Author name: Deddy Arsya

Deddy Arsya, adalah penyair dan sejarawan. Mengajar di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Sumatra Barat. Ia dikenal sebagai salah satu contoh langka yang berhasil menjembatani wilayah kreatif dan ilmiah secara setara. Puisi-puisinya bertumpu pada lokalitas, trauma sejarah, dan perspektif pascakolonial — diolah lewat ironi dan humor. Dua kumpulan puisinya, Odong-odong Fort de Kock (2013) dan Khotbah Si Bisu (2019), terpilih sebagai Buku Sastra Terbaik versi Majalah TEMPO. Sedangkan karya-karya sejarahnya konsisten memilih sejarah sosial-bawah yang diabaikan historiografi arus utama — dengan metode yang menggabungkan arsip tertulis dan tradisi lokal. Mendisiplinkan Kawula Jajahan (2017), yang mengkaji bagaimana kekuasaan kolonial membentuk dan mendisiplinkan masyarakat terjajah lewat sistem pemenjaraan, memperoleh Wisran Award.

Deddy Arsya
Sketsa

Haji Bakil dan Kaum Miskin Desa

Di kampung ini, gelar “Haji” bukan hanya status religius, tapi juga simbol sosial yang sering diselipi sindiran. Haji Bakil, sebutan untuk para haji yang pelit dengan gaya spiritual, menjadi spesies sosial yang keberadaannya memicu tawa pahit kaum miskin. Melalui humor, mereka menertawakan kesenjangan, menolak tanpa memberontak, dan menjaga agar dunia tidak sepenuhnya dimiliki oleh para Haji Bakil. Artikel ini mengupas paradoks sosial di mana haji menjadi simbol kesalehan sekaligus bahan satire paling efektif.

Haji Bakil dan Kaum Miskin Desa Selengkapnya

Scroll to Top