| Judul | Gagak Hitam Menjoesoel |
| Penulis | Decha |
| Penerbit | Roman Indonesia, 194? |
| Tebal | 72 halaman |
Roman ini merupakan salah satu seri dari kisah Gagak Hitam yang dikarang oleh Decha. Cerita ini berlatar belakang Kota Medan, yang dikenal sebagai kota dollar. Di kota itu, tinggal seorang perempuan, Siti Zahari, bersama anak perempuannya, Zoehridar. Mereka hidup dalam keadaan ekonomi yang kurang. Pada satu kesempatan, Zahari menemui seorang Said El Kilabi, seorang Arab yang berprofesi sebagai lintah darat, yang pada masa itu disebut kaum tjeti.
Zahari tidak mengetahui isi perjanjian yang harus disetujuinya dengan memberikan cap jempol di atas kertas bersegel. Akibat buta huruf, Zahari tidak mengetahui bahwa hutangnya sebesar f50 itu akan terus berbunga setiap tahun. Demikian juga ia selalu mengatakan kebaikan Said kepada orang lain. Dan setelah beberapa tahun, akhirnya Said mulai menagih hutang tersebut. Dia juga memberi alitenatif untuk mengganti hutang itu, yaitu anak peremuan Zahari diserahkan untuk menjadi istri Said. Sementara Zoehridar sudah ditunangkan dengan seorang pemuda bernama Darma.
Kabar berita mengenai masalah keluarga Zahari akhirnya terekspos ke media massa. Bahkan akhirnya berita itu juga tersebar hingga ke Padang. Pemilik dan pemimpin redaksi koran Pembela Kebenaran, Sjamsoeddin alias Gagak Hitam. Bersama pembantunya, Gagak Hitam segera berangkat ke Medan untuk membantu keluarga Zahari. Setelah memastikan persoalan kepada keluarga tersebut, mereka menemui Said secara langsung. Di bawah ancaman Gagak Hitam, Said harus memberikan uang sejumlah hutang dan bunga yang harus ditanggung Zahari.
Said kemudian membawa kasus perampokan dan juga hutang piutang itu ke polisi dan kehakiman. Akan tetapi, Gagak Hitam memjadi pembela Zahari dan menunjukkan kelemahan dari perjanjian yang ada. Dengan alasan buta huruf yang menyebabkan Zahari tidak mengetahui isi perjanjian, dan juga profesi Said yang dinilai merugikan orang lain dan negara, akhirnya Zahari diberi kesempatan untuk membayar hutangnya. Gagak Hitam memberikan uang yang dirampoknya dari Said kepada Zahari untuk membayar hutang. Setelah urusannya selesai, Gagak Hitam kemudian kembali ke Padang. Di akhir cerita, Decha memberi keterangan akan tantangan lain dari Elang Merah yang menjadi pemimpin komplotan penjahat di daerah tanah Timoer. Sebuah kisah yang akan diceritakan di romannya yang lain.
Pesan penting dari roman ini adalah kondisi buta huruf yang masih dialami oleh banyak orang pada masa itu. Akibatnya, banyak terjadi pemerasan dari orang-orang yang menggunakan kondisi itu. Melalui tokoh Gagak Hitam, Decha mengkritik kondisi itu. Ia menyarankan pemerintah untuk membangun lebih banyak sekolah dan kegiatan belajar untuk memberantas buta huruf. Demikian juga dengan praktik eksploitasi kemanusiaan yang dilakukan oleh satu pihak kepada pihak lain. Tidak lupa, Decha juga mengkritik surat kabar-surat kabar yang lebih banyak menyiarkan berita mengenai kejahatan-kejahatan yang asal-usulnya persoalan atau berkaitan dengan perempuan. Itulah yang menjadi tren pemberitaan pada masa itu.
Kelihaian Decha menjalin cerita detektif ini sebenarnya tidak terlalu rumit. Cerita sejenis ini sudah memiliki patron yang tetap. Hanya saja memilih bahan cerita dan kasus yang akan diselesaikan oleh tokoh utamanya yang menjadi kekuatan. Selain itu, pesan-pesan moral yang ada di balik cerita juga sangat penting, jika dikaitkan dengan konteks sosial penulisan dan penerbitan bacaan ini.
Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id





