
| Judul | Talipuk Layur |
| Penulis | A. Damhoeri |
| Penerbit | Pustaka Indonesia, 1983 |
| Tebal | 68 halaman |
Talipuak Layuar adalah salah satu novel yang ditulis oleh Damhoeri. Novel ini berkisah tentang tradisi anak-anak muda di Payakumbuh dalam mencari pasangan, yang dikenal dengan basicontik. Diceritakan seorang tokoh yang digambarkan sebagai seorang bunga kampung, bernama Talipuk Layur, hidup di sebuah kampung bernama Talang Pauh Tinggi, bersama ibunya. Dia seorang gadis yang beranjak dewasa, memiliki wajah yang cantik, dan berkepribadian baik. Sementara ibunya, Camin Talayang, digambarkan sebagai seorang perempuan yang kikir, rakus, dan dikenal berperangai buruk di kampungnya.
Talipuk Layur, pada suatu hari pekan di Payakumbuh, pergi ke pasar bersama ibunya. Setelah berdebat panjang lebar, ibunya ingin berjalan kaki ke pasar untuk menghemat uang, akhirnya mereka naik bendi. Di pasar mereka membeli beberapa kebutuhan rumah tangga. Akan tetapi, salah seorang penjual kain, Katik Raja Bainun, jatuh hati kepada Talipuk. Meskipun diceritakan sudah beristri, Bainun berusaha agar dapat mempersunting Talipuk.
Kesempatan ini digunakan oleh ibu Talipuk untuk memperdaya Bainun. Ia berhutang banyak kepada Bainun. Beragam jenis kain ia kredit, dengan perantaraan Talipuk. Demikian juga ia bujuk Talipuk untuk menerima uang yang diberikan oleh Bainun. Akhirnya hutang-hutang mereka sudah mencapai dua ratus lima puluh rupiah lebih, yang setara dengan harga dua buah rumah atau sekitar tiga belas ekor kerbau.
Pada saat lain, Talipuk dilamar oleh Angku Kepala Negeri untuk dijadikan istri keempatnya. Sudah menjadi keharusan pada masa itu bahwa seorang kepala negeri memiliki empat orang istri. Dan kepala negeri ini sebenarnya sudah memiliki 28 orang istri yang diceraikan. Ibu Talipuk lebih memilih untuk menerima lamaran tersebut. Alasannya karena kekuasaan dan harta yang dimiliki oleh Angku Kepala tersebut cukup besar.
Bainun, yang menunggu-nunggu kedatangan Camin Talayang dan Talipuk di tokonya, untuk membayar hutang dan juga berjumpa dengan Talipuk, gelisah karena mereka tak kunjung datang. Akhirnya ia memutuskan untuk mendatangi rumah Camin. Akan tetapi, sesampai di rumah itu, ia mendapat perlakuan yang tidak baik. Camin pura-pura tidak kenal dengan Bainun. Demikian juga dengan Talipuk yang berpura-pura tidak kenal agar ibunya selamat dari tagihan hutang.
Bainun melaporkan kasusnya kepada Angku Kepala. Akan tetapi, Angku Kepala juga tidak bersedia menerima laporan Bainun karena tidak ada bukti dan saksi dari hutang-hutang keluarga Camin. Ditambah lagi ia juga tidak mau calon mertuanya mendapat masalah. Akhirnya Bainun melupakan persoalan dan hutang-hutang tersebut. Sementara Talipuk akhirnya menderita sakit karena sebenranya tidak dapat menerima kejadian yang dialami oleh Bainun dan perlakuan ibunya. Akhirnya ia meninggal dunia. Camin diceritakan menjadi gila karena kehilangan anaknya dan juga akibat ulah dan perangainya.
Novel ini diilhami oleh pembacaan cerita rakyat yang dipertunjukkan oleh Or. Mandank di sekolah Damhoeri di Sekolah Normal Padangpanjang, pada acara perpisahan kelas IV. Ketika itu Mandank membawakan cerita Talipuk Layur nan Dandam. Setting cerita ini terjadi pada suatu masa, ketika “harga seekor besar pada masa itu hanya dua puluh rupiah dan harga seekor lembu hanya lima belas rupiah. Harga sepasang bendi tak sampai lima puluh rupiah” (hlm. 42-43).
Sebagai tambahan, di dalam novel ini terdapat banyak informasi mengenai keadaan Payakumbuh pada masa lalu. Misalnya saja patung Dewa Mercurius yang pernah ada di setiap puncak atap los-los di pasar. Demikian juga dengan ilustrasi mengenai Jalan Tuangku Laras yang bertukar menjadi Jalan Prof. Mohd, Yamin, dan sekitarnya. Sejumlah ilustrasi dalam novel ini juga menambah imajinasi jalannya cerita. Bahasa yang digunakan juga menarik, disertai sejumlah pantun, kiasan, dan metafora yang berasal dari Bahasa Minangkabau. Sejumlah glosarium Bahasa Minangkabau disertakan di bagian akhir buku ini.
Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id




