Ribut sekali malam itu. Seng penutup “ruang temu” tempat diskusi di Steva, dihajar hujan deras. Padahal, diskusi langka akan terjadi sesaat lagi, Selasa malam, 11 November 2025 itu. Kota Padang didatangi dramaturg kelas dunia, Kai Tuichmann. Bersama Ibed S. Yuga, Wendy HS, Mahatma Muhammad, dan Tatang R. Macan. Tema ‘Postdramatik’ akan dikubak lapis per lapis dengan moderator Thendra BP.
Hujan masih turun. Diskusi berlanjut meski molor setengah jam dibanding yang terpampang di akun IG Pustakasteva, pukul 20.00 WIB. Meski berada di Jalan Pagang Raya, Siteba, diskusi sudah dihadiri beberapa orang. Sembari itu Tatang didapuk membaca puisi, mengawali acara.
Sutradara asal Jerman itu, menyelesaikan pendidikan dalam bidang penyutradaraan dari Hochschule fur Schauspielkunst Ernst Busch di Berlin. Dia bekerja sebagai dramaturg, sutradara, dan akademisi. la juga merupakan professor tamu di Central Academy of Drama di Beijing di mana ia mengembangkan, bersama dengan Li Yinan, kurikulum untuk program dramaturgi pertama di Asia.
Dari beberapa sumber menyebutkan, Kai Tuchmann sangat berperan dalam menjembatani Teori Teater Postdramatik (Pascadramatik) yang sebelumnya dirumuskan oleh Hans-Thies Lehmann dengan praktik panggung yang konkret, terutama melalui pendekatan Teater Dokumenter dan eksplorasi Reality Theatre.

Artinya apa? Begini. Jika Postdramatik secara umum adalah pergeseran dari dominasi narasi fiksi, Kai di beberapa pembicaraannya di berbagai tempat dan kutipan media, menawarkan pikiran dan gagasan baru dengan membawa pergeseran itu ke ranah faktual. Panggung bukan lagi tempat bercerita, melainkan tempat memproses realitas.
“Saya tidak ingin orang-orang melihat postdramatik sebagai sebuah terminologi dan bukan juga sebuah teknik dalam teater, tapi lebih ke sebuah cara untuk berpikir,” tukasnya.
Memahami postdramatik sebagai cara berpikir, dari beberapa referensi, Kai Tuchmann menawarkan pemahaman, bahwa postdramatik bukan sekadar genre baru, melainkan cara lain yang mengalami pergeseran dalam cara kita memahami dan menciptakan teater. Ia menawarkan dalam dramaturgi bukan fokus pada adaptasi teks drama ke atas panggung, melainkan sebagai “praktik dan teori untuk memperluas, membuka, dan mengubah teater.” Kai Tuchmann, khususnya melalui praktik teater dokumenternya, menunjukkan bagaimana dramaturgi pascadramatik membuka ruang eksplorasi yang lebih mendalam terhadap realitas, arsip, dan pengalaman kontemporer secara langsung.
Kehadiran postdramatik di Indonesia cukup menarik. Karena seperti yang diungkapkan oleh Kai, tidak seperti Eropa yang memiliki catatan sejarah 400 tahun mengenai teater. Sebut saja, dalam teater modern ada William Shakespeare dengan karya-karyanya. Di Indonesia, teater lebih banyak tumbuh secara anonim. Pun, masuknya postdramatik dan dramatik ke Indonesia, bukan hadir sebagai subcabang, melainkan keduanya hampir bersamaan.
Ibed, sutradara dan penulis lakon pada Kalanari Theatre Movement Yogyakarta, menyatakan Postdramatik merupakan pengetahuan baru di Indonesia untuk teater. Dalam pandangan Ibed, hal tersebut sebagai cara untuk memperluas cara berpikir, mungkin bisa digunakan untuk membaca praktik teater di Indonesia, atau mungkin juga tidak terpakai. Orang yang menggandeng Kai ke Indonesia ini, lebih melihat di luar sana sedang terjadi apa? ilmu ini juga diharapkan bisa menjadi refleksi bagi teater di Indonesia.
Dari posisi Ibed melihat Kai mengartikulasikan ide-ide postdramatik ini, yang juga melalui salah satu buku yang disusunnya “Dramaturgi Pascadramatik”, dan bisa dibaca serta dipahami oleh orang Indonesia, terutama pelaku seni pertunjukan.
Kehadiran Kai, menurut Ibed lebih banyak menyertakan contoh-contoh karya postdramatik dibandingkan yang ditulis oleh Leighman yang cenderung teoritis. Alasan buku ini diterbitkan dalam Bahasa Indonesia juga karena lebih gampang digunakan untuk pemahaman memasuki ide atau gagasan mengenai postdramatik. Selain itu, ada alasan lain ujar Ibed, yakni izin hak cipta yang diberikan cuma-cuma oleh Tuchmann karena keinginannya untuk melebarkan pengetahuan itu di Indonesia.

Simarantang dan Postdramatik
“Sebenarnya, masyarakat Indonesia sendiri sudah mengalami postdramatik melalui teater-teater tradisional atau teater rakyat seperti simarantang. Simarantang dalam tradisi Minangkabau di Pariaman khususnya, merupakan tradisi lisan yang berbeda dengan apa yang ada di randai,” kata Mahatma Muhammad, sutradara Teater Nan Tumpah menanggapi hal yang menjadi tema perbincangan malam itu, terkhusus pada Kai.
Simarantang, dijelaskan Mahatma, secara harfiah diartikan dengan merentangkan cerita, merentangkan peristiwa. Bagaimana pemikiran dari permasalahan itu lahir kemudian diekspresikan melalui dendang awal yang menghantarkan cerita atau dendang akhir dengan nada tinggi dan gerakan yang tercipta yang dikenal pula dengan randai.
“Maka apabila Kai Tuchmann heran dan mempertanyakan kenapa orang Indonesia kerap mempertanyakan mana yang postdramatik dan dramatik, jauh sebelum istilah ini muncul, masyarakat Indonesia telah berpikir secara Postdramatik,” tegas Mahatma. Justru hadirnya istilah ini, lanjut sutradara produktif ini, membuat orang Indonesia yang mempelajari postdramatik dan dramatik berpikir terlalu jauh serta gagap.
Pernyataan Mahatma ini kemudian coba dibantah oleh Kai. Ia menegaskan, Postdramatik sebenarnya mencoba membersihkan panggung dari cara-cara menyampaikan dunia melalui karakterisasi tokoh, melalui konfrontasi dua tokoh. Ia melihat teater di Indonesia cukup menarik, tentang bagaimana masuknya aliran ini yang hampir berbarengan dan juga berbeda dengan cara yang terjadi di Eropa. Namun, yang mengherankannya, orang Indonesia kerap kali mengkotak-kotakkan dan mempertanyakan mana sih teater yang dramatik, mana sih teater yang postdramatik?
“Postdramatik seakan-akan dipandang sebagai bentuk pertunjukan. Padahal itu adalah cara memandang dunia melalui teater,” demikian Kai merespons Mahatma.
Lebih lanjut, Kai menyampaikan, untuk saat ini Indonesia belum sampai pada tahap postdramatik. Mengenai praktiknya, postdramatik menyoal ‘masih siapa untuk siapa’. Pada praktiknya, hal-hal yang begini yang coba dilawan oleh Postdramatik, tambahnya.

Memperluas Cara Berpikir Menggandeng IPC
Ibed berkolaborasi dengan IPC (Indonesia Performing Camp) melalui agenda workshop dan diskusi publik. Wendy HS, yang mengepalai ‘perkampungan’ IPC, mengungkapkan, konseptual yang ditawarkan Kai menjadi penting oleh komunitasnya.
Kai banyak membahas isu-isu sensitif dan berlawanan dengan kebijakan pemerintah yang menurut Wendy hilang selama reformasi. Diperjelas oleh Wendy, ada tidak adanya tokoh dalam teater tidak penting. Yang terpenting baginya bagaimana proses dan keterlibatan kita dengan persolannya.
Contoh, secara sikap mengenai seseorang yang anti narkoba, yang tidak terlibat di dalam narkoba maupun pembicaraannya, dan tidak mencoba mencaritahu memerankan seseorang yang memakai narkoba melalui imajinasi yang dibangun sendiri oleh si aktor hanya dengan membaca teks naskah.
Bagi Kai itu adalah ekspresi palsu yang coba ia hapus. Jika tidak suka dan tidak mau membicarakan narkoba kenapa memilih memerankannya. Dalam hal ini, salah satunya selagi masih ada fiksi di dalamnya tidak bisa dikatakan sebagai postdramatik.
Hal ini kemudian kembali digarisbawahi oleh Wendy, Kai menyebut dalam gaya postdramatiknya sebagai teater dokumenter. Jadi memang itu merupakan dokumentasi dari sikap dan perbuatan dan pikiran, sesuai dengan realitas yang ada.
Lebih jauh, penampilan mengenai teater dokumenter ini tidak mesti di panggung, melainkan tentang menekankan bagaimana menjadi diri sendiri tanpa mendramatisasi keadaan. Bisa berupa dua orang yang saling curhat di halaman rumah, tapi ditampilkan di publik.
Kehadiran Kai di Kota Padang, dari 9–11 November 2025, di Fabriek Padang dan Pustaka Steva, serta dan ISI Padangpanjang. Tahun ini IPC mengusung tema “Praktik Dramaturgi Postdramatik dalam Pertunjukan Kontemporer”. Tema ini mengajak performer menelusuri tubuh sebagai arsip hidup—ruang pertemuan antara memori personal, tradisi, pengalaman sosial, dan gagasan artistik.
Penyelenggaraan kegiatan ini secara kolektif oleh Indonesia Performance Syndicate (IPS) bersama Kalabuku, Komunitas Seni Nan Tumpah, Nusantara Art, Komunitas Seni Hitam Putih, Pustaka Steva, Teraseni, dan Fabriek Padang (*)





