Pada Sebuah Sumur Tua

Ilustrasi: Aprililia

Pada sebuah sumur tua, tempat mayat-mayat kaum Komunis dilemparkan, dan kemudian ditimbun tergesa, di atasnya lalu tumbuh sebatang pohon baru. Mulanya kecil saja, entah siapa yang menanam, lalu makin lama makin bertambah saja cabangnya. Makin rimbun saja daunnya. Besar dan semakin membesar, bahkan meraksasa, menjangkau tepi jalan.

Pada siang hari, ada orang yang rutin mengambil daun-daunnya untuk pengalas kue bika yang lezat dan harum.

Tapi, pada malam hari, dari pangkal pohon itu keluar suara, tidak semisal musik, hanya teriakan lirih dengan nafas tercekat, yang jika didengar-dengarkan betul barulah akan jelas buah-buah katanya, buah-buah ratapnya: “Saya belum mati, Pakkkk…, saya belum matiii…!”

Karena yang berteriak-lirih itu tidak satu orang saja, ada lagi yang lain dan lainnya, jadinya, teriakan itu berubah menjadi: “Kami belum mati, Pakkkk…, kami belum matiiii…!”

Kabarnya, tentara-tentara itu, yang merasa peluru mesti dihemat di masa krisis ekonomi Orde Lama yang memiskinkan sangat, akhirnya dengan ringan lidah memerintahkan, kepada pemuda-pemuda setempat yang telah siap dengan cangkul dan sekop di tangan:

“Ah, sudah, timbun saja!”

“Ah, sudah, mampus sajalah!”

Sumur angker itu, dan kemudian batang pohon baru yang tumbuh di atasnya, terletak di persawanang (areal kosong kampung) yang misahkan antara rumah kami dengan Puskesmas dan sebuah sekolah SMP.

Ketika suatu malam ayah membawa ibu dengan motor ke Puskesmas itu untuk melahirkan saya, dia mendengar teriakan lirih yang sama. Mulanya, satu orang saja yang berteriak, katanya. Tapi lama kelamaan jadi banyak, jadi gebalau suara, yang saling bertindihan: “Pakkk…, kami belum matiiii…, Pakkk…!”

Nenek bilang: kalau malam hari lewat di situ, baca ayat kursi tiga kali.

Tapi di siang hari, mamak saya, di masa Orde Baru sedang jaya akibat booming minyak, punya kebiasaan bergayut-gayut bagai kera besar bertumbung merah di batang pohon baru itu. Merokok-rokok, membual dengan teman-teman nakalnya yang lain, bermalas-malas menunggu lonceng jam pulang sekolah berdentang. Bolos dari sekolah, pohon itu jadi tempat mangkal mereka. Dia tidak jadi apa-apa pada akhirnya, mungkin juga teman-teman nakalnya. Sampai tua sekarang, menyusahkan orang saja hidupnya. Sumur tua itu, bagai menyerap kebaikan dari dirinya.

Sebuah tempat kadang bisa menyimpan ingatan lebih baik daripada manusia. Sumur itu tidak pernah menulis memoir, juga tidak sempat bersaksi di Mamilub—apa itu, ha? Atau ikut dihadirkan di Pengadilan HAM Internasional di Den Haag, bukan? Tidak pula dimintai keterangan oleh para sejarawan botak atau jurnalis dekil mana pun. Hanya saja, terkadang, dari kedalamannya, ada sesuatu yang tetap berusaha keluar—melalui jerit lirih yang mengerikan itu, yang keluar dari dasar pohon, menjalar ke dahan-dahan, ke daun-daun yang tiap pagi dipetik untuk mengalas kue bika.

Saya tumbuh dengan dua dunia yang bertabrakan. Pada siang hari, sekolah mengajarkan hafalan yang rapi: siapa pahlawan, siapa pengkhianat, siapa yang salah dan siapa yang benar lewat pelajaran PMP. Pada malam hari, jalan gelap di dekat sumur itu mengajarkan sesuatu yang berpuluh-puluh tahun terus dibuang dari buku. Namun, tampaknya, kebenaran tidak selalu mati hanya karena dikubur tergesa-gesa. Kadang ia hanya berubah bentuk, menjadi bisik, menjadi dengung, menjadi rasa tidak enak yang tiba-tiba muncul tanpa sebab.

Daun-daun pohon itu, yang menjadi alas bika, selalu bersih ketika diambil. Dicuci, dijemur sedikit, dilap hingga licin, dipakai untuk sesuatu yang mengenyangkan dan menggembirakan. Tidak ada yang salah dengan bikanya. Rasanya tetap enak, legit, dan hangat, dan menguarkan bau harum yang sedap. Tetapi, ingatan membuatnya selalu merasa ada sesuatu yang tertinggal di lidah, semacam pahit yang tidak bisa dijelaskan.

Semacam trauma yang menolak untuk mati?

Saya tidak tahu, apakah pohon baru itu masih ada di situ? Bahwa pohon itu berdiri atas sumur tua yang angker, barangkali hanya tinggal ingatan yang sayup-sayup sampai. Nenek saya sudah lama meninggal. Ayah saya juga sudah berpulang. Paman saya kini setengah gila dan telah lama juga hilang akalnya. Anak-anak generasi baru yang pulang-balik menuju sekolah mereka memang masih akan lewat di situ, tapi mungkin sudah tanpa cerita.

Namun, suara-suara itu apakah bisa benar-benar hilang?

Manusia di kampung kami punya banyak siasat untuk hidup berdampingan dengan trauma semacam itu. Cara paling umum adalah penyangkalan kolektif. Dengan sepakat untuk tidak membicarakan, tidak menyebut nama, dan tidak bertanya, orang-orang menciptakan semacam ‘ilusi ketertiban’.

Daun pohon baru di atas sumur itu dijadikan alas bika; kehidupan berjalan, ekonomi kecil berputar, rasa enak dan harum dari panggangan tetap dinikmati. Trauma diserap ke dalam rutinitas sehari-hari, dinetralkan oleh kebiasaan. Dengan begitu, yang mengerikan tidak lagi tampak sebagai ancaman, melainkan sebagai latar belakang yang tidak perlu dipersoalkan.

Namun, semua siasat itu punya batas. Trauma yang ditekan terlalu lama tidak hilang; ia hanya berganti medium. Pada malam hari, ketika disiplin sosial melemah dan pengawasan berkurang, suara-suara itu kembali. Lirih, tercekat, tidak sistematis—persis seperti ingatan traumatis yang tidak pernah diberi ruang untuk dirapikan menjadi narasi yang diakui.

Dari dasar sumur, mereka terus menggugat: “Kami belum matiiii…, Pakkkk, kami belum matiiii…!”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top