Author name: Bunga Suci Pertiwi

Lahir di Sijunjung pada 2003. Senang menulis esai, narratologi, meneliti habitus dan arena dalam kesusastraan. Ia merupakan mahasiswi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas Padang. Selain sesekali suka melukis, ia bergiat di Labor Penulisan Kreatif (LPK) di kampusnya.

Bunga Suci Pertiwi
Liputan

Kapsul Waktu Nusantara, Destinasi Nostalgia yang Penuh Cerita dan Sarat Makna

Galeri Kapsul Waktu Nusantara di Kota Padang menghadirkan ruang nostalgia yang membangkitkan memori kolektif pengunjungnya. Digagas oleh Rivaldo Ferdian, destinasi ini memamerkan ribuan kemasan produk jadul dari era 1960-an hingga 1990-an. Keunikannya berhasil menarik wisatawan dari berbagai provinsi hingga mancanegara.

Kapsul Waktu Nusantara, Destinasi Nostalgia yang Penuh Cerita dan Sarat Makna Selengkapnya

Liputan

Walau dalam “Genangan”, di Ruang Temu Nan Tumpah Kesenian Hidup Bersama Warga

Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT) menyelenggarakan program tahunan “Ke Rumah Nan Tumpah #10” di Korong Kasai, Padang Pariaman. Melalui Pameran Silotigo dan Kelana Akhir Pekan, KSNT menciptakan ruang kreativitas seni alternatif yang memberdayakan warga dan anak-anak setempat, memanfaatkan material lingkungan sekitar, meskipun hidup berdampingan dengan tantangan genangan air.

Walau dalam “Genangan”, di Ruang Temu Nan Tumpah Kesenian Hidup Bersama Warga Selengkapnya

Liputan

Nanda Wirawan, Menenun Makna dan Revitalisasi Songket Tuo Minangkabau

Mengulik kisah Nanda Wirawan dan Studio Wastra Pinankabu dalam merevitalisasi songket tuo Minangkabau. Bukan sekadar kain, bagi Nanda, songket adalah manuskrip budaya yang penuh makna filosofis dan cerita daur hidup. Simak dedikasi mereka menjaga warisan tekstil leluhur melalui teknik tenun tradisional dan pewarna alami.

Nanda Wirawan, Menenun Makna dan Revitalisasi Songket Tuo Minangkabau Selengkapnya

Liputan

West Sumatera Visual Art Exhibitions: Hulu Sebagai Cara Berpikir dan Sumber Penciptaan 

West Sumatera Visual Art Exhibitions hadir dengan tema “Hulu” sebagai respon kontemplatif terhadap krisis ekologi dan bencana alam yang melanda Sumatera Barat. Lewat instalasi memukau dan lukisan kritis, para perupa mempertanyakan kembali arah ekosistem seni rupa lokal yang dinilai sibuk bergerak namun kehilangan orientasi tujuan.

West Sumatera Visual Art Exhibitions: Hulu Sebagai Cara Berpikir dan Sumber Penciptaan  Selengkapnya

Liputan

PPF 2025: Perpuisian Indonesia dalam “Harap dan Cemas”

Diskusi Dewan Juri PPF 2025 mengungkap “Harap dan Cemas” perpuisian Indonesia: potensi media baru vs. risiko standar “mana-suka”. Dari 108 manuskrip, juri menyoroti kurangnya inovasi dan keterampilan berbahasa meski ada pemanfaatan idiom teknologi. PPF berupaya meningkatkan mutu penyair melalui program mentoring intensif untuk para pemenang.

PPF 2025: Perpuisian Indonesia dalam “Harap dan Cemas” Selengkapnya

Liputan

PPF 2025 Menggali Dunia-dunia yang Ada di Dalam Puisi

PPF 2025 di Payakumbuh sukses besar dengan tema “Antardunia Dalam Puisi,” menggali khazanah puisi tradisional Minangkabau hingga lanskap perpuisian modern. Festival ini menampilkan kolaborasi apik Namal Siddiqui (Pakistan) dan musisi lokal, serta workshop penulisan puisi dan alih wahana sound serta visual poetry. Acara ini membuktikan bahwa puisi tak hanya teks, tapi juga ruang belajar yang luas untuk generasi muda.

PPF 2025 Menggali Dunia-dunia yang Ada di Dalam Puisi Selengkapnya

Liputan

Workshop Sound Poetry dan Visual Poetry: Tona Energetik dalam Alih Wahana Puisi

Workshop Sound Poetry dan Visual Poetry di Padang membawa puisi keluar dari kerangkeng kata. Peserta diajak meditasi sonik oleh Aldo Ahmad untuk merespons alam, menemukan bunyi primordial. Sementara Donny Eros menantang peserta Visual Poetry untuk menjaga rasa dan imajinasi kata-kata agar tidak hilang saat dialihwahanakan menjadi objek visual yang sugestif.

Workshop Sound Poetry dan Visual Poetry: Tona Energetik dalam Alih Wahana Puisi Selengkapnya

Liputan

Diskusi Bersama Kai Tuchmann: Antara Simarantang dan Postdramatik

Diskusi langka di Padang: Dramaturg kelas dunia Kai Tuchmann bersama seniman lokal mengupas tuntas Teori Teater Postdramatik. Kai menyebutnya “cara berpikir” yang membawa pergeseran dari fiksi ke realitas faktual di panggung. Seniman lokal bahkan berpendapat masyarakat Indonesia telah berpikir Postdramatik melalui teater rakyat seperti simarantang sebelum istilah itu muncul.

Diskusi Bersama Kai Tuchmann: Antara Simarantang dan Postdramatik Selengkapnya

Scroll to Top