Pohon bambu, di sisi kanan depan pondok belajar Komunitas Keliterasian Bukik Ase, di Lolo, Kelurahan Gunung Sarik, Kecamatan Kuranji, Padang itu terlihat basah dan meliuk-liuk ditiup angin. Tanah di depan pondok belajar, dekat pohon bambu berdiri, becek. Hari menunjukkan pukul 14.55. Gerimis halus meningkahi suasana di kaki bukit kecil itu, setelah sebelumnya hujan cukup deras sejak pagi. Mendung masih menggantung, pertanda tak ada jaminan kalau cuaca akan cerah hingga senja.
Terlihat sekelompok kecil anak muda, duduk melingkar. Suasana tenang. Aldo Ahmad, yang didapuk sebagi mentor program sound poetry, mengajak peserta sound poetry bermeditasi sejenak; mendengarkan suara alam dengan tenang.
Semenit, dua menit, hampir sepuluh menit berlalu, Aldo, meminta peserta untuk mengeluarkan suara, merespon alam. Mulanya serendah mungkin, yang lama kelamaan menggema menjadi seruan nada tinggi kemudian kembali merendah lantas mengeluarkan bunyi berupa kata-kata abstrak, sebuah ungkapan yang tak bisa diartikan begitu saja.

Peserta diberi kebebasan untuk mengungkapkan atau menyebutkan suara apa saja yang terasa dirasa, ikuti kata hati masing-masing. Maka, suara peserta terdengar bagai menyatu dengan alam, dengan hujan yang baru saja kembali turun deras. Mungkin karena kata-kata itu berubah menjadi mantra.
“Itu adalah sonik meditasi atau yang dikenal juga dengan sound meditation. Biasanya dilakukan selama berjam-jam. Kali ini para peserta melakukannya hanya sebagai pemanasan karena berhubungan dengan pelatihan sound poetry nantinya,” kata Aldo menjelaskan kepada cagak.id yang mewawancarainya.
Aldo dikenal sebagai seniman bunyi. Eksplorasinya di bidang musik mengajaknya menemukan koloni baru. Sound poetry merupakan jenis seni yang dianggapnya sebagai jalan untuk masuk ke dunia sastra.
Berangkat dari Pengalaman Sonik

Sound poetry (tidak melulu bisa diterjemahkan sebagai Puisi Suara atau Pusisi Bunyi) genre menarik karena menantang gagasan tentang apa itu bahasa dan musik. Menurut beberapa sumber, sound poetry mulai populer pada abad ke-20 pascaperang dunia II. Sound poetry mendapat pengaruh dari seni Futurisme dan Dadaisme, sembari berupaya melepaskan diri dari seni tradisional. Sound poetry mengedepankan bunyi dan ritme dalam ekspresinya. Kerap kali memakai kata yang terkesan tidak bermakna atau diucapkan secara tidak jelas demi membangkitkan emosi.
Ia secara intrinsik berorientasi pada kinerja (performance-oriented). Tujuannya adalah untuk menciptakan pengalaman auditori yang unik yang menggabungkan elemen literatur dan musik. Genre ini berani menantang penyair untuk menghadirkan karya yang bersifat sugestif (evocative), mampu memprovokasi percakapan, dan memberikan imajinasi sesuatu untuk direnungkan, melampaui narasi linier yang biasa.
Eksperimentasi vokal adalah komponen kunci. Praktisi menggunakan berbagai bunyi fonetik, ritme, dan teknik vokal. Kadang-kadang bahkan mencakup bunyi non-verbal dan vokalisasi primordial untuk menciptakan tekstur multisensori. Misalnya, seorang artis dapat menggabungkan manipulasi tubuh dan ekspresi wajah untuk memperkaya ekspresi vokal. Melalui penekanan pada pola ritmis dan pengulangan, seperti yang terlihat pada contoh awal yang menggunakan kata-kata sederhana seperti AKU, ITU, DAN, KAMU. Sound poetry mengalihkan fokus dari makna leksikal yang kaku menuju daya resonansi bunyi itu sendiri.
Sound poetry awalnya juga berakar pada tradisi puisi lisan dan kemudian berkembang menjadi praktik seni pertunjukan yang mempengaruhi musik eksperimental dan puisi konkret. Tokoh-tokoh sound poetry kemudian banyak bermunculan dengan gaya yang berbeda. Seperti Fillipo Tommaso Marinetti yang mengedepankan futurisme menggunakan kata-kata yang meniru suara (onomatope) untuk menciptakan efek visual dan auditori dari pertempuran. Richard Huelsenback menciptakan puisi bruitis, yakni puisi fonetik dan Tristan Tzara dikenal dengan menciptakan puisi simultan; berbagai puisi dibacakan dalam berbagai bahasa secara bersamaan.
Di Indonesia sendiri, Kata Aldo, karya-karya seniman Indonesia yang bisa dinikmati sebagai karya sound poetry, sudah banyak. Cuma sangat disayangkan, belum ada orang atau pihak yang mengkurasi sebagai produk sound poetry. Belum ada yang menegaskan, “Ini loh karya sound poetry!”.
Menurut Kepala Perkusi di Bandung Philaharmonic ini, dari tahun 80-an jika kembali menggali arsip-arsip seniman pada era itu, kita akan menemukan jejak-jejak karya sound poetry. Cuma kekurangan pembacaan sound poetry dan kurasi pada sebuah festival. “Umumnya yang jadi patokan hanya musikalisasi puisi dan penampilan band,” kata Direktur Program dan salah seorang pendiri Pasamoan Art Initiated, sebuah Plartform DIY untuk seniman suara dan musik eksperimental Sumatera ini pula.
Khusus acara yang Balai Pelestarian Wilayah III Sumatera Barat ini, ia menjelaskan, pelatihan sound poetry ini menitikberatkan pada dua poin. Pertama, peserta dapat memahami sound poetry sebagai bentuk baru dari seni sastra dan secara garis besar di bawah payung sonic art. Kedua, peserta dapat membuat karya sound poetry dengan perspektif dan pengalaman soniknya masing-masing.
Pengalaman sonik menurut Aldo ialah pengalaman mendengar sejak lahir. Ia bukan lagi membicarakan pengalaman seseorang bermain musik, atau pengalaman saat manggung, melainkan pengalaman mendengar yang tanpa disadari sudah tersimpan semenjak seseorang lahir hingga kini. “Terserah apakah peserta ingin memakai perspektif sastra atau musik. Pengalaman sonik menjadi patokan utama,” tukas Aldo, yang menyelesaikan kuliah di bidang pendidikan musik Universitas Negeri Yogyakarta dan master penciptaan seni di ISI Surakarta. Ia telah banyak membuat karya suara yang bisa ditelaah melalui ranah elektro akustik.
Aksar, peserta workshop sound poetry, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, merasa sound poetry masih asing di telinga masyarakat jika dibandingkan dengan alihwahana lain seperti visual poetry.
Menjaga Rasa Tidak Hilang di Visual Poetry

Dalam rangkaian acara yang sama, di Sisi Kopi 2 dalam waktu dan hari yang sama (19-21 November), juga tengah berlangsung workshop Visual poetry. Donny Eros, seorang tenaga pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, mengatakan dari nama dan jenis seni yang ditawarkan, visual poetry lebih menitikberatkan pada benda yang terlihat. Dan hari itu, ia berdiri sebagai mentor.
Secara sederhana visual poetry merupakan gabungan teks dan visual yang menjadi sumber pemaknaan. Kadang teks yang dibentuk menjadi objek visual, sebenarnya sudah lama dikenal, dalam budaya Arab disebut kaligrafi, di budaya Barat kaligram. Sudah sejak lama sekali, sejak berabad-abad lalu. Menurut Eros, visual poetry merupakan istilah baru.
Eros menjabarkan, manuskrip-manuskrip lama ada penggabungan teks dan objek visual yang banyak terdapat pada praktik tradisional, seperti rajah yang menjadi jimat. Sebenarnya bentuk dari aplikasi visual poetry secara tradisi. “Jadi bisa dikatakan bahwa seni ini bukan milik masyarakat modern karena adanya istilah yang baru,” tutur Eros yang telah menempuh pendidikan master of arts in film and literature di Literature-Film and Theater Studies Department, University Essex di Inggris.
Praktik-praktik visual poetry modern bisa menjadi bahan komersil. Salah satunya menjadi pajangan dinding-dinding café. Café menurut Donny Eros merupakan salah satu ‘galeri’ yang bagus untuk visual poetry. Visual poetry juga dipandang sebagai cara untuk memperkenalkan seni ini kepada pengunjung café. Kadang pengolahannya jadi soal. Pengalihwahanaan yang kurang tepat sering kali menyebabkan visual poetry tak ubahnya sekedar kerajinan tangan.
Pada pelatihan ini Eros mengutarakan, tantangan terbesar dalam alih wahana visual adalah bagaimana rasanya tidak hilang. Karena imajinasi yang muncul dari kata-kata bersifat personal, yang bergantung pada pengetahuan si pembaca. Untuk itu, ia menggunakan motode pembededahan: peserta diminta menafsirkan puisi, mencari poin utama yang ingin disampaikan pengarang. Proses pemaknaan oleh pembaca dan pengalaman personal penyair inilah kemudian dimunculkan dalam bentuk visual.
Titik Penting Alih Wahana Puisi

Selama tiga hari kegiatan, dari pengamatan cagak.id, terlihat upaya mentor, baik bidang sound poetry maupun visual poetry untuk membangun semangat memahami dan berkarya dari para peserta. Ketika hari pertama, terutama di kelas sound poetry, kepenasaran peserta terlihat karena ini adalah sesuatu yang baru. Baik Aldo atau Eros, menjelaskan kedua hal tersebut dengan sesderhana mungkin.
Penggagas kegiatan S Metron Masdison menyebut ini akan menjadi titik balik dalam melihat puisi. Selama ini alih wahana puisi masih berkisar pada baca, musikalisasi, dramatisasi dan sejenisnya. “Baik sound atau visual, mencoba keluar dari kerangkeng bahasa sebagai semantik. Makanya, disebut juga sebagai desemnatiasi,” ujar sutradara Ranah PAC ini. Ia menambahkan Program ini merupakan prafestival dari Payakumbuh Poetry Festival (PPF) 2025, yang akan digelar 27-29 November 2025.
Karya hasil workshop akan dikurasi langsung oleh mentor sound poetry dan visual poetry. Mentor nantinya akan memilih dua kelompok terbaik dari masing-masing peserta pelatihan sound poetry dan visual poetry. Hasil karya alih wahana akan ditampilkan pada tiga malam pertunjukan di PPF.
Aisyah Suci Nurzaharani peserta pelatihan visual poetry, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas, dengan program ini ia merasa terbantu. Sebab apa yang ia pelajari selama di pelatihan sejalan dengan perkuliahannya, sebab pelatihan ini berfokus pada bentuk visual dan menarik minat baca melalui kata-kata. Bagi freelance photographer, Jhogi Siahaan, visual poetry adalah hal baru, dan ini merupakan perbincangan yang menarik.
Acara dibuka oleh Drs. Nurmartias, Kepala BPK Wilayah III. Dalam sambutannya, Nurmatias mengatakan, “Kebudayaan adalah bentuk kekayaan bersama yang tidak akan pernah habis, meski dikeruk sebanyak apa pun.” (***)





