Di kampung saya, haji bukan cuma gelar religius — tapi semacam status sosial yang mengandung aroma sumbang dan sedikit dengki. Kalimat “Engku Haji” diucapkan dengan penuh hormat di depan, tapi disumpahi lembut di belakang.
Haji-haji di kampung saya rata-rata punya satu kesamaan universal: mereka pelit dengan gaya spiritual. Pelitnya bukan sembarangan — pelit yang berselimut doa. Mereka jarang mentraktir, tapi rajin menasihati.
Kalau ada anak muda datang minta bantuan, dia akan berkata bijak: “Rezeki itu bukan di tangan Wak Haji ini, Nak. Tapi di tangan Allah.” Kalimat itu diucapkan sambil menggenggam erat dompet kulit yang tebalnya setara kitab fiqih.
Maka, di kampung saya, Haji Bakil bukanlah satu orang — melainkan satu spesies sosial. Jenis manusia yang percaya bahwa surga bisa dicapai dengan menabung sambil mengabaikan jeritan ekonomi tetangga.
Namun, anehnya, meskipun dibenci, mereka juga diingini. Orang kampung ingin jadi seperti mereka: berangkat haji, pulang dengan jubah putih, lalu hidup hemat.
Humor menjadi satu-satunya cara kaum miskin untuk menertawakan kesenjangan ini tanpa perlu memberontak. Kaum miskin tidak punya akses ke kekayaan, tapi punya akses ke kearifan spontan. Mereka menolak dengan guyonan, yang bisa ditertawakan bersama. Dan di situlah kemenangan kecilnya. Mereka yang tak punya ladang, punya lidah. Mereka yang tak punya tanah, punya tawa. Dan tawa itulah yang menjaga agar dunia tidak sepenuhnya dimiliki oleh para Haji Bakil.
Sebab kalau semuanya lurus dan khusyuk seperti di khutbah Jumat, dunia ini akan jadi seminar yang membosankan. Butuh sedikit nyinyir, sedikit sindir, sedikit ketimpangan yang diparodikan agar hidup terasa hidup. Di sinilah keindahan sekaligus keanehan masyarakat desa kita: naik haji adalah simbol kesalehan, tapi juga bahan sindiran sosial paling efektif.
Ketika seseorang terlalu rajin bekerja, pulang petang, jarang minum di warung, tak merokok — orang kampung akan nyeletuk dengan nada setengah sinis, setengah kagum: “Wah, rajin kali kerja. Mau naik haji, ya?”
Dan bila ada yang pelit, yang uang recehnya harus diperas keluar dari dompet seperti mengeluarkan kutu dari rambut, sindiran yang sama muncul dengan nada berbeda: “Bisa cepat naik haji kalau begini!”
Kalimat itu seperti belati tumpul yang diselipkan di antara senyum. Tidak mematikan, tapi meninggalkan bekas yang lama hilangnya. Di situ, agama menjadi bahasa satire kelas bawah. Bukan lagi alat menuju surga, tapi alat untuk menyindir mereka yang terlalu sibuk menimbun bekal ke surga sementara tetangganya lapar di bumi.
Ada ambivalensi yang indah sekaligus getir. Naik haji — yang semestinya lambang pengorbanan dan pelepasan duniawi — justru menjadi simbol prestise duniawi. Hasrat menuju akhirat dinilai sebagai bentuk hasrat duniawi yang paling sahih. Sebuah paradoks: semakin seseorang ingin ke Mekkah, semakin ia tampak ingin pamer bahwa ia sanggup ke sana.
“Kamoe beli serban, djoebah, gamis… dan toekar nama dengan nama baroe… alangkah bodohnja kamoe lagi!” kata Oemar, tokoh roman Hadji Dadjal karya Abdoelxarim M.S., yang terbit pertama kali pada 1940. Suara dari abad yang lalu. Sudah lama juga. Gemanya terus sampai ke abad kita sekarang.





