
Di kampung saya, setiap orang bernama Anas pasti berisiko dipanggil Aneh.
Tapi Anas yang satu ini tidak cuma dipanggil Aneh karena ejaan namanya bersajak dengan kata itu — ia memperjuangkan keanehannya dengan konsistensi seorang pertapa digital yang menolak update firmware.
Bayangkan: rambut gondrong, misai mengembang, dan tatapan mata yang seperti sedang menyimpan rahasia besar tentang bagaimana dunia ini bisa tetap berputar meski listrik sering padam.
Ia satu-satunya yang masih berpondok di tepi hutan, setelah semua orang turun ke kampung dan berbaur dengan Wi-Fi.
Anak-istrinya sudah insaf, pindah ke peradaban. Tapi dia tetap di sana — tetap menakik getah di hari Jumat alih-alih duduk diam khusu’ di depan khatib.
Kadang masuk lebih jauh ke dalam perut hutan untuk berburu rusa atau di lain waktu mengumpulkan madu pada batang-batang pohon raksasa. Menyelami lubuk-lubuk dalam untuk menembak ikan panjang dan dilaporkan tidak jarang berebut durian dengan harimau ketika musimnya tiba.
Orang-orang berdecak kagum pada keberaniannya, tetapi sekaligus menggerutu pada tingkah ganjilnya. Ia tidak pernah puasa. Katanya, lapar itu penderitaan yang tidak perlu dijadwalkan.
Ia juga tidak shalat Jumat, karena menurutnya khutbah di kampung sudah seperti siaran ulang pertandingan sepakbola, sudah dapat diketahui pada menit ke berapa gol tercipta.
Sedang sekali se-Jumat pun tidak, apatah sembahyang harian.
Dia juga mandi telanjang di balik batu. Di tepi pasar, ia kejamban berdiri— bukan karena gila, tapi mungkin karena sedang menolak sensor sosial.
Pokoknya, segala yang ganjil miliknya. Makanya, lekat nama “Aneh” padanya. Dia melanggar nyaris semua ukuran yang diterima tentang perilaku yang sopan di kampung itu. Dia datang ke setiap pesta bahkan yang tidak mengundangnya hanya untuk makan sekenyang-kenyangnya.
Dan soal mencuri kecil-kecilan, jangan dulu menghakimi. Ia bukan maling profesional. Ia sekadar menjalankan redistribusi barang secara spontan — suatu bentuk pajak sosial yang tak perlu dilembagakan.
Cangkul, kain, cabai, labu—semua ia pinjam dengan konsep “izin belakangan”.
Ia tidak jahat. Ia bukan kriminal. Ia hanya tidak patuh. Kewarasannya menolak bergabung dengan konsensus yang disebut “normal”.
Kalau AI diciptakan untuk meniru manusia, maka Aneh diciptakan untuk mengingatkan manusia agar tidak terlalu mirip AI. Ia jadi sang ‘lain’ untuk menjaga keseimbangan semesta yang terlalu sibuk mengatur diri agar tampak rapi.
Dalam studi budaya, ia disebut kebudayaan tandingan. Menolak tunduk pada budaya dominan.
Tidak digaris pahat makan, kata datuk-datuk. A-simetris, kata tukang gambar.
Dalam bahasa kampung saya, cukup: “Itu orang ganjil.”
Tapi menjadi ganjil, dalam dunia kampung yang selalu ingin lurus, justru adalah sesuatu yang patut juga dirayakan. Ketika semua orang menyalin template hidup yang sama — bekerja, menikah, mencicil, menua, mati — maka yang menolak urutan itu tampak seperti kesalahan sistem yang manusiawi.
Maka kita butuh typo, agar kalimat kehidupan terasa hidup.
Dunia kini terlalu penuh dengan autocorrect.
Dunia sekarang semakin tergila-gila pada lurus-rapi, maka a-simetris punya rasa indahnya tersendiri.
Setiap kali muncul yang ganjil, ia segera dibetulkan. Diperlurus. Disesuaikan menurut format.
Padahal, mungkin di situlah manusia bersembunyi: di balik ketidakteraturan yang membuat kita tidak sepenuhnya mesin.
Di dunia di mana segala bersifat robotik, yang a-simetris perlu. Yang pencong dan pesong mesti hadir. Bahkan mahal. Yang lurus dan tertata, yang koheren seperti tak lebih dari buatan AI. Yang typo, menjadi terasa lebih manusiawi.
James Scott, dalam bukunya Senjatanya Orang-Orang yang Kalah, juga pernah menceritakan seorang tokoh serupa: Razat. Si miskin ganjil yang memenuhi kriteria keanehan yang mirip.
Ia hidup di pinggiran, menolak tunduk pada sistem yang menindas. Bukan karena ingin jadi pahlawan, tapi karena — seperti Aneh — ia punya cara sendiri untuk tidak sepenuhnya kalah.
Ia menolak menjadi bagian dari barisan yang bertepuk tangan serentak pada pidato penguasa, sekadar untuk dianggap setia. Dan mungkin, seperti Razat dalam catatan Scott, Aneh di kampung saya juga sedang melatih cara-cara kecil untuk menolak tunduk. Bukan pemberontakan bersenjata, melainkan pembangkangan halus terhadap tirani keteraturan — semacam politik diam versi lokal, yang menertawakan aturan dengan cara tidak mematuhinya.
Durkheim benar, masyarakat itu tiran. Ia menuntut keseragaman atas nama keteraturan. Siapa yang tak seirama, akan dilabeli ‘sumbang’. Dan di kampung saya, label itu berwujud satu kata sederhana: Aneh.
Tapi siapa tahu, di balik keanehan itu justru tersembunyi bentuk tertinggi dari kewarasan — semacam spiritualitas anti-format, yang menolak tunduk pada algoritma moral dan sosial.
Dan mungkin, kalau dunia ini terus dikuasai template dan kebijakan “AI-friendly”, kita semua suatu hari nanti akan rindu pada seseorang yang masih berani mandi telanjang di balik batu — bukan karena gila, tapi karena ingin mengingatkan kita bagaimana rasanya menjadi manusia.




