
Bila sudah dipijaknya tanah aspal, keluar dari mobil Brio, matanya kobar nyalang Batara Kala, kami mulai siapkan kuda-kuda.
Merangkak Subuh, aku amati lambat jarum jam pindah ke angka 4. Suasana memukat halimun yang terkungkung debu sekitar titian. Di bawah Jembatan Pasar lama ini, bunyi kelotoki penjual sayur sesekali menggantikan kokok ayam. Dan yang terkepung di tengah jembatan itu, siapa lagi jika bukan seorang pria paruh baya. Orang sebut ia Ancah Kutungii. Pria urakan asal Taluk Kubur, aslinya lahir di Batu Lima lalu lepas sauh rantauan ke Kelayan. Di kampung yang ia sebut kerajaan kecil itu, masyhur Ancah Kutung sebagai preman dan gembong sabu.
Wajahnya yang legam sarat hitam pengalaman. Ancah Kutung sedikit menggeser badan yang kokoh. Buka bargasi dan kembali siap dengan kuda-kudanya. Ia lempar satu parang bungkuliii ke hadapan kami tanpa keraguan.
“Ambil! Tarung sini kalaulah jantan!” tantang Ancah Kutung menggenggam parang laisiv. Kilau besi semeter meliuk-liuk dipendar lampu jalanan.
Aku dan barangkali anggota muda yang lain merematkan genggam pada picu senapan. Ada getaran! Dan Iptu Ramdan selaku pimpinan tahu itu.
Iptu Ramdan mungkin maklum. Baru selesai akademi, belum genap semingggu di kantor langsung dihadapkan dengan preman yang sekitaran sini telah tersiar licin dan cadas arogannya.
“Jangan ladeni bedebah di sana itu!” pinta tegas Iptu Ramdan. “Bila sudah mulai bertingkah, tembak langsung saja!” lanjutnya memerintah sambil arah matanya tajam menatapku.
Hatiku berdesir aneh. Apa maksud tatapan itu? Peringatan? Atau malah perendahan. Alamat mata itu sarat makna. Dari semua, mengapa aku? Pada ujungnya kucecap juga perasaan yang lebih condong kepada hina.
Aku angkat sedikit senapan dengan posisi mata memicing timbang pada sasaran. Langkahku maju mulai tinggalkan kabin barakuda yang semula berlaku benteng.
“Kandar! Jangan nekad!” seru Iptu Ramdan.
Tak kugubris. Selanjutnya pimpinan kami itu memerintahkan semua anggota untuk melindungiku.
Makin dekat dan hanya berjarak 2 meter. Bisa kusaksikan dongakan dagu Ancah Kutung yang seolah pengakuan.
“Sudah sesak pahala kau?” ejeknya dengan bilah lais mengacung. Ia minta aku meraih parang bungkul di aspal. Aku terhenti langkah. Sejenak diam. Ia juga menunggu.
Tak lama, sebuah teriakan memekak suasana.
“Lambat! Aku yang maju!”
Aku terkesiap. Segera kuarahkan lebih dalam moncong senapan serbu ini. Sialan! Jariku macet!
Dor! Dor! Tar! Dor! Dorr!
Deru timah mirip petasan bersahutan dari moncong senapan anggota di belakang.
Ancah Kutung terhenyak kena hantaman. Terberondong timah. Namun tanpa kucuran darah! Ia yang semula lurus berlari mulai payah laku. Matanya kuamati tak awas kepadaku lagi. Berhujan peluru, Ancah Kutung meloncatkan diri ke Sungai Martapura di bawahnya.
***
Di dalam mobil patroli, aku yang masih bermandi keringat meski telah minum tak bisa berbohong atas ketakutan itu. Mobil ini membawaku pulang ke rumah. Mata dan seringai itu kemasukan setan.
Di sepanjang jalan, Iptu Ramdan tak henti-henti memberiku nasihat dalam omelan. Menurutnya tindakan nekat tadi itu sama sekali tak dibarengi dengan keputusan tegas. Jika dalam keaadaan tempur, sudah pasti selain nyawaku bakal langsung lenyap, sejumlah rekan di belakang bisa bernasib sama. Dan itu larangan nyata, begitu simpulnya dengan mata menyala dan hamburan bacin yang menciprati wajahku.
Sampai di depan rumah, mobil yang kutumpangi bersama sejumlah rekan memutuskan kembali ke kantor untuk membuat laporan. Aku yang pasi segera melangkah masuk ke pintu depan. Bunyi azan mengumandang berbarengan dengan derit pintu yang kubuka. Di dalam, sebuah bayang tiba-tiba bergerak cepat tanpa beri ruang kesempatan.
Shett!
Pipih wasi bagirapv dari pisau raja tumpangvi dingin mencium setiap jalar otot leherku. Satu kuncian tangan menekukku ke depan. Dengan sedikit bungkuk, tubuh kuat di belakangku memberi perintah.
“Diam! Kalau tak mau kusembelih di sini!”
Degup jantungku tak beraturan. Teriak apalagi melawan akan percuma, Subuh ini juga semburat darah bakal banjiri lantai di rumah yang hanya kutinggali seorang ini.
Pria yang tak lain Ancah Kutung ini lalu memintaku maju. Tangan kirinya kurasai menggagapi celanaku. Dengan terampil ia rampas pistol baretta.
Ancah Kutung longgarkan kunciannya. Melepaskan besi pipih dingin itu yang sedikit buatku lega. Ia menjaga jarak, memutar, berdiri dekat meja sekarang. Aku hanya berani mengintip dari tundukan. Bajunya telah diganti. Dan sekali lagi, tiada bekas luka dari badannya. Ancah Kutung duduk. Tatapannya tetap mendarat kepadaku.
“Lemah,” dengusnya sambil menekan keluar tempat proyektil pistolku. Jemarinya terampil mengeluarkan sejumlah peluru dari sana. Satu peluru dengan ujung cat merah yang pertama ia keluarkan. Ancah Kutung menaruh peluru itu di atas meja kaca. Peluru yang sengaja kurendam beras kuning di dalam mangkuk jaranangvii. Kuceceri darah ayam hitam lalu membiarkannya selama berapa minggu.
“Sejak citamu yang berseberangan denganku, kau tumbuh menyedihkan!” katanya dengan sudut bibir tertekuk ke bawah.
“Aku takkan sanggup menembakmu, Abah,” tukasku sendu.
Ancah Kutung menuding, “Karenanya kusebut kau lemah! Bahkan dari moncong senapan tak guna itu pun kau tak berani tarik picu! Menyedihkan!”
Aku menggigil mendengar itu. Mataku memaku meja kaca. Siluet bayang mengembara di atasnya. Selesaikan semua. Persiapan yang diberikan Abah kepadaku, termasuk jenis peluru yang ia harap-harapkan mampu menjebol jantungnya, pupus oleh rindu. Dulu Abah menjadi manusia awal yang ceria. Abah yang membuat Ibu pingsan saat malam pertama. Uh! Hanya keluarga aneh ini yang tahu. Seorang preman dan gembong sabu terkenal. Kudapati terbahak karena sematan kutung itu berasal dari aib masa kecilnya.
Abah pernah ceritakan itu. Masa kecil di mana kemaluannya harus koyak diserang bidawangviii saat berenang di pesisir Batu Lima. Aku tersenyum dan entah mengapa luber panas membasahi pipiku. Kematian Ibu menjadi penyebabnya. Ditikam terang-terangan di hadapan Abah. Menciptakan koyakan perih melebihi dari yang ia sandang. Abah akui kepayahannya. Sembab! Mampet! Kini pria di hadapanku adalah mimpi buruk yang tak pernah kubayangkan. Pilihan dendam hingga terjerebab ke penjara membentuk karakter Abah. Sikapnya menjelma ugal, dingin, dan asing.
Ancah Kutung berdiri. Aku tak berani mendongak!
“Tiada yang perlu diharap dari kenangan. Lelaki menjalani dari pilihan yang ia sepakati. Aku ingin kaubanggakan aku. Selayaknya semangatmu dalam kesatuan itu, perlihatkan kepadaku bahwa kau pria!” jelasnya seolah tahu dan berlalu pergi.
Aku rangkum wajahku! Hawa mulai sejuk oleh pias pagi yang lamat menyambut. Mataku kemudian mengedar. Semua pegal malah menjalar. Berputar kenangan itu menjadi lelah yang menyakitkan. Udara berubah lebih turun pada titik dasar. Samar! Hitam menimpaku sekarang. Dan semua warna itu memudar.
***
Beberapa hari selepas kejadian itu, aku dan tim diperintahkan menuju satu titik lokasi. Ancah Kutungdan pasukannya kali ini mengamuk dan menyerang markas pesaingnya. Mobil barakuda kami segera menuju Kampung Pekauman tempat penyerangan terjadi.
Siang memanas oleh teriakan dan umpatan. Semua tim bergegas menuju sebuah rumah tempat sabung dua preman besar itu. Siaga, begitulah kuda-kuda kami bersiap dengan kokangan senjata serbu.
Kubu Ancah Kutung dominan. Entah bagaimana menjelaskan, intinya Iptu Ramdan mengomando untuk amankan warga saja tanpa mau campur urusan. Tega tak tega, dua komplotan ini memang target lama kami. Jadi intinya satu keuntungan jika selisih ini menjelma tumbang satu sisi.
Keadaan kacau dengan denting parang mengudara disengat surya. Ancah Kutungmenggila. Bajunya terkoyak-koyak oleh sabetan. Komplotan rivalnya yang dipimpin Hadran Tadungix terdesak ke pekarangan. Namun Hadran juga nyaris tanpa luka. Tebasannya begitu kuat bikin nyali anak buah Ancah cemas.
Dua hingga sepuluh orang mulai terkapar bersimpah darah. Ada yang keliru. Hatiku berontak menyaksikan kebrutalan ini terabai.
“Pimpinan! Kita wajib bertindak! Korban ini telah banyak,” pintaku.
“Tak perlu jadi penyelamat untuk lalat-lalat ini! Biarkan menumpuk jadi sampah!”
Ini kelewatan. Tak ada manusia setega ini. Aku tak ayal ikut berang. Mulai kuletuskan laras panjangku ke udara.
Dorr! Dorr!
“Berhenti!” teriakku, tak tahu urusan mana atasan atau bawahan.
Dan benar pikiran Iptu Ramdan. Sejatinya lalat yang bagaimanapun akan mengerumun sampah ketimbang bunga. Seruan untuk menghentikan keberingasan mereka sama sekali tak berarti.
Melihat kepasian mereka, aku mulai mengendurkan niat. Di posisiku yang cukup maju sekarang, bisa kusaksikan tinggal Hadran Tadung seorang. Pria bertato itu tersengal di samping pintu dapur. Terduduk dengan masih memegangi parang kajang rungkupx-nya. Ancah dan tiga anak buahnya yang masih tegak mengacungkan parang lais yang terlihat kikis tak beraturan pada bilah tajamnya.
“Usai kutangkap kau, kupotong anak tekak itu! Sungguh kucincang setelahnya!” katanya lantang.
Raut Hadran Tadung kuamati tak setenang awal. Bukan lantaran ilmu kebalnya masih menyarang di raganya, tapi ruah ilmu yang telah diketahui Ancah yang buatnya gusar.
“Aku tidak lagi ke wilayahmu!” ucap Hadran menyerah.
Namun bukan Ancah Kutung jika berbuat kepalang tanggung. Ia tak gubris. Dengan kode mantap, tiga anak buahnya yang juga kebal segera menghambur bacokan untuk menyudutkan.
Selama beberapa menit bertahan, akhirnya Hadran berhasil diberangus. Ia dibekuk, dipaksa berdiri.
Ancah Kutung mendekat sambil menarik pisau raja tumpang yang ia sembunyikan di pinggang. Seorang anak buah memaksa Hadran buka mulut. Meronta preman itu meski sungguh sikap percuma.
Crass!
Dengan paksaan, anak tekak Hadran terpotong. Seperti hadangan yang melenguh luka, darah dari mulutnya keluar pertanda hina. Dan Ancah tertawa.
Aku ketar-ketir menyaksikan itu. Kupandangi Iptu Ramdan dan anggota. Tersenyum? Sungguh tampak mereka menunggu eksekusi terakhir dari buruannya itu.
Selanjutnya parang Ancah menghunus. Tak waras! Ini benar-benar pembantaian yang bakal dipertontonkan. Tiba-tiba, seorang remaja yang kuduga anak Hadran memburu dari dalam dapur. Menyerang Ancah sebisanya. Ancah kikuk oleh gangguan. Disibaknya remaja itu ke tepi. Ancah tetap fokus pada mangsanya. Namun remaja yang berteriak tolong dan sebut nama bapaknya itu ulet tak lekang serang. Ia lalu bergelantungan memiting leher Ancah dari belakang. Ancah Kutung kulihat sekarang terganggu.
“Anak kampangxi! Biar kugorok kau dulu!”
Aku segera tanggap! Kujatuhkan laras panjang lalu kucabut pistol dan mengarahkan bidikan ke jantung Ancah Kutung.
“Cukup Abah!” teriakku tak tahan lagi.
Ancah Kutung menoleh. Aku tertunduk. Gemetar melanda lagi! Kulihat Ancah menjambak remaja itu. Ia menghadapku sekarang dengan mengalungkan pisau di leher tawanannya.
“Ayo! Jangan jadi pecundang!” tantangnya.
“Levvaskan vutraku kevvarat!” berontak Hadran tak jelas dengan mulut penuh darah.
Ancah Kutung kian menampilkan roman congkaknya. Ia mengusap pisau dengan kulit leher korban.
Jantung! Jantung! Incar jantungnya! Kata itu yang terus kucoba hadirkan sebagai keberanian. Dadaku naik turun! Peluh membuncah dan gigi bergemeretakan.
“Baik! Ini akan jadi penyesalanmu!” katanya lagi sambil bersiap menyembelih.
Dooaarr …!
Pelatuk kutarik melepaskan peluru panas bertanda merah! Pisau raja tumpang Ancah Kutung terlepas. Tawanya seketika bungkam berganti rona yang aneh.
Ancah Kutung melihat dadanya tanpa luka. Sebaliknya, telunjuk kanannya putus bersama pisau yang terlempar. Atak kuasa menyerang jantungnya.
Ancah Kutung menggeleng. Senyumnya tersungging.
“Kau memang seorang pecundang, putraku,” ucapnya lirih sambil melihat jemarinya yang luka.
Tentunya momentum itu tak disiakan Hadran Tadung yang membelot ganas. Berkelit! Hadran melepaskan diri dari pitingan sambil mencabut sempanaxii yang disembunyikan dalam bajunya. Kilat, ia langsung menghambur dan segera menerjang Ancah yang tampak lengah.
Satu dorongan kuat, sempana Hadran itu dalam menyarang ke leher Ancah Kutung. Preman sekaligus gembong sabu itu seketika ambruk.
Aku langsung menghambur disusul anggota tim. Seruan untuk jangan gegabah dari mereka tak kuhiraukan. Hamburan peluru menghujani Hadran dan anak buah Ancah. Tunggang-langgang mereka coba melarikan diri.
Aku merasa mempercepat langkah. Namun aneh, gerakan ini malah seolah melambat dan makin jauh menuju seonggok tubuh di sana.
“Abah …!” teriakku.
Akhirnya kudapati ia yang pucat seolah penyakit tua telah lama menyarang di tubuhnya. Pada bagian leher, cairan merah mengucur seperti pancuran. Aku angkat tubuh dingin itu. Kupangku kepalanya. Kedut terasa di antara otot leher meski matanya tertutup. Sejenak, kupandangi wajah yang terpoles merah itu. Aku gentar, menggigil lagi. Tercenung dalam bisu, mulai kurabai dengus abah yang melamban.
“Maafkan aku, Bah …!” pekikku kembali.
Siang ini udara membawa semua petualangan jahat Ancah Kutung. Kematian Abah meninggalkan tanya tentang penjahat yang sesungguhnya. ***




