Mencari Induk Emas

Pada pertengahan November 1681, Elias Hesse, seorang Jerman yang rasis, hampir mati ketakutan ketika gempa besar mengguncang sebuah kota di pesisir barat Sumatra yang baru beberapa jam saja ia tapaki. Layar kapal yang membawanya belum lagi digulung, dan gempa besar telah begitu saja memberinya sambutan kedatangan yang menakutkan.

Tidak ada potret Hesse yang ditinggalkan sejarah. Mungkin ia berperawakan membosankan Indo-Arya pada umumnya; tinggi langsing dengan hidung panjang yang pipih; mata hijau kekuningan dengan rambut sedikit memerah rumbai jagung; dan tirus pipinya menyempit pada bagian dagu dan melebar ke arah kening dengan kulit muka berbintil-bintil merah seperti sisa cacar air yang bangkit lagi.

Dia datang tanpa istri sebagai geolog muda berbakat mencari pekerjaan ke dunia timur yang liar namun menantang. Dia datang bersama tim ekspedisi Eropa lainnya untuk memastikan cadangan emas dan seberapa mungkin deposit semisal Salido memberi keuntungan berlimpah untuk dieksploitasi.  

Ketika gempa mereda, wajah cemasnya tidak bisa otomatis hilang, dan karena itu dia ditertawakan pribumi–“inlander beruban”–di situ dengan senyum cemooh yang sengit, menyatakan kalau gempa seperti ini sudah biasa dan sudah sering juga terjadi di sini.

Permukiman Eropa di situ belumlah lama.

Padang, tempat Hesse merasakan gempa besar pertama dalam hidupnya yang muda, baru saja dibebaskan dari Aceh dan VOC telah memperbesar benteng aneh mereka di kaki Bukit Kera arah ke selatan.

Fort Padang–atau Fort Buuren pada abad berikutnya—ketika gempa terjadi sempat pergederak sebentar seperti akan rubuh, tapi kekuatannya mungkin telah diperhitungkan untuk menahan getaran dari wilayah yang senantiasa dilanda oleh kejadian-kejadian alam semacam itu.

Padang, kantor pusat VOC di kawasan itu, hanyalah persinggahan sebentar bagi Hesse. Tujuan utamanya ialah ke selatan, lebih ke selatan lagi.

Sebuah yacht ditambatkan pada pintu muara Sungai Silida, dinamakan demikian karena sungai itu melintasi sebuah kawasan perkampungan dengan nama yang sama.

Kita menamainya Salido. Entah dari mana muasalnya nama itu, orang-orang menganggap dari penamaan Portugis yang konon pernah singgah di situ dalam beberapa lama di abad-abad yang lalu, entah kapan.

Namun, toponimi yang lebih masuk akal ialah ia berasal dari ‘salidah’ yang artinya lebih-kurang ‘satu lidah’; seiya dan sekata untuk menunjukkan bagaimana sekelompok penghulu telah mencapai kesepakatan di situ untuk membuat sebuah kampung dan menamakannya itu.

Kakek buyut saya dan sekelompok laki-laki dari kampung kami di utara Salido pernah diarak berodi untuk mengangkut mesin-mesin ke Gunung Arun mungkin pada akhir dekade 1920an.

Pada akhir 1990-an, di masa kecil saya, orang-orang mengingat lagi tentang pedati yang jatuh ke sawah membawa berkarung-karung lumpur yang kiranya berisi pasir-pasir emas dari era itu.

Lalu, kabar burung menyebar secepat angin musim barat bertiup menguarkan aroma garam dari samudra. Kabar itulah yang telah membawa rombongan-rombongan orang datang berebut menggali di tempat yang dikira dulu tempat jatuhnya pedati itu untuk mencari sisa-sisa emas yang mungkin memang masih tersisa di situ.

Sejak itu, rombongan-rombongan penggali lain lebih banyak datang, naik lebih ke dalam hutan-rimba belukar-raya Bukit Barisan, menempuh perjalanan melelahkan berjam-jam menyisir bekas-bekas jalan yang telah lama ditinggalkan, dan menemukan lebih banya sisa-sisa beton, bekas-bekas galian di sana-sini, sisa-sisa jembatan dan parit, juga kanal-kanal dan tali bandar, dan … terowongan-terowongan panjang, lalu bantalan-bantalan besi yang panjang mengular meniti di atas tiang-tiang beton, tersembunyi di dalam semak-semak tinggi dan belukar rapat.

Lebih jauh lagi memasuki hutan, tersumbullah sebuah ‘kota’.

Ya, itu bagai sebuah kota tersembunyi yang hilang.  

Perkelahian terkadang merebak untuk memperebutkan sisa-sisa emas di lubang-lubang bekas tambang yang masih ada dari peninggalan kolonial dahulu.

Polisi-polisi setempat membunyikan sirine mereka sepanjang jalan menuju ke perkampungan paling ujung sambil sesekali meletuskan paha ayam untuk menakut-nakuti.

Sejak itu, pintu masuk ke kawasan tambang yang jauh tengah hutan belantara Bukit Barisan yang gelap terhalang garis polisi. Tidak ada lagi demam emas yang bisa diceritakan setelah itu karena sisa-sisa masa lalu yang tidak selesai telah benar-benar diselesaikan, bukan oleh garis kuning polisi, tetapi karena kenyataan bahwa emas yang tersisa memang tidak seberapa, kecelakaan-kecelakaan kerja lebih sering terjadi dan menelan banyak korban karena lubang-lubang itu memang sudah sangat dalam dan tiang-tiang penyangganya kalau memang masih ada sudah keropos di mana-mana.

Jadi, demam emas itu sesungguhnya hanyalah kejutan sesaat yang dipicu berita burung dan sedikit fakta bahwa beberapa penggali awal memang menemukan emas di bekas-bekas lubang Belanda itu.

Sebuah nagari agak di utaranya, tempat saya dan kakek buyut saya berasal—dan sekian banyak rombongan yang terjangkit demam emas itu—telah lama menawarkan ‘gangguan’ yang konstan terhadap Salido di masa lalu.

Riwayat gangguan mereka merentang-panjang hingga ke era paling awal demam emas yang menjangkiti orang-orang Eropa. Sejak VOC berkedudukan di Salido, nagari saya itu punya barisan ‘pengganggu’ yang tidak putus-putus dari generasi ke generasi. Mereka tidak punya emas tapi jelas tergila-gila pada emas, dan Salido menawarkan emas yang mereka gila-gilai.

Sekarang penduduk di sana kebanyakan merantau demi memperoleh ‘emas’ juga. Mereka merayap bagai semut gala-gala di Tanah Abang sebagai pedagang-pedagang tekstil setengah asongan; beberapa di antara mereka muntah darah karena kebanyakan menghisap lem; paru-paru mereka robek dan mengecil dihajar penyakit karena mencampur Bodrex dengan Spritus ditambah tuak murahan yang dibeli ketengan untuk mabuk sepanjang malam.

Sebagian mereka merantau jauh sekali hingga ke Kalimantan, Sulawesi, hingga ke Papua dan berhasil menjadi kaya. Ketika mereka pulang kampung sekali lima tahun di hari raya, emas-emas berkilauan menghiasi sepanjang badan mereka

Jadi, pada dasarnya mereka memang keras kepala, baik laki-laki dan perempuan, dan sangat suka berkelahi dan sulit sekali diatur. Bahkan mereka berkelahi karena persoalan remeh-temeh semisal memperebutkan air sawah atau karena toples hari raya.

Tapi, mereka juga punya sifat yang begitu setia untuk melindungi satu sama lain. Mereka suka mengumbar kata-kata pantek di jalan-jalan, di pasar-pasar, di kedai-kedai kopi. Jadi, maksud saya, mereka sangat berterus terang.

Mereka juga begitu senang berjudi. Jadi, perjudian adalah aspek-aspek yang banyak menghancurkan mereka. Jadi, buyut-buyut dari mereka yang sekarang inilah yang menyerang loji VOC di Salido sekitar empat abad yang silam itu karena kehadiran Kompeni-Belanda itu di situ telah menghalangi akses mereka pada emas di sana.

Jadi, saya harus kembali ke Hesse. Dan Hesse, si pirang membosankan itu, mendayung perahunya dengan tangan yang makin lama makin kebas di tengah ancaman buaya-buaya muara yang mengendap di antara hutan nipah, naik, terus naik menyisir sungai ke pedalaman. Menuju hulu hutan—yang konon menyimpan emas sebesar kuda. Kuda bersayap yang terus lari, terus terbang.

Dan orang-orang kampung saya, hingga kini, masih memburunya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top