock (Kabarita: 2013) masuk dalam daftar pendek Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2013 dan terpilih sebagai Buku Sastra Terbaik Tahun 2013 oleh Majalah Berita Tempo.

Deddy Arsya
Sketsa

Mencari Induk Emas

Pada 1681, geolog Elias Hesse tiba di Padang, disambut gempa besar. Tujuannya: memastikan cadangan emas di Salido. Jejak demam emas kolonial ini berlanjut hingga akhir 1990-an, memicu perburuan harta karun di bekas-bekas tambang Belanda di pedalaman Bukit Barisan. Kisah ini tak hanya tentang emas, tapi juga tentang orang-orang setempat yang terus memburu induk emas yang legendaris.

Mencari Induk Emas Selengkapnya

Sketsa

Haji Bakil dan Kaum Miskin Desa

Di kampung ini, gelar “Haji” bukan hanya status religius, tapi juga simbol sosial yang sering diselipi sindiran. Haji Bakil, sebutan untuk para haji yang pelit dengan gaya spiritual, menjadi spesies sosial yang keberadaannya memicu tawa pahit kaum miskin. Melalui humor, mereka menertawakan kesenjangan, menolak tanpa memberontak, dan menjaga agar dunia tidak sepenuhnya dimiliki oleh para Haji Bakil. Artikel ini mengupas paradoks sosial di mana haji menjadi simbol kesalehan sekaligus bahan satire paling efektif.

Haji Bakil dan Kaum Miskin Desa Selengkapnya

Scroll to Top